Before Sunrise

Before Sunrise
Tujuh Menit - Aneh



“Brengsek!”


Julian langsung mengeluarkan umpatannya—yang jelas ditujukan pada Kai, ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Kalau tadi kamu tidak menahanku, wajah tampannya itu sudah pasti babak belur.”


Julian mengumpat sekaligus memuji sepupunya itu sambil memakai sabuk pengaman dan mulai menyalakan mobilnya.


Raut kesal masih jelas terlihat di wajahnya.


Hal itu membuat Anjani tertawa kecil. Julian dan segala keunikannya memang tahu bagaimana membuat suasana hati sahabatnya membaik.


“Makan gultik, yuk!” ajak Anjani yang mulai merasa lapar. Sepertinya energinya terkuras ketika ia berada di rumah keluarga Mahendra tadi. Terlebih setelah Kai datang.


“Hah? Serius?”


Anjani sangat hafal kalau makanan adalah salah satu cara untuk meredakan amarah Julian. Dan gultik adalah salah satu makanan favoritnya. Julian bisa dibilang sebagai artis papan atas di Indonesia tetapi, kecintaannya pada makanan pinggiran tidak bisa dihilangkan.


“Iya, aku serius. Aku traktir berapa mangkok pun kamu mau.”


Dan embel-embel ditraktir sudah tentu menjadi senjata terampuh untuk membuat Julian tersenyum kembali.


Julian pun langsung mengarahkan mobilnya ke arah blok M dan masuk ke Jalan Mahakam. Sudah terlihat deretan pedagang gultik yang sudah ramai dikunjungi pelanggan. Mereka semua memenuhi trotoar dengan penerangan seadanya.


“Kamu mau makan di mobil atau turun?” tanya Anjani yang ragu membawa artis sekelas Julian berkeliaran bebas. Ia tidak mau sampai direpotkan karena tiba-tiba ada yang mengenalinya dan mulai bertindak berlebihan.


Pernah satu ketika, Julian memaksa untuk turun di pangkalan mi ayam di daerah Jakarta barat, dan hasilnya Anjani dan Freya harus melarikan Julian dari sana. Memang tidak semua penggemar-nya mengerikan, tetapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Toh kita tidak tahu apakah kita akan bertemu penggemar Julian yang seperti apa.


“Memang kamu takut ya kalau aku turun?” tanya Julian yang sebenarnya sudah tahu kekhawatiran Anjani.


“Kalau terjadi sesuatu aku akan meninggalkanmu,” jawab Anjani dengan mata mendelik.


“Ck! Teman macam apa yang ada di sebelahku ini! Ya sudah aku makan di mobil saja. Padahal lebih asyik kalau duduk di sana ramai-ramai.”


Julian menatap ke arah trotoar yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang menikmati gultik yang entah mengapa porsinya selalu tidak cukup hanya satu. Satu kurang dan dua kebanyakan untuk orang normal, tetapi bagi Julian, minimal tiga porsi baru ia anggap cukup.


“Mau aku pesankan berapa? Tiga?” Anjani melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


“Satu saja dulu, tapi bilang sama abangnya kalau pesan tiga, tiap tujuh menit nanti antarkan ke mobil.”


Anjani mengerutkan keningnya dan menatap aneh pada Julian. “Tujuh menit? Memang harus tujuh menit?”


“Kira-kira kecepatanku makan satu porsi ya tujuh menit, jangan sampai terlalu lama nanti nafsu makanku hilang, kalau terlalu cepat, nanti keburu dingin.”


Anjani sampai sekarang masih bingung kenapa ia masih bertahan berteman dengan Julian dengan segala keanehannya. Terkadang kalau lagi kambuh memang seperti ini. Ada saja yang di luar nalar manusia normal yang ia minta.


“Kamu ikut aku turun saja! Kita makan di luar. Nanti kamu pesan sendiri saja kapan kamu mau makan.” Anjani pun segera turun. “Jangan lupa memakai topi, dan maskermu. Tidak perlu pakai kacamata hitam. Kamu malah akan menarik perhatian orang.”


Anjani langsung berlalu begitu saja tanpa mau tahu apakah Julian ingin protes dengan permintaannya atau tidak. Yang penting Anjani tidak perlu meladeni kegilaan Julian.


Ia langsung mencari tempat kosong di pedagang langganannya. Sebenarnya, Julian lah yang pertama kali mengajaknya ke tempat ini, tetapi sepertinya justru Anjani lah yang lebih sering datang.


Anjani menemukan dua tempat kosong dekat tembok yang sedikit tidak terlalu terlihat—yang terlihat amat untuk membawa seorang Julian Gunadhya.


“Halo Mbak Anjani,” sapa sang pedagang ketika Anjani memesan dua porsi gultik dan Julian baru saja menyusulnya dan duduk di hadapan Anjani. “Eh, Mas Julian?” Pak Eko—sang pedagang gultik, sedikit ragu karena Julian menutupi wajahnya dengan baik.


“Halo Pak Eko. Lama tidak bertemu.” Julian tersenyum walau ia tahu senyuman yang membuatnya semakin tampan itu tidak terlihat.


“Seperti biasa, ya, Pak Eko?”


“Setiap tujuh menit, kan?”


“Pak Eko tahu keanehanmu?”


“Tahu.”


“Ah! Pantas saja setiap kita ke sini kamu tidak perlu lagi memesan ulang. Aku tidak pernah memperhatikannya.”


Julian tertawa kecil. “Pak Eko sudah sangat hafal dengan kebiasaanku. Aku sudah tidak perlu mengulanginya lagi.”


Anjani dalam hati penasaran. Ia ingin tahu apakah Pak Eko benar-benar memberikan tambahan kepada Julian setiap tujuh menit. Ia pun diam-diam memasang stop watch di ponselnya.


“Ini silakan Mbak Jani dan Mas Julian. Oh iya Mbak Freya kok tumben nggak ikut?” Pak Eko dengan hati-hati memberikan dua piring nasi dan dua mangkuk gultik kepada Anjani dan Julian.


“Iya Pak Eko, kebetulan memang kami sedang pergi berdua saja.”


Pak Eko pun kembali disibukkan dengan pesanan-pesanan baru. Anjani dan Julian pun mulai menikmati makan malam sederhana mereka.


“Besok kamu harus menemaniku jalan pagi.”


“Hah?”


Apalagi ini? Sedang asyik-asyiknya makan, Julian malah membahas sesuatu yang sangat tidak Anjani sukai. Olahraga!


“Iya. Kamu harus bertanggung jawab untuk lemak-lemak yang masuk ke tubuhku malam ini.”


“Itu urusanmu! Kan kamu yang tidak cukup hanya memakan satu mangkok saja.”


“Tapi kamu yang memberikan ide untuk makan di sini. Harusnya kamu mentraktirku salad saja.”


Anjani pun tertawa. Salad? Selama ia mengenal Julian, tidak pernah satu kali pun Anjani pernah melihat Julian menelan menu salad. Kalaupun ada sayuran mentah yang Julian makan, maksimal itu adalah selada di sandwich atau timun di lalapan.


“Aku akan traktir kamu makan salad di mana pun sepuasmu!”


Di sela pembicaraan itu Pak Eko sudah datang dengan mangkok pesanan Julian yang kedua. Anjani langsung mengambil ponselnya dan melihat stop watch yang tadi ia pasang. Angkanya benar-benar menunjukkan tujuh menit.


“Luar biasa!”


“Iya, kan? Aku tidak tahu bagaimana caranya Pak Eko bisa seakurat itu.”


Julian melirik ke angka yang tampil di layar ponsel Anjani.


Makan malam mereka berakhir ketika Julian menghabiskan mangkok ketiganya tanpa bersisa. Anjani hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Julian tampak begitu kenyang sampai bersandar di tembok.


“Jaga kelakuanmu. Bagaimana kalau ada penggemarmu yang melihat?”


“Di saat seperti ini, aku bahkan tidak peduli kalau calon istriku yang melihat.”


Berbeda dengan sanggahannya tadi, ketika ada seseorang yang menghampirinya dan mengenalinya, Julian langsung bersikap sangat elegan. Anjani melihatnya dan memutar bola matanya.


‘Apanya yang calon istri? Baru penggemarnya saja ia sudah seperti itu,’ cibir Anjani sambil berdiri dan membayar pesanan mereka.


Anjani membiarkan Julian yang sedang meladeni tiga penggemarnya untuk berfoto bersama. Ia hanya berdiri di samping Pak Eko yang sudah terbiasa dengan pemandangan itu setiap Julian datang. Apa pun yang Julian pakai untuk menutupi identitasnya, ada saja yang mengenalinya.


Untung saja sampai saat ini, di tempat ini Julian belum pernah bertemu dengan penggemarnya yang ekstrem.


To be continued


[Luna Moon]


Julian dan segala keanehannya. Biar hidup Anjani dan Freya jadi lebih berwarna. Ayo siapa yang suka makan gultik di Blok M? Aku dulu nggak cuma malem, kadang pagi sarapan di sana sebelum kerja. Ah jadi kangen makan gultik lagi.