
"Merva!" Mom Lady menemui putrinya itu di kamar tidurnya.
Ia sudah berusaha untuk menahan amarahnya sejak mengetahui bahwa apa yang terjadi di sekolah waktu itu ternyata adalah kesalahan Merva. Namun, ketika lagi lagi ia mengetahui bahwa Merva masih mengganggu Pearl, Mom Lady merasa harus segera mengambil tindakan.
"Mommy memanggilku?" tanya Merva yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri.
Merva mengeringkan rambutnya dengan handuk kemudian melemparkan handuk tersebut ke atas tempat tidur, lalu melangkah ke meja rias.
"Merva, letakkan handukmu dengan benar. Mommy tak suka kamu berantakan seperti ini," ujar Mom Lady.
Merva yang lupa dengan kehadiran Mom Lady, langsung buru buru mengangkat handuk yang tadi ia lemparkan ke atas tempat tidur. Sejak dulu, itu sudah menjadi kebiasaannya dan tak ada yang mempedulikan ataupun marah padanya.
"Sorry, Mom. Aku buru buru," ucap Merva beralasan.
"Apa kamu selalu seperti ini, Mer?" tanya Mom Lady.
Merva langsung menoleh dan mempertanyakan maksud dari ucapan ibunya.
"Maksud Mommy? Aku tak mengerti."
"Apa kamu selalu mencari cari alasan atas kesalahanmu?" tanya Mom Lady.
"Mom, aku hanya lupa. Mengapa Mommy seperti ini? Aneh sekali," ucap Merva.
"Aneh? Menurutmu Mommy aneh?"
"Bukan begitu, Mom. Tapi ... Mengapa sepertinya ada sesuatu yang Mommy sembunyikan."
"Mommy tak menyembunyikan apapun, justru Mommy ingin bertanya, apa yang kamu sembunyikan sebenarnya," ucap Mom Lady dengan tatapan menelisik sikap Merva.
"Mommy mencurigaiku? Mommy seperti tak mempercayaiku. Ada apa ini sebenarnya? Apa ada seseorang yang mengatakan hal hal buruk tentangku?" tanya Merva.
"Tak ada yang mengatakan apapun tentangmu, tapi Mommy mendapatkan kebenaran yang tak mungkin bisa kamu sangkal."
"Kebenaran apa?" di dalam pikiran Merva mulai terbayang beberapa hal yang memang ia sembunyikan dari keluarganya dan hal itu membuatnya mulai takut.
Mom Lady membuka sebuah tablet yang ia bawa, kemudian mulai membuka galeri dan menunjukkan sebuah video pada Merva yang tentu saja membuat Merva terkejut.
"Mom, aku ..."
"Apa ini yang kamu bilang kalau Pearl menyakitimu? Sepertinya semua terlihat sebaliknya. Kamu yang memulai semuanya dan ...," Mom Lady membuka video yang lain di mana tampak Merva sedang berada di sebuah klub malam.
"Mom, aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tak seperti yang Mommy bayangkan," mulai terdengar nada takut dan gelisah dalam semua ucapan Merva.
"Bagaimana kamu menjelaskan pada Mommy ketika semua kebenaran sudah berada dengan jelas di sini," ucap Mom Lady.
Merva yang awalnya ingin mengeringkan rambutnya di meja rias, langsung melangkah cepat mendekati Mom Lady. Ia bersimpuh di depan wanita paruh baya itu.
"Maafkan aku, Mom. Maafkan Merva. Aku ....," Merva bingung harus mengatakan apa karena jika ia mencari alasan lagi, sudah pasti Mom Lady akan semakin tak percaya padanya.
"Aku salah ... Aku takut ... Aku iri karena selama lima belas tahun, Pearl memiliki apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku benci hal itu, Mom."
"Bukankah sekarang keadaan sudah berbalik, lalu apa yang membuatmu masih saja iri dengan Pearl?" tanya Mom Lady.
Mom Lady menggelengkan kepalanya, "Kamu tak bisa menilai Mommy seperti itu. Mommy menyayangi kalian berdua, kalian adalah putri Mommy. Masing masing dari kalian memiliki tempat khusus di hati Mommy."
"Maafkan aku, Mom."
"Mommy memaafkanmu," ucap Mom Lady.
"Terima kasih, Mom," Merva langsung memeluk Mom Lady.
"Tapi kamu akan tetap mendapat hukuman. Selama satu bulan ke depan, kamu tak boleh keluar kecuali ke sekolah. Uang saku mu juga akan Mommy potong karena kamu menggunakannya untuk hal hal yang tidak baik."
"Tapi, Mom ...."
"Kalau kamu tak mau menerima hukuman dari Mommy, maka terpaksa Mommy harus mengatakan dan menceritakan semua ini pada Daddy dan Brian."
"Jangan, Mom. Aku tidak mau Dad dan Kak Brian tahu," Merva tak ingin Dad Willfred semakin menilai buruk tentang dirinya. Ia juga tak ingin jika Brian menjauhinya dan kembali menjadi kaku jika berada di dekatnya.
"Kalau begitu, kamu harus minta maaf pada Pearl," ucap Mom Lady.
"Sudah, Mom. Aku sudah meminta maaf padanya."
"Benarkah?"
"Benar. Jika Mommy tak percaya, Mommy bisa menanyakan langsung pada Pearl," jawab Merva.
"Baiklah, Mommy percaya padamu," setelah itu, Mom Lady keluar dari kamar tidur Merva, meninggalkan Merva yang merasa gelisah karena kelakuannya telah diketahui oleh Mom Lady. Ia tahu kini penilaian Mom Lady padanya sudah menjadi buruk.
*****
"Bisakah Mommy berbicara denganmu, sebentar saja," pinta Mom Lady saat bertemu dengan Pearl.
Pearl menghela nafasnya pelan kemudian mengangguk. Akhirnya, di sini lah mereka, di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah.
Mom Lady memesan minuman dan juga cemilan kesukaan Pearl. Ia masih ingat dengan jelas apa yang diaukai oleh putrinya itu.
"Pearl ...," Mom Lady menggenggam tangan Pearl yang berada di atas meja. Namun Pearl segera menariknya ke bawah meja.
"Apa yang ingin anda katakan, Nyonya Willfred? Saya tidak punya banyak waktu karena setelah ini saya harus pulang," ucap Pearl.
"Pearl ..., maafkan Mommy. Maaf karena Mommy telah bersikap kasar padamu. Apa kamu terluka?" tanya Mom Lady.
Pearl tersenyum tipis dan menatap manik mata wanita yang mengasuh, menjaga, dan menyayanginya selama lima belas tahun ini. Jujur Pearl sangat merindukan kedekatan mereka, bahkan ia masih ingat bagaimana rasa dan kehangatan yang dimiliki oleh Mom Lady, tapi ...
"Saya tidak apa apa, Nyonya. Jika terluka pun tidak masalah karena saya sudah mulai terbiasa merasakannya."
"Maafkan Mommy, Pearl. Mommy emosi saat itu dan semua ucapan yang keluar dari mulut Mommy juga jangan kamu anggap. Semua itu hanya emosi sesaat Mommy saja. Kamu mau kan memaafkan Mommy, Pearl?"
"Dan Mommy mohon, berhentilah memanggil Mommy dengan sebutan Nyonya. Hal itu membuat Mommy merasa jauh denganmu," lanjut Mom Lady.
"Saya sudah memaafkan anda, Nyonya. Saya tahu apa yang anda rasakan dan saya mengerti. Saya berharap, mulai saat ini, berhentilah mengkhawatirkan saya. Jangan merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi karena hal itu sudah jalan hidip saya. Saya mendoakan anda selalu berbahagia bersama keluarga anda. Saya berjanji saya akan baik baik saja. Terima kasih atas semuanya," Pearl menundukkan kepala lalu bangkit. Ia bergegas pergi dari sana agar Mom Lady tak melihat air matanya yang kini sudah mulai menghenang di pelupuk mata.
🧡 🧡 🧡