
Alex terdiam menatap kepergian Pearl. Apa yang terjadi? Mengapa Pearl malah pergi meninggalkannya? Bukankah apa yang ia katakan adalah benar. Saat ini, yang terpenting dalam sebuah hubungan adalah bagaimana bersikap, bukan hanya pernyataan yang ujung ujungnya hanya sebuah gombalan semata.
“Al?” Mars yang baru kembali, melihat pintu kamar tidur Alex terbuka dan pria itu hanya diam mematung, membuat Mars masuk ke dalam lalu menepuk bahu Alex.
Alex menoleh, “Mars? Kamu sudah kembali?”
“Hmm … apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya Mars.
“Pearl …”
“Pearl? Ada apa dengan Pearl? Apa belum ada yang menjemputnya di sekolah? Kalau begitu biar aku saja yang menjemputnya,” ucap Mars.
“Bukan, bukan begitu.”
“Lalu? Apa kalian bertengkar lagi?” tanya Mars.
Alex sedikit ragu menceritakan apa yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Pearl. Namun, ia memerlukan masukan dari seseorang saat ini. Kalau tidak, maka hubungannya dengan Pearl akan terus berjalan di tempat.
“Mars, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanga Alex.
“Tentu saja!” jawab Mars.
Alex pun mengajak Mars untuk duduk di tepi tempat tidurnya. Ia menghela nafasnya pelan karena masih bingung dari mana ia harus memulai.
“Mars, apa meurutmu pernyataan cinta itu diperlukan?” tanya Alex.
“Pernyataan cinta?”
“Hmm … menurutku akan lebih baik kita menunjukkan rasa cinta kita dengan perilaku dan tindakan kita, bukan dengan kata kata yang mungkin saja hanya sebuah kebohongan,” ucap Alex.
Mars tersenyum tipis. Ia menoleh melihat pada Alex, sahabat sekaligus atasannya. Pria di sampingnya ini sepertinya begitu polos dengan apa yang namanya cinta. Dan ia juga dangat polos dengan makhluk yang bernama wanita.
“Mungkin bagi seorang pria, pernyataan cinta tak penting. Namun, bagi seorang wanita, itu adalah hal penting karena dari sana lah tercetak dengan jelas status mereka di hadapan pria,” ucap Mars.
“Misalkan saja seperti hubunganmu dengan Pearl. Kamu tak pernah menyatakan perasaannmu dan Pearl menganggap bahwa hubungan kalian hanya sebuah pertemanan. Jikaada pria lain datang dan memberikan status yang lebih jelas pada Pearl, itu tak masalah karena Pearl tak memiliki hubungan apapun denganmu,” lanjut Mars.
“Tapi Pearl hanya milikku, Mars. Ia hanya milikku,” kata Alex.
“Kalau begitu, berilah kejelasan padanya. Bagaimana status hubungan kalian, apakah sebagai teman, sahabat, atau kah kekasih.”
“Tapi seharusnya ia bisa melihat dari sikapku padanya, bagaimana aku memperlakukannya. Seharusnya ia tak perlu ragu,” ucap Alex.
“Itulah makhluk bernama wanita. Mereka membutuhkan kejelasan, hitam atau putih, tak ada abu abu bagi mereka,” ucap Mars.
“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Alex.
Mars kembali menghela nafasnya, pelan hingga tak terdengar oleh Alex.
“Temui Pearl dan minta maaf lag terlebih dahulu. Setelah itu,jelaskan semuanya. Setelah itu, nyatakanlah cintamu padanya,” ucap Mars.
“Kamu yakin ini akan berhasil? Aku tak ingin hal ini malah mempermalukanku padanya,” ucap Alex.
“Aku yakin, cobalah.”
Alex akhirnya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar tidurnya. Alex memindai ke sekeliling, tapi tak menemukan sosok Pearl sama sekali. Itu berarti Pearl ada di dalam kamar tidurnya.
Tokk … tokkk … tokk …
“Pearl …”
“Masuklah, aku tak menguncinya,” Pearl tak mungkin berbuat seenaknya juga. Bagaimana pun juga, markas ini dipimpin oleh Alex dan ia tak mau terlihat seperti orang yang tidak tahu berterima kasih.
“Pearl …,” Alex melangkah mendekati Pearl yang kini berada di atas tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku yang ia pinjam dari perpustakaan dua hari yang lalu. Ia belum selesai, jadi ia belum mengembalikannya.
“Apa aku boleh duduk di sini?” tanya Alex.
“Duduklah, bukankah kamar tidur ini juga adalah bagian dari markas? Kamar tidur ini adalah milikmu, Al. Aku tak berhak melarangmu untuk masuk,” jawab Pearl.
“Maaf,” ucap Alex sambil menggenggam kedua telapak tangan Pearl.
Pearl menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah serta manik mata Alex. Ia belum yakin jika pria di hadapannya ini akan mengucapkannya dengan tulus. Namun, sekai lagi ia meminta maaf, hingga membuat Pearl pun akhirnya luluh.
“Maafkan aku, Pearl.”
Alex menatap manik mata Pearl tanpa keinginan sedikit pun untuk menghindar.
“Aku menyayangimu, Pearl. Aku sangat menyayangimu. Sejak pertama kali kamu hadir di depan mataku, aku sudah memantapkan kepemilikan hatiku ini. Aku mencintaimu, Pearl. Maukah kamu menjadi kekasihku?” tanya Alex.
Ungkapan perasaan Alex, terasa begitu indah di telinga Pearl. Jika bisa terbang, tentu ia akan terbang hingga menembus awan.
“Kekasih?” tanya Pearl memastikan pendengarannya. Ia tak ingin membuat hatinya terlena dan terbuai begitu saja.
“Maukah kamu menjadi kekasihku, sayang?”
Alex memeluk Pearl dengan erat. Ia tak ingin melepaskan wanita ini lagi dan membuatnya jatuh ke pelukan pria lain. Sementara Pearl berusaha melepaskan diri. Bukan karena ia tak suka, tapi karena ia ingin melihat wajah Alex saat mengatakannya.
🧡🧡🧡