
Di kamar besar milik Claire dan Rama tampak baju-baju ditumpuk dan benda-benda berharga berserakan di tempat tidur besar itu. Claire sedang menyusun benda-benda seperti perhiasan-perhiasan berharganya yg berharga fantastik, surat - surat berharga juga kotak-kotak yg tidak pernah diketahui apa isinya oleh Rama untuk dimasukkan ke dalam tas jinjing besar.
Setelah urusan benda-benda beres lalu Claire beranjak memasukkan baju-bajunya yg kebanyakan berwarna hitam dgn model maskulin ke dalam kopor besarnya, kopor yg sedikit berdebu. Kopor besar berwarna hitam itu biasanya dikeluarkan hanya pada saat liburan panjang yg sudah lama sekali tidak dilakukan. Claire baru menyadarinya sekarang, tapi sudah terlambat, betapa sudah sangat lama sekali dia tidak pergi berlibur dgn suaminya Rama, mungkin sudah 5 tahun yang lalu.
Tampak baju-baju yg ditumpuk di tempat tidur besar berbentuk bulat itu, semua baju Claire sudah ditumpuk tinggal dimasukkan ke dalam kopor besar. Jumlahnya tidak banyak, hanya mengambil 1 kolom lemari yg berisi kurang lebih 50 potong baju atasan serta 10 potong celana berbahan kulit dan denim. Semuanya berwarna hitam, warna favorit Claire. Baju-baju dengan model hem, kaos longgar, oversized sweater, dan kemeja longgar serta tunik.
Kalau biasanya perempuan kebanyakan suka warna-warna lembut atau terang, berbeda dgn Claire yg sangat menyukai pakaian berwarna hitam. Hampir tiap hari dia selalu mengenakan pakaian berwarna hitam, dgn model yg maskulin. Tak pernah sekalipun Claire memakai gaun atau rok, bahkan untuk acara-acara resmi dimana Rama suka mengajaknya, gaya beepakaiannya selalu maskulin. Sepatu booth, celana kulit stretch, dengan atasan longgar berwarna hitam. Walaupun Rama membelikan banyak sekali gaun berwarna hitam dgn berbagai model dan baju-baju untuk keseharian yg bermodel lebih feminin, tetap saja tidak pernah dipakai oleh Claire. Entah mengapa tapi Claire selalu menjawab bahwa dia tidak nyaman dgn baju-baju yg dibelikan Raja, dia hanya nyaman dgn baju yg dibelinya sendiri.
Claire sudah hampir beres memasukkan baju-bajunya ke dalam kopor ketika pintu kamar tersebut dan masuklah Rama. Dia berdiri terpaku di depan pintu menyaksikan kondisi kamarnya yg acak - acakan, ada tumpukan baju di atas tempat tidur yg mengganggu pandangannya. Tampak wajah yg memerah menahan amarah milik Rama Wijaya Alistair, dia sungguh sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
"Apa yg sedang kau lakukan Claire Adams Alistair !!!! Masukkan lagi ke dalam lemari pakaian-pakaian ini ! Sampai kapanpun kau tidak akan pernah pergi dari rumah ini, tidak akan pernah. Ini rumah kita Claire !!!" Rama tidak bisa lagi menahan emosinya, dia melangkah menuju tumpukan baju-baju itu lalu mengambil tumpukan tersebut untuk dimasukkan ke dalam lemari mereka.
Melihat Rama mengambil tumpukan baju yg sudah disusunnya itu Claire bergegas mengambil dan merebutnya dari tangan Rama. Dia langsung menyusun dan menutup rapat - rapat kopornya lalu menguncinya agar tidak mudah dibuka.
Rama menarik Claire lalu mendorongnya hingga terjatuh di tempat tidur dan menindih Claire hingga dia terkunci tak bisa bergerak sedikitpun. Tubuh Rama yg jauh lebih tinggi dari Claire membuat dia tidak mempunyai celah untuk melepaskan diri, apalagi tangan dan kakinya terkunci dengan tubuh besar Rama. Yang bisa Claire lakukan hanya menatap tajam mata biru suaminya penuh kemarahan.
Ya, Claire sangat marah dan cemburu menyaksikan suami yg amat sangat dicintainya menikahi wanita lain yg tak kalah cantik, cantik sekali, dan juga sangat lembut dan halus. Gadis yg masih muda, jauh lebih muda dari dirinya. Claire memang lebih tua usianya dari Rama, tetapi Rama tidak terlalu mempermasalahkan itu. Baginya Claire adalah cinta sejatinya, teman hidupnya, segalanya.
"Mengapa aku tidak boleh pergi! Buat apa aku di sini jika aku sudah tidak dibutuhkan lagi! Lepaskan aku, aku mau pergi!" Claire berkata tajam penuh penekanan dalam tiap kata - katanya barusan dengan mata melotot memandang suami di atasnya. Tak tampak ketakutan sama sekali dari mata hitam itu, Claire benar-benar menunjukkan kemarahannya lewat mata itu.
Claire berusaha memberontak dan mendorong suaminya tersebut sekuat tenaga. Dia berteriak-teriak sambil memukul dan menendang suami yg sangat dicintainya. Dalam pikiran Claire suami yg sangat dicintainya itu sudah tidak akan mau mencintainya lagi, ibarat habis manis sepah dibuang. Claire tidak mampu memberikan anak yg sangat diinginkan suaminya itu dan dia membenci mertuanya yg memanfaatkan situasi saat ini untuk menikahkan miliknya dgn gadis yg jauh lebih muda. Usia Claire memang lebih tua dari Rama, dan madunya itu jauh lebih muda dari suaminya itu. Claire sungguh sangat khawatir dan takut suaminya akan berpaling darinya.
"Sayangku aku tidak mencintai gadis itu, hanya dirimu pemilik hatiku sayangku kau kan tahu itu. Gadis itu hanya kumanfaatkan untuk memberikan kita beberapa anak seperti keinginan kita selama ini, iya kan Claire ? Aku hanya mencintai dirimu Claire, sayangku." Rama berkata sambil memeluk lembut istri yg sangat dicintainya itu, tangannya mengusap-usap rambut bercat pirang tersebut dan menghapus air mata di pipi istrinya itu.
Mendengar perkataan Rama suami tercintanya itu Claire merasa senang. Dia menyunggingkan senyum di dalam hatinya saat mata itu terpejam seolah dia tertidur. Claire sebenarnya tidak tertidur, dia hanya pura-pura saja. "Aku senang sekali mendengar kata kau hanya memanfaatkan gadis itu saja, itu berarti aku tetap masih bisa mengendalikan dirimu hanya untuk kepentinganku saja. Ah, andai kau tahu bahwa diriku selama ini tidak pernah mencintaimu suamiku, apa yg akan terjadi nanti ? Tapi kau tidak tahu dan tidak akan pernah tau sayangku, sampai kapanpun kau tidak akan pernah tahu hahaha." Pasangan itu lalu tertidur sambil berpelukan erat.
Sementara itu saat Rama menenangkan istri pertamanya Claire di kamar mereka, ada gadis yg tengah duduk merenung di tempat tidur besar dan empuk yg ada di kamarnya itu. Gadis itu begitu kebingungan dan tidak mengerti sama sekali apa yg terjadi hari ini dan mengapa dia ada di sini. Dia memandangi sambil menerawang kamar yg ditempatinya saat ini. Semua yg terjadi hari ini di luar nalarnya dan tidak mudah diterima otak pintarnya.
Aisha gadis sederhana itu sangat tidak terbiasa berada di dalam kamar yg kategorinya sangat mewah menurut dia, beda sekali dengan kamar yg biasa ditempatinya itu. Di kamarnya yg sempit dan sesak hanya ada dipan kecil dari kayu yg sudah mau reyot saking lamanya dgn kasur busa tipis dan lemari kayu yg sudah tua berwarna kusam. Tidak ada meja belajar dan kursinya. Jika Aisha belajar maka dia akan melakukannya di ruang tengah merangkap ruang tamu ditemani ayah tercintanya jadi dia tidak kesepian. Berbanding terbalik dengan kamar yg ditempatinya hari ini, malam ini, dan malam-malam selanjutnya.
Kasur yg begitu empuk, kamar yg begitu luas, bahkan luasnya hampir tiga kali lipat dari ruang tamu di rumah gubug milik ayahnya kemarin. Baju-bajunya dan baju baru lainnya tersimpan rapi di ruang wardrobe yg sebesar kamarnya dahulu, penuh dengan gamis-gamis cantik dan rok-rok yg tergantung rapi dengan warna warni pastel yg amat sangat disukainya itu. Aisha yang sangat lemah lembut dan murah senyum memang menyukai warna - warna pastel yg lembut, dia tidak suka warna - warna mencolok. Dan baju-baju tersebut tidak ada yg berwarna mencolok, banyak warna baby pink dan biru langit yang sangat disukainya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Aisha mulai mengantuk. Dia mulai merebahkan dirinya di kasur empuk tersebut dan menarik selimutnya untuk tidur. Kerudungnya sudah dilepas sedari tadi saat dirinya membersihkan muka dan menggosok gigi sehabis shalat isya tadi. Saat Aisha mau nemejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan suaminya masuk menghampirinya duduk di sofa kecil di kamar itu. Aisha yg hampir tertidur tadi lalu bangun dan duduk di kasur.
"Kau belum makan kan ? Apa tidak lapar ? Ayo turun ke bawah kita makan, masih ada sisa makanan di pesta tadi disimpan di kulkas. Bisa memanaskan kan ?" Rama bertanya sambil menunjukkan muka dinginnya. Aisha tidak menjawabnya, hanya bangun dan berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur. Dibukanya kulkas besar yg ada di dapur bersih dan mengeluarkan makanan sisa syukuran tadi. Tinggal pasta lasagna dan salad beef yg ada di kulkas jadi Aisha mengeluarkan makanan itu dan memanaskannya lalu menghidangkan di meja makan. Rama dan Aisha makan dalam keheningan tanpa kata sementara Claire yg diam-diam memperhatikannya merasa senang.