An Answer

An Answer
Part 5



"Nih cewek pingsan atau tidur?" decak Ansel.


Ansel dari tadi menepuk-nepuk pipi Zora namun, ia tak kunjung bangun juga. Sudah hampir siang dan dia masih enaknya menutup mata. Padahal Ansel sudah ditunggu oleh berkas, tetapi ia malah mengurus Zora. Dia juga tak bilang pada siapapun kalau Zora pingsan. Hanya dirinyalah yang tahu.


"Zora, hey!" panggil Ansel.


Ansel berinisiatif mengambil kotak obat yang di dalamnya berisi obat-obatan. Dia berniat mencari minyak kayu putih dan mengarahkan pada Zora mengoleskan pada sekitar kening Zora.


Zora bangun merasakan bau yang membuatnya tersadar. Dia bangkit dari tdur dan duduk melihat ke arah sekeliling menemukan Ansel yang berdiri dengan tangan dilipat didada. Sorot matanya dingin dan tajam membuat Zora merinding seketika melihat mata itu.


"Udah bangun?" tanya Ansel dingin,


"Eh... Udah" cicit Zora


"Lo pingsan? Atau---ketiduran?"


"Aku pingsan!?" beo Zora


"Jadi, lo daritadi ketiduran!" marah Ansel


Zora menutup matanya lalu nyengir tak berdosa. Ansel mengehela napas sejenak dan berjalan menuju mejanya. Dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi dengan serius.


"Ansel," panggil Zora


Ansel tak menoleh ataupun menyahut, ia hanya fokus pada berkas. Zora mencibir karena panggilannya tidak disahuti.


"Maaf." cicit Zora


Ansel tetap tidak menjawab, dia hanya diam tak berbicara maupun mengalihkan pandangannya dari berkas. Zora tidak pantang menyerah akhirnya ia mengeluarkan jurus andalannya.


"Ansel..," rengek Zora dengan muka imutnya


Ansel melirik ke arah Zora, ia membeku lalu menetralkan kembali raut wajahnya dengan datar. Mukanya pasti sekarang sedang memerah, ia menoleh ke arah lain untuk menghindari wajah Zora yang menurutnya lucu.


"Ehem..Apa?" dehem Ansel.


"Jangan marah, yah..yah.." pinta Zora


"Lo bisa gak, gak usah tampilin wajah lo yang sok imut itu." celetuk Ansel yang sekarang telah menghadap ke arah Zora


"Wajah aku kan emang imut." terang Zora


"Imut darimananya?" tanya Ansel,


"Dari wajah aku dong." pede Zora dengan mengedipkan sebelah matanya


"Imut katanya? Terlalu pede. Eh, tapi bener juga sih dia imut." gerutu Ansel dengan nada pelan


"Ansel, kamu mengatakan sesuatu?" tanya Zora.


"Ti-tidak, mana ada!!" elak Ansel, Zora memanggut-manggut mengerti


Ia mengehela napas lega, hampir saja dia mendengarnya.


"Oh iya! Dimana aku mendapatkan posisi?" tanya Zora.


"Lo... Jadi asisten gue saja." jawab Ansel


"A-Apa!!!?" kaget Zora,


"Iya, kebetulan gue lagi butuh asisten, soalnya pekerjaan gue yang numpuk dan gue juga suka telat makan. Jadi, itu tugas lo yang sekarang." jelas Ansel dengan enteng


"Aku.. jadi asistenmu?" tanya Zora,


"Iya," jawab Ansel


"Tapi.. Gajinya besar?" cicit Zora.


"Hahahaha... Tenang aja itu udah gue atur, yang penting lo kerja dulu." jawab Ansel


"Yeay! Akhirnya aku dapet kerja!!!" girang Zora.


Zora meloncat-loncat kegirangan, akhirnya setelah sekian lama akhirnya ia diterima. Itu kabar yang sangat menyenangkan!, Ia masih asyik dengan dunianya. Sedangkan Ansel tersenyum tipis melihat tingkah gadis itu.


Ansel dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi menyeringai senang akhirnya ia bisa lebih dekat dengan gadis itu. Tak perlu repot-repot kalau akhirnya mangsa tersebut mudah untuk di pancing.


'Selamat datang di dunia seorang Ansel' batin Ansel dengan wajah yang masih menyeringai menyeramkan 


"Masih mau disini sama gue?" goda Ansel.


"Eh, aku akan keluar. Kalau begitu aku pamit, dadah Ansel..." pamit Zora dengan bersenandung kecil berjalan menuju pintu


Tepat tangannya memegang gagang pintu, ia membukanya tetapi pintunya tidak mau terbuka. Zora mencobanya sekali lagi dengan terulang-ulang. Ia berdecak marah yang awalnya moodnya baik ternyata sekarang moodnya sudah buruk.


Zora berbalik badan, lalu berdecak pinggang.


"Ansel!!!" pekik Zora.


"Apa? Lo kira keluar dari ruangan gue segampang itu?" ucap Ansel,


Zora berdesis, ia tidak mau menerima permintaan itu. Dalam otaknya ia sudah mendidih. Ia berdiam lama dengan sorot mata yang mengisyaratkan kebencian. Lalu dia menghela napas pasrahnya.


"Oke, aku setuju!" tegas Zora,


"Tapi, kamu harus keluarkan aku dari sini!!" tambahnya


Ansel tersenyum puas akhirnya gadis itu setuju dengan penawaran itu.


Ceklek..


Zora menoleh dan segera keluar dari sana dengan tergesa-gesa, ia takut tidak bisa keluar lagi dari sana.


Sedangkan di dalam ruangan Ansel, Pria tertawa terbahak-bahak setelah melihat wajah Zora seperti ketakutan. Pria itu langsung menolehkan wajahnya ke arah jalanan bawah. Menghela napas dengan berat seperti masalah sedang menimpanya bertubi-tubi.


:


:


:


:


Zora berlari sampai keluar dari gedung itu dan dia berpas-pasan dengan Metha yang sepertinya ia baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Zora tersenyum cerah, menghampiri Metha.


"Metha!!!" panggil Zora.


Metha menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum sambil menyepa balik.


"Zora, sini!!" ujar Metha.


Zora telah sampai di hadapan Metha dengan napas yang tersengal-sengal. Metha melihatnya heran, seperti habis dikejar sesuatu lalu ia bertanya, "Kenapa lo?".


"Tidak ada, Yuk kita cari makan siang. Hari ini aku yang traktir!!" seru Zora.


"Wahh.. lagi ada apaan nih lo jadi mau traktir gue?" tanya Metha.


"Aku diterima tha!!" girang Zora.


"Jadi?" tanyanya sekali lagi


"Asistennya." jawab Zora dengan enteng


Metha melirik ke arah sana dan sini, lalu ia menarik Zora ke tempat tujuan. Yaitu, di tempat makan pinggir jalan. Ia mendudukan dirinya di kursi yang tersedia  dan kembali melanjutkan pembicaraan yang tadi terpotong.


"Jadi, lo diterima di situ dan dijadiin asisten sama Mr.Fabian!?" tebak Metha, dan Zora mengangguk dengan semangat.


"Akhirnya!!! Temen gue keterima disitu." pekik Metha


"Lo harus traktir gue." lanjutnya


"Iya dah, seterah kamu mau makan apa aku yang traktir kok." ucap Zora


Metha semangat 48 kalo masalah makanan, ia suka sekali makan tetapi tubuhnya tetap tidak berubah. Zora suka bingung dengan temannya yang satu ini, suka makan tapi gak gemuk-gemuk juga. Ia sempat mikir kalau Metha terkena cacingan, tapi pikiran itu ia tepis.


"Mas!" panggil Metha.


"Iya, mau pesan apa?" tanya mas pelayan


"Saya mau nasi goreng dua porsi sama kwetiau goreng dua juga sekalian es tehnya ya." pinta Metha


"Kalo lo pesen apa ra?" tanya Metha.


"Eum.. Aku nasi gorengnya satu sama air putih." jawab Zora


"Oke! Siap neng!!" ujar sang pelayan, lalu berlalu dari hadapan Zora dan Metha.


"Oh iya! Lo kerja mulai kapan?" tanya Metha, menoleh ke arah Zora.


"Mungkin besok, Yah.. mengingat bosku yang menyebalkan." jawab Zora dengan kata yang terakhir di kecilkan suaranya


"Oh oke! Besok gue yang bakal dandanin lo!!" seru Metha, dengan semangat berkobar.


Zora menggeleng tidak mau, bukannya dia nolak. Dia hanya mau tampil apa adanya tanpa dandan sekalipun. Dirinya tak pernah memoleskan wajah dengan make up. Ia sudah alami dengan wajah ini.


"Tidak usah, aku tampil aja yang aku suka." tolak Zora


"Eits... No! Big no!" potong Metha, yang tak terima penolakan.


"Besok harus gue yang dandanin lo, titik!!" perintah Metha.


"Terserah kamu, tapi aku gak mau yang menor-menor yah." pinta Zora yang langsung diacungin jempol oleh Metha


Pesanan mereka telah sampai, mereka makan dengan tenang sesekali Metha melontarkan leluconnya tentang hidupnya waktu kecil. Zora mendengar itu menggelengkan kepala dan tertawa lebar.


Setelah selesai makan, mereka pun kembali ke gedung tadi.


Voment jangan lupa ya