
Hari ini adalah hari pertama yang melelahkan bagi Araa, mendapatkan hukuman di hari pertama sungguh pencapaian yang tidak patut untuk dibanggakan..
Seperti biasa setiap malam, tepat pukul 09.00 Araa akan keluar di teras kamarnya untuk melihat bintang. .
Sambil memetik gitarnya bernyanyi di bawah sinar bulan dan indahnya bintang sebagai temannya bernyanyi. .
Tepat lagu terakhir untuk malam ini,
Rakha yang memperhatikan adiknya sejak tadi kemudian menegurnya "Hei Ratu!! Kau ingin menambah jatah hukumanmu besok?". Ucap Rakha pada adiknya.
"Kakak. . Bisakah tidak mengejekku sekali saja!!". Ucap merengek.
Araa dan Rakha berbincang-bincang d tengah malam dengan cukup nyaring karena jarak mereka yang sedikit jauh. membuat sang bunda harus keluar melihat apa yang mereka bicarakan dilantai dua.
"Hey Apakalian tidak sekolah besok? Kenapa masih berbincang-bincang diatas...". Ucap sang bunda menegur anak-anaknya.
"Baik bun!! Kami segera tidur!!". Ucap Rakha sambil melambai tangan ke arah bundanya yang sedang mengacak pinggang menatap mereka berdua.
Araa yang tanpa bicara sudah lebih dulu melarikan diri saat bundanya berbicara. .
Gadis yang tidak punya telinga
kata orang . . .
. . . .
Saat semua sudah terlelap dalam mimpi yang indah . .
Hujan turun seiring indahnya mimpi malam ini, . .
Mimpi sudah hampir berlalu,
namun hujan diluar sana masih menyelimuti permukaan bumi. .
Tidak akan ada yang bangun lebih pagi jika suasana hari begitu tidak mendukung. .
Tapi hari ini,
Araa sudah bangun lebih awal, karena hari ini dia harus berangkat ke sekolah dengan sang kakak. .
"Kakak!! Bisakah kau pergi sendiri saja?". Ucap Araa merengek.
"Tidak!! Hari ini kau pergi ke sekolah dengan ku!! Tidak ada tapi-tapian!!", ucap Rakha mempertegas.
Araa tidak bisa membantah lagi,
Tidak ada yang bisa membantahnya kecuali ayahnya, namun sayang. . Bidak pembantu Araa tidak ada untuk membantunya. .
"Hey Ratu, Berhentilah cemberut!! Ayoo bersiap kita berangkat!!". Ucap Rakha sambil merapikan baju dan mengambil tasnya.
Kemudian mereka berdua berpamitan dengan sang bunda . .
. . .
Ada beberapa alasan mengapa Araa tidak menyukai Rakha yang membawa mobilnya, tapi alasan yang paling mutlak adalah karena Rakha pergi terlalu awal dan mengemudikan mobil atau motor terlalu lambat . .
Kata Araa "Membosankan!!".
"Hey, beginilah cara yang benar mengemudikan mobil jika membawa seorang gadis. . ". Ucap Rakha membela diri sambil terus mengemudikan mobil.
"Heh'.. Gadis? Kau punya gadis idaman?". Ucap Araa penasaran.
"Bisakah kau sampaikan salam ku kepada seorang gadis di kelasmu?". Ucap Rakha dan membuat Araa terkejut penasaran.
"Who?". Dengan wajah penuh dengan rasa penasaran.
"Sampaikan salamku pada Rhiena!!".
Araa yang mendengar hal itu langsung melihat baik-baik wajah sang kakak sang bertanya "Kak apakah kau sadar kau menyukai pacar orang?".
"Why? Selagi janur kuning belum melengkung, siapapun bisa memilikinya benarkan?". Dengan santainya menjawab pertanyaan Araa.
"Tapi dia itu pacar Wahyu". Ucap Araa meninggi.
Suasana hening seketika . .
Araa sudah tidak dapat berkata-kata lagi, ucapan kakaknya membuatnya seperti dibungkam karena terkejut . .
Sesampainya di sekolah Araa turun dari mobil tanpa bicara sepatahkata dengan kakanya karena kaget ..
"Ratu!! Jangan sampaikan yang tadi aku katakan!!". ucap Rakha
Araa yang mendengarnya langsung berkata "Wlaupun kau memintaku untuk mengatakannya aku juga tidak akan mengatakannya!!". Meninggalkan kakanya dengan sedikit rasa kesal karena ungkapannya.
Kenapa harus menyukai seorang gadis yang sudah memiliki pacar, terlebih lagi mereka sudah berpacaran 2 tahun lamanya ..
"Kakakku benar-benar gila!!". Ucap Araa sambil memegang dahinya sambil berjalan menuju kelasnya..
. . . .