
Anjani sedang asyik berbincang dengan tentang Julian yang saat ini sedang pengambilan gambar untuk video klip terbarunya di Bandung.
Mereka membaca pesan yang Julian kirim di grup whatsapp yang mereka miliki.
Julian Gunadyha :
****!!
Guys! Kalian pasti nggak akan percaya!
****! ****! ****!!
Freya Agnia Caraka :
Language, please ....
Julian Gunadyha :
Kalian bukan anak di bawah umur, kan?
Anjani Kalila Saguna :
Kenapa lagi?
Habis di teror lagi sama penggemar kamu yang kemarin minta pertanggung jawabanmu?
Dia tidak tahu saja seorang Julian Gunadhya masih perjaka.
Hahaha ....
Julian Gunadyha :
Heiiii!!!
Perjaka itu pilihan!
Anjani Kalila Saguna :
Atau tanda nggak laku!
Julian Gunadyha :
Ck! Terserah lah!
Kalian mau tahu, tidak?
Freya Agnia Caraka :
Mau! Mau!
Julian Gunadyha :
Aku lolos casting!
Kalian ingat, kan? Aku salah satu calon pemeran utama di film ‘Till Death Do Us Part?’
Anjani Kalila Saguna :
Wow! Congratz, Jul!
Freya Agnia Caraka :
Yes! Kita jalan-jalan gratis ke New Zealand!
Perbincangan di grup itu terus berlanjut, sampai mata Freya tanpa sengaja menangkap sosok yang ia kenal baru saja keluar dari mobil yang berhenti di depan lobi sambil memeluk mesra seorang wanita di sampingnya.
“Kai?”
Anjani langsung menoleh. Ia memang tidak dapat mengendalikan dirinya untuk tidak bereaksi setiap nama itu disebut.
Pemandangan yang ia lihat sudah jelas menyakiti hatinya. Melihat seseorang yang masih dengan kejam terus tinggal di dalam hatinya, berjalan mesra dengan wanita lain.
Anjani berusaha untuk terlihat tetap tenang dan tidak mengeluarkan ekspresi apa pun. Ia memalingkan wajahnya ketika sesaat matanya dan Kai bertemu, dan Kai mengecup mesra pipi wanita itu.
****
“Kamu baik-baik saja?”
Anjani terlihat diam saja dan sibuk dengan pikirannya sendiri yang sedang melalang buana entah ke mana—mungkin memikirkan sosok Kai yang baru saja mereka lihat. Pertanyaan Freya pun sepertinya tidak Anjani dengar.
Anjani memilih untuk mengabaikan sosok Kai dan membiarkannya berlalu begitu saja. Anjani memang tidak mengubah raut wajahnya ketika melihat betapa mesranya Kai memperlakukan kekasihnya di muka umum, terapi Freya tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, Anjani terluka—karena rasa itu masih ada dan terawat dengan baik walau sudah bertahun-tahun.
“Kamu baik-baik saja?” Freya mengulang kembali pertanyaannya.
“Aku baik-baik saja.” Sebuah senyum—yang sangat jelas dipaksakan mengiringi jawaban Anjani. Sebuah jawaban klise hanya supaya Freya tidak bertanya lagi.
Freya memang tidak bertanya lagi, karena ia tahu, sebenarnya Anjani tidak baik-baik saja dan tidak mau Freya tahu.
Akhirnya mereka saling terdiam sambil melempar pandangan ke arah luar jendela dengan arah berlawanan. Mengamati setiap kendaraan yang saling melaju di antara taksi yang mereka tumpangi.
Jingga.
Sosok wanita yang selalu ada di samping Kai sampai saat ini—sejak mereka kuliah dulu.
Jingga adalah alasan Anjani patah hati—yang berdiri di samping Kai setelah ia dan Kai membentuk waktu indah yang kini hanya sebuah kenangan.
Dan hari ini, ia harus melihat sosok itu kembali, masih berdiri dengan percaya diri di samping Kai—posisi yang Anjani inginkan sejak dulu.
Anjani bukannya tidak tahu kalau Kai dan Jingga berhasil menjaga hubungan mereka sampai selama ini tanpa ada gosip berarti yang menyerang mereka.
Hubungan mereka bisa dibilang menjadi panutan anak-anak muda dan dikagumi oleh para ibu-ibu yang berharap kelak putri mereka bisa mendapatkan pria seperti Kai—tampan, kaya, memperlakukan kekasihnya dengan baik, dan tidak mengizinkan wanita lain berada di dekatnya kecuali kekasihnya dan keluarganya.
Ya, mungkin Anjani menjadi pengecualian karena jelas ada sosok mungil yang sedang tumbuh di dalam dirinya—yang menjadikan Anjani seakan tokoh antagonis di dalam hidup mereka yang bahagia.
Mungkin Anjani memang sosok yang jahat bila para penggemar Kai dan Jingga mengetahui kalau Anjani mengandung anak Kai, sedangkan mereka tidak tahu keseluruhan ceritanya.
Tapi memang begitulah para netizen, bukan? Menilai seseorang tanpa tahu keseluruhan ceritanya.
‘Apakah keputusanku tepat untuk memberitahu Kai dan merusak kebahagiaan mereka?’ Anjani mengelus perutnya sambil bergumam mempertanyakan rencana yang akan ia lakukan akhir minggu ini. Mulai merasa ragu karena melihat kebahagiaan di antara Kai dan Jingga.
‘Apakah kamu akan baik-baik saja bila hanya bersama mama, tanpa ada sosok papa—yang setidaknya akan menghilangkan cemoohan orang lain nanti?’ Anjani kembali menimbang kemungkinan yang mulai membuatnya ragu.
Anjani tidak ingin nasib anaknya akan sama seperti dirinya dan adiknya—ditinggalkan oleh ayah mereka tanpa ada penjelasan.
Belum hilang di ingatan Anjani bagaimana ia dan adiknya selalu jadi bahan cemoohan di sekolah atau di sekitar tempat tinggalnya. Hanya beberapa orang yang cukup berbaik hati mengerti penderitaan mereka tanpa harus mengungkitnya.
Dan Anjani tidak mau itu terjadi pada anaknya nanti.
‘Maaf, Jingga. Mungkin aku harus egois kali ini. Aku dan anakku lebih membutuhkan Kai.’
Anjani pun memantapkan keputusannya. Ia akan tetap memberitahu Kai dan meminta Kai untuk bertanggung jawab.
“Aku akan mengatakan pada Kai akhir minggu ini.”
Kata-kata Anjani membuat Freya—yang sedang asyik mengamati hiruk pikuk kota Jakarta, menoleh. Menatap sahabatnya yang kini menatapnya dengan penuh percaya diri. Freya tahu, tatapan itu mengartikan kalau Anjani akan tetap teguh pada pendiriannya dan mencoba mengubahnya adalah sesuatu yang sia-sia.
“Kalau memang itu keputusanmu, aku akan mendukungmu. Kamu berhak menentukan masa depanmu. Aku yakin kamu tidak akan sembarangan memutuskan sesuatu, apalagi menyangkut masa depanmu.”
Walaupun Freya lebih setuju Anjani hidup sendiri dengan anaknya kelak, Freya akan tetap menghargai keputusan Anjani dan menepati janjinya untuk selalu berada di samping Anjani.
Sebenarnya, apa pun keputusan Anjani, tidak ada yang mudah untuk dijalani, dan Anjani tahu itu.
Menikah dengan Kai akan memberikan penderitaan tersendiri yang harus ia pendam karena Kai tidak mencintainya, dan Anjani yakin kalau pernikahannya hanya akan sebatas di atas kertas yang memiliki tanda tangan mereka berdua.
Di sisi lain, membesarkan anak ini sendirian, semua bayangan tentang masa lalunya akan terulang kembali, hanya saja kali ini ia akan berperan sebagai ibunya.
Mengatakan hal yang sebenarnya pada Kai memang tidak menjamin kalau Kai akan menerimanya, tetapi setidaknya ia akan mencoba, walau mungkin akhirnya akan tetap pilihan kedua yang harus ia jalani.
“Apakah kamu akan datang ke rumah Kai dan mengatakan semuanya?” tanya Freya yang ingin tahu bagaimana rencana Anjani untuk memberitahu Kai.
“Mungkin sebaiknya aku bertemu empat mata dulu dengan Kai, bagaimana menurutmu?”
“Kai akan dengan mudah menolakmu kalau hanya kalian berdua. Aku tahu ini berkesan memaksa, tetapi kalau kamu mengatakan semua di depan ayahnya, aku rasa dia tidak akan bisa berkelit.”
“Ah, aku benar-benar merasa menjadi orang jahat, Ya. Aku yakin Kai pasti sangat membenciku, tapi ....”
“Apa pun itu, Kai harus bertanggung jawab. Ini masalah hadirnya seorang anak di antara kalian. Anak yang membutuhkan kedua orang tuanya.”
Anjani menghela napasnya. Ya, ia melakukan ini demi anaknya, demi sebuah status legal yang setidaknya bisa melindungi masa depan anaknya kelak dari pandangan orang lain.
Beberapa menit setelah percakapan itu, taksi mereka sudah tiba di depan rumah Anjani. Ia menatap ke arah rumahnya beberapa saat.
“Yang paling sulit mungkin bukan bagaimana aku menghadapi reaksi Kai, tetapi bagaimana aku harus menghadapi tatapan kecewa mama ketika aku memberitahunya.”
To be continued
[Luna Moon]
Sedih banget pasti kalau jadi Anjani, ya? Hamil sama orang yang di cinta, tapi mencintai orang lain. Eh, kira-kira ada rahasia apa sih di masa lalu Kai-Anjani? Ikutin terus ya ceritanya. Beberapa chapter ke depan aku akan buka dikit-dikit.