
“Aku hamil ….”
Perkataan yang keluar dari mulut Anjani membuat kedua sahabatnya sejak sekolah dasar itu tersentak. Hiruk pikuk kafe yang sedang sedikit lengang terasa menghilang seketika, tergantikan oleh ketegangan di antara mereka.
Sebelumnya, Anjani mengajak Julian dan Freya—sahabatnya sejak kecil, untuk bertemu, dan mereka setuju karena sudah hampir satu bulan mereka disibukkan dengan urusan masing-masing.
Anjani bekerja di salah satu INGO terbesar yang memiliki kantor cabang di Jakarta, Julian sibuk dengan tur keliling Indonesia karena karier penyanyinya sedang naik daun, dan Freya yang sibuk menjadi reporter kembali setelah sempat menghilang selama tiga tahun di Timur Tengah.
Anjani tampak memainkan jemari tangannya yang berada di atas pangkuannya. Ia tidak berani menatap kedua sahabat yang masih belum mengucapkan apa-apa. Mereka masih terkejut. Mencerna dan menebak-nebak apakah Anjani sedang mengerjai mereka.
Anjani? Ah tidak mungkin! Kalau Julian yang mengatakan itu, kemungkinan besar ia memang sedang mengerjai kedua sahabatnya, tetapi Anjani, sosok yang paling serius di antara mereka dan tidak suka berbasa-basi?
Kemungkinannya adalah nol persen.
Dari mereka bertiga, Anjani adalah sosok yang paling tidak mudah diperdaya, berprinsip, dan diduga akan menikah paling akhir dari antara mereka. Dan sekarang ia mengatakan kalau ia sedang hamil ....
Kenapa tidak mungkin kalau Anjani sedang bergurau? Karena Anjani menganggap kalau kehadiran seorang pria adalah nomor dua terakhir dari daftar penting dalam hidupnya, dan yang terakhir adalah menikah.
Dua hal yang jelas saling berhubungan, dan dua-duanya ada di urutan paling bawah. Jadi, Anjani yang berpikir jauh ke depan tidak mungkin membiarkan dirinya terperosok dan mengorbankan masa depannya demi kesenangan sesaat.
Hal ini yang menjadi tanda tanya besar apakah Anjani sedang bermain-main dengan kedua sahabatnya, atau memang apa yang ia katakan adalah benar.
“Kamu tidak sedang bercanda?” tanya Julian dengan tatapan curiga. Mencari apakah Anjani sedang menahan tawanya.
Anjani menggelengkan kepala.
Dan gelengan kepala itu menambah ketegangan di antara mereka. Julian dan Freya saling berpandangan—yang kemudian mengalihkan pandangan itu kepada Anjani.
“Siapa, Jani? Pria itu pasti memaksamu, kan?” Pertanyaan beruntun muncul dari mulut Julian, cukup intimidatif. “Tidak mungkin kamu membiarkan seorang pria memperdayaimu. Atau jangan-jangan dia memberimu obat, iya?”
Bagi Julian tidak mungkin Anjani mau melakukannya dengan sukarela, ataupun dalam keadaan sadar. “Aku akan menghabisinya. Katakan siapa dia, dan dia tidak akan melihat matahari besok pagi.”
Julian sebenarnya bukan sosok yang pemarah atau pendendam, tetapi ia sangat posesif pada kedua sahabat wanitanya. Siapa pun yang berani menyakiti mereka, Julian akan berdiri paling depan untuk memberikan mereka pelajaran.
Anjani masih menutup mulutnya. Ia belum mengatakan siapa ayah bayi yang ada di dalam kandungannya. Takut akan reaksi Julian kalau sampai tahu kalau sepupunya sendirilah yang telah menodainya.
Berbagai skenario sudah Anjani bayangkan, dan reaksi Julian satu pun tidak ada yang baik di benaknya.
Perlahan Anjani mengangkat wajahnya menatap ke arah Julian, mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan satu kata. “Kai Abian Mahendra.”
Apa pun yang akan Julian lakukan, Anjani tidak mungkin menyembunyikan kenyataan ini.
DEG
Rahang Julian langsung mengeras mendengar nama yang Anjani sebutkan. Nama yang bahkan tidak pernah akan ia bayangkan memiliki hubungan apapun dengan kedua sahabatnya.
Ia memang tidak akrab dengan sepupu dari pihak ibunya itu. Sifat Kai yang dingin dan tidak memedulikan orang lain sering membuat Julian merasa lelah berdekatan dengan Kai.
Julian memilih untuk menjaga jarak demi mencegah umurnya berkurang setiap mereka berhadapan.
“Kai?”
Julian memastikan kembali apakah ada secuil kemungkinan kalau ada nama yang sama persis dengan sepupunya—yang harus bertanggung jawab. Pokoknya asal itu orang lain, nama yang sama pun tidak masalah.
Anjani mengangguk. Memupuskan secuil harapan di dalam diri Julian.
Bagaimana bisa, Kai dan Anjani? Sepertinya ada sesuatu yang Julian lewatkan. Mereka bahkan hanya satu kali bertemu, dan saat itu, mereka bahkan tidak saling bertegur sapa—sepengetahuannya.
Anjani yang penuh percaya diri seakan hilang saat ini. Ia terus menunduk tidak berani menatap kepada kedua sahabatnya.
Beberapa saat mereka terdiam. Freya memeluk pundak Anjani untuk menenangkannya, dan Julian yang masih mencoba mencerna bagaimana bisa Anjani pada akhirnya jatuh ke dalam pelukan Kai.
“Tapi, bukannya Kai punya pacar, ya?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Freya yang masih memeluk Anjani sambil menatap penuh tanda tanya pada Julian.
“Aku tidak peduli. Dia harus bertanggung jawab! Kalau perlu akan aku seret dia ke pelaminan kalau dia sampai menolak!”
Semua yang sedang berada di kafe itu juga bisa langsung tahu kalau wajah Julian sudah penuh dengan amarah. Ia tidak dapat lagi menyembunyikannya.
“Aku sendiri bingung. Kenapa aku bisa terbangun di samping Kai di dalam kamar hotel tanpa pakaian.”
Ingatan Anjani kembali pada satu bulan lalu ketika pagi itu dia terbangun dengan merasa ada kehangatan tubuh lain yang memeluknya.
Anjani langsung mendorong Kai yang sedang memeluknya dalam keadaan tidak berbusana—yang membuat Kai terbangun dalam keadaan bingung. Sama seperti dirinya.
“Hal terakhir yang aku ingat, aku sedang berada di bar seorang diri untuk melepaskan penatku karena pekerjaan. Kalian sedang tidak ada di Jakarta waktu itu.”
“Ini benar-benar gila!” umpat Julian yang tetap tidak dapat menemukan alasan kenapa semua ini bisa terjadi.
Tidak pernah sedikit pun Julian membayangkan salah satu sahabatnya akan bersama dengan Kai. Lebih tepatnya, Julian tidak akan setuju kalau sampai sahabatnya ada yang jatuh cinta pada Kai, walau harus di akui, Kai memang memiliki tampilan luar yang bisa di katakan sempurna.
Kai memiliki wajah tampan yang jauh di atas rata-rata, tubuh tinggi atletis yang selalu ia jaga dengan olah raga rutin, dan juga tentu saja harta yang selalu menjadi daya tarik wanita yang mendekatinya.
Tapi selain itu? Sifat Kai sangat tidak mendukung penampilannya. Ia sangat dingin dan memiliki sifat arogan yang juga di atas rata-rata. Ia bisa mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hanya karena masalah sepele.
Lalu sekarang, sahabatnya sendiri malah harus memiliki benih Kai tanpa izin. Julian sendiri ngeri membayangkan nasib sahabatnya itu kelak bila harus hidup bersama Kai.
“Lalu ….” Julian memajukan tubuhnya condong ke arah Anjani. “Apa rencanamu? Jujur saja, kalaupun Kai adalah pria terakhir di muka bumi ini, aku tetap tidak akan membiarkan salah satu dari kalian bersama dengannya, tetapi saat ini kondisinya seperti ini ….”
Julian memundurkan kembali tubuhnya dan menghela napasnya. “Sialan! Kenapa harus Kai!!"
Ya, kenapa harus Kai? Dari begitu banyak pria yang tersebar di muka bumi ini, kenapa harus Kai yang menghamili sahabatnya?
To be continued
[Luna Moon]
Hai-hai! Selamat datang di novel terbaruku. Ini adalah seri pertama dari Before The Series yang sedang aku tulis. BEFORE SUNRISE ini akan lebih fokus pada lika-liku kehidupan Anjani dalam memperjuangkan cintanya. Semoga bisa diterima ^^