
"Ngapain kamu disini? " Tanya seseorang dari luar pintu kamar Gus Hafidz.
Ana tergelonjak kaget, foto yang ia pegang terlepas begitu saja dari tangannya.
"Astagfirullah, figuranya jadi pecah" gumam Ana melihat figura foto Gus Hafidz terpecah berkeping-keping.
"Maaf, Abi. Saya tidak sengaja" Ucap Ana menundukkan kepalanya.
Abi Ghazali menggeleng pelan
"Saya yang seharusnya meminta maaf gara-gara saya foto yang kamu pegang jadi jatuh"
Ana langsung membungkukkan badannya membersihkan pecahan-pecahan kaca yang berserakan.
"Sekarang apa yang kamu ingin kan, nak? "
Ana mendongakkan kepalanya
"Maksudnya, bi? "
"Apa kau ingin berpisah dengan gus Ruwandana? "
Ana terkejut mendengar ucapanmu dari Abi Ghazali, maksudnya apa beliau berbicara begitu.
"Mohon maaf, Abi. Maksudnya bagaimana? Saya sama sekali tak berpikiran akan berpisah dengan Gus Ruwandana, bukankah perpisahan itu sangat dibenci oleh Allah? "
"Kau tak akan kuat, nak"
"Saya kuat, abi. Saya perempuan yang tangguh"
"Apa kau pikir bisa membohongi ku? "
Ana menundukkan kepalanya, dia tak bisa berbohong kepada mertuanya. Setiap kali ia mengelak suatu kebenaran, pasti mertuanya bisa menebak kebohongan tersebut.
"Ana harus bagaimana, bi? " Tanya Ana dengan mata nanar menahan tangis.
"Apa kau ingin kembali kepada orang tuamu? "
Ana menggeleng cepat, dia tak boleh menunjukkan dukanya kepada kedua orangtuanya.
"Jangan, bi. Aku gak mau kedua orangtuaku mengetahui masalah ku"
Abi Ghazali mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, siapa sih yang ingin orang tuanya sedih gara-gara masalah anaknya, tidak ada kan?
"Baiklah, nak. Nanti saat pernikahan Gus Ruwandana, kau akan aku kirim ke rumah ummiku"
***
"Gus, apa kau tahu, aku sangat tidak menyangka akan menikah denganmu" Celetuk sari seolah sangat gembira sekali.
"Saya bahkan tak menyangka kau mau menjadi istri kedua saya"
"Ha? Maksudnya? "
Gus Ruwandana berhenti melangkah, ia menghela nafas lalu berkata
"Mantan istri dari Gus Hafidz adalah istri pertama dan satu-satunya yang saya cintai "
Sari diam mematung mendengar pernyataan dari Gus Ruwandana, hatinya sakit mendengar perkataan itu dari calon suaminya. Sari sangat mencintai Gus Ruwandana sudah sejak lama, bahkan saat mereka masih berumur 3 tahun. Konyol memang anak sebelia itu mencintai teman sebayanya, tapi ini nyata yang dialami oleh sari.
"Apakah kau tak mencintaiku? "Tanya Sari.
Sari mengepalkan tangannya marah
"Baiklah, aku akan membuatmu meninggalkan istrimu"
Tak ada yang bahagia dengan pernikahan ini, kecuali si sari dan Ummi Humairah.
Ana bukannya tak bisa memiliki seorang anak, tapi hanya saja dia belum diberikan amanah oleh Allah.
Gus Ruwandana duduk termenung di depan kolam ikan. Dia teringat saat pertama kali hendak menggoda Ana, jujur dia sangat rindu dengan istrinya itu. Sejak diumumkannya pernikahan antara ia dan Sari, Ana semakin menjauh darinya.
Mataharinya mulai menjauh darinya, rasa hangatnya Perlahan-lahan mulai mengikis dan digantikan oleh semilir angin malam yang dingin.
"Aku merindukan mu"
"Jika rindu adalah bumbu, maka menu sayang apa lagi yang harus ku hidangkan padamu?"
"Kalau rindu ya temui"
Gus Ruwandana menoleh ke sumber suara, dibelakang ternyata Abi Ghazali.
Gus Ruwandana bangkit dari duduknya, dia melangkah mendekati Abinya tak lupa dia mencium punggung tangan Abinya.
" Ada apa, Abi? " Tanya Gus Ruwandana.
Abi Ghazali menghela nafas panjang
"Ana atau sari? " Tanya Abi Ghazali.
Gus Ruwandana mengerutkan keningnya merasa tak mengerti dengan pertanyaan ambigu dari Abinya.
"Mohon maaf, Abi. Saya tidak mengerti maksudnya bagaimana?" Tanya Gus Ruwandana kembali.
Abi Ghazali kembali bersuara.
"Kau memilih tetap bersama Ana atau kau mau menuruti keinginan dari Ummimu untuk menikah dengan Sari? "
"Maaf saya tidak bisa memilih, Abi" Ujar Gus Ruwandana sambil menundukkan kepalanya.
Abi Ghazali menggeleng pelan
"Kau bukannya tidak bisa memilih, buktinya kamu menyetujui permintaan ummimu"
"Saya tidak bisa memilih diantara keduanya. Saya tidak bisa menolak permintaan ummi dan tidak bisa melepaskan Ana"
"Kamu jangan serakah, nak! Apa kamu tidak merasa kasihan dengan Ana tiap hari akan selalu makan hati" Kata Abi Ghazali, dia tidak habis pikirĀ dengan jalan pikiran anaknya ini.
"Ini juga bagian dari sunnah Rasulullah" Ucap Gus Ruwandana membenarkan keputusannya.
"Katanya siapa? Rasulullah berpoligami ketika istri tercintanya siti khadijah meninggal dunia. Dia berpoligami untuk melindungi para janda dari mara bahaya"
"Tapi tetap saja, Abi"
"Ternyata benar, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang maka semakin banyak pula godaannya" Abi Ghazali menghela nafas.
Lalu ia melanjutkan perkataannya
"Abi lebih suka Ana bersama Gus Hafidz daripada denganmu"
TBC