
"Kamu memelukku erat sekali." ucap Zora
"Hehehe... Sorry." cengir Metha
Metha mempersilahkan Zora untuk duduk di sofa dan ia duduk tepat disebelahnya. Metha memutar badan ke samping berhadapan langsung dengan Zora. Dia pun melakukan hal yang sama pada Zora, lalu menatap manik mata Zora tanpa berkedip sekalipun.
"Kenapa kamu menatapku?" tanya Zora,
"Gue minta penjelasan, cepet!!" desak Metha
Zora memutar matanya malas, lalu ia menceritakan semuanya pada Metha.
"Jadi, lo tadi pengen jalan-jalan trus ketemu cowok yang gak lo kenal dan dia ngajak lo buat jadi pacar pura-pura dia!?" terang Metha, dan Zora mengangguk kepalanya.
"Berarti---"
Metha menggantungkan kalimatnya, ia melirik kearah Zora. Lalu tiba-tiba ia tersenyum dan tertawa. Zora memandang dengan aneh kenapa temannya ini bisa berubah seketika apalagi tidak ada angin atau hujan tiba-tiba saja sudah begini.
"ZORAA!! AKHIRNYA LO GAK JOMBLO LAGI!!!" pekik Metha.
"Apa sih?" decak Zora,
"Dia secara gak langsung nembak lo Ra, ya meskipun pura-pura tapi lo beruntung bisa dapet tuh cowok. Pasti dia milih orang buat jadi pacar dia gak sembarangan, dan lo gak sengaja ketemu dia terus dia ngajak lo!!!" seru Metha, dengan berbinar di matanya terpancar kegembiraan disana.
"Aku belum setuju dengan itu." keluh Zora
"Ta-tapi Ra--"
"Udah ya, aku mau ke kamar dulu. Kamu tidur jangan malam-malam lagi, apalagi kamu nonton drakor." potong Zora lalu keluar dari kamar Metha menuju kamarnya
"Huh! Dia cuek lagi." gerutu Metha menatap arah pintu yang tadi dilewati oleh Zora
:
:
:
:
:
Matahari terbit dari arah timur yang menunjukkan bahwa hari sudah mulai pagi. Semua manusia beraktivitas masing-masing di pagi hari. Seperti gadis ini, dia sudah terlihat rapih sejak tadi. Zora memandang takjub penampilannya kali ini. Ia harus wawancara hari ini karena, ia baru saja diterima di suatu perusahaan. Ya menurut rumor sih perusahaan itu favorit semua orang. Banyak yang mendaftar menjadi karyawan namun, tidak ada yang diterima sama sekali. Dan hari ini ia beruntung bisa diterima
Penampilan? Oke
Make up? Tipis, oke
Tas? Sederhana, oke
Sepatu? Gak terlalu mahal, oke
Semua sudah sempurna, dan Zora melangkahkan kakinya menuju pintu dengan senyum yang terus terukir di wajah cantiknya bersenandung ria mengetuk pintu kamar temannya.
Tok... Tok...
"Metha,"panggil Zora dari luar
Pintu tersebut terbuka dan menampilkan seseorang dengan wajah bantal seperti sehabis bangun tidur. Seseorang tersebut adalah Metha, Metha melihat orang yang mengetuk pintu kamarnya dengan samar-samar.
"Kenapa?" racau Metha.
"Kamu belum siap-siap!?" pekik Zora, yang diangguki oleh Metha.
"Metha!! Liat ini udah jam berapa? Dan kamu belom siap-siap!?" marah Zora.
Metha hanya berdehem lalu menoleh ke arah jam di kamarnya,
"Oh, jam 07.00--"
"APA!!! GUE TELATT!!!" jerit Metha, lalu berlari ke dalam menuju mandi dan siap-siap.
Sedangkan Zora sendiri mendengus kesal, dan duduk di sofa yang ada sembari menunggu Metha.
Setelah dirasa menunggu, Metha pun muncul dengan tampilan acak-acakan. Dia terburu-buru menggunakan sepatu, Zora melihat itu menghela napas. Lalu dia beranjak dan menghampiri Metha dengan membenarkan tampilan Metha.
"Kamu kalo buru-buru liat penampilan dong, jadi berantakan lagi kan padahal kamu sudah mandi." ucap Zora
"Iya-iya."
Penampilan Metha sudah rapih dan mereka pun berangkat bersama, sebab kantor yang akan didatangi Zora merupakan kantor tempat bekerja Metha.
:
:
:
:
:
"Ra, lo kalo kagum gak usah ngiler juga kali." tegur Metha
Sehabis ditegur, Zora mengusap bibirnya yang tidak basah. Ia menatap kesal Metha karena merasa dibohongi.
"Metha!" jerit Zora.
Metha tertawa terbahak-bahak, seolah puas dengan hasilnya. Zora mendengus lalu melangkah masuk ke dalam kantor.
Zora dan Metha melangkahkan kakinya menuju resepsionis,
"Mba, maaf dia pegawai baru. Tolong tunjukin dimana tempatnya ya." ucap Metha
"Oh, pegawai baru yang diterima oleh CEO baru?" tanya Resepsionis.
Zora mengangguk, lalu Metha menatap jam ditangannya dan terpaksa harus meninggalkan Zora.
"Kenapa?" tanya Zora.
"Gue ada kerjaan nih." jawab Metha
"Ya udah." ucap Zora
"Lo gakpapa gue tinggal?" tanya Metha.
"Iya gakpapa"
"Nanti istirahat kita bareng, oke." ucap Metha dan diangguki oleh Zora
Metha berjalan meninggalkan Zora yang masih berdiri di depan resepsionis. Resepsionis itu berdehem lalu menunjukkan dimana arah CEO mereka berada
Zora melangkah dengan merasa terkagum dan tidak bisa berkata-kata melihat kantor yang sebesar dan mewah ini. Ia memasuki lift, resepsionis itu menekan tombol
"Halo, nama mba siapa?" sapa Zora.
"Ah halo, nama saya Rita. Semoga betah kerja disini ya." jawab resepsionis yang bernama Rita
"Terima kasih." ucap Zora dengan senyum manis di wajahnya
Ting..
Lift sudah menuju ruang dimana CEO mereka. Zora mengikuti langkah kaki Rita dengan menundukkan kepalanya. Ia merasa gugup, takut jika bosnya itu suka marah-marah apalagi angkuh.
Tok.. tok..
"Maaf pak, saya membawa pegawai baru yang bapak inginkan." ucap Rita dengan mengetuk pintu terlebih dahulu
"Masuk."
Merasa disahuti dari dalam, mereka pun masuk dan mendapati bos nya yang sedang melihat pemandangan di luar
"Silahkan keluar." ujar seseorang yang duduk di kursi tersebut
Rita mengangguk dan pamit undur diri menutup pintu dengan pelan. Zora menoleh ke arah sana dan sini tidak ada orang selain dirinya dan bos nya. Ia meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah dan menunduk kepalanya
Orang tersebut tersenyum miring dari kaca luar karena memang terlihat disana wajah gugup Zora. Lalu, ia berbalik dan menatap wajah pegawai barunya dengan masih senyum yang sama
"Halo Zora."
Zora mematung, ia mengenal suara itu. Itu adalah suara yang kemarin dan sekarang ia mendengar suara itu lagi. Zora mendongak melihat siapa yang menyapanya. Langsung saja ia membulatkan matanya tak percaya dan menunjuk orang itu dengan jari telunjuk.
"Kamu!?" pekik Zora.
"Iya ini gue,"
"Kita ketemu lagi."lanjutnya
Zora tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa menganga kaget dipertemukan lagi dengannya di kantor
"Kau..."
"Iya, gue yang rekrut lo." jawab Ansel yang ternyata tau apa yang ingin dibicarakan Zora
"Aku kok gak tau ya kamu kerja disini." ucap Zora
Ansel mengedikkan bahunya dan berkata, "lo gak liat nama perusahaannya apa?"
Zora menggeleng tanda tak tahu, karena ia terlalu terbawa suasana dengan pemandangan ini. Ansel mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa ya ada orang yang tak tahu nama perusahaan
"Namanya Fabian Corp, perusahaan terbesar di dunia." jelas Ansel
"APA! TER-TERBESAR!?" jerit Zora
Zora membulatkan matanya sempurna kaget nendengar penjelasan dari cowok itu, kakinya sudah mulai lemas. Pandangan memburam, dan sedikit lagi mungkin ia pingsan di depan Ansel. Ansel melihat Zora yang sudah ingin jatuh lalu ia berlari menghampirinya dan menahan tubuh Zora. Ia menepuk-nepuk pipi Zora, Zora samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya. Namun, matanya tak tahan untuk tidak menutup akhirnya ia menutup matanya.