Black Stars

Black Stars
penangkapan



"Kita serang mereka dalam hitungan ketiga," kata Abizar. "Satu, dua, tiga serang!" Serunya kepada mereka.


Mereka melawan sekumpulan para penjahat dengan tangan kosong. Meskipun para penjahat itu mempunyai ilmu beladiri yang mumpuni, dilihat dari cara mereka menghindari pukulan dan melakukan perlawanan. Tetapi membuat para penjahat tak berkutik adalah hal yang mudah untuk dilakukan Helci dan lainnya. Kini mereka terkapar ditanah dengan tubuh penuh lebam.


"Menyerahlah kalian atau...!" seru Abizar dengan tangan mengarahkan pistol tepat di kepala bos para penjahat setelah membuatnya babak belur.


"Justru kami senang jika kalian menghabisi bos biadap seperti dia!" Kata penjahat berkepala plontos dengan tatapan benci.


"Mengapa kalian ingin bos kalian mati?" tanya Cyril keheranan.


"Karena dia telah membuat penderitaan untuk kami," seru penjahat berambut gondrong dengan tatapan sendu. "Dia telah membunuh keluarga kami dengan kejam tanpa belas kasihan, dia juga sudah meluluhlantakan rumah kami hanya karena kami mempunyai hutang kepadanya. Akhirnya kami memutuskan untuk bergabung dengannya untuk membalas dendam suatu saat nanti meski harus masuk jeruji besi," lanjutnya.


"Iya dan mungkin ini saatnya dia menerima balasan atas perbuatannya," seru yang lain. "Kami disini bergabung dengannya setelah kami dengar bahwa seluruh anak buahnya telah tertangkap dan dia menjadi buronan," lanjutnya lagi.


"Oh, jadi dia selain pengedar narkoba, penjual senjata ilegal, pembunuh, dia juga seorang buronan," tunjuk Revha ke arah bos penjahat.


"Sungguh licik sekali," sindir Lucy dengan tatapan tajam.


"Hey kalian, ternyata kalian berkhianat kepada bos. Padahal bos sudah berbaik hati mau menampung kalian, dasar tidak tahu diri," kata penjahat berpakaian serba hitam yang ditemui Helci dan Cyril sewaktu di kafe. "Sungguh menjijikan," katanya seraya meludah ke bawah dengan memegang perutnya yang sakit karena pukulan Helci.


"Iya, apa kalian lupa apa yang sudah diberi bos untuk kita? tanya temannya yaitu orang yang sama ditemui Helci dan Cyril tadi di kafe.


"Hahaha, bos cuma berlaku baik kepada kalian karena kalian orang kepercayaannya, sedangkan kepada kami dia berbuat seenaknya dan tak segan menyiksa kami bila kami melakukan kesalahan!" kata penjahat satunya dengan menahan marah terlihat dari wajahnya yang merah padam.


Tapi tiba-tiba


Srrrekkkkhh


"Akkkkkkhhhhhww,"


"HELCI,"teriak Nadine dan Revha yang melihat sebuah pisau tajam menggores lengan Helci, meski Helci menggunakan baju lengan panjang, tetapi darah merah itu jelas terlihat menetes ke tanah.


Walaupun lengan kanan Helci terluka dan mengeluarkan banyak darah, tetapi Helci masih bisa melakukan perlawanan kepada orang berambut cepak yang sebelumnya ada dibelakang Helci, menggunakan lengan kiri dan juga kakinya sehingga orang itu terhuyung ke belakang.


"Aku akan mengikatnya dengan benangku!" Kata Fellie seraya mengeluarkan benang dari saku jaket dan mengikat penjahat itu.


"Ok semuanya, kita kumpulkan para penjahat di halaman depan. Polisi akan segera datang!", ucap Marcel yang telah menghubungi polisi.


Dihalaman depan, mereka menunggu kedatangan para polisi. Luka Helci sudah mengering karena Marvel sudah memberikan obat penawar multifungsi.


Terdengar suara sirinei polisi dari kejauhan mendatangi gedung tua.


Helci dan lainnya telah mengumpulkan para penjahat di halaman bersebelahan dengan truk militer milik marcel. Para penjahat yang pingsan dimasukan ke truk militer sedangkan yang sudah sadar memasuki mobil polisi.


Mereka menuju kantor polisi setelah 45 menit perjalanan dikarenakan jarak yang lumayan jauh. Para penjahat di masukan ke sel tahanan setelah melakukan perawatan karena luka yang meeka alami.


Salah satu polisi menghampiri dan menjabat tangan mereka.


"Terima kasih atas bantuan kalian dalam penangkapan para penjahat itu, khususnya Baron. Dikarenakan dia sudah menjadi buronan selama 1 tahun dan saat kami melakukan pengejaran, dia selalu saja bisa lolos. Tapi aksi kalian benar-benar hebat. Saya bangga terhadap anak muda seperti kalian," kata polisi itu seraya tersenyum.


"Sama-sama pak, karena itu sudah menjadi tugas kami untuk memberantas kejahatan," ucap Marcel.


"Baiklah kalau begitu kami permisi ya pak," ucap Abizar.


"Iya hati-hati,"


Mereka segera bergegas pulang ke Mansion Blue Sky karena hari sudah menunjukan pukul 12 malam. Melewati jalan yang lumayan sepi membuat mereka sampai di Mansion dengan cepat.


"Oh ya kak, kak Bizar sudah kasih info ke Pimpinan Bank daerah Nebula?" tanya Helci.


"Oh iya ya, aku lupa. Akan ku telpon sekarang," jawab Abizar.


"Hallo dengan Pimpinan Bank daerah Nebula?" tanya Abizar kepada orang diseberang telepon.


"...........,"


"Begini, saya mau mengingatkan bahwa pengawasan di Bank harus diperketat karena saat ini sedang rawan penjahat,".


"......,"


"Iya sama-sama,".


"Bagaimana Hel dengan lukamu?" tanya Marcel.


"Sudah mendingan kak, karena kak Marvel kan paling jago bikin obat penawar," ujar Helci dengan tersenyum dan melirik Marvel.


"Kamu terlalu memujiku Hel, aku kan jadi tersanjung," ucap Marvel dengan muka sok imutnya.


"Hahahaha," semua tertawa melihat muka Marvel sedangkan Abizar hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya.


"Tapi pistol buatanku dengan Lucy tidak terpakai," ujar Marcel menampilkan muka cemberut.


"Jelek sekali mukamu Cel, ha ha ha," kata Marvel tertawa terbahak-bahak.


"Sudahlah kak gak perlu dramatis gitu, suatu saat pistol itu pasti akan kepakai," kata Helci.


"Iya deh," ucap Marcel.


"Kalau begitu sebaiknya kita segera tidur, karena hari sudah malam," ucap Abizar.


Mereka menuju kamar tidur masing-masing untuk beristirahat.


Tok tok tok


"Masuk aja, tidak dikunci kok," seru Helci dari dalam kamar.


Marvel memasuki kamar Helci setelah memutar knop kunci dan membuka pintu kamar Helci.


"Kenapa kak," tanya Helci.


"Ini kakak bawain kamu ramuan herbal untuk menghilangkan rasa sakit di lenganmu," ucap Marvel sambil menaruh ramuan itu diatas nakas.


"Terima kasih kak, aku akan meminumnya," jawab Helci sambil mengeringkan air yang membasahi wajahnya.


"Iya sama-sama, kalau begitu segera tidur ya adikku sayang," ucap Marvel dengan tangan mengelus-elus kepala Helci.


"Iya kak," kata Helci dengan senyuman lebar memperlihatkan giginya.


Marvel keluar dari kamar Helci dan berjalan menuruni tangga untuk menuju kamarnya.


🍁See You Next Chapter🍁