Between Love and Hate

Between Love and Hate
Bab Lima Mencari pekerjaan



Lucy tak ingin bersedih terlalu lama, mengurung diri terus didalam rumah hanya menambah kesedihan saja, Dia harus mulai menjalani hidup dengan normal kembali, menemui teman- teman, bekerja , berpacaran. Sebulan penuh dia melakukan terapi untuk diri sendiri. Dengan hidup seperti seorang pertapa, tidak berinteraksi dan bersosialisasi. Hingga ia tersadar bahwa hidup terus berjalan


Ayah juga tak akan bahagia melihat Lucy terus bersedih dan murung sepanjang hidup. . Hidup sebatang kara tak boleh cengeng dan lemah. Dia harus lebih kuat dari sebelumnya.


Tabungannya yang tak seberapa pun sudah dipakai untuk Biaya hidup selama tak bekerja.


Sebenarnya Ayah juga punya tabungan, Tapi ayah pernah berkata bahwa tabungan nya akan dipakai untuk pernikahan Lucy.


Lucy ingin mewujudkan keinginan sang ayah.


Lucy butuh uang dan pekerjaan.


Dia harus mulai mencarinya. Bekerja di kafe sudah tak mungkin, terlalu malu karena sudah membolos terlalu lama. meski dia tak bermaksud melakukannya.


Lucy membuka- buka koran , mencari iklan lowongan pekerjaan.


Matanya tertuju pada sebuah Iklan lowongan pekerjaan disebuah Mall besar,


" Dicari sepuluh orang karyawan wanita untuk bekerja dan bla..bla...." Wajah Lucy seketika berubah ceria karena sudah menemukan pekerjaan yang cocok.


" Aku coba saja melamar siapa tahu di terima. " Sambil melingkari Iklan dengan spidol.


Setelah semua berjalan normal bagi Lucy, dia memutuskan ingin mengunjungi sahabatnya, Saat dia menemukan waktu yang tepat dan itu saat dia melakukan wawancara terakhirnya di Mall. karena jadwalnya tes nya agak lambat Lucy pun datang berkunjung.


" Lucy...aku senang sekali melihatmu..." Desty menyambutnya gembira.


Dia memeluk Lucy erat.


" Luc, Selama ini kamu ngumpet dimana? Selama dua bulan ini aku terus mencarimu, tapi kamu bagai hilang ditelan bumi, kamu kenapa!!?" Tanya Desty tak sabar dia menatap Lucy lama,


" Kamu juga terlihat kurus dan pucat..?"


Lucy tersenyum dengan enggan.


Dia tahu Desty mencarinya, sebulan Lalu, Desty mendatangi rumah Lucy, Saat itu Lucy belum siap bertemu dengannya makanya dia menghindari Desty


Dia hanya belum siap menceritakan kisahnya.


" Sebenarnya kamu kemana?, kamu tidak mungkin kabur dari penagih utang kan?" Tanya Desty ragu.


Lucy tertawa, " Mana pernah aku ngutang sama renternir Des, paling berani juga ngutang ke kamu.."


Lucy dan Desty tertawa bersama.


" Terus kenapa tiba- tiba menghilang, bahkan Ayahmu juga ikut hilang bersamamu.."


Lucy menunduk berusaha menyembunyikan kesedihannya


" Panjang ceritanya.." dia menjawab pendek sambil tersenyum pahit.


" Aku siap mendengarkan.." Desty memposisikan badannya senyaman mungkin serius melihat Lucy.


Lucy ragu-ragu, haruskah dia menceritakan peristiwa pahit yang tak ingin di ingatnya.


" Ayolah Luc.." bujuk Desty sedikit memaksa.


Lucy pun menceritakan kisahnya dengan getir, perlahan air matanya mengalir dengan deras. Desty memeluknya erat menenangkan Lucy.


" Maafkan aku Luc..aku gak tahu kalo kamu diculik bahkan ayahmu sakit hingga meninggal pun aku tak mengetahuinya. Aku pikir selama ini kamu pindah ke daerah Lain tanpa memberitahuku, bahkan aku sempat marah padamu..."


" Sudahlah des, bukan salahmu.." dia menyeka air matanya dan tersenyum manis pada Desty.


"Aku tak ingin kau ikut terbebani dengan masalahku, Alex black, bukan pria sembarangan, jika kau melibatkan diri bisa- bisa kau mengalami nasib yang sama sepertiku."


Siapa yang tak mengenal Alex black. semua gadis mengenalnya karena ketampananya.


Tapi mereka mana mungkin mengetahui sepak terjang Alex yang kejam, bagi mereka pria itu Millarder kaya yang Layak di jadikan suami idaman.


Tiba- tiba muncul kebencian dihati Desti terhadap Alex.


" Maafkan aku luc.." Desty bener- benar menyesali diri, seandainya dia tahu, kondisi Lucy sesulit itu, dia akan membantu Lucy untuk menemukan orang jahat yang sudah memfitnah ayah Lucy sahabatnya.


" Lupakan saja, semua sudah berlalu, bagaimana kafe??" Lucy mengalihkan topik, agar suasana kembali nyaman.


" Semua berjalan normal, ada seorang pegawai baru yang menggantikan posisimu, dia cukup baik dan rajin, tapi aku lebih suka bekerja bersamamu.." wajah desty merengut dan dia langsung memeluk Lucy.


Lucy tertawa, " kau harus terbiasa, kemungkinan aku akan bekerja ditempat Lain.." Dia tersenyum dikulum menatap wajah Lucy jenaka.


" kenapa kamu tidak kembali kerja dikafe saja, Boss kita pasti ngerti dengan situasimu " Bujuk Desty penuh harap


Lucy menggeleng, " Aku gak bisa.." dia berkata denga wajah muram.


Desty memahami keinginan Lucy.


"Lalu, kau akan bekerja dimana..?" Tanya Desty semangat.


" Sebenarnya aku masih harus melakukan wawancara hari ini, Tapi aku memutuskan bertemu denganmu terlebih dahulu, maukah kau ikut denganku ke Mall itu, mungkin dengan keberadaanmu, kepercayaan diriku meningkat."


" jam berapa wawancaranya?" tanya Desty sambil melihat jam tangannya.


" Siang ini sebelum jam makan siang, kukira tak akan lama lagi."


" kalo begitu kita harus bergegas ! " Desty menjadi panik.


" kau beruntung Lucy, kebetulan hari ini aku kena shift malam , jadi punya banyak waktu untuk menemanimu.." seru Desty ceria.


Melihat Lucy keluar dari Meeting room, Desty segera menghampiri.


" Gimana?, wawancara nya sukses kan???"


Dia bertanya tak sabar.


Lucy tak segera menjawab dia justru memeluk Desty dengan gembira.


" aku diterima des, aku lulus.....!"


Mereka berteriak dan tertawa dengan nyaring mengabaikan sekitarnya.


.


Lucy mulai berkerja di Mall. Di hari pertamanya dia sangat bersemangat, mendapatkan seragam yang sangat cantik dan sangat cocok bila Ia memakainya, Lucy juga harus memakai riasan agar penampilaya menarik. Dia bekerja sebagai pegawai toko.


Toko tersebut menjual baju baju mahal merk terkenal buatan Luar negeri, seperti chanel, Guccy, Hermes, dior, serta merek terkenal Lainya yang harga satu baju saja bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta. Bisa dipastikan pelanggannya adalah artis, pengusaha, pejabat serta kaum borjuis berkantong tebal


Dia mengikuti masa training selama satu minggu. Pengalaman bekerja dikafe membuat Lucy cepat beradaptasi sebagai pelayan toko.


" Jean, Lihat bukankah itu gaun yang kau cari.? "


Gadis yang dipanggil jean memalingkan mukanya melihat kearah toko. Matanya langsung menatap etalase toko, dia melihat sebuah gaun yang sangat indah dan halus berbahan sutra.


"Sepertinya gaun itu sangat cocok untukmu...kau lihat kan sangat indah..?" Mata gadis itu berbinar - binar menatap kagum pada gaun.


Jean tersenyum melihat kearah gaun. kemudian dia berjalan masuk ke toko.


Tiga orang gadis berseragam coklat tua menyambut mereka bertiga dengan ramah.


Salah satu pelayan toko itu adalah Lucy.


" Lucy, kamu mau coba melayani mereka, kamu bisa belajar, ayo cobalah..!" pegawai yang lebih senior membujuk Lucy.


Lucy menyetujui, dia menghampiri jean dengan ramah.


" Selamat datang Nona, ada yang bisa saya bantu? " Tanya Lucy sambil tersenyum. Sambil mengikuti gerak ketiga gadis cantik itu. Mereka langsung mengarah pada gaun yang di incar.


Tapi Lucy hanya tertarik melihat pada jean, Dia paling cantik diantara ketiganya.


Kulitnya putih seperti susu, matanya berwarna hijau terang seperti zamrud, bibirnya tipis tapi sensual, tubuhnya ramping dan tinggi, suaranya juga enak didengar.


" Kami menginginkan gaun itu, bisakah kau memperlihatkan pada kami, temanku ingin mencobanya.


" Iya, baiklah ! " Tergesa lucy menjawab dan segera menyerahkan baju yang dimaksud.


" Baju itu, itu dan itu, juga itu, kami ingin mencobanya juga..." Mereka mengambil sekitar lima buah baju, termasuk yang dipegang jean lalu masuk ke kamar pas.


Saat ketiga gadis itu mencoba baju dikamar pas, Lucy ditarik paksa oleh manajernya.


" Layani mereka dengan baik, gadis cantik yang bernama jean itu adalah salah satu balerina terkenal, dia juga putri seorang pejabat dinegara kita, hati - hati lah jangan membuat masalah." pesan Anjana sang manajer.


Lucy mengerti


" Baiklah nona Anjana.." Lucy menjawab sopan.


Dia pun berdiri di depan kamar pas, menunggu ketiga gadis keluar.


Dari ketiga gadis itu hanya jean saja yang membeli baju, yaitu baju yang dipilih pertama kali oleh mereka.


Setelah mengembalikan baju yang tak jadi dibeli ketiganya keluar dari toko.


Lucy menghitung baju berniat memajang kembali, Lalu mulai mencari dengan panik ke segala penjuru toko, membuat pegawai lain heran.


" Lucy ada apa?, kamu sedang mencari apa?"


Lucy tak menjawab, Dia terlihat melamun, mengingat- ingat sesuatu.


kemudian dia menyadari jika kehilangan sebuah baju. Seharusnya mereka.mengembalikan empat baju, tapi dia hanya menerima tiga baju saja.


" mereka mencuri..!.." Lucy menjadi panik, membuat pegawai lain heran.


" Lucy ada apa!!!? " Mereka pun gelisah.


Lucy tak mengabaikan, dia segera berlari mengejar.


Lucu melihat ketiganya sedang mengobrol santai.


Dia segera menarik salah satu gadis membuat mereka kaget karena Lucy melakukan dengan kasar.


"Kalian ikut saya.." perintahnya dengan tatapan dingin mengancam.


" Hey...apa ini..??!?, kau sudah gila ya...!" gadis lain berteriak, tapi jean terlihat tenang dan terkontrol, gadis ini memiliki pengendalian diri yang baik. dia pasti sering melakukan latihan kepribadian.


" Baiklah, kita akan ikut.." Dia menjawab dengan suara lembut, emosi Lucy sedikit melunak. mereka kembali ke toko bersama.


Di hadapan Nona Anjana manager toko, Lucy menjelaskan segalanya.


" Apa kau menuduh kita mencuri baju..?? apa kau tidak mengenal siapa kita..!?" Salah satu gadis berteriak marah.


jean segera menenangkan dengan menyentuh lengan dan menatap temannya dengan tatapan tajam. Mereka pun bungkam.


" Maaf nona Anjana, Anda mengenal saya bukan, tak mungkin kita mencuri baju, bahkan saya mampu membeli semua baju yang ada ditoko ini, lalu untuk apa mencurinya." Suara jean terdengar sangat ramah dan lemah lembut, tak ada kemarahan dari nada suaranya.


Nona Ajana tertegun, tentu saja! jean dan ketiga sahabatnya adalah anak- anak para pengusaha dan pejabat, mustahil mereka mencuri.


Anjana menatap Lucy, tajam


" Mungkin kamu melakukan kesalahan saat menghitung baju dan memberikan pada mereka.


Lucy segera menggeleng, " Tidak saya sangat yakin, saya memberi mereka lima buah gaun, tapi saat mengembalikan saya hanya menerima tiga gaun, Bukankah seharusnya Empat."


" Baiklah," kata jean tanpa tersinggung.


" Untuk meyakinkan, Nona bisa memeriksa tas kami.." sambil menyerahkan tas mereka di ikuti teman - temannya.


" Bagaimana kalian puas, tak ada apa pun bukan!? teman jean berkata mengejek setelah Lucy selesai memeriksa.


" Lalu kemana perginya baju itu..?' dia bertanya pada diri sendiri.


" Sudahkah kau memeriksa di kamar pas? mungkin kami menjatuhkan disana tanpa sadar.." jean mengusulkan.


Salah satu teman pegawai Lucy segera memeriksa. mereka menemukan gaun yang dicari, tergeletak begitu saja di lantai.


Dia membawanya ke hadapan Nona Anjana.


Wajah anjana memerah seketika karena malu dan tak enak hati.


" Nona jean maafkan kami." Anjana segera meminta maaf. Begitu pun Lucy.


" Sudah lupakan, yang penting bajunya sudah kembali, Lain kali, sebelum menuduh, sebaiknya kamu harus lebih teliti.." sindir jean pada Lucy. Suaranya terdengar halus menenangkan.


Anehnya lucy bisa melihat senyum licik di wajah lembut nya.


Tiba- tiba dia merinding.


sepertinya mereka sengaja ingin menyulitkan Lucy.


" Maafkan saya nona, tapi seharusnya kalian juga lebih bertanggung jawab terhadap barang milik orang lain, hingga tak menimbulkan salah paham..' Lucy menyindir balik dengan suara ketus.


Anjana kaget setengah mati mendengar sindiran Lucy yang tak kalah Tajam


Begitu pun jean, dia merasa tertarik pada Lucy. Dia tertawa senang, sambil melihat wajah cemberut Lucy.


" Gadis ini cukup menarik.." batinya.


" Maafkan kami sudah merepotkan kalian.." sahut jean.


Seperginya Jean dan teman- temannya, Lucy langsung mendapat teguran keras,


" Hari pertama bekerja kau sudah membuat masalah lain kali hati- hatilah, apa pun yang terjadi kau tak boleh menyahut pelanggan, ingat pembeli adalah raja, kamu paham Lucy, itu strategi penjualan."


" Baik bu," sahut Lucy enggan.


" Nona jean sangat baik karena memaafkan kita, bisa saja dia menuntut kita karena kecerobohanmu menuduh mereka mencuri, bayangkan betapa malunya mereka.."


Lucy hanya menunduk karena tak enak hati pada nona Anjana.


Didalam sebuah mobil mewah.


Jean dan teman- temannya tertawa girang.


" Kau lihat wajah gadis pelayan toko tadi, sepucat kapas, dia pasti sangat ketakutan kehilangan baju ditoko, bagaiman tidak, dengan gajinya mana sanggup dia mengganti baju itu..kau sangat usil jean."


Dia menatap jean yang menyetir dengan tenang


Jean hanya tersenyum.


" Aku hanya bosan..' dia menjawab pendek.


" Tapi gadis pelayan tadi cukup tangguh, dia berani membalasku.."


" Itu sangat menyenangkan, orang seperti kita dituduh mencuri baju yang harganya tak seberapa, hanya 20 juta, bukankan itu sangat lucu."


mereka kembali tetawa, menyadari bertapa hebat dan kayanya mereka.


"