
Tugas Ana menjadi menantu dari keluarga Abi Ghazali tidak hanya menjadi seorang istri. Tapi juga menjadi pengurus dari pesantren para santriwati.
Seperti biasa setiap hari Ana akan berkeliling di halaman pesantren santriwati. Melihat- lihat dan mengawasi para santriwati.
"Ada apa disana?" Gumamnya tak kala melihat gerombolan para santriwati yang terlihat melihat sesuatu.
Ana melangkah mendekati gerombolan santriwari tersebut.
"Kenapa ini? ada apa?" Tanya Ana ketika melihat gadis kecil menangis ditengah gerombolan tersebut.
"Dia menangis sejak tadi, kak"
Ana menunduk lalu menggendong gadis kecil itu. Tampaknya dia masih berumur 5 tahun.
"Dia santri baru disini?"Tanya Ana.
"Iya kak"
"Mentari pengen pulang" Ucap bocah kecil tersebut segugukan.
Ana mengelus lembut kepala bocah itu, berusaha menenangkan bocah kecil yang bernama Mentari.
"Cup cup cup. Jangan nangis lagi ya"
"Kalian semua kembali, biarkan saya sendiri yang akan menangani Mentari" Ana menyuruh para santriwati yang bergerombol tadi meninggalkan tempat itu dan kembali ke aktivitas yang seharusnya mereka lakukan pada jam segini.
Sambil menggendong Mentari, Ana melangkah menuju tempat duduk yang berada di bawah pohon.
"Kamu kenapa pengen pulang?" Tanya Ana baik- baik.
"Kangen Bunda"
Ana tersenyum melihat wajah lucu dan lugu Mentari. Rasanya sangat hangat memandangi wajah mungil itu. "Bagaimana kalau kakak jadi Bundanya Mentari?" Tanya Ana kepada bocah mungil itu.
"Bunda" Mentari berteriak dan langsung memeluk erat Ana.
Tanpa sadar air mata Ana menetes, sungguh rasanya sangat hangat jika bocah kecil ini memanggilnya.
Rasanya kurang lengkap jika kehidupannya belum memiliki seorang anak.
***
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ummi Humairah bahwa hari ini akan ada perempuan yang akan dijodohkan dengan Gus Ruwandana. Apakah dia harus menuruti perkataan dari Umminya? atau harus menepati janji kepada istri tercintanya?
Tidak! Gus Ruwandana tidak bisa meilih diantara keduanya. Hidupnya tak boleh seperti itu. Dia tak mau.
"Nak. Cepat temui gadis yang akan kau nikahi besok. Setidaknya kalian bisa mengenal satu sama lain"
Gus ruwandana enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia merasa tak berminat untuk berkenalan dengan gadis yang sama sekali tak ia kenal.
"Maaf ummi. Saya tidak bisa menikah lagi"
Wajah ummi Humairah terkejut mendengar penuturan dari anaknya. Tidak seperti biasanya Gus ruwandana menolak permintaan Umminya.
"Kau menolak permintaan Ummi? Apa kau sudah gila?"
"Maaf Ummi. Tidak semua perempuan mau tinggal satu atap dengan laki-laki yang telah menikah"
"Ana ummi. Dia tidak mau, saya tidak mau mengecewakan dirinya"
Ummi Humairah tersenyum sinis
"Dan kau mengecewakan hati Ummi mu? Sadar, nak. Di tidak bisa memberimu seorang anak"
"Bukan tidak bisa Ummi. Tapi masih belum. Allah masih belum memberikan amanah kepada kami" Sergah Gus Ruwandana yang tak terima istrinya dikatakan tak bisa mempunyai seorang anak.
"Tapi tetap saja. Keputusan Ummi sudah bulat tidak bisa diganggu gugat"
"Tapi-"
"Apa kamu lebih menyayangi istrimu itu dripada Ummimu ini? Ummi yang melahirkan kamu. Sembilan bulan, taruhan nyawa. Ummi sakit hati kalau kamu lebih memilih istrimu itu yang tak bisa memberimu anak"
Deg
"Tidak Ummi. Aku juga sayang Ummi, malah sangat sayang sekali"
Ummi Humairah tersenyum kemenangan " Baiklah. Sekarang ayo kita temui calon istrimu" Ajak UmmiHumairah pada putranya.
Dengan lesu Gus Ruwandana menganggukkan kepala. Diaberjalan dibelakang Umminya. Dalam perjalanan tersebut seperti melangkah di atas ribuan paku, bukan kakinya yang sakit. Tapi, hatinya yang perih.
"Maafkan aku istriku. Aku tidak bisa menepati janjiku"Batin Gus Ruwandana.
***
Ana mondar- mandir di dalam kamar. Dia khawatir dengan suaminya yang tak kunjung ia temui. Tadi dia sudah bertanya pada santri yang biasanya menemani suaminya. Tapi,mereka bilang bahwa Gus Ruwandana pergi bersama Ummi Humairah.
"Apa dia akan mengingkari janjinya?" GumamAna.
Fikirannya tak bisa berfikir positif lagi. Dia takut,sangat takut. Atau jangan- jangan____ Tidak! Ana tidak akanbisa hidupjika hal itu terjadi.
tok tok tok
"Iya.Silahkan masuk"
Clek
"Maaf Kak. Saya ingin menyampaikan sesuatu" ucap salah satu santri yang mengetuk pintu oamar Ana tadi.
"Iya, silahkan"
"Ada tamu diluar. Dan Ummi Humairah meminta bunda agar menyiapkan minuman"
"Siapa?"
"Denger- denger dia yang akan menjadi istri dari Gus___"
"Sttt. Diem" bisik salah satu santri lain yang merasa tidak enak mengatakan kabar itu kepada Ana.
"Istri?" Ana menganga tak percaya.
TBC