
Mobil hitam mengkilat dengan nomor polisi R 4 MA itu berhenti di depan ruang UGD rumah sakit yang tak jauh dari kediaman Rama. 2 orang perawat laki-laki membawa brankar dengan set oksigen lengkap sudah menunggu di depan ruang gawat darurat tersebut, langsung menidurkan Rama di brankar yang dibawanya dan memasangkan
selang oksigen tersebut. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan dimana dokter sudah menunggu untuk melakukan pemeriksaan. Tampak orang-orang sibuk hilir mudik membawa peralatannya untuk melakukan pemeriksaan lengkap dengan pasien yang belum terbangun tersebut.
Dokter menanyakan riwayat terjadinya reaksi alergi yang terjadi. “Kenapa sampai bisa kumat begini Sir Timmy ? Kau kan tahu tuan Rama mempunyai alergi, kenapa dia bisa sampai mengkonsumsi bawang putih ?”
“Aku juga tidak mengerti dok, padahal aku sama sekali tidak memasukkan bawang putih sedikitpun ke dalam bubur ataupun bahan-bahan lainnya. Aku juga sudah memberitahu Aisha istri muda tuan untuk tidak menggunakan bawang putih karena tuan Rama alergi dengan bumbu tersebut. Semua pelayan juga sudah mengetahui tuan alergi terhadap bawang putih. Tetapi kenapa bisa sampai alergi itu muncul ya ? Siapa yang melakukan ini ?”
Batin Sir Timmy bertanya-tanya dan menduga-duga apa yang terjadi, tetapi dia tidak menemukan jawabannya sama sekali. Akhirnya dia pun menelepon ke rumah kediaman menggunakan telepon di rumah sakit itu untuk memberi tahu kabar tuannya saat ini. Sementara dokter internis tadi sudah masuk kembali ke dalam setelah
mengumpulkan keterangan tersebut.
“Hallo, selamat pagi, ini saya Sir Timmy, siapa yang mengangkat telepon ini “
“Saya Rani Sir, bagaimana keadaan tuan Rama sekarang ?”
“Ah Rani, tuan Rama sudah ditangani oleh dokter dan tim di sini, beliau sedang dilakukan pemeriksaan lengkap untuk mengatasi masalah alerginya. Sampai saat ini beliau masih belum bangun, tetapi nafasnya sudah normal sejak terpasang oksigen. Rani, aku minta tolong ya ? Nona Aisha pasti sedang kebingungan sekarang, tolong kau
beritahu kondisi tuan Rama saat ini dan tenangkan dia. Aku tidak akan pergi ke cafeku dan akan menemani tuan Rama di sini sampai beliau terbangun dan kondisinya membaik. Aku harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dengan Tuan Rama saat ini, bisakah kau memberi tahu manajer cafe ? Aku lupa tidak membawa hp.”
“Baik Sir, aku akan melakukan perintahmu. Tadi Nyonya Claire marah dan menampar serta menjambak rambut Nona Aisha dengan kuat, aku akan ke atas dan memberitahu kondisi tuan Rama sekarang serta menemani nona karena sepertinya dia shock dengan kejadian ini. Mengenai tuan Arthur, apakah harus diberitahu ?”
“Tidak usah diberitahu tuan Arthur, nanti beliau panik dan marah. Baiklah, aku tutup telponnya ya, kau temani dan obati Nona Aisha dengan baik. Kasihan dia.”
“Baik Sir.”
Sambungan telepon pun terputus. Sir Timmy tampak berpikir, mengapa Claire begitu marahnya sampai menampar dan menyakiti Aisha ? Belum tentu kan Aisha yang bersalah, mengapa dia langsung menuduh madunya tersebut adalah pelakunya ?
Sir Timmy merasa bahwa dia perlu menanyakan pada dokter tentang kondisi tuannya itu dan juga mengenai asal usul terjadinya peristiwa ini. Sir Timmy merasa aneh karena dia merasa sama sekali tidak memasukkan bawang putih ke dalam masakannya, baik aroma maupun bahannya langsung. Rama memang sama sekali tidak bisa mengkonsumsi bumbu itu, alerginya akan langsung muncul dan bereaksi dengan cepat sekalipun dengan aroma atau bahan sintetik. Untungnya reaksi alergi tersebut tidak terlalu berat walaupun kondisi Tuan Rama saat ini masih belum sadar.
1 jam kemudian. Sir Timmy masih bolak balik di depan Ruang IGD rumah sakit tersebut menunggu tuannya selesai ditangani. Selang oksigen masih terpasang di rongga hidung Tuan Rama. Walaupun Tuan Rama sudah membuka matanya sejak kira-kira setengah jam yang lalu tetapi titik-titik refleks belum bekerja dengan baik, maka selang oksigen belum dilepaskan dan alat tensimeter masih terpasang di lengan kanannya dan dokter masih berjaga di dalam ruangan steril tersebut. Kondisi Tuan Rama masih lemah walaupun kesadaran sudah menyambangi tubuh kekar tersebut.
“Tenanglah. Tuan Rama sudah sadar, dia sudah membuka matanya walaupun masih perlu pemantauan. Keadaannya sudah tidak sekritis waktu awal datang. Sudah ya cantik, berhenti menangis.”
Sir Timmy mengusap air mata Aisha yg tak berhenti mengalir. Tampak mata Aisha membesar mendengar bahwa keadaan suaminya sudah tidak kritis lagi, perlahan air mata itu mulai berhenti mengalir berganti menjadi rentetan pertanyaan dari bibir mungil itu.
“Ceritakan bagaimana kondisi awal suamiku Sir, ceritakan dengan lengkap semuanya. Apakah dia sangat menderita ? Apakah separah itu alerginya ? Apakah dia akan baik-baik saja ? Ceritakan semua Sir, aku khawatir sekali dengan Tuan Rama.” Tampak air mata mulai menggenang setelah Aisha bertanya sebanyak itu tetapi tidak menetes.
Sir Timmy merasa iba sekali dengan istri muda tuannya ini. Baik sekali hati Aisha, begitu yg di dalam hati Sir Timmy. Dia berdoa semoga hati yang baik dan suci ini tidak tersakiti sedikitpun kedepannya, tetapi entahlah apa yg akan terjadi di masa depan. Sir Timmy tersenyum sambil menggiring Aisha untuk duduk di jejeran kursi depan ruangan tersebut. Setelah mereka duduk Sir Timmy mulai menjelaskan dengan detail semua yg berkaitan dengan penyakit alergi Tuan Rama. Sir Timmy menjelaskan bagaimana tuannya itu jika penyakit alerginya kumat, pengobatan yg
sudah dilakukan untuk menghilangkan penyakit itu, serta kekhawatiran Tuan Arthur dan Nyonya Alicia jika penyakit tersebut mendatangi anak tunggalnya. Sir Timmy yang sudah puluhan tahun bekerja dengan keluarga tersebut mengerti sekali dengan penyakit tuan mudanya tersebut.
Aisha tampak mengangguk-angguk tanda mengerti apa yg dijelaskan oleh koki berpengalaman tersebut. Dia tidak menyangka bahwa suaminya tersebut sama sekali tidak bisa mengkonsumsi sedikitpun bumbu dapur tersebut.
“Tetapi kau sudah memberita tahu sebelumnya Sir mengenai alergi bawang putih tersebut. Dan aku juga tidak memasukkan sama sekali bumbu tersebut dalam bentuk apapun, lalumengapa penyakit itu bisa muncul Sir ? Aku sungguh tidak mengerti Sir, siapa yg ingin mencelakakan suamiku ? Tidak mungkin aku yg melakukan hal itu kan, aku selalu ada di samping dirimu Sir saat mengolah makanan tersebut.”
“Tenanglah Aisha, nanti kita bisa melihat cctv untuk mencari pelakunya. Kau tenang saja ya, ada Sir Timmy di samping kamu sha.”
“Sir Timmy sebaiknya pulang saja ke mansion, biar Aisha yg menemani Rama di sini. Tenang saja,
Aisha sudah baik – baik saja saat ini.”
“Kau yakin Sha ?”
Aisha mengangguk yakin
“Baiklah, aku pulang dulu ya Sha, lelah sekali rasanya ingin istirahat sebentar.”
Aisha mengucapkan salam sambil melambaikan tangannya pada Sir Timmy, lalu masuk ke dalam ruangan rawat VIP tempat suaminya itu dirawat. Ya, Rama sudah meninggalkan ruangan ICU dan masuk ke ruangan rawat tersebut karena kondisinya yang sudah membaik. Saat itu sudah larut malam.