Before Sunrise

Before Sunrise
Hari Yang Melelahkan



Maya hanya terdiam setelah mendengar pengakuan Anjani—yang sedang duduk bersimpuh di depan kakinya. Waktu rasanya berhenti ketika putrinya mengatakan kalau dirinya sedang mengandung, tanpa seorang suami di sampingnya.


“Maafkan Anjani, Ma.”


Air mata menetes dari pipi Maya dan jatuh ke tangan Anjani yang sedang menggenggam tangannya. Seketika bayangan kehidupannya yang harus berjuang membesarkan kedua anaknya seorang diri hadir di benak Maya.


“Apakah ayahnya tahu dan mau bertanggung jawab?”


Sebenarnya Maya sudah bisa menebak jawaban dari pertanyaan itu. Tentu saja ayah anak itu belum tahu, kalau tahu, tentu saja yang sedang bersujud di hadapannya bukan hanya Anjani.


“Belum, Ma. Anjani belum memberitahunya.”


Minggu ini mungkin akan menjadi minggu terberat dalam hidupnya. Pertama Anjani harus menerima kenyataan kalau ternyata dirinya hamil—anak dari seseorang yang memiliki hatinya, tetapi tidak mencintainya. Lalu ia harus mengatakan itu pada sahabatnya yang memang tidak pernah ia ragukan akan selalu mendukungnya.


Saat ini Anjani harus menghadapi kekecewaan ibunya, seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Yang tidak pernah mengeluh membesarkannya dan adiknya.


Dan yang terakhir, menghadapi keluarga Kai akhir minggu ini.


Maya tidak banyak berbicara. Ia tidak menyalahkan Anjani, karena tentu saja Anjani juga tidak menginginkan semua ini terjadi.


“Apa yang harus kamu hadapi nanti akan sangat berat. Bertahanlah. Jalani semuanya dengan lapang dada. Mama akan selalu di sampingmu.”


Maya memberikan pelukan hangat pada Anjani yang langsung memecahkan tangisan Anjani.


Anjani bukan seseorang yang mudah menangis. Terakhir ia menangis mungkin ketika ia tahu kalau ayahnya tidak akan kembali. Bahkan ketika ia patah hati karena Kai dulu, tidak ada air mata yang menetes di pipinya.


“Maafkan Anjani, Ma.”


Maya menggelengkan kepalanya perlahan.


“Tidak apa-apa, Sayang. Saat ini yang harus kamu lakukan adalah menghadapi apa yang menantimu di depan. Kamu adalah wanita yang kuat. Ingat, kamu harus tetap seperti rumput liar yang tetap hidup walaupun diterpa oleh apa pun.”


***


Suasana rumah mewah kediaman keluarga Mahendra saat ini dipenuhi dengan ketegangan. Kedatangan Anjani yang ditemani Julian—yang memaksa untuk menemani Anjani, membuat ibu tiri Kai memandang Anjani dengan tatapan jijik.


“Hamil? Dan Kai adalah ayahnya? Apakah kamu mencoba menipu kami? Mencoba menaikkan statusmu?”


Hinaan yang keluar dari ibu tiri Kai memang sudah Anjani perhitungkan. Sudah pasti berita yang Anjani bawa ini tidak akan diterima dengan baik, apalagi oleh keluarga seperti keluarga Mahendra.


“Tante! Tolong jangan bicara sembarangan! Anjani bukan wanita seperti itu!”


Julian tegas membela sahabatnya. Hal seperti inilah yang Julian memaksa menemani Anjani. Ia cukup kenal dengan karakter keluarga Kai. Untung saja saat ini Anjani hanya bertemu dengan Edwin Mahendra dan istrinya.


Hanna, ibu tiri Kai yang sombong dan menjadi semakin sombong ketika berhasil masuk ke dalam keluarga Mahendra, masih menatap Anjani dengan jijik. Yang tidak dapat Julian baca adalah tatapan Edwin pada Anjani.


Edwin bukan orang yang gegabah. Ia memiliki karakter yang tegas, tetapi bukan seseorang yang picik.


“Datang ke sini saja bersama pria lain.” Hanna masih terus menyudutkan Anjani.


“Cukup, Hanna.” Edwin memegang tangan Hanna untuk menenangkannya, dan Hanna menurut.


“Boleh ceritakan apa yang terjadi pada saya?” tanya Edwin sambil terus menatap Anjani.


Sebenarnya Edwin sudah mengenal Anjani. Ia adalah salah satu karyawannya di kantor pusat.


Bahkan dulu Edwin pernah berpikir untuk menjodohkan Anjani dengan Kai karena karakter Anjani yang tegas, dan bisa menyelesaikan masalah-masalah di kantor dengan baik. Selain itu, Anjani juga sopan dan tampak tidak seperti wanita murahan yang mengambil kesempatan.


“Maaf, Pak Edwin. Saya sendiri sebenarnya bingung. Pagi itu saya terbangun di sisi Kai, dan kami tidak memakai sehelai pakaian pun. Saya saat itu langsung meninggalkan Kai yang juga tampak sangat terkejut. Saya sangat yakin saya tidak mabuk. Saya tidak pernah menyentuh minuman beralkohol.”


“Hm ....” Edwin menatap Anjani ketika ia menjelaskan semuanya. Tampak tidak ada kebohongan di sana.


“Dan saya tidak pernah tidur dengan pria mana pun selain Kai. Karena itulah saya yakin kalau Kai adalah ayah dari bayi yang saya kandung,” tegas Anjani kembali karena ia tahu kalau Hanna sudah akan membuka kembali mulutnya.


Hanna melengos mendengar kata-kata Anjani.


Tentu saja ia masih tidak percaya pada semua perkataan Anjani. Seorang wanita yang berada jauh di bawah keluarga Mahendra tiba-tiba datang dan mengaku dihamili oleh Kai. Kalau bukan karena ingin menikmati harta keluarga Mahendra, lalu untuk apalagi?


“Om, maaf. Mungkin saya memang hanya orang luar, tetapi saya sahabat Anjani sejak kami SD dan saya tahu karakter Anjani. Dia tidak akan melakukan hal bodoh yang mempertaruhkan masa depannya.” Julian angkat bicara.


Edwin belum mengatakan apa-apa. Hanya memandang ke arah Anjani seperti sedang menilainya.


Kesunyian di antara mereka menguap ketika mendengar suara mobil berhenti di depan lobi rumah dan langkah kaki seseorang mendekat dan akhirnya membuka pintu utama rumah itu.


Kai sempat menghentikan langkahnya ketika melihat ayah dan ibu tirinya sedang duduk di rumah tamu—yang jarang ia temukan. Matanya lalu berpindah pada dua sosok lain yang membelakanginya.


Kai menyipitkan matanya mencoba mengingat sosok yang tampak familiar itu.


“Anjani?” Kai mengucapkan nama itu setelah mengenali sosok wanita yang ada di dalam ruang tamunya.


Ingatan kejadian satu bulan yang juga masih menjadi misteri baginya tiba-tiba muncul.


“Kamu kenal dia?” tanya Edwin sambil bergantian memandang Kai lalu memandang Anjani.


“Hanya tahu, Pa. Tidak kenal dekat.”


Mereka memang sudah tidak dekat lagi. Dulu—waktu mereka masih kuliah, Anjani dan Kai pernah menjadi teman dalam kesunyian, dan hanya segelintir orang yang tahu. Sebuah persahabatan rahasia yang berakhir begitu saja ketika seseorang akhirnya mendampingi Kai dan mematahkan hati Anjani.


“Duduk, Kai.”


Kai menurut. Ia duduk di sofa single kosong di samping Edwin.


“Apa yang terjadi sebulan lalu?” Edwin tidak berbasa-basi. Ia ingin mendengar dari sisi putra sulungnya.


“Se—sebulan lalu?”


Sebuah pertanyaan yang tidak pernah Kai sangka akan terungkit, dan keluar dari mulut ayahnya. Kai memandang ke arah Anjani—yang ia yakini adalah sumber informasi yang seharusnya terlupakan. Tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian.


Toh selama ini Anjani tidak pernah mendatanginya untuk menjelaskan apa yang terjadi. Jadi Kai menganggap kalau kejadian malam itu hanya sebuah kesalahan yang tidak perlu diungkit lagi. Tapi, kenapa sekarang Anjani malah duduk di hadapan ayahnya dan mengatakan kejadian satu bulan lalu itu?


“Anjani bilang kalian tidur bersama. Benar begitu?” Sekali lagi pertanyaan to the point ayahnya membuat Kai tercekat.


Sekali lagi Kai menatap ke arah Anjani, kali ini lebih seperti tatapan kemarahan.


“Itu adalah sebuah kesalahan. Aku pikir tidak ada yang perlu diungkit lagi karena dia sendiri pun tidak pernah datang kepadaku untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Jadi kamu juga tidak tahu apa yang terjadi?” tanya Edwin.


Kai menggeleng. Sama seperti Anjani, Kai pun tidak tahu apa yang terjadi malam itu. Yang ia ingat, dirinya memang minum bersama temannya, dan ia di antarkan ke sebuah kamar. Setelah itu ia bangun ketika tubuhnya merasa terdorong dengan teriakan seorang wanita yang memekakkan telinganya.


Kai berpikir pasti Anjani yang sengaja menjebaknya, karena Kai tahu, dulu—ketika hubungan mereka baik-baik saja, Anjani menyimpan perasaan kepadanya yang terlihat sangat jelas.


“Anjani hamil.”


“Apa?!”


Kai berdiri dengan tergesa dari tempat duduknya. Setelah beberapa saat, Kai langsung memutar tubuhnya berdiri di hadapan Anjani.


“Tipuan apalagi yang kamu mainkan sekarang?” Kai melontarkan tuduhan itu ke hadapan Anjani. Wajah Kai memerah menahan amarahnya. “Aku tidak tertarik dengan segala permainanmu!”


“Apa maksudmu, Kai? Permainan apa?” Anjani menatap Kai tidak mengerti. Kai yang seperti ini mengingatkan Anjani pada sosok Kai yang memintanya untuk jangan pernah lagi mengganggunya—tanpa penjelasan apa pun.


“Aku tidak akan tertipu olehmu. Tidak dulu, tidak juga sekarang.”


Anjani semakin tidak mengerti. Dulu? Kapan Anjani pernah menipunya.


Kai mendekatkan tubuhnya arah Anjani.


Menatap Anjani yang masih duduk di hadapannya dengan pandangan jijik.


“Apakah kamu yakin kalau anak itu adalah anakku? Karena aku tidak yakin kalau aku adalah satu-satunya pria yang pernah tidur denganmu.”


Julian sudah hampir berdiri untuk menghajar Kai, tetapi tangan Anjani menahannya.


Anjani mendorong tubuh Kai yang dirasa terlalu dekat dengannya, berdiri di hadapan Kai, tanpa ada rasa takut.


“Aku datang ke sini bukan untuk kamu hina. Kalau memang kamu terlalu pengecut untuk mengakui anak ini, maka jangan khawatir. Aku pun tidak menginginkan seorang pengecut untuk menjadi ayah dari anakku.”


Tatapan kecewa terlihat jelas di mata Anjani, diiringi dengan senyuman sinis yang muncul di sudut bibir Anjani.


Setelah mengeluarkan semua perlawanan atas tuduhan Kai, Anjani pun pamit kepada ayah dan ibu tiri Kai.


Langkah Anjani pun diikuti oleh Julian yang memutuskan menahan emosinya untuk menghajar Kai.


To be continued


[Luna Moon]


Yang mau ngewakilin Julian buat ngehajar Kai silahkan angkat tangan di kolom komentar 😂😂