
PERHATIAN⚠️
HARAP VOTE SEBELUM MEMBACA DAN JANGAN LUPA FOLLOW UNTUK UPDATE TERBARU ✅
-----------
HAPPY READING 🖤
Suasana ibu kota disore hari ini sangatlah macet dengan suhu udara yang menggerahkan.
Abel yang duduk di bangku bis sebelah kaca, menatap kearah jalan raya yang padat dan macet. Ia jadi menyesal, mengapa ia tadi tidak memesan ojek online saja.
Sesampainya di pemberhentian didekat rumahnya, ia segera turun menuju rumahnya.
Sebuah toko cokelat dan cake lezat yang terkenal di kota ini.
"Ayah! Aku pulang!"teriak Abel tersenyum menatap Ayahnya yang sedang asyik menyiapkan makanan yang akan diantarkan oleh paman Gober.
"Kemari sayang."
Abel berjalan menuju ayahnya dengan raut bahagia, ia melirik sekeliling toko yang ramai dengan pembeli.
"Ayah, nanti temanku akan datang. Kami akan belajar bersama, bolehkah?"Abel mengeluarkan puppy eyesnya.
"Tanpa memohon seperti itu, aku pasti akan mengizinkan nya putriku,"kekeh ayahnya.
"Kau sebaiknya keatas, bersihkan dirimu lalu istrirahat lah sebelum temanmu datang,"Abel mengangguk lalu berjalan riang keatas, kekamarnya.
"Huh, penatnya."
Abel menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan balutan sprei hitam polos, warna favoritnya.
"Ah, mengapa aku seperti mengenal wajah Alva sebelumnya ya?"Abel tiba-tiba terfikirkan oleh murid baru di SMA nya itu.
"Ah mungkin perasaan ku saja, lebih baik aku berendam untuk menghilangkan penatku."
Abel berendam di air dengan aroma mawar, di bath up nya.
Menghilangkan penat sejenak.
"ABEL! TEMANMU MENUNGGU MU!!"panggil Ayahnya dibawah sana.
"Aku akan segera turun yah!"
"Hai paman, apakah benar ini rumah Abel?"
Edward dan Gober yang sedang membersihkan meja makan, saat pengunjung sudah tak ada, melirik ke arah Alva dengan tatapan mengintimidasi.
"Apakah kau teman Abel yang yang akan belajar disini?"kepo Edward melirik tampilan Alva dari atas ke bawah.
Tampilan Alva, dengan kemeja putih dan lengan yang dilipat, lalu celana abu-abunya, tak lupa kacamata membuatnya terkesan seperti softboy.
"I-iya paman,"akting gugup ala Alva untuk menutupi jati dirinya.
"Apa hubunganmu dengan Abel?"kini suara Paman Gober dan ke kepoan nya beraksi.
Alva tersenyum kikuk, "Kami hanya teman."
Kedua pria paruh baya tersebut mengangguk puas, "ABEL TEMANMU MENUNGGU MU!"panggil Edward pada putrinya.
"Aku akan segera turun yah!"sahut Abel diatas sana.
"Hei, apakah kau lelaki baik-baik?"pertanyaan dari ayah Abel lagi.
Alva yang bingung akan menjawab apa hanya menganggukkan kepalanya.
"Hei! Ayah, paman, kalian tidak membuatnya ketakutan kan?"kekeh Abel yang baru turun dari tangga.
Ketiga lelaki tersebut menatap Abel sambil tersenyum, "Bukan apa-apa. Benarkan?"ujar Edward sambil menepuk pundak Alva dengan tatapan seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Benar, tidak ada apa-apa."
Abel tersenyum puas, "Baiklah, mari kita keatas."
Abel langsung menarik tangan Alva segera mengajaknya keatas.
Namun, tiba-tiba langkah keduanya dicegah oleh kedua pria paruh baya yang masih memperhatikan mereka sedari tadi.
"Sebaiknya dibawah saja,"usul Edward yang diacungi jempol oleh Gober.
Abel menatap Ayahnya heran, biasanya jika soal pelajaran ayahnya akan menyuruh untuk keatas agar fokus, maklum toko mereka ramai pembeli.
"Karena kami kha—"ucapan Paman Gober langsung dipotong ayah.
"Bukannya apa-apa, lebih baik disini saja. Toko sudah hampir tutup kan, sekalian nanti ayah akan menghidangkan makanan pada kalian agar belajar nya makin semangat!"antusias ayahnya yang disetujui oleh paman Gober.
Abel dan Alva hanya mengangguk setuju, lalu duduk disudut ruangan yang bersebelahan langsung dengan kaca.
Abel merutuki dirinya, karena sepertinya Alva tidak nyaman belajar dibawah. Ayah dan pamannya sedari tadi sibuk melirik mereka curiga sambil menyiapkan toko.
"Ah~ Ayah dan Paman keterlaluan,"gumam Abel.
"Alva, maafkan paman dan ayahku ya,"ujar Abel tak enak saat beberapa kali Alva melirik kedua pria tersebut menatap mereka berdua dengan tatapan curiga.
"Hah, tidak apa. Tak masalah, mungkin mereka hanya tak ingin putri kesayangannya ini terjadi apa-apa,"balas Alva memaklumi.
"Baiklah kita lanjutkan, kau baca bab ini dan tanya yang tak kau pahami,"Abel menyodorkan buku pada Alva dan langsung ia baca.
Hujan deras mengguyur kota metropolitan ini, membuat suasana panas tadi menjadi adem.
Abel menatap ke luar sana, tetesan air hujan yang yang ada di kaca jendela disamping nya membuatnya tersenyum.
"Ada apa?"tanya Alva penasaran karena tiba-tiba Abel tersenyum.
"Aku suka hujan,"singkat Abel.
"Kenapa?"
"Kau tau? Hujan itu menutupi air mataku dengannya, ia juga bisa meredamkan suara hatiku yang dikeluarkan saat lama kupendam, dan hujan membuat suasana tenang, dan aku suka itu,"Abel menatap Alva sambil tersenyum manis.
Alva membalas senyuman itu, "Apakah kau juga menyukai malam?"tanya Alva lagi.
"Ya, karena gelap sunyi dan aku butuh itu. Bagiku orang yang takut gelap sebenarnya orang yang belum bisa merasakan ketenangan didalam kegelapan."
Alva tersenyum puas mendengar ucapan Abel yang puitis dan dewasa.
"Hei, apakah kalian sudah selesai belajar nya?"suara Paman Gober yang datang bersama nampan berisi kue dan cokelat hangat.
"Sedikit lagi paman,"balas Alva.
"Lebih baik istrirahat sejenak dulu, baru belajar lagi. Paman tinggal ya,"pamit nya.
"Terimakasih paman."
"Oh iya, aku belum berkenalan dengan ayahmu, siapa nama Ayahmu?"tanya Alva meretas identitas Abel.
"Nama ayahku Edward Winata, orang-orang seringkali memanggil nya Edward. Kau tau? Ayahku adalah orang paling baik yang aku jumpai. Bahkan ia sampai menolong orang-orang yang baru keluar penjara untuk mencarikan pekerjaan. Tak heran bila ayahku disebut pahlawan oleh teman-temannya,"kekeh Abel menatap Ayahnya yang sedang asyik menyiapkan kue-kue.
Tanpa Abel sadari, Alva sudah merekam semua perkataan Abel lewat kacamata modernnya yang sudah disediakan Rabbit untuknya. Kacamata tersebut langsung terhubung pada Rabbit di komputer nya.
"Apa hal paling baik bagimu dari Ayahmu, untukmu?"Alva masih berusaha menarik informasi sebanyak mungkin dari Abel.
"Dia berhasil menjadi ayah terbaik, ia yang selalu ada didekat ku."
Alva hanya tersenyum menanggapi itu semua. Melanjutkan meminum cokelat panas tadi. Ia dapat melihat, sebutir air mata berhasil lolos dari mata Abel, mata yang menatap kearah jalanan kota yang sepi karena hujan.
"Lalu itu adalah paman Gober, dia termasuk teman ayah yang pernah menjadi tahanan lalu saat ia sudah bebas dia bekerja disini, tak hanya itu saja Ayah juga memperbolehkan dia untuk tinggal disini untuk menjaga dan membantu ayah ditoko."
Alva mengangguk paham, lalu tersenyum penuh arti.
"Kau berhasil V."
Alva melepaskan kacamata nya saat mendengar suara rabbit barusan. Sepertinya ia harus menikmati hidup kembali, tanpa suara perintah dari rabbit.
"Bagaimana denganmu, apakah kau akan memulai mencari orang tua mu?"pertanyaan Abel yang menyentak Alva.
Sebenarnya ia memang ingin mencari orang tuanya, yang meninggal kan nya. Ralat, ibunya yang meninggalkan nya sedangkan Ayahnya sudah tiada.
"Aku akan mencari mereka,"balas Alva tenang.
-----
HELLO🌻
KEMBALI LAGI DENGAN AUTHOR:)
CHAPTER 5 INI AWAL-AWAL KEHIDUPAN ABEL MULAI TERBUKA👉🏻👈🏻
UDAH ADA YANG NEBAK ALURNYA GA SII?😭 SEMOGA AJA ENGGA😅
TULIS KOMENTAR KALIAN TENTANG CERITA INI DI KOLOM KOMENTAR YA💜 KALAU ADA SARAN/KRITIK SILAHKAN TULIS DISANA😊 JANGAN LUPA LHO YA! KOMENTAR KALIAN ADALAH MOTIVASI AKU UNTUK MERUBAH DAN MEMPERBAIKI KUALITAS CERITA AKU 😊
CERITA INI HANYALAH FIKSI, YANG AUTHOR KARANG SENDIRI, JADI JANGAN TERLALU SERIUS👁️👄👁️
JANGAN ADA YANG NGEJIPLAK⚠️
AUTHOR HANYALAH MANUSIA BIASA YANG TAK PERNAH SEMPURNA 😊JADI JANGAN LUPA KASI SEMANGAT DAN MASUKKAN
TEMUI AUTHOR YUK💫
akun ig @_queenawaa_
SEKIAN DULU TERIMAKASIH 💜