
Lima tahun sudah semenjak pernikahan antara Ana dan Gus Ruwandana berlangsung. Hidup mereka sangat bahagia namun, tak sampai disitu.
Kisah mereka harus diuji dengan badai yang sangat besar. Hanya keteguhan dan kesabaran yang dapat menyelesaikan badai itu.
Ana mengaduk kopi di dapur. Hampir setiap hari dirinya membuatkan Gus Ruwandana secangkir kopi panas dengan tambahan bumbu cinta.
Ana tersenyum ketika mengingat setiap godaan yang dilontarkan oleh suaminya itu. Sungguh rasanya tidak ada lagi kebahagian terbesar baginya.
"Siapa itu?" Ana mendengar dua suara di luar dapur. Sepertinya sedang adu mulut.
Menuntaskan rasa penasarannya Ana bergerak mendekati pintu dapur. Dia mengintip ke luar.
"Kau harus menikah lagi, penerus pondok pesantren tidak akan ada jika kau tidak menikah"
"Aku tidak akan menduakan Ana, umi"
"Cukup. jangan fikirkan istrimu saja. yayasan ini juga butuh penerus dari anak kandungmu"
"tapi-"
"Sudah. besok bersiaplah, umi sudah menyiapkan istri untukmu"
"Bagaiman dengan Ana?"
"Ana tetap menjadi menantu disini"
Ana menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Buru- buru dia menghapus air matanya yang nakal keluar. Baru kali ini dia menangis semenjak lima tahun yang lalu.
***
Gus Ruwandana mengusap wajahnya gusar. Dia berada disituasi yang sangat tak ia inginkan. Memilih diantara kedua perempuan yang sama- sama ia cintai. Ana atau ummi?
"Cobaan apa lagi ini. Astagfirullah"
"Ada apa, bi?" Tanya Ana yang tiba- tiba sudah berada di samping Gus Ruwandana.
Gus Ruwandana terkejut melihat Ana yang tiba- tiba berada di sampingnya.
"Ah, tak mengapa. Sayang"
"Tumben manggil sayang?"
"Pengen aja"
Gus Ruwandana memalingkan wajahnya dari Ana. Dia tak sanggup melihat wajah istri tercintanya itu. Apalagi besok dia akan membawa luka bagi Ana.
"Kalau ada masalah cerita, abi"
"Tidak- tidak. Gak akan pernah" Ucapnya tanpa sadar.
Ana mengernyitkan keningnya.
Deg
"Apanya?" Tanya Gus Ruwandana pura- pura tak tahu.
Ana menghela nafas, jujur matanya saat ini mulai memanas. Tapi, dia tak mau menunjukkan dukanya itu kepada suaminya.
"Penerus yayasan pondok ini"
"Tidak! aku tak akan menyetujui apa yang Ummi katakan tadi"
"Kamu gak punya pilihan kan?" Air mata Ana lolos keluar dari mata teduhnya.
Gus Ruwandana menangkup wajah Ana. "Jangan menangis. Pasti ada jalan keluar dari masalah ini"
Ana menggelengkan kepalanya
"Gak ada. Kecuali kamu setuju menikah dengan pilihan Ummi Humairah"
"Tidak. Aku janji gak akan pernah menduakanmu" Gus Ruwandana menarik Ana ke dalam pelukannya.
"Ana gak butuh janji. Tapi, sebuah bukti"
***
"Apa yang akan kau lakukan istriku. Semuanya tak adil bagi Ana"
Ummi Humairah menggeleng cepat.
"Tidak, Abi. Ini sudah benar, jika kita tidak segera mengambil langkah ini. Maka yayasan kita tidak akan ada penerusnya"
"Dengan menyakiti hati menantuku? Kau juga perempuan, pasti tahu kan perasaannya jika tau niatmu seperti ini"
"Ummi cuman mewariskan apa yang mertua lakukan. Apa Abi tidak ingat? dulu Ummi adalah istri kedua abi kan?"
"Tolong jangan membuka luka lama"
"Tidak. Ummi hanya mengingatkan saja. Bahwa yang dilakukan Ummi itu murni untuk kebaikan bersama"
"Tapi Ana orangnya tidak seperti Syafirah. Kau juga harus lihat dulu sifat menantumu itu"
"Sama saja, Abi. Dulu Aku dan Syafirah tentram meski seatap bersama Abi. Tentunya Ana pasti seperti itu"
Abi Ghazali menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan sang istri. Memang benar Humairah merupakan istri kedua darinya. Itu pun Alm Umminya yang menjodohkan dirinya dengan Humairah. Pada saat itu Ghazali tak kunjung memiliki seoarang anak dari pernikahannya dengan Syafirah.
Syafirah merelakan suaminya dengan perempuan yang dipilihkan oleh mertuanya. Di dalam hatinya, dia hanya berharap dengan pernikahan antara suami dan perempuan itu membuat yayasan pesantren mempunyai seorang pewaris / penerus.
"Jangan sampai sejarah terulang lagi" Ucap Abi Ghazali penuh penekanan.
TBC