
Pearl yang merasa Alex tak peka dengan apa yang ia katakan, akhirnya meninggalkan Alex begitu saja di dalam kamar tidur pria itu.
“Benar benar tak peka!” gerutu Pearl. Namun ia tak mungkin secara gamblang mengatakan itu pada Alex. Mau diletakkan di mana wajahnya jika ia meminta Alex peka pada hal yang ia inginkan keluar dari bibir Alex.
“Arghhh!!!” Pearl berteriak pelan seorang diri untuk menumpahkan kegelisahannya.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar dan Pearl sangat yakin bahwa itu adalah Alex.
“Masuklah.”
Pearl mempersilakan Alex masuk. Bagaimana pun juga markas itu adalah tempat tinggal Alex dan teman temannya, sementara ia hanya menumpang, jadi seharusnya ia sadar bahwa kamar tidurnya pun bukan miliknya.
Tampak sosok Alex memasuki kamar tidur Pearl. Maaf, itulah kata yang diucapkan oleh Alex berulang ulang. Alex mendekati Pearl dan menggenggam kedua tangan Pearl.
“Aku menyayangimu, Pearl. Aku sangat menyayangimu. Sejak pertama kali kamu hadir di depan mataku, aku sudah memantapkan kepemilikan hatiku ini. Aku mencintaimu, Pearl. Maukah kamu menjadi kekasihku?” tanya Alex.
Degghhh …
Ungkapan perasaan Alex, terasa begitu indah di telinga Pearl. Jika bisa terbang, tentu ia akan terbang hingga menembus awan. Tak pernah menyangka bahwa pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Alex.
“Kekasih?” tanya Pearl memastikan pendengarannya. Ia tak ingin membuat hatinya terlena dan terbuai begitu saja. Pearl ingin memastikannya terlebih dahulu.
“Maukah kamu menjadi kekasihku, sayang?” tanya Alex, bahkan ia menggunakan panggilan sayang untuk Pearl, membuat jantung Pearl semakin berdetak dengan cepat.
Alex memeluk Pearl dengan erat. Ia tak ingin melepaskan wanita ini lagi, yang mungkin saja akan membuatnya jatuh ke pelukan pria lain. Sementara itu, Pearl berusaha melepaskan diri dari pelukan Alex. Bukan karena ia tak suka, tapi karena ia ingin melihat wajah Alex saat mengatakannya. Apakah peia itu benar benar serius?
Mars yang mengintip, malah berdecak kesal, “ishhh, Alex … Alex … kata katanya sudah bagus, raut wajahnya sudah oke, sikap juga luar biasa, tapi … suasananya kurang mendukung!”
Mars sendiri tak menyangka Alex akan langsung mengutarakan perasaannya. Ia tak mungkin langsung menyiapkan semuanya untuk membuat suasana lebih romantis. Ia berencana akan mengatakan pada Alex tentang rencananya untuk Pearl.
Pearl menatap wajah Alex dengan sedikit menengadahkan wajahnya. Ia ingin meyakinkan diri, apakah benar kalau Alex yang mengatakan hal itu.
“Maukah kamu menjadi kekasihku, Pearl?” tanya Alex sekali lagi.
“Hmm …,” Pearl menganggukkan kepalanya. Di dalam hatinya seperti ada berjuta juta kupu kupu beterbangan.
“Sungguh kamu menerimaku?” tanya Alex.
“Hmm …,” dan sekali lagi Pearl menganggukkan kepalanya.
“Berarti tadi kamu berbohong ya kalau sudah menjadi kekasih Harris?” goda Alex.
Pearl yang sedang berbahagia, tiba tiba saja menjadi salah tingkah karena baru menyadari kalau ia ketahuan telah berbohong. Tapi, apa yang ia lakukan kan hanya untuk melindungi dirinya, terutama hati dan perasaannya.
“”A-aku …,” Pearl menundukkan kepalanya, bingung bagaimana mengatakan kebenarannya pada Alex.
Alex langsung memeluk tubuh Pearl lagi, lalu mengusap rambut Pearl hingga ke punggung dengan lembut, “Aku tak peduli apapun jawabannya. Yang terpenting saat ini kamu adalah milikku, Pearl. Kamu adalah kekasihku. Tak akan kubiarkan pria lain dekat denganmu.”
“Al,” Pearl juga mengeratkan pelukannya pada Alex. Ia tersenyum sambil memejamkan matanya. Ia busa mencium harum maskulin milik Alex yang membuatnya tenang.
Betapa senang hatinya kini ia bisa menjadi kekasih Alex, pria yang sejak dulu diincarnya. Meskipun kini ia merasa tak pantas untuk Alex karena status dirinya yang hanya anak tak punya, yang bisanya hanya menumpang hidup dari Alex, yang notabene juga adalah mahasiswa dengan program beasiswa.
“Hmm ?”
“Kamu tak malu memiliki kekasih sepertiku? Aku hanya orang miskin dan bisa jadi aku adalah putri dari seorang wanita malamm dan penjudi serta pemabuk,” Pearl tiba tiba mengingat Ben dan Sarah yang katanya adalah orang tua kandungnya.
“Aku tak peduli akan hal itu, Pearl. Kamu adalah kamu, bukan orang tuamu. Kebahagiaan yang kamu inginkan, harus kamu ciptakan sendiri, bukan pemberian orang lain. Dan kita akan menciptakan kebahagiaan kita sendiri.”
“Al, terima kasih,” Pearl kembali memeluk tubuh Alex dengan erat, hingga enggan untuk melepaskan. Alex pun memegang bahu Pearl dan sedikit menjauhkan tubuh mereka. Ia menatap manik mata Pearl dan berkata,
“Bagaimana kalau kita jalan jalan untuk merayakan hari ini?” ajak Alex.
“Jalan jalan?” tanya Pearl.
“Hmm … bagaimana?”
“Aku mau!” Pearl menganggukkan kepalanya menyetujui keputusan Alex. Ia sangat senang dan bahagia karena Alex berinisiatif mengajaknya merayakan hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih.
Di luar kamar tidur, Mars masih terus mengintip dan mendengarkan.
“Gitu donk, Al. Jadi pria itu harus romantis meskipun sedikit,” Mars kemudian pergi sambil merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia berencana menyebarkan berita gembira ini pada ketiga rekannya yang lain.
*****
Setiap hari Alex kembali mengantar jemput Pearl ke sekolah. Bahkan kini ia selalu melabuhkan sebuah ciuman di kening Pearl. Itu sebuah tanda bahwa ia menyayangi dan mencintai Pearl.
“Belajarlah dengan giat, hmm … jangan memikirkan ku terus,” ucap Alex.
“Ishhh, kamu yang jangan memikirkanku terus. Baru sebentar aku melangkah saja, kamu sudah rindu kan?” goda Pearl.
Alex tertawa dan Pearl sangat menyukai itu. Alex terlihat lebih hidup dari biasanya.
“Baiklah, aku akan kuliah dulu. Jangan ke mana mana dan tunggu aku menjemputmu okay. Aku sudah menghafal semua jadwalmu di luar kepala.”
“Luar kepala? Berarti tidak diingat donk,” ujar Pearl yang memanyunkan bibirnya. Ia kembali menggoda Alex dan membuat Alex gemas.
Alex pun meletakkan telapak tangannya di atas kepala Pearl lalu mengacak acak rambut gadis yang sudah menjadi kekasihnya selama beberapa hari itu.
“Alll! Rambutku, tuh kan jadi berantakan lagi,” ucap Pearl saat menatap dirinya di kaca spion.
Hubungan mereka sangat dekat dan semakin hari semakin dekat. Bahkan kini Mars, Aarav, serta Ervin terus saja menggoda mereka kalau sedang berada di markas. Sementara Pain hanya tersenyum saat melihat ketiganya begitu puas menggoda Alex dan Pearl.
Dari kejauhan, tampak dua pasang mata memperhatikan mereka. Yang satu dari balik pohon dan yang satu lagi dari balik dinding, di sisi yang berlawanan. Kedua dua nya sama sama berdecak kesal dan mengepalkan tangannya.
Melva, meskipun sudah tak terang terangan membenci Pearl, tapi ia masih menyimpan dendam yang begitu besar. Sementara Harris, tak suka melihat kebersamaan antara Pearl dan Alex yang begitu dekat.
“Aku tak akan membiarkanmu bahagia, Pearl. Aku pastikan akan memisahkanmu dengannya,” gunam Melva.
Saat ini ia mendapat perhatian khusus dari Mom Lady yang sudah mulai hilang kepercayaan padanya, terutama karena kasus sebelumnya antara dirinya dengan Pearl. Hal itu juga yang membuat Melva semakin membenci Pearl.
🧡🧡🧡