
Alex pergi dari markas Black Alpha dengan perasaan sedikit kacau. Di satu sisi ia memikirkan Pearl, tapi di sisi lain ia juga memikirkan ibunya, Jeanette. Ia sangat merindukan Mommynya dan Alex sangat tahu mengapa Ayahnya begitu marah padanya.
"Maafkan Alex, Mommy. Alex ingin menjadi diri Alex sendiri. Alex ingin membuktikan pada semua orang bahwa Alex tak seperti yang mereka katakan. Alex bisa berdiri sendiri tanpa nama besar Keluarga Williams," batin Alex sambil berjalan menuju ke arah motor miliknya.
Ia naik ke atas motor setelah menggunakan jaket dan helm. Setelahnya ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Selama perjalanan, ia kembali terbayang masa kecilnya di Pulau Bali yang sangat menyenangkan.
Sejak kecil Alex selalu bersama dengan Jeanette dan sangat dekat. Namun suatu hari pria itu datang menemui kedua orang tuanya dan mengatakan akan pergi meninggalkan Indonesia, dan baru kembali saat telah sukses.
Jujur hal itu menyakitkan bagi Jeanette. Wanita itu selalu menangis sejak hari kepergian putranya itu. Tapi Alex sama sekali tak menghiraukan perasaan ibunya, hingga akhirnya Axton yang mengambil keputusan untuk memutus komunikasi dengan putranya itu.
Namun, ia tak melepaskannya begitu saja. Ia mengutus Pain, Aarav, Mars, dan Ervin untuk menjaga, melindungi, serta mengawasi Alex. Bahkan Axton tahu dengan pasti ketika putranya itu membentuk sebuah geng motor dan sering ikut balapan.
Bagi Alex, Pearl sudah seperti adik kandungnya sendiri, Ava. Keceriaan yang dimiliki oleh Ava, sama persis dengan gadis itu. Hal itulah yang membuat Alex pada akhirnya merasa nyaman jika Pearl berada dekat dengannya.
Alex merasa hanya Pearl yang menerima dirinya, bahkan dengan terang terangan mengejar dirinya. Di sekolah itu, Alex mengajukan beasiswa dan diterima. Ia menyembunyikan nama besar keluarganya dan ingin menjadi dirinya sendiri.
"Aku akan berjuang untukmu, Pearl. Kamu tak akan sendiri menghadapi semua karena ada aku yang akan selalu berada di sampingmu dan menyemangatimu."
*****
Alex menghentikan motor miliknya di depan sekolahnya dulu, yang masih satu kawasan dengan kampusnya. Yayasan itu memang memiliki sekolah dari jenjang playgroup hingga universitas, yang berada dalam satu lingkungan atau area yang sama, tapi berbeda gedung.
Dengan langkah tegap, Alex masuk dan menemui kepala sekolah, "Aku ingin bertemu dengan Mr. Omar."
"Duduklah terlebih dulu, Mr. Omar sedang ada tamu."
Alex duduk menunggu di salah satu kursi yang disediakan di depan ruang kepala sekolah itu. Ia mengingat kisah sekolahnya dan bagaimana dulu Pearl selalu mengejar dan memberikannya cokelat.
Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan tersebut dan langsung pergi dari sana tanpa melihat ke kiri dan ke kanan.
"Silakan masuk, Alex," ucap sekretaris Mr. Omar yang sebelumnya telah mengenal Alex. Selain karena Alex adalah penerima beasiswa, Axton Williams juga adalah donatur tetap di yayasan sekolah tersebut, tanpa siapa pun tahu.
Alex masuk ke dalam dan disambut oleh Mr. Omar, "Halo, Alex. Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Mr," Alex menyambut jabatan tangan Mr. Omar, kemudian duduk di kursi tepat di hadapan Mr. Omar.
"Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu? Referensi?" tanya Mr. Omar.
"Tidak, bukan itu. Aku membutuhkan bantuan anda untuk memasukkan seseorang ke sekolah ini lagi," jawab Alex.
Hal itu membuat Mr. Omar menautkan kedua alisnya, "siapa?"
"Pearly Hazel."
"Pearl? Putri Keluarga Willfred?" tanya Mr. Omar memastikan.
"Ya, tapi kini mereka bukan keluarga lagi karena ..."
Tanpa diketahui oleh Alex, Four telah bekerja sesuai perintah Axton. Secara diam diam Axton membantu putranya itu, berharap putranya tak mengalami kesulitan dalam menjalani hidupnya seorang diri.
"Aku yang akan membantunya belajar. Anda juga bisa melakukan test padanya untuk pelajaran yang telah ia lewati di tingkat satu sebelum mengijinkannya masuk."
"Baiklah kalau begitu. Untuk lebih adil, Pearl akan melakukan test terlebih dahulu. Aku juga akan melakukan interview secara online padanya. Kuharap kamu bisa membuat semuanya lancar," ucap Mr. Omar.
"Baik, Mr. Terima kasih banyak," ucap Alex.
"Aku akan meminta sekretarisku untuk membuatkan jadwal untuk Pearl. Namun kamu harus ingat, jika ia gagal maka aku tak bisa menerimanya di sini."
"Ya, aku mengerti."
Setelah perbincangan keduanya, Alex segera kembali pulang ke markas geng motornya. Ia pergi seorang diri, tanpa pengawalan ke empat orang temannya itu. Perasaan Alex saat ini sangat senang karena ia akan memberikan kabar gembira untuk Pearl.
*****
"Pearl!" Setelah selesai membersihkan diri, Alex mencari Pearl ke kamar tidurnya. Ia melihat Pearl sedang duduk di atas tempat tidur sambil membaca sebuah buku.
"Al, kamu sudah kembali?" tanya Pearl yang kemudian bangkit dan duduk di tepi tenpat tidur.
Alex berjalan mendekati Pearl, kemudian duduk di sampingnya, "Mr. Omar akan melakukan beberapa test padamu sebelum kamu resmi diterima bersekolah lagi, langsung di tingkat dua."
"Benarkah?!" Alex menganggukkan kepalanya dan ikut bahagia saat melihat Pearl tersenyum.
"Kamu bisa mulai mempelajari ulang semua materi di tingkat satu. Aku yakin kamu bisa, kamu pasti akan berhasil," ucap Alex menyemangati.
"Terima kasih, Al."
Alex pun keluar dari kamar tidur Pearl, meninggalkan Pearl dengan kebahagiaannya. Namun, Pearl yang merasa sangat bahagia itu, jadi tak bisa memejamkan matanya untuk tidur. Ia masih tak percaya kalau ia bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa kembali ke sekolah.
Karena tak bisa tidur, pada akhirnya Pearl keluar dari kamar. Ia naik ke lantai paling atas di mana ada sebuah meja kayu serta sebuah ayunan yang biasa menemaninya menikmati langit.
Pearl berencana akan bercerita pada bulan dan bintang mengenai kebahagaiannya ini. Namun, ketika ia sampai di lantai atap atau dikenal dengan sebutan rooftop, ia melihat sosok seorang pria yang tengah berpegangan sambil bersandar pada railing yang terbuat dari dinding dan hanya setinggi pinggangnya saja.
"Kamu di sini, Al?" Alex menoleh dan tak menyangka kalau Pearl akan naik ke atas ketika ia sedang merokok.
"Kamu belum tidur, Pearl?" tanya Alex.
Pearl langsung mengambil rokok yang dipegang Alex dan membuangnya, "Jangan merokok lagi, tak bagus untuk kesehatanmu."
Alex tersenyum karena merasa Pearl begitu memperhatikannya. Sebenarnya Alex sangat jarang sekali merokok. Ia hanya melakukannya ketika pikirannya sedang buntu.
Pearl pun akhirnya duduk bersama dengan Alex di sebuah kursi kayu. Mereka saling bercerita hingga tak terasa waktu sudah bergulir dengan cepat.
🧡 🧡 🧡