ANGELA AND BARACK

ANGELA AND BARACK
23. Bahagya#6



tanpa menghiraukan ada mertua,rayyen dan suaminya ,,


dia pun langsung bergegas duduk sambil memakan semua makanan yang dibawakan oleh semuanya..


melihat tingkah angela itu membuat mertua ,rayen,dan suaminya senyum senyum melihat tingkah yang sangat lahap itu menyantap semua makanan yang dibawakan xien tadih.


" hey sayang pelan-pelan,,


tidak akan ada yang merebut makanan mu " ucap xien menggoda istriny.


" walaupun ada aku tidak akan memberikannya,,


aku sangat lapar dan kamu mass tidak merasa bersalah telah membuat istri dan calon anakmu kelaparan menunggu pesanan yang aku suruh membelikanya mas " dengan mulut yang penuh dengan makanan yang sedang dia santap,,


sangat lucu tingkahh istrinya itu,,, setelah sekian lama menikah dengan perempun ini,,dia tidak pernah melihat angela bertingkah seperti sekarang.


xien tersenyum sangat geli,,karena menahan tawanya yang ingin dia lepaskan sejak tadihh.


melihat tingkah anak ny itu,, menahan tawa sambil melihat kearah istrinya,, mommy daddy dan rayyen pun ikut menahan tawa melihat tingkah istri xien.


Aaakkkhhhhhh ,, suara itu yang keluar dari mulut mungil angela..


dan angela langsung menutup mulut


" maaf , maaff mom dad, rayy , dan masss ,,, maaaf aku tidak sopan,,, aku sangat puas dengan makanan ini,, sampay sampay aku tidak menawarkan kepada kaliann,,


maaaf sekali lagi maaf " sambil menundukkan kepalanya karena malu ditambah dia sangat menyesal.


" hahahaha tidak apa apa nakk,,, kau sadar setelah makananmu habiss ya baby " ucap mommy.


dan itu membuat angela semakin malu.


" ahahahha sudahlah sayang, apa kamu mau makan lagi ? " ucap xienn


belum menjawab pertanyaan xien


angela pun berlari kecil menuju kamar mandii,, karena dia menahan muntahnya ,, mencium aroma yang tidak dia sukaii.


huekkkk...huekkkk....


itu suara dari balik kamar mandi.


xien bergegas mneghampiri istrinya..


"sayang kau tidak apa-apa "ucap xien sangat khawatir.


" hiiiiii siapa itu memakay parfum yang sangat bauuuu aku sangat tidak menyukainya " ucap angela,,karena lemasss dia telah memuntahkan semua makanan yang dia makan tadihh.


rayyen pun menghampiri mereka dan memberikan gelas berisi air putih pada angela.


Hueekkkkk...huueekkkk....


angela pun mual lagi,, karena yang membuat dia mual itu berasal dari parfumnya rayyen.


" rayyennn pergiii parfummu sangat bau " ucap angela pada rayyen .


rayen pun bingung dan pergi menghampiri mommy dan daddynya.


" mom , apa iya rayy bauuu " ucap rayen kebingungan kepada mommy dan daddy.


" tidak rayy,,kamu masih sama seperti biasanya parfummu masih wangi seperti biasa tidak ada yang berubah " ucap mommy.


" ooo mungkin juga dadd " ucap rayyen .


"sepertinya aku harus mengganti parfumku ,, sebelum nyonya xien memakan ku hidup- hidup " sambung rayyen dengan tawa yang sangat kerasss. membuat mommy dan daddy ikut tertawa..


setelah lama meihat istrinya mual mual,,


mengeluarkan semua isi perutnya tampa sisa ,,


dan melihat wajah pucat istrinya,,


dia sangat panik,, dan tanpa sadarkan diri angela pun pingsan,,


untung saja tubuhnya langsung ditahan oleh xien..


xien langsung menggendong tubuh mungil angela kekamar mereka dilantay 2.


" mommy tolong panggilkan dokter pribadi kita " ucap xien sambil panik membawa tubuh angela.


dengan segera mommy pun menghubungi dokter pribadi mereka dan mengikuti anaknya kedalam kamar diikuti daddy dan rayyen , langkah rayyen terhenti.


" sayangggg,,, tukar dulu pakayanmu sebelum masuk kamar xien " ucap mommy.


dengan mengerti apa yang dimaksud mommynya..


rayyen mengangguk dan bergegas kekamar miliknya di keluarga jaysu.


setelah berganti pakaian ,, dia pun berjalan menuju kamar xien sambil diikuti oleh dokter yang baru sampay.


" pagi tuan nyonya ,, izinkan saya meriksa nyonya muda sebentar " ucap dokter.


" baik dok"


mereka pun melangkah keluar..


sudah selang waktu 20menit saat pemeriksaan,, dengan wajah panikk orang- orang yang diluarr kamar xien.


sambil menunggu kedatangan dokter..


Ceklek... suara ganggang pintu terbuka..


.


.


.


.


.


.


.


.


next