
Pagi hari, matahari bersinar hangat, cahayanya menembus kamar Lucy.
Bono setiawan mengecup hati - hati kening putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.
hatinya tak tega membangunkanya.
" Astaga.! Dia pasti sangat lelah setelah bekerja semalaman dikafe, Anak nakal sudah ayah katakan berhenti saja namun kau tetap memaksakan diri."
Dia bangkit dari sisi ranjang sembari merapikan jas kerja yang dipakainya Lalu berangkat kerja tanpa berpamitan.
Jam sebelas siang Lucy masih saja meringkuk dibawah selimut.
Sebuah mobil sedan warna hitam
memasuki.
halaman dan memarkir secara sembarangan.
Seorang pria setengah tua turun dari dalamnya
Dia terlihat khawatir dan sangat kalut.
Dia mengetuk rumah Lucy beberapa kali namun tak ada sahutan
" Apakah tak ada orang..??" dia bertanya pada diri sendiri.
Lalu dia mencoba lebih keras lagi dengan menggedornya sedikit lebih kencang. berharap ada orang dirumah.
" Gawat! jika putrinya tak ada dirumah, padahal Bono saat ini dalam bahaya .." Pria itu berkata frustasi Sambil terus menggedor.
Lucy sangat kesal mendengar suara berisik dari arah pintu depan rumahnya. Suarannya menembus gendang telinga.
" Huh! siapa itu?, pagi pagi sudah berisik" gerutunya kesal,sambil mengucek matanya karena rasa kantuk belum pulih sepenuhnya.
Lucy bergerak menuju pintu dan membukanya.
Seorang pria bertubuh tambun seusia Ayah lucy gelisah berdiri didepan pintu.
" Om yanto!??" sapa Lucy dia mengenal pria itu adalah rekan kerja ayahnya dikantor.
Pria itu bertubuh tinggi usia sekitar 40 tahunan, memakai jas kantor terlihat ragu-ragu menatap wajah Lucy
" Mari masuk om.." Lucy menyambutnya ramah.
wajah yanto terlihat semakin tegang.
" Lucy.." dia berkata ragu- ragu tanpa berani menatap Lucy.
" Ada apa? perilaku om sangat aneh, apakah terjadi sesuatu???"
Lucy mengamati wajah yanto yang berkeringat .
" Saya mengebut kemari " Jelas pria itu seolah memahami pikiran Lucy
" Masuklah dulu om, Biar Lucy ambilkan minum om terlihat sangat lelah."
Yanto menggeleng.
"A- ayahmu dalam bahaya..." Dia berkata terbata- bata karena Aliran nafasanya tak teratur
"Kita harus segera ke perusahaan Omega, Ayahmu berada dalam situasi yang rumit saat ini!"
Kepala Lucy berputar hatinya menjadi sangat ketakutan.
" Maksud om apa sich? kenapa dengan ayah saya?!? " Lucy bertanya cemas
" Mari ikut saja, om jelaskan di mobil nanti .."
Yanto dan Lucy bergegas masuk ke mobil.
Yanto langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.
" Ayahmu di interogasi oleh Alexander black, pemilik perusahaan Omega" jelas yanto.
" Kenapa Ayah di interogasi oleh pemilik omega.Memangnya ayah melakukan kesalahan apa?!"
" Ayahmu dituduh bersekongkol dengan musuh Alexander black. Dia dituduh memberikan Obat tidur dalam minuman Alex black menyebabkan pengusaha muda itu diculik dan hampir terbunuh,"
Lucy tercekat, bibirnya kelu, lututnya lemas tiba - tiba.
Pria itu terdiam dia menatap Lucy prihatin.
Pria itu tersenyum pahit, dia membasahi bibirnya sebelum bercerita Sungguh dia tak ingin menakuti gadis muda ini apalagi dia adalah putri dari sahabatnya Bono.
" Kejadiannya beberapa minggu Lalu, waktu itu Alex menghadiri jamuan makan malam disebuah hotel mewah bersama rekan rekan bisnis dan pejabat.
Kebetulan malam itu Ayahmu mendampingi Alex menggantikan rekan kerja yang istrinya sedang melahirkan. Saat mereka berada di ruang Vvip dan membicarakan kesepakatan Bisnis, Bono yang melayani Alex, dia yang bertugas menuangkan minuman kedalam gelas Alex. Setelah Minum dari gelas pemberian Ayahmu Tiba- tiba Alex merasa kepalanya pusing lantas dia pamit ke kamar mandi, Sejak dari kamar mandi Alex black tak pernah kembali lagi kedalam ruangan untuk meeting, Alex menghilang begitu saja tanpa jejak.Semua petugas polisi dan detektif dikerahkan mencari Alex, bahkan para Mafia dikota ini juga ikut mencari keberadaanya, namun Nihil! Alex hilang bagai ditelan bumi. Semua menduga jika Alexander diculik.
Dua minggu kemudian polisi menemukan Alex hampir tewas terbunuh.
Dia dirawat beberapa waktu dirumah sakit, Alex sangat marah,Setelah kondisinya pulih Alex mulai menyelidiki peristiwa yang menimpanya.
Dia menemukan fakta bahwa didalam gelas yang diminumnya pada saat makan malam itu mengandung obat bius dosis tinggi. Saat itulah Alex mencurigai Ayahmu ikut terlibat dalam peristiwa penculikan dan pembunuhan Alex. Dia menduga Ayahmu yang menaruh Obat bius dalam minuman Alex."
Lucy sangat geram hatinya mendengar cerita Yanto.
" Tidak mungkin Ayah melakukan perbuatan keji seperti om ceritakan. Ayah bukan orang yang punya Ambisi hingga melakukan Apa pun demi memenuhi Ambisinya, Lagipula Ayah sudah puluhan tahun bekerja diomega , Dia hampir masuk masa pensiun, untuk apa dia membuat dirinya dalam masalah, Ada orang yang ingin memfitnah Ayah saya Om.."
" Om, juga menduga seperti itu, tapi Alexander menemukan fakta Ayahmu bersalah, Pengawalnya membawa paksa Ayahmu dari kantor, dan aku yakin ayahmu dalam kondisi yang buruk saat ini."
" Kenapa?, Apa yang akan dilakukan Alex padannya om..?" Galau Lucy bertanya.
Air mata mulai mengalir disudut matanya.
" Om juga tidak tahu, Alexander pria berhati dingin, dia pria yang sangat kejam dan tegas kepada musuhnya. Tak perduli pria atau pun wanita, Dia tak segan menghabisi mereka baik dengan cara menghancurkan bisnis, membuat cacat seumur hidup atau bahkan dia akan membuat mereka mendekam dalam penjara, dan jika mereka membuat Alex sangat tersinggung bisa dipanstikan nyawa mereka diujung tanduk, dan kamu bisa menilai berada dimana posisi ayahmu saat ini dalam pandangan Alex, Maaf om tak bermaksud menakuti hanya saja om harus jujur padamu.."
" Kita hubungi polisi saja Om, Mungkin mereka bisa menolong Ayah.."
" Polisi tak bisa ikut campur dalam perusahaan Omega, karena semua pegawai yang bekerja pada Alex terikat perjanjian, Perusahaan akan menjamin kemakmuran hidup pegawainya, tapi harus memenuhi syarat, Kami berjanji setia sepenuh hati pada Alex dan perusahaan dan jika melanggar, Perusahaan boleh melakukan tindakan hukum sesuai peraturan yang ditetapkan Alex. Artinya Alex bisa melakukan Apa pun pada pegawainya jika berkhianat."
Lucy tercenung," Alex sangat kejam.."
" Mungkin...tapi dia orang yang adil, Dia memenuhi janji pada pegawainya, kehidupan kami sebagai pegawai dijamin perusahaan, Jika sakit bisa berobat dengan gratis di rumah sakit Omega milik Alex, untuk pendidikan Alex banyak memberi beasiswa bagi anak- anak karyawan atau pun karyawan muda yang bekerja di omega jika ingin kuliah lagi."
Lucy terdiam, sementara kendaraan melaju semakin kencang menuju ke perusahaan omega.
Yanto dan Lucy hanyut dalam pikiran masing- masing.
Semakin mendekati perusahaan Omega Jantung Lucy semakin keras berdetak.
" Lucy harus bagaimana om?, Lucy sangat takut.."
" Memohonlah pada Alex, mungkin hatinya akan luluh."
Lucy kembali diam, kepalanya menatap keluar jendela mobil, namun pikirannya kosong
" Ayah saya orang baik, jujur dan sangat rajin bekerja bagaimana Alex black sialan itu menuduhnya meracuni dia..?!?"
Lucy marah tiba- tiba karena frustasi.
Yanto tak tahu harus bagaimana merespon kemarahan Lucy, dia sendiri pun merasa marah karenanya.
' Om ? berapa lama lagi kita sampai di Omega. saya sangat khawatir jika Ayah dia..dia.." lucy mulai menangis.
" Bersabarlah! om sedang berusaha secepatnya sampai, tapi juga juga harus memperhatikan keselamatan kita ." sahut Yanto menenangkan Lucy yang mulai menangis
Mobil yanto berbelok masuk kedalam area parkir Omega.
Lucy bergegas turun, tanpa menunggu Yanto dia berlari masuk, seorang petugas keamanan berpakaian safari mencegahnya masuk.
Terjadi perdebatan kecil antara Lucy dan petugas itu.
Yanto menghampiri
" Dia putri saya pak.." Bohong yanto.
Satpam meneliti Lucy beberapa saat akhirnya dia mengijinkan gadis itu masuk kedalam lobby kantor.
Omega perusahaan yang sangat besar dan Luas, gedungnya saja sangat tinggi melebihi tinggi gedung gedung disekitarnya.
" Om dimana Ayah saya??.." Lucy bertanya tak sabar air mata berlinang di pipinya.
"Om juga tidak tahu Lucy,..Coba kita cari diatap gedung, biasanya Alex mengeksekusi pegawai yang bermasalah disana" Sahut yanto ragu.
Mereka pun bergegas menuju atap tertinggi dari bangunan tersebut memakai Lift.
Yanto tak henti hentinya menguatkan Lucy selama didalam lift.
Lucy membuka pintu Atap dengan kasar dan gegabah. Dia tak bisa lagi menahan perasaannya
Mata Lucy hampir saja berloncatan keluar melihat Adegan yang sangat mengerikan didepannya Ayahnya sedang dipukuli oleh dua orang pria berbadan kekar, Tubuh tuanya dipegangi oleh salah satu bodi guard, Lututnya menopang tubuhnya.Dia terlihat pasrah dan kesakitan, kepalanya menunduk, Darah menetes dari.hidung dan mulut.
Sementara kemeja putihnya sudah compang camping dan dipenuhi bercak darah. Tubuh Bono sudah dipenuhi lecet dan lebam akibat pukulan"
" Katakan siapa yang menyuruhmu!!" Tanya salah satu dari mereka Dengan Suara membentak.
Tapi Ayah Lucy tak menjawab.
sebuah tendangan kembali mendarat di perutnya.
Seorang Pria sangat tampan dengan ekspresi dingin duduk diatas sofa,letaknya tak jauh dari posisi ayah Lucy, dia dapat dengan jelas dan mendengar dan melihat peristiwa itu.
Mata elangnya memancarkan sinar jahat yang kejam.
Dia menatap tajam kearah Bono tanpa berkedip.
Auranya sangat mencolok, mengintimidasi.
" Dia pasti Alexander Black..." batin Lucy.
" Hentikan!!!! " Lucy berteriak histeris secara tiba-tiba sambil berlari menghampiri sang ayah membuat tameng dengan tubuhnya. Bau amis darah memenuhi rongga hidung, Darah segar mengotori sekujur tubuh ayahnya. hati Lucy seperti disayat sayat.
Kedua pria ber jas menghentikan aksinya menendang dan memukuli tubuh Bono. Tatapan mereka beralih pada Lucy.
Dengan tatapan mencekam.
Pria yang duduk disofa ikut kaget dengan kehadiran Lucy.
" Kurang Ajar!, Siapa kau..!?" Dia berteriak dengan suara keras menggelegar, membuat siapa pun merasa takut, tapi tidak bagi Lucy yang sudah di balut emosi, antara marah dan sedih.
Yanto segera keluar dari sana menghindari masalah, dia juga tak bisa menolong Bono dan Lucy. Bisa- bisa Alex menuduhnya ikut dalam konspirasi penculikan dan upaya membunuh Alex.
Lucy menatap Alex dengan Jijjk seolah Alex adalah sebongkah kotoran. Semakin dia menatap , dia menyadari jika pria itu adalah orang yang pernah Ia selamatkan ditepi pantai.
" Kau..!??" Lucy berkata kaget sambil menunjuk hidung Alex.
Namun, Alex merasa lebih kaget lagi melihat sikap kurang ajar Lucy yang tak kenal takut.
" Dasar pria brengsek! kurang ajar! kau tahu sangat menyesal aku pernah...!!!"
" Plakkkk!!!" Lucy mendapat tamparan dari salah satu body guard Alex.
Darah segar mengucur dari bibir mungilnya Pipinya terasa panas, kupingnya berdengung. Sangat sakit! Lucy menahannya.
Lucy membalas dengan memelototi body guard Alex.
Dia kembali menatap Alex dengan wajah merah padam.
" Kau ********! beraninya kau menyuruh orang memukuli Ayahku.! Dasar manusia rendahan! " Lucy menantang.
Anehnya Alex malah tertawa terkekeh geli.
" ckck.. Gadis konyol yang sangat berani, kau cari mati dengan ku hah!.." Alex mendelik sambil memegang dagu Lucy dengan kasar Dia meremasnya kencang.
" Kau putri dari pria ini!!, " Dia bertanya sinis.
.
" Iya! aku putrinya!, Atas dasar apa kau memukuli ayahku?!!?" dia bertanya ketus, berusaha melepaskan cengkraman Alex di pipinya.
Alex tertawa.
Dia menjauhi Lucy dan duduk kembali diatas sofa sambil menyilangkan kaki dengan nyaman.
" Ayahmu penghianat, dia.bersekongkol dengan musuhku untuk nenjebak dan membunuhku, Ayahmu pantas dihukum" santai Alex menjawab.
" Aku mendengar jika ayah mengisi gelasmu dengan Obat bius?, namun aku tak percaya, berikan Aku bukti jika ayah pantas dihukum olehmu.!!!." Sahut Lucy sambil memeluk ayahnya setelah bodi guard Alex melepaskan pegangan ditubuh ayah Lucy.
Alex tertawa terbahak bahak...
" Tentu saja Aku punya bukti, Ada yang melihat Ayahmu memasukan obat kedalam minumanku.."
Lucy terdiam.
" Aku tidak percaya.." Lucy menantang mata Alex.
Dia menjilat bibirnya, dan Baru sadar jika bibirnya berdarah akibat tamparan tadi. Lucy menyeka nya dengan kasar
" Lucy...."
Lucy mendengar suara ayahnya yang sangat lemah karena menahan sakit. Dia menjadi sangat iba air mata mengalir tanpa ia sadari.
" Ayah..ayah baik - baik saja?"
Berusaha keras berada didekat ayah ingin melindunginya, Para body guard menarik tubuh Lucy menjauhi Bono, Lucy meronta ronta.
" Lepaskan aku! lepaskan sialan!!" Lucy menjerit histeris.
Apalagi Ayahnya kembali dipukuli hingga tak berdaya
Hati Lucy menjadi lemah dan luluh melihat kondisi sang ayah..
" Lucy mohon, ayah harus kuat, ayah bisa kan..??" ucap Lucy lemah lembut membujuk sang ayah.
Alex bukanya prihatin justru tertawa dengan kejam
" Aku tak akan pernah memaafkan penghianat Apalagi kau adalah orang bersekongkol mencoba menjebakku"
Menghampiri Bono, Dia memegang dagu pria itu dengan keras.
Lucy meronta- ronta melihat Ayahnya di sakiti Alex
" Hentikan! aku mohon berhenti menyakiti ayahku.!" Dia berkata memelas. putus asa
Lucy tahu dia tak punya jalan keluar Alex bukanlah pria yang bisa diajak kompromi.
Wajah lucy langsung melunak, tak ada salahnya memohon demi Ayah yang sangat dikasihinya.
" Aku mohon maafkan ayahku, ijinkan aku menggantikan posisinya. Tapi sebelum anda menghukumku, beri aku waktu dan ijinkan aku menyelidiki peristiwa obat bius itu, jika terbukti ayahku bersalah maka kau boleh membunuhku.." Pinta Lucy penuh harap
" Aku sangat mengenal Ayah, dia tak mungkin tega menyakiti orang lain..kumohon Tuan.. Biarkan aku yang menggantikan hukumanya."
Lucy menatap alex ragu- ragu, dia menelan ludahnya karena gelisah.
Alex terdiam cukup lama, dia duduk disofa kembali mulai menimbang usul Lucy.
" Bagaiman jika kalian kabur saat aku meninggalkanmu dan ayahmu?" dia memancing Lucy.
Tentu saja dia tak bisa membiarkan kedua orang ini lolos begitu saja,.
Meski dia mampu menemukan mereka walau bersembunyi dimanapun, jika sudah ada didepan mata mengapa harus dilepas lagi.
" Baiklah! tapi,... syaratnya kau harus tinggal bersama ku dan berada dalam pengawasanku.." Alex berkata santai sambil menatap Lucy tajam.
Lucy terdiam tak menyangka Alex mangajukan syarat yang aneh dan tak masuk akal.
Dia ingin menjadikan Lucy sebagai tawanan
Melihat wajah pria itu sedetik saja membuat dia ingin membunuhnya dan pria itu minta Lucy tinggal bersamanya sebagai jaminan keselamatan ayah.
" mengapa kau diam saja?, atau kau menolak.!?" tanya Alex mengejek.
" Aldo, lanjutkan tugas kalian..?" titah Alex pada para algojo, mereka pun mulai memasang ancang- ancang ingin memukuli ayah Lucy lagi.
" Baik, baiklah, aku setuju...." jawab lucy secepat angin.