Between Love and Hate

Between Love and Hate
Prolog



Lucy Anastasya Ingin memberi kejutan pada Rendi Malik kekasihnya. Dia membeli sebuah jam tangan mewah sebagai hadiah ulang tahun kelima hubungan mereka.


Braaaakk!!


Dia membuka pintu ruangan tempat Rendi bekerja.


" Surprise.....!!!!" Serunya ceria menjulurkan kotak beludru hitam mungil kearah Rendi yang dia yakini saat ini duduk di kursinya.


Berharap melihat wajah terkejut dan bahagia milik Rendi.


Tapi......


Matanya menangkap sepasang manusia bermandi keringat setengah bugil beradegan liar diatas meja.


" A..apa.yang ka..kalian Lakukan..?" Bibirnya gemetar ketika menyadari melihat adegan tak pantas di depan mukanya.


Kedua manusia yang sedang dilanda nafsu primitif itu tersentak, menoleh kaget pada Lucy berbarengan.


Keduanya pucat pasi.


" " Minimal kunci pintu saat kalian melakukannya !!!" Dia berteriak lantang Dengan wajah bersemu merah antara malu dan marah. Dia memalingkan wajah dengan jijik. perutnya terasa mual tiba- tiba.


Rasa sakit menusuk dihati menjalar keseluruh tubuhnya dia gemetar hebat, tangannya mengepal kencang hingga kulitnya memutih. Jari jemarinya terasa gatal ingin menghajar menjambak dan mencakari wajah tak tahu malu milik Rendi dan Ratna.


Pacar dan Sahabatnya ternyata berselingkuh!


" Aku tak akan pernah memaafkanmu Rendi..." Dia berkata dengan suara lirih,namun terdengar mencekam ditelinga Rendi.


Dengan langkah tegap dia mendekati Lucy hendak memeluknya.


" Maafkan aku Lucy..."


" Jangan sentuh Aku..! " membentak Rendi Tubuhnya surut kebelakang.


" Ma- maafkan aku Lucy.." Rendi makin mengiba mendekati berusaha meraih Lucy kembali dalam pelukan, Lucy dengap sigap menghindar.


Lucy beralih pada Ratna. Gadis itu berusaha memakai baju dengan cepat.


Lucy Berusaha menyimpan rasa kecewanya dia berkata dengan suara menghina,


" Sahabat macam apa kamu! tega sekali kau menggoda Rendi, sudah jelas dia kekasihku dan kau tau itu.!"


Dia Tersenyum sinis, tak ada penyesalan diwajahnya.


Namun berusaha.menutupi rasa puasnya dengan menunduk


" Maaf.." ucap Ratna singkat.


Tanpa menatap Lucy


Lalu kembali mendongak


" Aku dan Rendi, kami saling mencintai, hubungan kita sudah berjalan tiga tahun..."


Jelas Ratna.


" Diam kamu Ratna.!" bentak Rendi tiba- tiba. wajahnya bertambah pucat


Ratna menatap lantai, bibirnya tersenyum miring dengan sinis


Akhirnya Lucy mengetahui Semua, Kalian juga pasti tahu, Yang namanya bangkai lama disembunyikan pasti tercium juga bukan!?.


Ratna sudah mencintai Rendi sejak sejak awal bertemu di Fakultas. Berbagai usaha di lakukanya menarik Rendi. Hanya saja Rendi menyukai Lucy gadis sederhana namun baik hati.


Salah Rendy sendiri digoda sedikit olehnya Imannya langsung luntur.


Lucy sudah tak sanggup lebih lama berada satu ruang berbagi udara yang sama dengan Manusia yang sudah menusuknya dari belakang.


Lucy berlari keluar dengan gamang,


Terukir dengan jelas di kepala Lucy, Adegan hot Rendi dan Ratna.


" Apakah mereka sudah sering melakukannya?


Tes..!.tes..!. Air mata menetes tanpa Dia sadari. Sungguh Ia tak.mampu Lagi.untuk menahan


Langkahnya panjang dan cepat menyusuri trotoar, khawatir Rendi akan menyusul. Pandanganya kini berkabut karena Air mata. menganak sungai dimatanya


Dia ingin berhenti, tak mau menangisi kedua pengkhianat itu, tapi Air mata tak mau berhenti mengalir. Rasanya sungguh sakit dikhianati oleh pria yang sangat dia cintai.


Lucy mengabaikan Orang - orang yang menatap dengan pandangan Aneh, sebagian Lagi berbisik-bisik melihat kearahnya dengan pandangan curiga.


Ketika melihat sebuah halte bus, Lucy memutuskan untuk duduk disana sejenak menenangkan hati sambil terisak.


Pandangannya beralih pada sebuah tong sampah


Tanpa ragu Ia Mlemparkan jam tangan yang dibelinya dengan harga yang cukup mahal kedalamnya.


" Sungguh sial" dia mengumpat pelan.


**********"


Bab 1


Melihat pembunuhan


Lucy Anastasya, Gadis mungil berparas ayu. Wajahnya manis dan menarik. Usianya memasuki 23 tahun, dia baru saja mengetahui rasanya patah hati dan diselingkuhi. Mengalami kisah percintaan yang buruk bukanlah hal yang baik tapi setidaknya dia menjadi lebih dewasa dan hati- hati untuk menjalin sebuah hubungan baru


. Rendi sang pacar berselingkuh di tahun kelima hubungan mereka Dengan seorang wanita bernama Ratna dewi.


Ratna merupakan teman sekolah Lucy dan Rendi waktu SMA.


Ratna merupakan wanita yang sangat Cantik sesuai namanya Ratna dewi


Fisiknya memang secantik Dewi.


"''


Pantai adalah tempat favorit Lucy, sejak kecil Ibu sering mengajaknya liburan kesana.


Setelah Ibu meninggal Lucy menjadikan pantai sebagai tempatnya membagi perasaan. Ketika sedang bahagia, sedih atau pun galau seperti hari ini.


Berada dipantai membawa kenangan manis Lucy bersama ibu,kenangan itu menjadi penyemangat baru bagi Lucy.


Lucy duduk dibawah sebatang pohon rimbun diinggir pantai.


Dia memeluk Lututnya dan meletakan dagu diatasnya sambil menatap lautan lepas.


Keadaan pantai yang sepi pengunjung membuat Lucy nyaman. Dia bisa menangis, menjerit menumpahkan kekesalan hatinya sambil mengeluarkan sumpah serapah pada Rendi dan Ratna sepuasnya.Suara debur ombak menyamarkan suaranya.


Semilir Angin berhembus membuat Lucy mengantuk.


Dia bersandar pada sebatang pohon rindang sambil menahan kantuk.


Matanya memandang pada sebuah bukit hijau kecil yang berada didepannya


Jaraknya sekitar 200 meter dari tempat Lucy. Puncaknya ditumbuhi batang batang pohon muda .


Lucy dapat melihat dengan jelas ke atas bukit.


Sebuah jeep hijau berhenti di bawahnya. Dua orang pria berbadan tegap turun. mereka memakai jaket Kulit warna hitam, kacamata hitam, masker dan topi pet diatas kepala menutupi wajah mereka dengan sempurna. Jelas mereka sedang menyamar.


Dengan penuh minat Lucy mengamati gerak gerik mereka.


Mereka celingak celinguk melihat kesegala penjuru.


Membuat Lucy penasaran.


Lucy bergegas merangkak ke balik pohon. bersembunyi.


Mereka mengeluarkan suatu benda dari jok belakang,menggotong bersama membawanya menaiki bukit.


Benda itu dibungkus selimut tebal berwarna gelap antara coklat tua atau hitam. Panjangnya sekitar 180cm atau lebih, besarnya seukuran tubuh manusia dewasa, sepertinya berat karena mereka sangat kesulitan saat membawa mendaki bukit.


Pandangan Lucy fokus pada bungkusan selimut, dia curiga jika itu adalah tubuh manusia, Bila diperhatikan lebih seksama semua terlihat seperti siluet manusia, ada bayangan tipis kepala, tangan, dan kaki.


" Jangan- jangan mereka adalah pembunuh !!"


Tubuh Lucy merinding


Glek..!


Lucy menelan ludah tanpa sadar menahan nafas. Dia merasa lemas sekujur tubuh, kakinya sudah gemetaran sejak tadi.


kepalanya berputar melihat keliling pantai terutama pada tenda tenda pedagang. Berharap ada orang lain disana.


Harapan yang sia- sia.


Pantai ini selalu sepi pengunjung di siang hari. padagang dan wisatawan hanya akan ramai menjelang sore, weekend dan saat musim liburan


Lucy semakin gelisah, Jantungnya berdetak sangat keras, hingga telinga lucy dapat mendengar suara detakanya. Tak ada pilihan, dia hanya perlu menunggu kedua orang itu pergi sambil terus berdoa dalam hati agar mereka tak pernah melihatnya.


Jika mereka adalah pembunuh dan penjahat bisa saja mereka menankap Lucy Lalu membunuhnya.


, Dia lega, karena memarkir honda didalam tenda . Jadi, sedikit merasa tenang sekarang.


" Aduh kok tiba- tiba pengen pipis. aduh..! gimana nich!" Dia berjingkat menahan Agar saluran kemih tak mengeluarkan isinya.


Kedua pria itu sudah berada dipuncak bukit. Mereka berdiri disisi jurang, mengambil Ancang- ancang sambil mengayunkan benda yang dibawa tadi.


Lucy melihat dengan jelas benda itu meluncur turun kedasar jurang yang berisi air laut.


Air memercik saat benda itu menyentuh dasar pantai.


Deburan Ombak menyembunyikan suaranya. Mereka kembali Turun dengan bergegas.


Beberapa menit kemudian jeep hijau menghilang meninggalkan deru mesin dibelakang yang semakin menjauh.


Lucy bernafas lega keluar dari persembunyian.


" Untung saja mereka segera pergi jika tidak aku bisa jantungan karena takut.


Anehnya dia kehilangan minat untuk buang air kecil.


" Ya ampun karena tegang sampai kebelet pipis." Lucy menertawakan diri sendiri.


" BTW, mereka buang Apa tadi? manusia atau bukan ya?, kepo aku.." Lucy merasa dilema.


" Apa di cek aja kali, gak ada ruginya juga."


Lucy berjalan dengan langkah cepat ke arah bukit.


Setela berada di bawahnya Lucy tertegun, ragu - ragu, antara mau mendaki atau tidak. Bukit itu terlihat berbahaya, banyak semak belukar berduri yang merambat serta ditumbuhi semak semak yang rimbun.


Dia tak punya banyak waktu buat berpikir,


Jika benda tadi benar adalah manusia, Lucy akan menyesal seumur hidupnya jika tak menolong.


Dengan sabar Lucy menyusuri semak belukar berduri yang tumbuh disepanjang jalan menuju puncak langkahnya begitu hati- hati agar tak terpeleset serta semak - semak tajam itu tak melukainya. Belum lagi Jika ada ular berbisa bersembunyi dibawah semak dan dedaunan kering, bisa- bisa nyawa Lucy jadi taruhannya. Bulu kuduk Lucy meremang.


Lucy bernafas lega ketika sudah mencapai puncak, pemandangan di atas sana cukup indah menarik hati.


Lucy menuju ke arah bibir jurang tepat dimana kedua pria melempar benda misterius yang mereka bawa. Bola matanya berputar mencari cari benda Aneh di Atas air yang berombak


Angin barat bertiup sangat kencang membuat tubuh Lucy oleng.


Berdiri di ketinggian membuat kaki Lucy gemetar karena phobia ketinggian


Lucy melawan rasa takut, Matanya tak lepas menatap kebawah, pada ombak besar berwarna putih yang bergelung pasang surut tiada henti. Berharap menemukan benda yang dicari.


Lucy memutuskan untuk menuruni bukit karena sudah lelah. Dia ingin segera pulang dan beristirahat. malam nanti dia harus bekerja di kafe Matahari. Sekali lagi matanya melirik kebawah.


" Ya Tuhan!" dia memekik, matanya menangkap sesosok tubuh sedang berjuang antara hidup dan mati.


Sapasang tangan mengapai- gapai


Kepalanya timbul tenggelam. Orang tersebut sudah kelelahan.


Tanpa berpikir, Lucy segera melompat menerjang ombak. Lupa pada phobia dan kemampuan renang yang pas- pasan.


Dengan susah payah Lucy berusaha menarik orang itu keluar dari air membawanya kedaratan yang kering. Ombak besar berkali kali menyeret tubuhnya yang mungil.


Tapi Lucy tak ingin menyerah. Akhirnya dia berhasil menyelamatkannya.


Lucy kaget mengetahui yang dia selamatkan adalah seorang pria.


setalah mengatur nafasnya,


Lucy segera memeriksa denyut nadi pria tersebut,


" Syukurlah masih ada detakanya, Ya tuhan Aku sangat lelah." menarik nafas lega ikut berbaring disisi orang yang ia selamatkan sambil memulihkan tenaga.


Dia mengmati pria itu.


Pria itu memiliki wajah sangat tampan. sedang asyik mengagumi


Lucy melihat gerakan kecil dari bibirnya Lucy langsung bangkit,


" Kamu sadar?, kamu baik - baik saja kan?" Tanyanya. Berharap pria itu menyahutinya.


Pria itu hanya membuka sedikit kelopak mata sambil berkedip kedip ia mengeryitkan dahi berusaha keras melihat wajah Lucy yang tampak samar.


Meski berusaha sekuat tenaga melawan rasa lelahnya pria itu akhirnya menyerah pada kondisinya. Dia jatuh pingsan tanpa sempat melihat wajah sang penolong.


" Hei..hei.. kau baik - baik saja kan??" panggil Lucy panik sambil meraba denyut nadi dileher pria itu.


" Dia pasti pingsan..kulitnya sangat pucat, bibirnya sudah membiru dia pasti kedinginan, aku harus menghubungi polisi dan petugas medis.." Lucy merogoh saku celananya yang basah kuyup, Dia baru sadar jika phonselnya ada didalam kantong celana yang dipakai untuk berenang tadi.


" Aduhh..!! ceroboh banget sich aku, bagaimana ini?apakah masih berfungsi atau tidak ya??" Dia bicara sendiri sambil membersihkan percikan Air pada phonsel.


Lucy mencari potongan kain disekitar pantai, setelah menemukan dia langsung mengeringkan phonselnya.


Kemudian baru dia coba menghidupkan lagi.


Untung saja phonsel pintar tersebut masih bisa berfungsi.


Lucy menunggu kedatangan polisi dan petugas medis dengan gelisah, Dia memperhatikan pria itu.


wajahnya sangat tampan sempurna, hidung mancung, bibir dengan volume sedang, Bulu mata lentik alisnya tebal dan berjejer sempurna diatas kelopak matanya.


Dia juga memiliki tubuh yang sangat bagus, mungkin dia pecinta olahraga, tingginya juga diatas rata- rata. Lucy juga melihat tubuh pria itu lecet serta dipenuhi lebam lebam kehitaman, kemeja putih yang dipakainya sudah koyak dan compang camping.


Dia pasti mengalami penyiksaan fisik sebelum diceburkan kelaut.


Lucy merasa kasihan melihat pria malang itu..


' Pasti dia sudah mengalami banyak hal buruk sebelumnnya, kasihan sekali bila dia harus mati dengan cara seperti tadi.. Dia sangat tampan dan masih muda, Siapa yang tega melakukan hal buruk pada pria ini??"


Lucy mengira ngira pria ini pasti berusia Diatas 27 tahun.. dilihat dari struktur wajahnya.


Polisi dan petugas medis datang berbarengan, Pantai yang tadinya sepi kini penuh dengan petugas medis dan polisi yang hilir mudik.


Polisi meminta keterangan Lucy lalu mencatat semua yang disampaikan Lucy.Mereka mengatakan Lucy akan menjadi saksi utama dalam kasus itu dan suatu saat nanti kesaksiannya akan dibutuhkan oleh pihak kepolisian


Lucy menyetujuinya.


Polisi melanjutkan penyelidikannya disana.


Sementara Petugas medis langsung membawa pria itu kerumah sakit,


Setelah Urusannya selesai polisi baru mengijinkan Lucy pulang.


Hari mulai gelap ketika Lucy pulang dengan mengendarai sepeda motor matik miliknya.


Dia lega pria itu baik- baik saja, serta bersyukur tidak terlambat menyelamatkannya, jika tidak pria itu pasti sudah meninggal.


" Wihh..! Dia ganteng banget, aku beruntung .." Lucy cengengesan sendiri


Peristiwa Tadi membuat Lucy Lupa sejenak pada kegalauannya karena Rendi.


Dia tak habis pikir bagaimana mungkin kedua oran jahat tadi membuang mayat ditempat umum dan disiang hari pula.


Mereka pasti punya nyali yang luar biasa.


Senja semakin pekat, Lucy terjebak kemacetan bersama pengendara Lainnya.


Tiba - tiba moodnya kembali memburuk.


Dia mulai melamun. Memorinya kembali pada saat dua hari Lalu, Dia memergoki Ratna dan Rendi bercumbu diatas meja kerja dalam ruangan Rendi.


Lucy menjadi geram sendiri.


Dia mengumpulkan energinya menarik nafas kemudian berteriak kencang


" Rendi sialaaaaaan..!!!!, breeengseeeek!!" jeritnya sekuat tenaga.


Gubrakk!!! seseorang jatuh dari motor karena kaget mendengar jeritannya.


Semua mata spontan menoleh padanya.


Suara Lucy yang Lantang dan tiba- tiba membuat para pengendara kaget. Mereka melotot marah.


Lucy sangat malu menyadari kelakuannya, dia segera membantu pria yang jatuh dan meminta maaf padannya.


Dengan salting dia langsung tancap gas sambil menyalip kendaraan yang berjajar didepannya.


" Dasar anak jaman sekarang.." seru seorang pria paru baya. Dia membonceng istrinya yang sedang hamil besar.


" Untung istri gue gak brojol disini.."gerutunya.


Dua hari kemudian,


Disebuah Rumah sakit ternama.


Seorang pemuda tampan mulai siuman.


Dia tak sadarkan diri hampir lebih dari dua puluh empat jam.


Seorang pria kurus tinggi dengan setia menungguinya disisi Ranjang.


pemuda itu membuka mata perlahan.


Awalnya dia hanya melihat gambar putih samar- samar.


Dia mengucek mata dan berkedip kedip.


Matanya menatap langit langit rumah sakit yang bercat putih.


" Tuan sudah siuman..?" Ia mendengar suara yang sangat Akrab ditelinga.


Dan menoleh ke arah asal suara.


Dia melihat Wajah tua Albert yang terlihat senang dan lega.


" Albert..." Pemuda itu memanggil nama pria kurus itu dengan suara lirih. Tenggorokannya terasa kering. Dia terbatuk pelan


" I-iya tuan..." Sahut Albert tergesa mendekat. Dia menatap wajah pria muda itu Menunggu


" A..akuuu ...dimana??"


Menatap bingung keadaan sekitar.


" Anda dirumah sakit Tuan.., Tuan butuh sesuatu?" dia berkata penuh hormat.


Pria muda itu tercenung sesaat mengingat situasi kemudian dia bernafas lega.


Pria itu menelan ludah, " a..aku sangat haus.."


Albert segera mengambil sebotol air mineral menaruh sedotan kemudian memberikan pada nya.


Pria itu meneguknya beberapa kali kemudian mengembalikan botolnya pada Albert.


" Saya akan memanggil dokter, tunggulah sebentar tuan.."


Tapi Pria muda itu malah menahan tangan Albert.


" Tidak perlu Kondisiku baik - baik saja."


Dia terdiam beberapa saat.


" Ada yang menginginkan kematianku Albert.."


Dia menatap Albert dengan pandangan menusuk.


" Selidiki siapa yang berniat membunuhku setelah aku sembuh Kupastikan hidup mereka tak akan pernah tenang lagi."


Meski dalam kondisi lemah kilatan matanya terlihat kejam dan dingin menakuti siapa pun yang melihatnya.


Dia tahu seseorang telah menjebaknya dengan keji serta pengecut.


" Mereka telah menaruh obat bius di minumanku saat di dihotel malam itu, membuat ku hilang kesadaran kemudian aku di culik dan di sekap selama beberapa hari tanpa makan dan minum. Mereka menutup mata dan mulutku bahkan memukuli sesekali hingga aku pingsan.


Klimaksnya mereka berusaha membunuhku dengan melemparkan aku ke laut."


Dia bercerita sambil menatap langit langit bangsal rumah sakit matanya berkilat penuh kemarahan.,


"Anehnya, mengapa mereka melemparku ditempat yang bisa di temukan orang disekitar bibir pantai? Padahal jika mereka ingin menutupi kejahatan mereka bisa saja membuang tubuhku ditengah Laut. Mereka pasti ingin pamer "


Pria muda itu tersenyum sinis sambil menatap Albert yang fokus mendengarkan tanpa komentar.


Tiba- tiba, Dia melihat sekeliling bangsal rumah sakit.


membuat Albert penasaran.


" Tuan sedang mencari apa?" dia mengikuti gerakan majikanya melihat seluruh ruangan.


pria itu menatap Albert lemah


" Mana orang yang menolongku?" dia bertanya tak sabar.


Albert menjadi kebingungan.


" Maaf tuan, tapi sejak anda terbaring disini tak ada siapa pun disini." jelas Albert.


Wajahnya langsung menjadi muram.


" Baiklah Albert terima kasih, tolong cari tahu siapa orang yang sudah menyelamatkanku dipantai , aku berhutang nyawa padanya. Tapi sebelumnya bisakah kau memindahkan aku ke ruang VVIP rumah sakit ini?"


Albert tertawa gembira, " Tentu saja Tuan, 70% saham rumah sakit ini adalah milik anda, tentu saja anda bisa menepati seluruh ruangan yang ada disini." gurau pria itu.


" Kau ada - ada saja..mau apa aku dengan seluruh ruangan itu..? " menanggapi Albert dengan tawa ringan.


Di KAFE MATAHARI tempat Lucy berkerja.


Ratna memasuki kafe, kedatanganya menarik perhatian pengunujung lain yang ada disana. Ia memakai high heels ukuran 12 centi, hingga tubuhnya yang tinggi terlihat semakin jangkung dan indah layaknya model victoria secret. langkahnya menimbulkan bunyi karena hentakan sepatu yang beradu dengan lantai kafe.Gerakanya yang anggun dan gemulai indah menebarkan pesona tersendiri bagi yang melihat. Terutama kaum pria yang tak bisa berhenti menatapnya.


Ratna putri seorang pengusaha sekaligus sahabat Lucy, sebelum dia berselingkuh dengan Rendi.


Rendi adalah pacar Lucy, mereka sudah berselingkuh selama 3 tahunan lebih dan Rendi bekerja sebagai pegawai diperusahaan papa Ratna.


Karena sering bertemu dikantor membuat hubungan keduanya semakin intim, hingga menjalin hubungan terlarang yaitu PERSELINGKUHAN. Lucy baru mengetahuinya beberapa hari Lalu.


Padahal dia sudah dibohongi Rendi selama Tiga tahun..Miris...


Lucy sudah merelakan hubungannya berakhir begitu melihat Ratna dan Rendi bahagia.


Ratna tetap merasa tak puas karenanya.


Ratna menghampiri lucy yang berada di meja bartender kafe.


Lucy segera memasang sikap dingin dan waspada.


" Aku tak ingin ribut.." Lucy segera menghindar ketika wanita itu ada dihadapanya.


Ratna menaggapi dengan tertawa.


Dia terlihat santai tak tahu malu. Seolah tak merasa bersalah atas perbuatanya.


Dengan santai ia duduk didepan lucy Dia sengaja menyilangkan kaki memamerkan betisnya yang putih mulus.


" Kau sudah mendapatkan Rendi, lalu untuk apa lagi mengusikku?" ketus lucy


" Aku hanya ingin melihat kondisi mu, apakah kau baik - baik saja? Aku hanya merasa bersalah padamu " sahut Ratna sambil melihat wajah lucy baik - baik.


Lucy tahu Ratna hanya ingin memancing emosinya.


Gadis itu memang memiliki dendam pada Lucy, Karena Rendi memilih Lucy daripada Ratna yang sudah berkorban banyak untuk meluluhkan hatinya.


Lucy menghela nafas sembari melanjutkan pekerjaannya, Ratna mengekori Lucy. Membuat Lucy sangat terganggu karenanya.


" kau sudah melihatnya. Sekarang silahkan pergi jangan mencari keributan di kafe ini, aku sedang bekerja kau lihat atasanku, Dia sedang melihat kita."


Wanita itu melirik Atasan Lucy yang sedang menatap penuh ancaman pada mereka . Dia khawatir jika Lucy terpancing emosi dan mengacaukan kafe.


Semua juga tahu kisah perselingkuhan Ratna dan Rendi mantan pacar lucy,


" Aku tak harus minta maaf kan Luc..? Aku tulus mencintai Rendi. Kuharap kau tak dendam padaku."


Lucy tersenyum manis seolah dia tak ada masalah dengan ucapan Ratna yang sangat tak pantas sebagai seorang teman yang merebut pacar temannya sendiri.


Mungkinkah dia baik saja ketika dia disakiti? sungguh pertanyaan yang bodoh.


Lucy menarik kasar tangan Ratna agar bisa bicara diluar hingga tak menggaggu serta menarik perhatian pelanggan.


Tapi Ratna menepis tangan Lucy, membuat Lucy semakin sebal padanya.


" Jika kau tak ingin memesan, maka pergilah dari sini kumohon..?! sebelum aku menyeret dan menghajarmu hingga kau malu." Ancam lucy.


Ratna melihat wajah lucy, Gadis itu sangat serius dengan ucapanya.


" Baiklah, oke!, ok!," sambil bergegas bangun dan keluar dari kafe dengan seringai mengejek di wajahnya.


Desty mendekati lucy yang sibuk berkerja dimeja barista menyeduh kopi untuk pelanggan.


" Mau apa nenek sihir pelakor itu?" tanya Desty kesal.


Lucy melihat sosok Ratna diuar kafe saat gadis itu menaiki mobil Rendi.


" Cari ribut.." Lucy menjawab pendek.


" Dasar tidak punya malu! udah ngerebut pacar orang pamer pula, amit- amit tujuh turunan ." Desty mengelus ngelus perutnya yang rata.


Lucy menanggapi dengan tawa.


" Cuma tujuh turunan, seluruh turunan lah, masa dibatasi gitu"


Desti pun ikut tersenyum," yah kamu benar, moga- moga turunan kita nggak ada yang kayak dia".