
Mereka sudah berkumpul dihalaman dengan berbagai peralatan untuk melakukan penyerangan. Tak lupa juga mereka memakai baju anti peluru dengan setelan pakaian santai, sehingga orang lain tidak akan menyadari bahwa baju yang mereka pakai adalah baju anti peluru yang didesain khusus dan tidak akan membatasi gerak mereka untuk beraksi.
"Apakah semua peralatan sudah siap," tanya Abizar pada mereka.
"Tentu kak, aku sudah mengeceknya tadi," jawab Helci sambil memasukan pistol kedalam tempat pistol disaku celananya.
"Ok, kita berangkat!" Seru Abizar pada mereka dengan menggerakan tangan melambai kedepan untuk memberi kode perintah.
Mereka memasuki mobil masing-masing diikuti truk militer milik Marcel diantrean belakang dan keluar dari gerbang Blue Sky dengan pemberian tanda hormat dari para robot.
Jalanan yang mereka lewati tidak terlalu ramai sehingga mereka bebas menggunakan kecepatan penuh. Suasana malam yang terang ditemani cahaya bulan dan kilauan bintang, seakan mengijinkan mereka untuk memberantas kejahatan di kota ini.
Mereka telah sampai didepan gedung tua dengan ukuran besar, seperti villa yang ditinggalkan pemiliknya. Kawasan ini adalah kawasan yang terkenal akan cerita mistisnya membuat kawasan ini jarang terjamah manusia. Tak heran kalau para penjahat bisa bebas keluar masuk dengan mudah.
Helci menyilangkan tangan didada "Hemm sepi sekali disini," katanya dengan pandangan mata mengarah ke gedung tua penuh selidik.
"Ya, dan itu membuat mereka bebas melakukan apa saja, tetapi malam ini kejahatan mereka akan terbongkar dan masuk kedalam jeruji besi," ucap Marvel tersenyum sinis.
"Mereka hanya bisa merugikan dan menyusahkan orang-orang yang tidak mampu, bukankah lebih baik bila menciptakan pekerjaan yang diperbolehkan pemerintah london. Itu akan membuat hidup lebih bermakna," ucap Fellie menimpali.
"Namanya juga penjahat, mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kesenangan mereka tak peduli itu perbuatan terlarang atau tidak," kata Revha.
"Sudahlah, sekarang adalah waktunya kita beraksi untuk menumpas kejahatan mereka!" kata Cyril dengan melangkahkan kaki kedepan, dengan membawa pulpen listrik.
Sebelumnya Abizar sudah meretas cctv pada bagian depan gedung saat mereka tiba di gedung itu karena bila ia merentas semua cctv akan memberi kesan aneh dan itu akan membuat para penjahat menjadi lebih waspada.
Mereka pun mulai melaksanakan tugas masing-masing. Marvel menyebarkan debu tidur kepada penjaga yang ada didepan pintu dengan gerakan mengendap-endap supaya tidak menimbulkan suara. Marcel memborgol mereka dengan gerakan cepat dan memasukkannya kedalam truk setelah debu tidur itu bereaksi.
Sementara itu Abizar memasuki gedung dan melihat alat pelacak untuk mengetahui dimana posisi ruangan sistem. Alat pelacak itu bisa mengetahui dengan jelas bila ada komputer atau laptop didekatnya karena mempunyai sinyal yang kuat meskipun daerah yang ditempati lemah sinyal. Abizar setelah mengetahui ruangan sistem itu, ia bergegas menuju kesana.
Ditempat lain,
"Fel lihat!" tunjuk Cyril dengan mengarahkan gerakan mata kearah cctv dipojok tembok."Aku akan mematikan cctv dengan pulpen listrikku untuk sementara waktu, Ayoo!" ajaknya.
Cyril melempar pulpel listrik itu tepat kearah cctv dan membuat cctv padam seketika.
Mereka kemudian melewati cctv itu kemudian Cyril menghidupkannya kembali dengan memencet salah satu tombol di pulpen itu.
Mereka memasuki gedung dengan langkah hati-hati dan menemukan banyak kardus yang berisi narkoba.
"Banyak sekali, hmm berani-beraninya para penjahat itu sampai menyimpan hampir 50-an kardus berisi narkoba, apa mereka tidak takut hukum ya?" tanya Fellie.
"Namanya penjahat kan gak boleh takut hukum Fel," ucap Cyril sambil membuka-buka kardus berisi Narkoba.
"Iya juga ya," kata Fellie
Abizar telah sampai diruangan sistem. Disana ada seseorang yang sedang menatap monitor ditemani secangkir minuman diatas meja. Abizar memukul muka orang itu dengan sikunya dan membuat orang itu pingsan seketika. Setelah orang itu pingsan, Abizar mengeluarkan tali berukuran kecil untuk mengikat orang itu. Meskipun tali itu berukuran kecil namun tali itu memiliki kemampuan mengikat kencang dan hanya bisa dilepas oleh orang yang mengikat. Abizar juga mengeluarkan plester dan membungkam mulut orang itu
Setelah dirasa aman, Abizar segera mengeluarkan flashdisknya untuk meretas file. Dia juga telah mematikan seluruh cctv diarea itu.
Helci dan Lucy berhasil melewati tembok yang menjulang tinggi di samping kiri gedung itu dengan melompat dan pendaratan yang sempurna tanpa menimbulkan suara berisik. Mereka kemudian berjalan melewati pintu coklat usang dan menemukan para penjahat yang sedang merokok.
"Siapa kalian?" tanya salah satu penjahat.
"Siapa kami tidaklah penting, karena yang terpenting kami akan menangkap kalian!" tunjuk Helci kepada para penjahat.
"Melawan kami, memang kamu bisa apa bocah? kata penjahat berambut merah. "Dasar bocah ingusan," ucapnya lagi.
"Kita bisa melakukan apapun yang kami suka,iyakan Hel," ucap Lucy.
"Kurang ajar kalian,"
Helci dan Lucy melawan para penjahat sehingga satu-persatu penjahat itu jatuh ke tanah dengan luka diseluruh tubuh akibat tendangan juga pukulan Helci dan Lucy.
Saat Helci dan Lucy sedang melawan para penjahat, salah satu penjahat yang sudah jatuh ke tanah mengarahkan pistolnya ke kaki Lucy. Helci yang melihat itu segera menendang pistol dengan kakinya secepat mungkin.
Lucy memainkan gitar yang ia bawa dan menciptakan bunyi indah dari petikan senar gitar membuat para penjahat langsung tak sadarkan diri. Kemudian dia meniup seruling dan datanglah sekelompok hewan terdiri dari tikus dan kecoa.
"Kalian jaga mereka ya binatang manis!" seru Lucy. Binatang itu membalas dengan menganggukan kepala tanda mengerti.
Revha dan Nadine melewati samping gedung. Mereka bertemu beberapa orang yang menampilkan tampang sangar.
"Sedang apa kalian disini?" tanya salah satu dari mereka.
"Kita sedang main," jawab Revha dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Ini bukan tempat bermain untuk anak kecil seperti kalian," jawab yang lain.
"Atau jangan-jangan kalian?" Jawab yang lain menduga-duga.
"Kenapa memangnya?" tanya Nadine.
Revha langsung meniup peluit Oz dan menciptakan suara yang keras menyebabkan telinga para penjahat itu sakit, tetapi beda halnya dengan Nadine yang malah tersenyum karena ia memakai 2 earphone. Earphone itu bisa menormalkan frekuensi suara.
Setelah Revha selesai meniup, Nadine mengeluarkan kotak make up dan melempar bedak tabur kepada para penjahat membuat mata mereka perih dan sulit terbuka.
Para penjahat itu mengucek-ucek matanya karena keperihan. Situasi tersebut dimanfaatkan Rheva untuk mengeluarkan tarian khasnya dalam melawan penjahat dan berhasil membuat mereka terkapar dan pingsan. Nadine melihat tali dan langsung mengikat para penjahat menjadi satu.
Helci dan yang lainnya bertemu diiruang tengah, mereka bersembunyi dibalik tong minyak dan lemari yang ada disana. Terlihat para penjahat berkumpul dan membahas transaksi narkoba ke luar negeri dengan jumlah sekitar 30 orang. Ada 2 diantara mereka yang dilihat Helci dan Cyril sewaktu di Kafe.
"Bagaimana pengedaran narkoba keluar negeri?" Tanya pria berjas.
"Semuanya berjalan lancar bos, penjualan senjata ilegal juga semakin banyak pesanan," jawab anak buahnya.
"Bagus, hal ini akan menambah keuntungan kita ha ha ha," seru bosnya dengan ketawa.
"Sumpah ketawanya jelek banget kayak orang gila,". ucap Lucy dibalik tong minyak dengan muka begidik ngeri.
"Iya betul, dia kan emang gila karena menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan," jawab Revha menimpali.
"Hish jangan berisik, jangan buat mereka curiga. Apalagi anak buah mereka yang ada diluar sudah kita ikat," ucap Cyril
"Iya," jawab Lucy.
"Oh ya Nando, sana kamu periksa pistol didalam lemari itu ada berapa jumlahnya!" tunjuk bosnya ke arah lemari yang menjadi tempat persembunyian Helci dan Marvel.
"Baik bos,".
Anak buahnya membuka salah satu lemari dan menghitung jumlah pistolnya.
"Semuanya ada 100 bos," jawabnya.
"Hemmm," jawab bosnya manggut-manggut.
"Kita serang mereka dalam hitungan ketiga," kata Abizar. "Satu, dua, tiga serang!" Serunya kepada mereka.
🍁See You Next Chapter🍁