Between Love and Hate

Between Love and Hate
Bab 4 Ayah tewas.!?



Dari hari kehari kondisi Lucy semakin down. Semangat hidupnya menurun, Dia mulai Depresi berat. Ancaman Alex ingin membunuh ayahnya membuat pikiran Lucy tak tenang, Jika Mood Alex memburuk Lucy tak akan mendapat makanan seharian. Dia terpaksa menahan Lapar dan sakit diperutnya. Yang paling di takuti Lucy jika Alex benar- benar membunuh ayahnya. Padahal Ayah lucy masih koma dirumah sakit.


Seorang tak dikenal mengendap - ngendap di lorong rumah sakit. Dia memakai jas Dokter.


Menutup wajahnya sedikit bila bertemu petugas medis lain.


Dia menuju kekamar VVIP, Tempat ayah Lucy terbaring tak sadarkan diri.


Dia melihat pria itu beberapa saat merasa Iba padanya. tapi dia harus melakukan tugasnya mengeksekusi pria tua itu.


Dengan hati- hati dia menyuntikan suatu cairan kedalam selang infus pasien.


Menunggu sesaat sampai obat bekerja.


Tubuh Bono kejang- kejang tiada henti, tombol merah darurat menyala menimbulkan bunyi sangat nyaring, mengejutkan dan seketika menimbulkan kepanikan petugas medis yang berjaga..


Pria misterius itu bergegas pergi tanpa disadari siapa pun karena mereka hanya fokus pada kondisi pasien yang drop secara tiba- tiba.


dokter melihat garis lurus pada alat pendeteksi jantung.


" Siap kan alat kejut jantung..!" perintahnya pada suster. dengan sigap mereka berusaha menyelamatkan Bono. tapi sia- sia Bono meninggal dunia malam itu karena gagal jantung.


Lucy diseret keluar dengan kasar dari ruang penyekapan. Tubuh Lucy begitu kurus dan seringan kapas.


Dia sangat senang bisa keluar dari ruangan serba putih itu, kini dia bisa melihat warna - warni lain disekelilingnya.


"Apa yang terjadi, apakah Alex berubah pikiran??" Antusias dia bertanya,


Tapi sama sekali tak mendapat jawaban. Kedua pengawal itu memegang Lucy erat di sisi kiri - kanannya, Mereka melewati lorong panjang rumah Alex yang luas nya seperti istana.


Dengan sigap mereka memaksa Lucy masuk mobil.


" Kalian akan membawaku kemana?." Perasaan lucy berubah panik. Pegawal itu benar benar tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.


Mobil itu berhenti dimuka rumah sakit, Dia sangat senang mengetahui Alex berbaik hati membawanya bertemu Ayah.


Pengawal mencoba memegang lenganya kembali.


" Tidak apa, aku akan jalan sendiri, aku janji tidak akan kabur.." Dia berkata penuh semnagat dan Dia bersungguh- sungguh dengan ucapannya.


Pengawal mempercayainya.


Bersama mereka berjalan, senyum Lucy merekah di bibirnya yang pucat.


" Ternyata Alex cukup baik, dia merawat ayahku diruang sekelas Vvip." batinya.


Begitu masuk Lucy mendapati Alex menatapnya kasihan, wajahnya yang putih terlihat pucat pasi, Lucy bisa merasakan pria itu menatapnya secara berbeda.


Mata Lucy beralih pada ranjang mewah rumah sakit, dia melihat sesosok tubuh yang wajahnya sudah ditutupi dengan kain putih.


Dia membeku disana, seluruh tubuhnya bergetar hebat.


Wajahnya yang pucat semakin pucat.


Dia merosot kelantai secara dramatis.


terdiam, tanpa suara, tanpa ekspresi., dia bahkan tak bisa menangis, kepalanya kosong sesaat dia seperti jatuh kedalam kegelapan yang dalam.


Alex menghampiri, mencoba berbaik hati membangunkan Lucy, gadis itu menepisnya dengan benci.


Dia sangat sedih, tapi anehnya air matanya tak setetes pun keluar. Dia sudah terlalu banyak menangis selama Alex menyekapnya.


pemakaman Ayah Lucy berjalan Lancar, Alex yang mengurus semua untuk Lucy, entah mengapa dia melakukan semua itu.


Alex tak benar- benar ingin membunuh Bono, dia hanya ingin mengancam dan menakuti untuk mencari dalang dibalik penculikan dan pembunuhan nya.


Dokter juga bilang jika Bono stabil dan akan sadar dalam waktu dekat. Mengapa Bono meninggal karena gagal jantung.


Alex semakin curiga, kematian Bono pasti disengaja oleh seseorang., Makanya dia sangat merasa bersalah pada Lucy.


Didampingi oleh para pengawal pribadinya, Alex mendatangi Lucy yang menatap lesu pada makam ayahnya yang letaknya berdampingan dengan ibu.


Gadis itu terlihat aneh, wajahnya datar tak ada ekspresi sedih,.bahkan dia tak menangis.


Melihat Alex datang dia Lucy langsung waspada , wajahnya berubah penuh dengan kebencian. Alex sangat tampan memakai pakaian serba hitam, Pria itu berhenti dan ikut berlutut disisi Lucy


Di situasi normal Lucy pasti akan tertarik untuk mengagumi sosoknya. Saat ini justru sebaliknya, dia sangat membenci Alex, kebencian yang masuk hingga ketulang sumsumnya. Lucy ingin mencabik- cabik dagingnya dan memberikan pada binatang buas..


" Lucy,..." Alex memanggil dengan suara lembut.


Hal yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya. Terhadao siapa pun kecuali pada albert, orang tuanya dan jean.


Lucy berdiri dihdapan alex,, menatap tajam matanya.


" Kita sudah impas ! aku tak ingin lagi berurusan denganmu,, kau sudah membunuh ayahku, kuharap kau merasa puas karenanya, aku sungguh tak ingin bertemu denganmu seumur hidupku, jadi jauh- jauh lah dariku mulai hari ini. anggaplah kita tak saling kenal.."


Tanpa menunggu jawaban Alex, Lucy pergi begitu saja..


Alex tak berusaha menyusul atau membujuk, dia meraih phonselnya, " Uncle Johny, bisakah kau menyelidiki kematian salah satu pegawaiku bernama Bono, Dia meninggal tadi malam karena gagal jantung, tapi aku merasa kematiannya sangat tidak wajar."


" Baiklah Alexander black.." Johny si ketua Mafia sahabat Alex terbiasa memanggil Alex dengan nama lengkapnya sebagai bentuk kasih sayang kepada Alex.


Baginya Alex sudah seperti anaknya sendiri.


Sejak mengenal Alex, Johny merasa tenang menghabiskan hari tuanya tanpa takut pada musuh- musuhnya.