
"Istri?" Ana menganga tak percaya.
Perlahan namun pasti air mata Ana keluar dengan sendirinya. Perempuan mana yang tidak sedih ketika mendengar kabar suaminya akan menikah lagi. Meskipun katanya jika seorang perempuan rela dimadu, kelak di surga dia akan dipayungi emas.
Tapi Ana tidak sekuat itu. Dia tak peduli tentang payung emas. Yang ia takuti ialah pada suatu hari Gus Ruwandana akan berpaling kepada perempuan itu ketika sudah memiliki seorang anak.
"Maaf kak. Teman saya minta ditampol kalau bicara " Ucap Ajeng merasa tak enak kepada Ana.
Ana menggeleng pelan lalu menghapus air matanya. "Tak mengapa. Sampaikan kepada Umi Humairah, kalau aku akan datang sebentar lagi"
Selepas dua santri itu pergi, Ana kembali menangis. Tangis yang pilu, sakit, perih. Semuanya menjadi satu.
Tak ada perempuan yang baik-baik saja ketika mendengar berita itu.
Kabar baik sekaligus menyakitkan bagi Ana. Dia harus tetap kuat agar ponpes ini bisa mendapatkan seorang pewaris generasi selanjutnya.
***
Gus Ruwandana risih ketika Uminya berkali-kali berbicara tentang kelebihan dari calon istri barunya ini.
Bukankah setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan maisng-masing?
"Senang sekali rasanya umi jika kalian telah resmi menikah"
Perempuan yang dipuji-puji oleh Umi Humairah hanya bisa menundukkan kepalanya malu. Jika dilihat dari penampilan luar dia jauh lebih cantik dari Ana. Tapi, Ruwandana tidak mementingkan kecantikan karena baginya akhlak lebih utama daripada paras wajah.
"Nanti berikan Ummi cucu-cucu yang soleh dan solehah ya"
"Assalamualaikum "Ucap Ana datang dengan nampan yang berisi teh hangat.
"Waalaikumsalam" Ucap semua orang yang berada di ruang tamu.
Ana tersenyum melihat mertuanya begitu ceria hari ini. "Silangkan diminum, kak" ucap Ana sambil meletakkan secangkir teh.
"Oh iya, nak ini kenalkan namanya Sari calon istri dari Gus Ruwandana " kata Ummi Humairah mengenalkan Sari kepada Ana.
Ana mengangguk singkat, ia tersenyum walau hatinya tersayat.
"Perkenalkan nama saya Ana, istri dari-"
"Almarhum Gus Hafidz kan? " potong Sari cepat.
Ana mengangguk pelan, dia hanya ingin pernikahan mereka berjalan lancar. Dia tak ingin menjadi benalu dalam hubungan yang akan mereka bina.
"Berarti dia kakak ipar saya, ummi? " Tanya Sari.
"Iya tapi-"
Ana meninggalkan ruang tamu dengan suasana hati yang tak menentu. Langkah kakinya membawanya ke depan pintu kamar Gus Hafidz. Dia tak sadar mengapa dia bisa berada disitu.
"Suasananya masih sama" gumam Ana ketika membuka pintu kamar Gus Hafidz.
Ana mengambil foto yang berada di atas nakas. Disana terdapat foto Ana dan Gus Hafidz waktu menikah dulu.
"Kak. Aku harus bagaimana? "
"Bolehkah aku bercerita sedikit? Aku tak tahu lagi harus bercerita kepada siapa" Setetes air mata keluar dari mata Ana.
"Kenapa hidupku sangat suram sekali? Kenapa aku tidak bisa mempunyai anak? Apa aku terkena kutukan? "
Flasback on
"Kak, bolehkan aku bertanya"
Gus Hafidz tersenyum
"Sangat boleh sayang"
"Apa setiap keturunan keluarga Abi Ghazali akan menikah berkali-kali? " Tanya Ana serius.
Gus Hafidz terkekeh geli.
"Kenapa? Apa kau khawatir suamimu ini akan menikah lagi? "godaGus Hafidz.
"Bukan seperti itu"
"Tidak akan pernah. Aku tak akan pernah mempoligami kamu, Ana. Aku sudah bertekad sejak dulu. Jika aku mendapatkan kamu, aku tak akan pernah berpikiran akan menikah lagi" Ucap Gus hafidz seraya memandangi wajah cantik Ana.
"Kenapa? "
"Satu saja sulit ditaklukkan apalagi dua" gus Hafidz reflek menghindar dari ana yang berusaha memukulnya.
"Ampun, jangan sayang" ucap Gus Hafidz sambil terkekeh.
Flasback off
"Ngapain kamu disini? " Tanya seseorang dari luar pintu kamar Gus Hafidz.
Ana tergelonjak kaget, foto yang ia pegang terlepas begitu saja dari tangannya.
"Astagfirullah, figuranya jadi pecah" gumam Ana melihat figura foto Gus Hafidz terpecah berkeping-keping.
TBC