
Sampai dirumah, Alex Black melempar tubuh Lucy begitu saja, seperti melempar sebuah kardus kosong , Ringan dan mudah. Lucy merasa seperti sekantong sampah yang tak berharga.
" Aku tak akan melepasmu sampai si tua bangka Bono memberitahu siapa dalang dibalik rencana pembunuhanku"
Suaranya menggelegar memenuhi penjuru ruang yang sempit itu
Lucy melihat sekeliling tak ada apa pun disana. tikar, tempat tidur, meja atau pun kursi. benar- benar kosong, dinding nya berwarna putih, begitupun lantainya yang terbuat dari marmer putih yang sangat cantik, Lucy pernah melihat di drama- drama yang ditontonnya merasa ruangan itu lebih mirip rumah sakit jiwa.
Bedanya meski rumah sakit jiwa mereka setidaknya menyediakan kasur bagi pasienya. Tapi dia tak berharap pria itu mau melakukannya.
Lucy berpikir apakah Alex akan membuatnya tidur di lantai dingin selama dia berada dirumah ini?.
Alex tersenyum kejam
" Ya benar, selama kau berada di rumahku kau akan tidur dilantai yang dingin itu.." Dia menyeringai karena bisa menebak apa yang dipikirkan Lucy.
Lucy sangat marah, ingin sekali dia menghantam muka pria itu, meski dia kalah tenaga setidaknya emosinya tersalurkan, tapi Lucy hanya mengigit bibirnya keras.
Sudah seminggu Lucy berada di kamar yang dingin dengan warna serba putih, setiap hari seorang pengawal bertubuh kekar berwajah bengis berdiri didepan kamarnya bergantian.
Tak ada seorang pun diperkenankan bicara dengan Lucy, termasuk pelayan.
Sesekali alex mendatanginya hanya untuk menindasnya.
seperti saat ini, seperti biasa dia dengan seringai liciknya berusaha menakuti Lucy, tapi sejauh ini, dia tak pernah berbuat kasar pada Lucy.
" Bagaimana ayahku..?" Tanya Lucy dengan suara letih. Dia benar- benar merasa bisa menjadi gila bila lebih lama lagi berada diruangan itu.
Pria itu mendekatinya dan mencengkram dagu Lucy keras membuat Lucy meringis kesakitan. Lucy menahanya dengan tabah.
Alex membawa wajah Lucy tepat didepan wajahnya sendiri. Matanya mengarah tajam pada lucy. Bibir pinknya tertawa dingin memamerkan giginya yang putih, tapi Lucy benci melihatnya, dia sangat membenci wajah pria itu. Mata mereka bertatapan, Lucy bisa melihat kebencian dimata Alex.
" Jangan cemas, ayahmu masih koma dirumah sakit," Berkata santai.
Air mata lucy langsung menetes. meski dia berusaha menahannya.
Dia sangat ingin melihat kondisi ayah tapi Alex melarangnya.
" Sampai kapan aku harus berada disini..?" Lucy menahan rasa bencinya tetap bertanya dengan suara lembut.
" Jika Tuan terus menyekap saya disini, bagaimana saya bisa menemukan orang yang memfitnah Ayah saya.." Lucy menantang mata Alex yang bersinar jahat .
Alex tertawa terkekeh, " Fitnah, ???" sinisnya.
" Aku hanya mengulur waktu sebelum aku membunuh ayahmu, sudah terbukti jika Bono berkomplot dengan musuhku, dan kamu masih mengira itu fitnah, aku tidak sekedar menuduhnya tapi, sudah menyelidiki.."
Lucy bangun langsung menarik kemeja Alex dengan keras karena putus asa, Dia hanya ingin keluar dari rumah Alex, mengetahui kondisi sang ayah dan mencari orang yang sudah membuat Hidup ayahnya menderita. Tarikan Lucy justru merobek kemeja Alex.
Alex memutar kepalanya dengan kaget.
dia meraba kemejanya yang robek dibagian belakang, Kemeja itu adalah kemeja kesayangannya hadiah paling berharga dari seorang wanita yang pernah dicintainya.
jean...wanita penuh kasih, tapi meninggalkan Alex demi mengejar karienya sebagai balerina semenjak 12 tahun Lalu, dan Alex masih menunggu kepulanganya dengan sabar.
Lucy sebenarnya kaget dengan robeknya kemeja, tapi sudah kepalang basah, Dia tak bisa mengembalikan keadaan. kemarahanya semakin menjadi - jadi.
" Laki- laki tak punya perasaan, apa kau di lahirkan oleh Setan, sampai punya sifat sekejam itu pada manusia, aku hanya meminta satu kesempatan apa sulitnya bagimu !" Lucy berteriak histeris, kemudian dia menatap kemeja yang robek.
Wajah Alex berubah menakutkan, matanya berkilat seperti petir yang siap menghancurkan apa saja.
Tubuh Lucy surut beberapa langkah dia ketakutan begitu melihat wajah Alex, berkali kali Lipat lebih kejam.
Alex menarik lucy dan memegang kerah bajunya dengan keras.
Leher Lucy tercekik. Dan lucy pasrah bila harus mati.
Tapi pria itu segera melepasnya.
" Keluar kalian.." Dia melihat pada pengawalnya tak sabar.
Lucy menggigil, dia baru saja membangunkan hariamau yang tidur. Dan kini hariamu itu hendak menerkamnya.
Dia langsung menarik tubuh Lucy dan mulai mencabik- cabik pakaiannya. Meski Lucy meronta- ronta, tapi tubuh wanitanya terlampau lemah melawan seorang Alex black yang sanggup menghabisi 10 orang lawan tandingnya sekaligus.
Tubuh Lucy sudah setengah telanjang. Alex menghentikan aksinya dengan puas. Dia memandangi Lucy. penampilanya sangat kacau, matanya menatap kosong ke depan sedangkan kedua tangannya menutupi bagian- bagian tubuh sensitifnya.
Mata Alex liar menatapnya. menyadari tatapan Alex Lucy berlari kesudut, khawatir Alex akan bertindak lebih Jauh lagi.
" Berani sekali wanita rendahan sepertimu menghinaku, cih.." Dia meludahi Lucy
Lalu keluar begitu saja dari sana tanpa melihat pada Lucy lagi.
Berikan baju lain pada gadis itu, melihat tubuhnya membuat perutku mual.." Samar Lucy mendengar suara kesal Alex memberi perintah pada pelayan.
Lucy langsung surut ke lantai. tubuhnya gemetaran antara marah, takut, dan benci Dia mengigit bibirnya hIngga berdarah
Tapi dia sama sekali tak merasakan sakit sedikit pun.
" Dasar Iblis, Aku menyesal sudah menyelamatkan mu, aku menyesal...!!!" dia menjerit sekencang - kencangnya, kemudian menagis tersedu - sedu.