An Answer

An Answer
Part 2



"Heyy!! Nggak usah jalan cepat kali, gue cuman bercanda." ucap Ansel sembari menyamakan langkahnya dengan Zora, yang diajak bicara pun hanya memandang ke depan tanpa mau melanjutkan


Ansel menghela napas lalu menangkup pipi zora dan dihadapkannya ke dirinya


"Apakah kau marah--Pacarku?"


"Apa sih!? Aku belum setuju yah dengan persyaratan itu." elak Zora sembari menepis tangan Ansel yang ada di pipinya


"Tapi, pipi lo kenapa?" bingung Ansel dengan menunjuk-nunjuk pipi zora menggunakan jarinya.


"A-aahh i-ini ti-tidak, disini panas makannya wajah ku merah." gugup Zora sambil memalingkan wajahnya agar tidak dilihat oleh ansel


'sial, aku gugup di saat seperti ini' gumam Zora


"Benarkah?" tanya Ansel yang tidak percaya.


"I-iya!!" elak Zora.


"Ya sudah, mau ikut gue?" tawar Ansel yang diangguki Zora.


Lalu mereka berdua berjalan beriringan bersama, orang-orang pada melihat ke arah mereka dengan kagum. Soalnya mereka perpaduan yang pas antara cantik dan ganteng


"Malu aku." lirih Zora sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan


"Kan udah gue bilang, abaikan." ujar Ansel lalu jalan duluan meninggalkan Zora yang masih menutup wajahnya


Setelah sadar suara Ansel hilang sedikit demi sedikit, Zora pun melepaskan tangannya dan melihat ke arah depan bahwa ia ditinggalkan sendiri. Lalu ia pun mengejar Ansel untuk menyamakan langkahnya


"Ish.. main ditinggal aja." protes Zora


"Masuk," pinta Ansel


"Aku?kemana?" beo Zora.


"Ke bagasi, ya ke mobil lah" geram Ansel sambil cubit pipi Zora


"Aw.. aw.. Sakit tau!!" murka Zora, menepis tangan Ansel


"Utututu... Marah nih ceritanya?" ejek Ansel sambil menoel-noel pipi Zora.


"Ish.. Kau senang sekali memegang pipiku." gerutu Zora


"Karena itu adalah favoritku sekarang." canda Ansel memamerkan giginya dan tertawa


Zora mengendus kesal dengan kelakuan Ansel. Setelah dirasa puas tertawa Ansel pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan Zora untuk memasuki mobilnya


"Silahkan masuk tuan putri." ucap Ansel membuat Zora memutar matanya dengan malas


Selama diperjalanan, Zora hanya diam sembari menatap ke arah jendela melihat pemandangan. Sedangkan Ansel sibuk menyetir sesekali ia melihat ke arah Zora untuk memastikan sedang apa yang ia lakukan


"Lo lapar?" tanya Ansel,


"Tidak." tolak Zora


"Oke, kita cuz.."


Zora langsung menoleh sedangkan yang di lihat pun hanya memamerkan giginya tanpa dosa. Ugh! Rasanya geram sekali kalau berada di dekatnya.


"Terserah kau."pasrah Zora dengan senyum yang dipaksakan


Ansel pun langsung gas ke rumah makan terdekat disini dikarenakan perutnya sedari tadi meminta untuk diisi, memang karena ia dari tadi siang belum menyentuh makanan sama sekali


Setelah dirasa, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan yang diinginkan.  Ansel maupun Zora turun dari mobil dan mencari tempat yang kosong. Ansel berjalan untuk memesan makanan sedangkan Zora sibuk mencari tempat kosong untuk mereka berdua. Zora menelusuri semua setiap sudut, dan akhirnya ia pun menemukan tempatnya dan berjalan ke arah tersebut.


Setelah memesan, Ansel pun menoleh ke sana dan ke sini untuk mencari keberadaan Zora. Ie terlihat kebingungan seperti orang yang sedang kehilangan arah


'Gue kayak orang gila kalo kayak gini'gerutu Ansel sembari mengumpat dalam hati karena ditinggalkan.


Akhirnya ia pun menemukan dimana Zora berada, menghampiri tempat yang didudukin oleh Zora


"Lo ninggalin gue!?" protes Ansel yang tak santai.


Zora tersentak kaget, ia mendongak dan melihat Ansel yang sedang menahan amarahnya dengan mata tajam melotot ke arah Zora.


"Iya, lo. Siapa lagi kalo bukan lo yang ada disini?" ucap Ansel dengan datar.


"Oh, tadi aku capek nungguin kamu. Yaudah, aku cari tempat kosong aja." jawab Zora dengan santai


"Kenapa gak bilang gue," geram Ansel


"Kau tak bilang." elak Zora sambil mengedikkan bahunya tanda tak peduli


Ansel yang melihat itu hanya mengelus dada sabar untuk menghadapi cewek yang di depannya ini dan duduk dengan kasar terus menghembuskan nafas dengan kasar.


Zora yang melihat hanya terkikik geli, ternyata ia bisa membuat cowok itu marah juga. Ia pun puas dengan hasilnya dan tersenyum penuh kemenangan


Ansel menoleh ke arah Zora dengan terheran-heran dan bertanya,"ngapain lo senyum-senyum sendiri?".


"Tidak, aku hanya senang saja melihat wajah mu yang lucu itu." ucap Zora dengan menahan tawanya


"Terserah lo, sebahagianya lo aja deh" sindir Ansel


Zora diam dan Ansel pun juga begitu samanya. Mereka sama-sama diam tak membuka suara. Dan akhirnya Zora pun melihat jam ditangannya bertanda kalau hari sudah mulai malam dan ia belum memberi kabar kepada temannya itu. Zora mendesah gelisah karena ia lupa.


Ansel yang sedang memainkan ponsel pun menoleh ke arahnya yang terlihat gelisah itu


"Lo kenapa?" tanya Ansel, sambil menaruh ponselnya di meja dan menumpu wajahnya dengan tangan


"Aku lupa." jawab Zora


"Lupa?" beo Ansel dengan menaikkan alisnya sebelah


"Iya, aku lupa memberitahu temanku kalau aku keluar tanpa memberi kabarnya." jelas Zora.


"Teman lo itu, cewek atau cowok?" tanya Ansel dengan penasaran.


"Kau penasaran sekali."


"Iya, gue harus tau teman lo itu siapa, trus lo tinggal dimana, nomer hp lo berapa, umur lo berapa, makanan kesukaan lo apa, tipe orang yang lo suka kayak gimana, trus lo suka gue atau gak." jelasnya dengan panjang


"Tidak," tolak Zora


"Tidak? Kenapa? Toh, nanti lo juga bakal jadi pacar gue." ucap Ansel


"Aku tidak mau dekat sama kamu, ataupun hubungan sama kamu sekalipun itu pura-pura." ucap Zora


"Terserah, kalaupun lo nolak juga. Gak berpengaruh apa-apa sama gue." ucap Ansel mengedikkan bahunya tidak peduli


"Kau," geram Zora sembari menunjukkan jari telunjuknya


"Apa?" tanya Ansel dengan wajah yang sok polos.


"Tidak jadi." pasrah Zora


Akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang, dan mereka makan dengan diam tanpa berbicara


Setelah selesai makan, Zora bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arah luar untuk cepat-cepat pergi dari sini karena hari mulai larut malam. Ansel mengikuti arah jalan Zora dengan langkah lebar dan memegang tangan Zora. Zora kaget dan berbalik menatap orang itu dan ternyata pelakunya adalah Ansel.


"Lepaskan aku," ucap Zora


"Lo mau kemana?" tanya Ansel.


"Aku mau pulang." jawab Zora


"Nggak bisa nunggu gue?" tanya Ansel, dengan kesal


"Tidak, aku mau pulang sendiri tidak mau bareng dengan kau." tolak Zora dan berbalik meninggalkan Ansel


"Ya udah, ini udah malem loh. Kalo ada preman atau orang mabuk yang bawa lo, gue gak peduli." ejek Ansel lalu berbalik arah ke parkiran


Langkah Zora seketika berhenti, dan ia jadi takut untuk pulang malam sendirian. Ia bimbang


'kalau aku jalan kaki nanti ada yang bawa aku gimana? Ya sudahlah ikut dia saja walaupun menyebalkan' gumam Zora