
Pearl berdiam di dalam kamar tidurnya, memikirkan semua hal yang telah terjadi. Ia kembali mengingat apa yang ia lihat malam hari ini. Meskipun saat ini ia bisa hidup dengan bebas tak terkekang dan tanpa beban lagi, tapi ia mulai memikirkan bagaimana pandangan orang padanya.
Jika saja ia tak bertemu dengan Alex, tentu saat ini ia masih berada di klub malam dan melayani para pria hidung belang, bahkan ia mungkin sudah sama seperti wanita wanita lain di sana yang membiarkan tubuhnya disentuh begitu saja demi uang.
"Aku akan selalu menang, kamu yang selalu akan kalah, Pearl."
"Gadis sepertimu memang cocok dengan kehidupan seperti itu. Sama seperti orang tua kandungmu, darah kehidupan malam memang diturunkan padamu."
Bayangan bagaimana Merva mengatakan itu sambil tertawa dan menunjuk nunjuk ke arah dirinya, lalu mengambil semua miliknya, terlintas begitu saja di kepala Pearl. Hatinya sakit seketika itu juga, apalagi ketika bayangan itu berputar terus menerus di kepalanya.
"Ia menang? Ia menang? Aku tak mau jika ia menang dan menertawakan kehidupanku. Dengan hidup seperti itu, berarti aku mengabulkan semua ucapan dan keinginannya. Kamu harus membuktikan dirimu pada mereka, Pearl. Kamu lebih baik darinya. Kamu akan jauh lebih sukses darinya," gumam Pearl pada dirinya sendiri.
Setelah memantapkan hatinya, Pearl pun akhirnya terlelap. Ia akan bicara dengan Alex besok pagi. Dalam tidurnya pun Pearl memimpikan Alex, pria yang belakangan ini kembali mengisi hidupnya.
*****
Keesokan paginya, Pearl sudah mandi dan segera berpakaian. Rencananya ia akan berbicara dengan Alex, sebelum pria itu pergi ke kampus. Usia mereka berdua memang terpaut dua tahun. Pearl akan masuk ke tingkat dua, sementara Alex sekarang sudah ada di semester tiga karena ia sudah melewati masa ujian.
Pearl segera keluar dari kamar tidur. Saat itu, ia melihat Alex yang baru mau melangkahkan kakinya turun ke bawah.
"Al!" panggil Pearl.
Mendengar suara seorang gadis, yang bereaksi justru empat orang pria lainnya.
"Selamat pagi, kakak ipar!" teriak keempat pria yang sudah bersiap di meja makan untuk menyantap sarapan mereka bersama sama.
Pearl langsung menundukkan wajahnya. Meski ia tenang, nyaman, dan merasa diterima di sana, tapi ia masih merasa malu sekali ketika Ervin, Pain, Aarav, serta Mars menggoda dirinya.
Alex menghentikan langkahnya, kemudian mengangkat sedikit tangannya. Ia ingin Pearl menyambut gandengan tangannya.
"Ayo, turun bersamaku," ucap Alex.
Pearl menyambut tangan Alex dan mereka turun bersama. Hal itu tentu saja menambah bahan godaan bagi pria pria di sana. Pearl terus saja menundukkan wajahnya karena malu. Mereka pun duduk bersama untuk menikmati sarapan.
"Al, aku ingin bicara denganmu," ucap Pearl.
"Hmm, katakanlah," ucap Alex.
"Aku ingin kembali ke sekolah," ucapan Pearl langsung membuat sebuah senyuman terukir di wajah Alex.
"Kamu serius?" tanya Alex
"Ya aku serius. Aku sudah memikirkannya semalam dan ku rasa aku tak boleh menyia nyiakan kesempatanku kali ini untuk belajar," jawab Pearl, "Tapi ... apakah aku masih bisa bersekolah? Aku sudah tidak masuk beberapa waktu lamanya."
"Aku akan mengurus semuanya, tenang saja. Kamu tak perlu khawatir akan hal itu. Persiapkan saja dirimu untuk kembali ke sekolah," ucap Alex.
"Terima kasih, Al," ucap Pearl.
"Kalau begitu aku pergi dulu, okay," ucap Alex mengambil tas miliknya dan pergi dengan mengendarai motor bersama dengan keempat pria itu.
"Hati hati," pesan Pearl.
*****
Sepulang dari kampus, Alex melajukan motornya menuju ke markas Black Alpha. Markas tersebut adalah milik Ayahnya, Axton Brave Williams. Ia langsung masuk ke dalam dan berniat menghubungi Ayahnya yang tinggal di Indonesia bersama dengan Ibu dan adik perempuannya, Ava Serenity.
"Hai, Al. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Four. Tak biasanya putra atasannya itu mendatangi markas Black Alpha, meskipun pria pria yang ada di sekitarnya juga sebenarnya adalah utusan Four, yang tak lain adalah anggota Black Alpha.
"Apa aku tidak boleh ke sini?" tanya Alex.
"Tentu saja boleh."
Axton Williams, Ayah Alex, sedikit marah pada putranya itu. Alex memilih pergi keluar negeri di usia tiga belas tahun, padahal Axton ingin Alex tetap bersekolah di Indonesia agar ia bisa mengganti waktu yang pernah hilang saat Alex kecil.
"Aku ingin bicara dengan Dad," pinta Alex.
"Baiklah, akan Uncle sambungkan," ucap Four. Alex tak bisa menghubungi kedua orang tuanya secara langsung karena Axton sengaja memutus komunikasi mereka, agar Alex tahu betapa pentingnya komunikasi itu.
Four bersama dengan Alex masuk ke dalam sebuah ruangan khusus di mana banyak sekali komputer berjajar di sana. Dari mulai komputer model lama hingga yang paling canggih.
"Ada apa, Four?" tanya Axton ketika panggilan tersebut telah tersambung.
"Alex ingin berbicara dengan anda, Tuan," ucap Four.
Axton menghela nafasnya pelan. Sudah lama sekali putranya itu tak menghubungi dirinya, meskipun ia tetap mengawasi aktivitas putranya dari kejauhan. Ia tak ingin kehilangan Alex seperti saat masih kecil dulu.
"Dad."
"Hmm ...," Axton hanya berdehem pelan karena ia masih tak suka dengan keputusan putranya yang menjauh dari Keluarga Williams.
"Apakah Dad bisa membantuku?" tanya Alex.
"Membantumu? Bukankah semua hal bisa kamu lakukan sendiri, Al?" tanya Axton seakan menyindir putranya.
"Dad!"
"Jangan meminta bantuan Daddy atas pilihanmu sendiri, Al."
"Tapi, Dad. Aku hanya ingin meminta bantuan untuk memasukkan temanku ke sekolah. Aku tak ingin ia putus sekolah karena itu akan menghancurkan masa depannya," ucap Alex.
"Kamu meminta bantuan Daddy untuk masalah seperti itu, Al? Jangan membuat Dad tertawa."
"Dad aku sungguh sungguh."
Axton menghela nafasnya pelan dan menatap manik mata putra satu satunya itu. Ia juga menatap ke arah Four dan sebenarnya Four sangat tahu apa yang harus ia lakukan.
"Dad juga sungguh sungguh, Al. Kamu pergi dari keluarga Williams begitu saja, meninggalkan Mommymu yang bersedih hampir setiap hari karena kepergianmu. Apa kamu memikirkan hal itu? Jadi sekarang selesaikan masalahmu sendiri, jangan merepotkan Daddy untuk masalah kecil seperti itu," ucap Axton.
Bukan Axton tak peduli pada Alex, tapi ia ingin mengajarkan pada Alex bahwa kepergiannya itu juga meninggalkan kesedihan bagi Keluarga Williams, meskipun Alex mengatakan bahwa ia ingin hidup mandiri dan akan kembali saat sudah menjadi sukses tanpa embel embel nama Keluarga Williams yang begitu besar. Oleh karena itu juga, ia menghilangkan nama Williams di belakangnya dan hanya menggunakan nama Alexander Ellard.
Alex mengepalkan tangannya dan menundukkan wajahnya. Ia sangat merindukan keluarganya, tapi saat ini ia ingin membuktikan pada siapa pun, bahwa ia bisa berdiri dan sukses tanpa nama besar Williams.
"Aku akan kembali pada kalian, Dad," gumam Alex. Ia pun memutar tubuhnya dan segera pergi dari markas Black Alpha.
Sementara itu, Four masih meneruskan pembicaraan itu dengan Axton.
🧡 🧡 🧡