Before Sunrise

Before Sunrise
Pernah Ada Sesuatu Dulu



“Jani, apakah kamu yakin kalau kamu mau masuk kembali ke dalam kehidupan Kai?”


Freya mengaduk kopi di hadapannya yang baru saja datang. Terakhir, Anjani mengatakan padanya dan Julian kalau ia akan memberitahu Kai dan berharap kalau Kai akan bertanggung jawab, dan hal ini membuat Freya khawatir, bahkan lebih khawatir dari Anjani yang akan membesarkan anaknya sendiri.


Freya dan Anjani sedang makan siang bersama tanpa Julian di sebuah mall di daerah pejaten. Ada rahasia di antara mereka yang tidak Julian tahu. Rahasia sebenarnya tentang Kai dan Anjani di masa lalu ketika Julian kuliah di Sydney.


“Aku ingat bagaimana hancurnya kamu ketika kamu patah hati dulu, dan aku tidak mau melihatnya lagi. Kamu yang terpuruk tanpa air mata sedikit pun justru membuatku lebih khawatir.”


Ingatan Freya kembali saat Anjani mendapatkan kabar kalau Kai akhirnya memiliki kekasih dan benar-benar terlihat membencinya, setelah mereka menghabiskan waktu menyenangkan bersama di tempat rahasia—yang membuat Anjani berpikir kalau Kai juga memiliki perasaan padanya. Hal yang pada akhirnya menempatkan pria dan pernikahan berada di daftar terbawah dalam hidup Anjani.


Setelah itu, tidak pernah ada pria yang terlihat dekat atau menarik perhatian Anjani.


Anjani hanya bisa menghela napasnya.


Keadaannya sekarang memang hanya memberikannya dua pilihan. Satu meminta Kai bertanggung jawab, dan hidup dengan kemungkinan besar mereka tidak akan bahagia, atau membiarkan Kai tidak pernah tahu keberadaan anaknya, dan Anjani pergi jauh—yang tidak mungkin bisa bertemu dengan Kai lagi.


“Aku rasa Kai berhak tahu kalau ia akan menjadi seorang ayah.” Anjani mengelus perutnya yang masih rata dan berharap anak dalam kandungannya bisa memberikannya kekuatan.


“Apakah dia akan menerimanya atau tidak, aku tidak akan memaksanya.”


“Kamu tahu kalau aku dan Julian akan tetap mendukungmu, sekalipun kamu memutuskan untuk membesarkannya seorang diri, kan?”


Freya ingin mengingatkan kalau kedua sahabat Anjani akan selalu berada bersamanya apa pun keadaannya nanti.


Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika sang pelayan menyajikan pesanan mereka di atas meja. Nasi ayam telur asin—favorit Anjani, dan semangkuk salad untuk Freya yang sedang merasa kalau dirinya menggemuk—padahal masih terlihat sama saja.


“Terima kasih, Mas,” ucap Anjani setelah pelayan itu meletakkan semua pesanan mereka.


“Selamat menikmati,” balas sang pelayan yang sebenarnya sudah hafal dengan kehadiran tiga sejoli di restoran tempatnya bekerja—yang hari ini hanya datang berdua.


“Ah, aku iri padamu, Jani. Kamu makan apa pun badanmu akan tetap langsing. Sedangkan aku? Bernapas saja membuat badanku baik seratus gram.” Freya menatap pesanan Anjani dengan tatapan iri. Ingin rasanya Freya menukar mangkok di hadapannya dengan milik Anjani.


Anjani tertawa mendengar keluhan Freya—yang sudah ia hafal sejak mereka di sekolah menengah atas. Sebenarnya Freya tidak gemuk, badannya cukup proporsional, tetapi seperti kebanyakan wanita di seluruh pelosok dunia ini, mereka selalu merasa kalau tubuhnya gemuk.


“Kalau Julian ikut makan siang dengan kita, dan mendengar kata-katamu barusan, jam makan siang kita akan bertambah satu jam untuk sesi ceramah.”


Mereka berdua pun tertawa.


Memang benar apa yang Anjani katakan. Julian paling kesal dengan pemikiran yang menyamakan definisi cantik itu adalah kurus, langsing, putih dan segudang penilaian sempit yang mendefinisikan arti kata cantik.


Freya memang tidak seperti ini karena perkataan orang lain, hanya saja ia memang terkadang merasa insecure pada tubuh mungil berisinya itu—yang ia harapkan suatu hari bisa berubah menjadi tinggi semampai.


Manusia memang begitu, tidak puas dengan apa yang ia miliki.


“Oh ya, kamu benar-benar tidak ingat kejadian malam itu?”


Anjani menggeleng sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Tidak ada ingatan apa pun mengenai malam itu, bahkan bayangan samar pun tidak ada seakan kejadian itu tidak pernah terjadi.


“Kamu mabuk waktu itu?”


“Kamu tahu aku, Ya. Kapan aku pernah minum minuman beralkohol. Setiap kita ke bar, hanya aku yang akan tetap mempertahankan akal sehatku.”


“Ah iya, kamu benar. Kami akan selalu merepotkanmu.” Cekikik kecil muncul di bibir Freya yang dibalas dengan bola mata Anjani yang berputar.


“Aneh .... Atau mungkin ....” Freya berhenti sejenak tidak yakin dengan apa yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. “Mungkin tidak kalau seseorang memasukkan obat ke dalam minuman kamu?”


“Dan menjebakku tidur dengan Kai? Siapa? Dan Apa untungnya?”


Benar juga apa yang di katakan Anjani, tetapi ada satu hal yang mengganggu di dalam pikiran Freya. Freya menggigit jari tangannya tanda kalau ia sedang gelisah.


“Spell it, Ya. Aku tahu pasti ada sesuatu yang mengganggu kamu setiap kamu melakukan itu.”


“Melakukan apa?”


“Menggigit jari tanganmu.”


“Jadi, apa yang ada di pikiranmu?” tanya Anjani yang melap mulutnya. Makan siangnya telah habis tidak bersisa.


Freya menatap Anjani, ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, sedangkan Anjani menatap Freya menunggu jawabannya.


“Apa mungkin Kai sendiri ....”


Freya tidak menyelesaikan kalimatnya. Anjani pasti sudah mengerti arah pembicaraan Freya.


“Kai yang melakukannya? Tapi, untuk apa? Urusan kami sudah lama selesai. Dan dia membenciku, Ya. Jadi mana mungkin dia akan melakukan hal bodoh yang bisa membuatnya terjebak bersamaku.”


“Aku tidak tahu, hanya menebak saja.”


“Rasanya tidak mungkin. Ketika ia terbangun, ia pun sama terkejutnya denganku. Bahkan sampai aku keluar kamar pun ia masih terpaku seakan kehilangan sebagian dari jiwanya karena terkejut.”


“Benar-benar aneh. Kamu tidak mabuk, tetapi bisa kehilangan ingatanmu tentang malam itu. Aku yakin ada yang memberi obat ke dalam minumanmu, tapi siapa?”


“Entah apa yang terjadi malam itu, tetapi sekarang aku memiliki seseorang yang harus aku lindungi. Aku tidak ingin dia lahir dan dicemooh oleh orang lain yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Karena itu kamu ingin memberitahu Kai? Untuk memberikan status pada bayimu?”


“Salah satunya.”


“Dan lainnya agar kamu bisa kembali dekat dengan Kai kembali?”


“Yang adalah hal yang mustahil untuk membuatnya melihatku. Kalau saja Julian tahu kalau sebenarnya aku dan Kai ....”


Anjani tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Ia tidak ingin pintu masa lalu yang telah ia tutup ralat ia buka kembali. Menutup pintu itu harus mengorbankan dua tahun hidup Anjani.


“Tenang saja, Julian tidak akan tahu kecuali kamu sendiri yang mengatakannya.”


Anjani melihat ke arah jam tangannya. Rasanya ia sudah terlalu lama keluar untuk makan siang.


“Sudah jam setengah dua, sebaiknya kita segera kembali,” ujar Anjani sambil mengeluarkan dompetnya dan berjalan ke arah kasir. “Aku yang traktir hari ini.”


“Apa! Kenapa kamu nggak bilang? Tahu begitu aku tidak memesan salad!”


Freya tampak kesal karena ia tahu Anjani pasti sengaja melakukannya. Memberitahunya ketika mereka akan pulang.


“Kan mau mau diet, gimana sih?”


“Diet bisa diundur besok, yang penting makan siang enak gratis.” Freya tertawa.


“Huh, dasar! Tidak mau rugi!”


Mereka pun segera keluar dari restoran dan melangkah menuju lobi untuk mencari taksi. Antrean sudah terlihat mulai panjang karena memang sudah waktunya jam makan siang berakhir dan pengunjung mall ini rata-rata adalah para pegawai yang mencari makan siang.


Freya dan Anjani bergurau santai sambil menunggu taksi dan membalas percakapan di grup WA mereka, sampai raut wajah Freya berubah dan senyuman hilang dari wajahnya.


“Kai?”


Satu nama singkat itu berhasil membuat Anjani mengikuti arah pandangan Freya yang membeku.


Kai baru saja keluar dari sebuah mobil mewah sambil memeluk mesra seorang wanita tinggi semampai yang mendapatkan sebuah kecupan mesra di pipi—yang membuat senyuman bahagia terbit di wajah wanita itu, dan wajah Anjani menjadi muram.


To be continued


[Luna Moon]


Wah kira-kira wanita itu siapa? Pacar Kai, kah? Terus, Anjani akan bereaksi seperti apa ya kira-kira?


Jangan lupa like dan jadikan favorit yaaa


Maaciii