
Flasback on
Ana sedang berkutat di dapurnya, meskipun dia tidak memiliki rasa apapun terhadap Gus Hafidz dia tak boleh lepas dari tanggung jawabnya.
"Masak apa? "
"Masak air" jawab Ana tanpa mengalihkan pandangannya.
Gus Hafidz mengerucutkan bibirnya, istrinya ini jika sudah memasak tak bisa diganggu. Lucu juga sih seorang Ana yang tak pernah memasak mempunyai inisiatif untuk belajar memasak.
"Masih lama?" Tanya Gus Hafidz lagi.
"Sebentar lagi, kakak tunggu saja di meja makan sana"
Gus Hafidz mengangguk pelan lalu berjalan menuju meja makan. Dari meja makan, Gus Hafidz masih bisa melihat aktivitas sang istri.
Gus Hafidz menghela nafas, ini sudah setengah jam sejak dia bertanya kepada Ana, sampai saat ini tak ada satupun makanan yang dihidangkan olehnya.
Sebenarnya dia sedang memasak apa sih? Makanan apa yang dimasak begitu lama? Batu atau kerikil?
"Sayang, masih lama gak? Udah laper nih" Tanya Gus Hafidz sambil memegang perutnya yang mulai dari tadi berdemo meminta makanan.
Ana melangkah menuju meja makan dengan nampan ditangannya. Wajahnya begitu lelah setelah berhasil membuat sebuah makanan istimewa untuk suaminya.
Gus Hafidz melihat datar ke arah makanan yang disajikan oleh Ana, dari penampilan saja bisa membuat orang tak mau memakannya. Bagaimana dengan rasanya ya kalau penampilannya sudah seperti ini?
"Jelek ya penampilannya? "Tanya Ana ketika melihatnya suaminya menatap datar ke arah makanan yang baru saja ia sajikan.
Gus Hafidz tersadar dari lamunannnya, dia menggeleng cepat
"Tidak kok. Bukankah kita tidak boleh menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja? Benar kan? "
Ana mengangguk ragu
Gus Hafidz menelan ludahnya susah, entah bagaimana rasa dari makanan yang dibuat oleh istrinya ini.
Tangan Gus Hafidz mencomot telur mata sapi yang terlihat dark mode, dengan keyakinan agar tak melukai hati sang istri Gus Hafidz memakan telur tersebut sampai tak tersisa.
Ana memejamkan matanya, ia takut melihat reaksi dari Gus Hafidz tentang hasil masakannya.
"Enak kok, tapi lain kali jangan lama-lama menggorengnya ya"
Flasback off
Sudah dari dulu Ana belajar memasak tapi tak pernah berhasil. Selama menikah dengan Gus Ruwandana yang sering memasak adalah pengurus pondok pesantren.
Untuk kali ini dia harus bisa memasak agar tidak kehilangan perhatian dari suaminya.
"Bismillah semoga bisa"
Selama satu jam berkutat di dapur tak ada yang tahu bahwa Ana sedang memasak di dapur.
Diam-diam dari celah pintu dapur seseorang sedang mengintip kegiatan yang dilakukan oleh Ana. Senyum sinis tercetak dibibirnya.
Selang beberapa menit Ana telah selesai memasak. Bulir-bulir keringat yang membasahi pelipisnya ia seka perlahan.
Gus Ruwandana yang kebetulan lewat di depan dapur berhenti di ambang pintu, dia melihat istrinya sedang mengerjakan sesuatu di dapur.
"Ummi? Ngapain disini?" Tanya Gus Ruwandana.
Ana menoleh ke arah datangnya suara, di balik cadarnya ia tersenyum.
"Lagi masak"
Gus Ruwandana mengerutkan keningnya.
"Memasak? Sejak kapan?"
Ana kemudian menjawab
"Sejak tadi"
Gus Ruwandana melangkah masuk ke dalam dapur, rasa penasaran akan masakan pertama dari sang istri membuatnya melupakan tujuan awalnya yang ingin ke taman belakang.
"Aku tunggu ya" Ucap Gus Ruwandana seraya menatap ke arah Ana.
Ana membalas tatapan dari sang suami. Tatapan rindu dan kecewa menjadi satu dari sorot matanya kini.
"Ummi, apa kau yakin menggoreng telur itu sampai hitam?"
Ana tersadar dalam lamunannnya, dia langsung menatap nanar ke arah telur yang terlihat dark mode yang maish berada di atas wajan penggorengan.
Setelah melewati perjuangan keras untuk memasak, akhirnya Ana menghidangkan makanan sederhana kepada Gus Ruwandana.
Makanan yang ia hidangkan adalah sayur asem dan dadar jagung.
"Silahkan dicoba"
Dengan semangat 45 Gus Ruwandana mencoba makanan dari Ana. Namun, saat makanan itu mencapai lidah Gus Ruwandana, dia langsung memuntahkannya ke lantai.
"Abi, kenapa?"
"Sayur apa ini asem sekali. Dan ini apa kau yakin ini dadar jagung?" Tanya Gus Ruwandana dengan wajah menahan kesal.
Ana meneteskan air mata, dia tak menyangka dengan hasil masakannya malah mendapatkan protes dari sang suami.
"Sayur asemnya terlalu asem dan dadar jagungnya sangat lembek" Papar Gus Ruwandana.
Gus Ruwandana memilih meneguk air putih yang berada di meja. Setelah meneguk habis ia melangkah meninggalkan dapur tanpa sepatah katapun.
Ana melihat masakan yang berada di meja. Dengan berlinang air mata Ana memakan semua makanan yang ia masak tadi. Dia sudah tak peduli lagi dengan rasa masakan yang asem dan tak enak, yang dapat ia rasakan adalah hambar dan tawar sebab teringat bagaimana Gus Ruwandana memuntahkan masakannya.
TBC