An Answer

An Answer
Part 1



Pagi yang cerah untuk seorang gadis biasa, dengan panas matahari masuk ke dalam kamar miliknya. Tidak bisa dipungkiri bahwa kamarnya kecil hanya cukup untuk dua orang saja tidak lebih dan ditata indah olehnya hingga menimbulkan kesan indah akan mengunjungi kamar tersebut. Setelah merasa panas matahari ini masuk ke dalam kamarnya ia pun bangun dan bangkit dari tepat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih agar tidak bau nantinya. Setelah dicukup lama, ia pun keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang biasa. Rambut diikal, memakai kacamata, baju simple tak lupa dengan riasan wajah biasa


Sebelum melangkah keluar ia menarik napas terlebih dahulu lalu menghembuskan napasnya sembari menghilangkan gugup untuk wawancara pekerjaannya. Ya! Dia baru kemarin melamar dan sekarang adalah waktunya untuk diterima atau tidak. Ia sebenarnya gugup namun ia tepiskan hal itu karena kalau ia gugup gagal sudah wawancaranya. Gadis ini bernama Izora Ravan Lamia


Ia berjalan menghampiri kamar sebelah yang merupakan kamar temannya yang juga akan sekantor dengannya. Sepi, ya itulah yang menggambarkan kehidupan kost-kostan karena ini memang masih pagi buta sekali. Ia berdecak kenapa pemilik kamar ini tidak mau keluar, ia pun mengetuk-ngetuk pintu


tok tok tok...


"Hey! Apakah kau masih didalam?" tanya


Zora


Namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Zora pun mengetuknya kembali dengan sedikit kencang agar mau membukanya


"Hey!? Aku sudah telat tau!!! Kau kenapa lama sekali di dalam!?" geram Zora


Zora berdecak lalu membalikan badannya percuma saja ia mengetuk pintu itu, sudah pasti tidak ada jawaban sama sekali. Ia pun berjalan melewati tengah jalan yang membelah kota. Baginya ia baru pertama kali kesini karena ia baru pindah beberapa hari lalu, waktu itu hanya Metha lah yang menemaninya kemana pun. Namun, kali ini ia sendiri entah tak tahu letak kantornya itu. Karena ia mudah sekali untuk lupa padahal baru saja kemarin


Zora merasa kagum akan keindahan kota saat di pagi hari. Ia berjalan-jalan sembari meloncat kecil kesana dan kemari


"Jangan loncat-loncat kali, biasa aja bisa." keluh Seseorang yang menghentikan aksi Zora


Zora pun berbalik, lalu membulatkan matanya sempurna. Orang itu menatap Zora dengan alis terangkat, Zora kaget kenapa ada lelaki tampan dihadapannya ini dan melihat aksinya tadi. Zora merasa malu, kalau bisa ia ingin menghilang dari sini dengan cepat. Zora memalingkan wajahnya dari orang itu, karena malu


"Hey! Gue lagi ngobrol sama lo, kenapa lo diem aja?" tanya orang itu.


Zora masih memalingkan wajahnya tanpa menoleh sedikitpun untuk menjawabnya. Orang itu merasa jengah akhirnya ia memegang pipi Zora lalu mengarahkannya tepat di depan wajahnya. Zora tersentak kaget akibat perlakuan orang tak dikenalnya itu


"Hey! Jangan sembarangan nyentuh pipi orang!!" ketus Zora lalu menepiskan tangan orang itu.


Orang itu terkekeh melihat perlakuannya ditolak mentah-mentah. Biasanya cenderung para wanita akan langsung meleleh seketika namun gadis ini susah berbeda dari yang lain


'Hm... Lucu juga kalau dipikir-pikir'pikir Orang itu


"Oh, apa gue orang asing?" tanya orang itu dengan tersenyum miring, ia merapatkan tubuhnya dengan gadis itu. Zora pun yang melihat mundur beberapa langkah agar bisa menjauh dari pria menjijikan ini!


Oh tuhan, tolonglah Zora sekarang karena ia berada dalam zona yang tidak aman. Ia rasanya ingin menghilang dari dunia ini dan tidak mau berurusan lebih lama lagi bisa-bisa tambah masalah lagi


"Yak! Kau tuh orang asing dengan sembarang memegang tangan orang tanpa seijinnya dan langsung mendekat ke arah orang itu!? Yang benar saja!!!" teriak Zora  tepat dikuping orang tersebut.


Orang tadi pun mundur beberapa langkah dan meringis karena teriakan Zora yang tepat dengan kuping nya dan menggeram, "Sakit tau telinga gue!! Emang lo kira mau bayar berapa kalo telinga gue sakit?".


"Bodo, gak denger..." ucap Zora sembari berjalan melewati lelaki itu dengan menutup kupingnya berpura-pura tidak mendengarnya


'Sial'umpat Orang itu


Tersadar Zora melewatinya, ia pun mengejar Zora dan mencekal lengannya membawanya keliling kota. Zora tersentak memberontak meminta dilepaskan namun tak kunjung dilepaskan. Semua mata tertuju pada mereka berdua, Zora merasa dibuat malu saat ini juga. Orang didepan Zora ini mengulun senyum


"Abaikan." ujar orang tersebut


"Apa?" tanya Zora,


"Abaikan, pura-pura tak peduli saja." jelasnya dan Zora pun mengangguk


******


Setelah menelusuri kota, tak kunjung berhenti mereka berdua. Zora pun melihat sekitarnya yang terasa asing dimatanya


"K-kita kemana?", tanya Zora ragu-ragu namun tak dijawab oleh orang itu. Zora hanya mendengus kesal


"Nah sampe." ujar Pemuda dihadapan Zora


Zora pun mendongak menatap kagum gedung yang ada dihadapannya ini. Ia berdecak ria, tak disangka akhirnya ia datang ke tempat impiannya selama ini


Rasanya lidahnya kelu untuk mngeluarkan kata-kata terindahnya. Ia pun bergegas masuk tanpa memperdulikan orang tadi. Ia tak sabar ingin menuju tempat yang ia inginkan disini


Setelah sampai di depan toko tersebut, Zora pun langsung menapakan kakinya ke dalam. Lihat! Betapa indahnya baju-baju yang ada disini. Arghh! Rasanya ia ingin mengambil semua barang yang ada disini


Saat hendak memilih tangan seseorang mencekalnya, dengan rasa terkejut ia pun menepisnya dan berbalik melihat perbuatan siapa. Ternyata... Orang yang sama tadi ia bertemu. Kenapa disaat begini orang itu mengikuti dirinya kemana pun, tak membiarkan ia berjalan bebas sedikit pun


Huh. Rasanya ia tidak mood lagi untuk berbelanja. Ia pun berjalan ke luar  tetapi ia dihadang


"KENAPA KAU SELALU MENGIKUTIKU!?" teriak Zora.


"Santai... Gue cuman pengen beli baju buat adik gue, Bukan buat ngikutin lo." balas dengan santai lalu ia masuk ke dalam menghiraukan Zora yang menganga tidak percaya


Ternyata dirinya terlalu percaya diri, ahh!! Ia harus istirahat juga malam ini. Ia menampar-nampar pipinya. Ugh! Malu. Satu kata yang kini ia rasakan ia pun ikut masuk ke dalam dengan wajah yang merah


Zora pun mengikuti orang tadi di belakangnya tanpa sepengetahuan darinya. Namun, orang itu sadar akan kehadiran dirinya


"Kenapa lo malah ngikutin gue?" balik tanya orang itu yang sibuk memilih.


Zora pun menelan ludahnya susah payah. Ia tidak berniat menjawab, ia menyibukkan dirinya untuk memilih pakaian. Ingat dia hanya Bohong!. Bukan fokus memilih baju ia hanya fokus menyusun kata-kata untuk menjawab orang itu


"Ahh.. gue tau, pasti lo pengen minta tanda tangan sama gue kan??" tanya Orang itu sambil menaik turunkan alisnya.


"Pede." ejek Zora dan menjulurkan lidahnya


Setelah selesai memilih, orang itu pun berbalik dan kini ia berhadapan dengan Zora. Ia pun mengulurkan tangannya berniat untuk berkenalan lebih dekat lagi


"Nama gue Ansel Niko Fabian, lo bisa panggil Ansel." ucapnya sambil melirik ke arah Zora


Zora sebenarnya nyadar namun, ia tidak berniat membalasnya ia hanya membuang muka. Ansel pun terkekeh sebentar lalu mengubah ekspresi nya semula lagi


"Tidak mau menyapa balik heh!?." ucap Ansel


"I-Izora Ravan Lamia panggil aku Zora." balas Zora membalas uluran Ansel


"Jadi, kenapa lo ngikutin gue-zora?" tanya Ansel .


"Hah! Eum.. itu-- anu," ucap Zora menjadi gugup, ia berusaha menghilangkan kegugupan disaat ini. Namun, apalah daya ia tak bisa menyembunyikan kegugupan ini


"Lo--gugup?" goda Ansel sembari menyunggingkan senyum miringnya,


"Ah-hh tidak!!!" elaknya.


"Terus?",


"Karena kau!!" kesal Zora sembari memanyunkan bibirnya.


"Gue?" tunjuk Ansel pada dirinya sendiri,


"Iya."


"Salah gue apa?" tanya Ansel.


"Umm... Anu.. ah udahlah." sangkal Zora


Ansel yang melihat itu hanya terkekeh lalu menggeleng kepalanya. Ia merasa gemas sendiri dengan gadis ini. 'Ahh sepertinya aku lupa akan tujuanku kesini karena asik berbicara dengan gadis ini. Aku akan menjadikan pacar pura-pura saja agar mommy tidak menjodohkanku'


"Oh iya! Gue punya tawaran untuk lo." tawar Ansel


"U-untukku?" bingung Zora sambil menunjuk dirinya sendiri,


"Bukan, buat patung yang ada disebelah lo," ucap Ansel dengan datar


"O-oh oke, berarti untukku." ucap Zora dengan senyum sedikit canggung


"Gimana kalo kita, pacaran pura-pura?" usul Ansel dengan senyum yang menawan tapi misterius.


Zora tersentak dan terpengaruh oleh senyum manisnya itu. Dia terfokus pada bibir merah itu yang menurutnya indah untuk dipandang. Ia tak sekalipun berkedip dengan menetralkan jantungnya yang rasanya mau pecah. Sesekali ia memegang dadanya yang hampir pecah itu


'Rasanya seperti aku ingin terbang ketika melihatnya tersenyum semanis itu'


Ansel menaikkan alis sebelahnya, bingung dengan raut wajah gadis ini. Ia pun mengikuti pandangan gadis ini. Dan ternyata ia melihat bibirnya itu. Ansel pun terkekeh dan mengangguk mengerti dengan arah pandangnya


Ansel memajukan wajahnya hingga 1 cm


, Ia dapat merasakan hembusan nafas dari Zora ini. Ia memandang bibir gadis ini, lalu sedetik kemudian ia mendekati bibir kecil itu dan menciumnya dengan sebentar agar Zora mau sadar


Seketika Zora tersadar apa yang dilakukan pria ini. Ia pun langsung memalingkan wajahnya ke samping dan ansel mencium pipinya. Zora merasa pipinya sekarang sudah merah seperti kepiting rebus. Setelah dicukup, ansel pun menjauhkan wajahnya dengan kekehan


Ansel menggaruk tengkuknya dengan canggung dan berkata,"Sorry, gue..."


"Tidak usah dibahas." kilah Zora


"Lo bulshing?" tanya Ansel membuat gadis itu langsung memegang pipinya,


Ia menunduk dan meninggalkan ansel yang masih menahan tawanya agar tidak pecah


"Hey! Tungguin gue!!!" teriak Ansel, sembari menyamakan langkahnya dengan Zora.