
Masih di keadaan yang sama
Kedua orang tua Shintia tersenyum lalu bundanya mengacak rambut Shintia pelan "Iya, Shintia sayang. Kami akan selalu ada buat Shintia "Ucap sang Bunda
Shintia nampak tersenyum lalu mengangguk membenarkan perkataan bundanya. Lalu dirinya memeluk keluarga kecilnya itu.
"Hem, lalu Jika kami memberikan kado. Kado apa yang Shintia inginkan? "Tanya sang ayah melihat Shintia dengan senyum mengembang nya
"Kado apa saja, yang penting kalian ada saat ulang tahunku nanti "Jawaban sang anak membuat bunda dan ayahnya juga Levina berharap yang terbaik untuk Shintia kedepannya
"Shintia, jika sudah lulus mau sekolah dimana? "Tanya sang ayah yang berada disamping Shintia dengan kacamata yang bertengger di hidungnya berwarna putih
"Emm.. Entah, Shintia tak tahu. Asalkan Bunda sama Ayah ngijinin Shintia "Jelas Shintia mendapat senyuman lebar dari sang bunda dan ayahnya juga sang kakak yakni Levina
"Lalu, kau Levina? Sekolah dimana? "Tanya Bundanya yang mengalihkan pandangannya dari Shintia ke Levina yang berada disebelah nya
"Kuliah Bun.. "Jawab sang kakak menatap sang bunda dengan tulus dan tak lupa, diwajahnya selalu terpatri senyuman yang Indah dan menawan yanh bisa membuat lawan jenis menyukainya
Malam
Sang bunda sedang menyiapkan makan malam untuk kedua putrinya juga sang suami. Dirinya setelah selesai masak, segera dia meletakkan makanan yang masih hangat di atas meja makan. Sang bunda atau Vhina, memanggil kedua putrinya dengan menghampiri mereka yang ada dikamar masing masing. Vhina melangkah kekamar Shintia terlebih dahulu lalu mengetuk pintu kamarnya
"Shintia, waktunya makan nak.. "Ucap Sang Bunda dari luar kamar Shintia. Shintia yang awalnya bermain ponsel segera menyudahi aktivitas nya lalu membuka pintunya dan mendapati sang bunda disana
"Bun, udah masak? "Tanya Shintia pada sang bunda yang menatap nya intens. Sang bunda pun mengangguk, lalu menyuruh Shintia turun ke meja makan. Dirinya berganti pada kamar sang Putri pertamanya yakni Levina
"Levina sayang, makanan sudah siap loh.. "Setelah mendengar suara sang bunda, Levina yang awalnya bermain dengan komputer nya menyudahi dan menuju pintu kamar lalu membukanya
"Bun, kalo masak kok Levina nggak diajak sih. Kan pengen bantuin bunda.. "Ucap Levina dengan raut wajah kesalnya dan memasukkan tangannya ke saku celana jeans nya
Sang bunda terkekeh lalu mengelus rambut panjang Levina dan menyuruhnya turun untuk makan malam karna disana sudah pasti ada suaminya yakni, Vhero.
Dan benar saja, saat sudah turun dari tangga. Levina dan bundanya menemukan ayah dan adiknya disana sedang menunggunya. Tanpa banyak bicara, Levina duduk disamping Shintia. Sedangkan sang bunda memberikan makanan pada sang suami yang itupun sudah jadi tugas keseharian nya
Pagi 30 oktober 1996
Levina dan Shintia sudah bersiap siap untuk pergi ke sekolahnya dengan diantar sang supir. Ayahnya pun sudah berangkat kerja dikantor, rumah sepi hanya ada Vhina juga beberapa pelayan saja.
"Shintia, selamat ulang tahun Shintia kesayangan ku.. "Ucap Selly yakni sahabat Shintia sejak kecil mungkin umur 5 tahun nan lah. Dirinya memberi selamat pada Shintia karna hari ini adalah hari lahirnya, atau bisa dikatakan hari ulang tahun
Shintia tersenyum dan mencubit pelan hidung Selly sahabat nya itu. "Makasih, apa kau tidak akan memberiku kado? "Tanya Shintia yang benar benar bercanda, karna dirinya tak ingin diberi kado atau pun itu, yang penting orang yang disayangi nya ada untuk dirinya
"Hahaha, nggak ada kado kadoan. Nggak punya duit hehehe 😁" Jawab Selly cengengesan. Itu membuat Shintia tertawa kecil lalu masuk ke kelasnya karna sudah bel
Skipp
Pulang sekolah
Saat Shintia sudah menginjak tanah kediaman rumah nya, perasaannya tiba tiba tak enak dan menuju pada kedua orang tua nya. Dikala itu, Levina sudah pulang karna tak ada pelajaran atau jam kosong. Shintia pun berjalan masuk kedalam rumahnya
Alangkah terkejutnya mendapati kedua orang tua nya tergeletak dilantai dengan disusul keluarnya darah segar dari leher sang bunda dan kepala sang ayah yang mulai membanjiri lantai disana
Dirinya juga menemukan sang kakak, Levina. Menangis histeris melihat itu, dirinya menaruh kepala sang bunda di pangkuannya berharap sang bunda dapat bangun lagi
"Bunda.. Huwaaa... Jangan tinggalkan Levina sama Shintia sendiri bunda! Huwaaa... Bunda!! Ayah!! Bangun!! Hiks.. "Tangis Levina sangat memekikkan telinga Shintia, segera Shintia menghampiri Levina dengan kedua orang tuanya, dirinya duduk disamping sang kakak membuatnya menoleh ke Shintia dengan air mata yang deras
"Ka.. Kakak.. Apa.. Apa yang terjadi pada bunda dan ayah.. "Tanya Shintia dengan nada suara seperti menahan tangisnya dan memegangi dadanya yang sesak. Dirinya tak sampai menjatuhkan tas atau pun melepas sepatu saat pulang sekolah itu
"Huwaa.. Shintia.. Ayah sama Bunda dibunuh seseorang Shintia.. Hikss.. "Jawab Levina dengan memeluk Shintia dengan erat juga sesegukan
Shintia melototkan matanya mendengar kedua orang tua nya dibunuh tepat saat hari ulang tahunnya. Dia tak berharap ini sama sekali, tak berharap mendapatkan hadiah yang menghilangkan nyawa kedua orang tuanya
"Di.. Di bunuh..
To Be Continue 😉