
HARAP VOTE DAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA:)
---------
HAPPY READING 🖤
"Ayah, kau sedang apa disana?"
"Kemari nak, aku sedang membuat adonan kue dan cokelat untuk besok,"ujar lelaki yang dipanggil Ayah tersebut sambil menyuruh putrinya untuk duduk disampingnya.
"Biar ku bantu Yah,"ia langsung mengambil sarung tangan lalu menuangkan lelehan cokelat panas kedalam cetakan. "Ayah, kenapa Ayah sangat baik ingin membagikan makanan-makanan ini?"ujarnya, menunjuk ke arah kotak yang berisi makanan yang siap untuk dibagikan.
"Kau tau mengapa aku melakukannya? Aku hanya ingin orang-orang tak mampu, bisa menikmati cita rasa manis yang mampu membawa kedalam suasana suka."
"Kau baik sekali,"putrinya terkekeh.
"Siapa lagi kalau bukan kita? Kita harus saling membantu, saling berbagi, dan harus menghargai tanpa membedakan."
"Ah akhirnya, aku akan membawa cokelat-cokelat ini ke kulkas dulu," gadis tersebut langsung membawa nampan berisi cetakan cokelat ke dapurnya.
"Abel! Jangan lupa untuk mengatur suhunya. Setelah itu kita makan malam!"teriak Ayahnya sambil membersihkan peralatan yang sudah dipakai.
"Siap bos!"
"Mari makan!!!"
Suara dentingan sendok dan garpu yang bertemu dengan piring, menghiasi kediaman kecil keluarga Abel.
Yah, walaupun hanya sebuah rumah diatas toko kecil milik Ayahnya, setidaknya ia bahagia.
"Mie ini enak sekali, apakah kau yang membuatnya Abel?"tanya Paman Gober sambil mengangkat kedua ibu jarinya.
"Ah itu, bukankah hanya mie instan paman?"kekeh Abel.
Mereka makan dengan lahap dan bahagia, mungkin bagi orang-orang diluar sana terlihat biasa saja. Namun, bagi sebagian orang juga akan terlihat berbeda, terlihat sempurna.
"Kau tau? Mengapa aku membuat nasi tumpeng ini?"tanya Ayah sambil tersenyum. "Karena... Ayah sedang bahagia?"tanya Abel menerka.
"Bukan, kau lupa ini hari apa?"
"Hah? Paman sekarang tanggal berapa?"Abel menatap Paman Gober heran. "17 Desember, memangnya ada apa?" Paman Gober masih memakan makanannya dengan santai.
"Omo! Aku lupa. Aku hari ini genap berumur 17 tahun!"jerit Abel bahagia. Ayahnya beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk putri kesayangannya tersebut, malaikat dihatinya.
"Astaga, aku sampai lupa Ayah!"
"Tak ada jika kau lupa dengan tanggal ulang tahun mu, hanya saja jangan sampai lupa untuk mencari pria untuk kau kencani,"canda Ayahnya sambil mencium kening putri nya.
"Aku ada sesuatu untukmu."
Ayah berjalan mengambil sesuatu di meja lalu tersenyum menatapku. "Sekarang, berdoalah lalu tiup lilinnya,"ujar Ayah memberikan bittersweet dengan lilin angka '17' diatasnya.
Abel menutup mata berdoa kepada Allah yang maha esa, lalu meniup api di lilin seperti meniup harapan indah untuk masa depan nya.
"Ku harap doa-doa mu terwujud nak,"Ayah mengelus rambut hitam Abel nan lurus dengan lembut.
"Kau tau? Ayah merasa gagal saat tak bisa memberikan kado istimewa untukmu."
Ayah mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya, kotak hitam dengan pita putih diatasnya.
"Ayah, apapun yang kau berikan! Itu adalah hal yang sempurna dan paling ku syukuri!"Abel mengambil kotak tersebut.
Mulai membuka perlahan, tiba-tiba matanya berbinar seketika melihat isi kado tersebut. "Bagaimana kau tau aku menyukai ini!?"seru Abel antusias.
"Aku kan Ayahmu."
"Aku sangat menyukai kalung pemberian mu ini Ayah!"
---------
"Suami ku, cepat kemari. Kita sudah akan memulai makan malam!"teriak wanita cantik paruh baya yang sedang menata makan malam.
"Baik istriku!"
"Kak, apakah aku akan mengganggu acara kau dan kak Faiz?"tanya seorang pria tampan yang sudah duduk di meja makan dari tadi, menatap kakak iparnya yang sejak tadi sibuk menata makan malam kali ini.
"Aish! Kau ini. Ini adalah acara yang kau juga perlu ikut."
"Hei, kalian sedang membicarakan apa? Apakah kalian membicarakan aku?"sahut seseorang tiba-tiba muncul.
"Huh kalian ini, sikap kalian berdua begitu mirip. Sebenarnya siapakah kakakmu Bram, apakah aku atau Ayla?"tanya Faiz mulai duduk dimeja makan bersama Ayla dan Bram.
"Kau dan aku seperti langit dan bumi kak, beda jauh."
"Hey, sudahlah jangan berdebat lagi. Mari kita rayakan ulang tahun ketujuh belas Abell."
Ayla mulai menyalakan lilin disebuah kue mewah, kue dengan warna putih dihiasi coklat dan marshmellow.
"Semoga Abell bahagia disana~"
"Aamiin,"seru Ayla dan Faiz bersamaan. Lalu mereka mulai berdoa dan meniup lilin tersebut bersama-sama.
"Aku harap dia bisa berkumpul bersama kita lagi, tetap menjadi putri kecil kita, kembali seperti dulu,"tak sadar semuanya menitikkan air mata mendengar ucapan Bram.
"Baiklah! Mari kita rayakan ulang tahun yang ke tujuh belas ini dengan riang!!"seru Ayla gembira.
Makan malam mereka penuh suka dan duka ini pun berlanjut. Merayakan ulang tahun untuk anaknya dari tahun ke tahun kadang membuat Ayla semakin sedih. Bagaimanapun dia tetaplah anak bagi wanita cantik yang bernama Ayla Putri Ayunda ini, tak ada yang namanya ibu lupa dengan anaknya.
"Baiklah, kalian boleh ke depan. Aku akan membereskan semuanya."
Saat Ayla ingin mengambil piring sisa makan tadi, Faiz lebih dulu mengambil alih. "Tak usah suamiku, aku bisa sendiri,"tolak Ayla.
"Aku akan membantumu, aku hanya tak ingin kau kelelahan."
"Sebaiknya kau temani adikmu diluar,"senyum manis dari istrinya pun membuat Faiz luluh. "Baiklah, tapi jangan kelelahan ya."
Ayla mengangguk setuju lalu membersihkan meja makan, Faiz pun berjalan menuju adiknya yang berada di balkon sedang menatap langit dan menghirup udara segar malam.
"Aku tau kau sedang berpura-pura."
Suara spontan dari adiknya itupun membuat Faiz tersentak. Ia menyentuh bahu Bram, namun langsung ditepis oleh adiknya.
"Kau terlalu munafik kak, aku tak menyukainya,"Bram berbalik menatap kakaknya dengan wajah sinis, lalu tertawa seolah-olah mengejek.
"Akting mu tadi cukup sempurna,"bisik Bram.
"Apa maksudmu!?"marah Faiz dengan perkataan adiknya. "Bukankah kau tak suka bila kak Ayla mengingat Abel?"kekeh Bram.
"Kau juga tak suka bila mengingat anak tersebut bukan? Ada rasa bersalah mungkin?"
"Sialan!"
"Hei! Mengapa kau mengumpat seperti itu hah? Kau merasa dirimu benar-benar bersalah hmm?"Faiz semakin emosi dibuatnya.
Faiz berbalik, berniat meninggalkan adiknya yang membuatnya marah. Lebih baik ia pergi daripada membuat masalah dengan adik kandungnya sendiri.
"Kau jangan lupakan bila kak Ayla tak mencintaimu!"sahut Bram sebelum Faiz benar-benar pergi.
"Tau apa kau soal kehidupanku."
--------------------
ANNYEONG YEOREBUN ❤️
KEMBALI LAGI SAMA AUTHOR DI CHAPTER 2💫
GIMANA NIH? SAMA CHAPTER 2 NYA. MAAF MASIH PERKENALKAN DI CHAPTER 1 DAN 2 INI🥳
WARNING!!!
CERITA INI HANYALAH FIKSI SEMATA, HASIL PEMIKIRAN ASAL-ASALAN AUTHOR 👉🏻👈🏻😭
OH IYA! JAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN SHARE YAH🌚❤️
AGAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT BIKIN CERITANYA!!!
OH IYA KALAU ADA MASUKAN OR KRITIK SILAHKAN TULIS DIKOMENTAR🌻😊
KAMU JUGA BISA KETEMU SAMA AUTHOR LHO!
akun ig : @_queenawaa_
SEE YOU AGAIN ALL👁️👄👁️
ON ******* dengan user dan judul yang sama.