
Rama duduk di kursi tengah meja makan besar itu, Aisha di samping kirinya sementara Claire duduk di samping kanan Rama. Aisha menghidangkan dan melayani suaminya tersebut dengan wajah yang cerah dan bersinar, membuat Claire merasa marah karena tone kulitnya tidak seterang madunya itu. Kulit Claire berwarna lebih ke kuning agak kecoklatan karena pekerjaannya yang membuat dia banyak berada di luar ruangan. Setiap hari Claire selalu datang ke markas miliknya memantau pekerjaan yang dilakoninya sudah sangat lama tersebut jadi sudah bisa dipastikan dia akan selalu di lapangan. Pekerjaan mafia adalah pekerjaan lapangan karena objeknya tidak berada di dalam ruangan seperti orang kantoran, itulah mengapa Claire selalu keluar sebentar setelah Rama pergi bekerja dan pulang setelah pemantauannya beres.
Mangkuk-mangkuk pelengkap bubur berisi udang kecil-kecil yang digoreng kering dan potongan dadu lidah sapi juga kacang kedelai serta seledri sudah dimasukkan ke dalam bubur Rama, tak lupa juga kecap asin dan merica putihnya. Rama mengaduk buburnya agar tercampur rata semua bahan di mangkuknya tersebut lalu memasukkan buburnya itu ke dalam mulutnya, tak lupa juga kerupuk pangsit dia masukkan ke dalam mulutnya juga. Diam-diam Claire menyembunyikan tawa senangnya melihat Rama memakan isi mangkuknya dengan lahap, dan yang lebih senangnya lagi Aisha yang akan disalahkan atas apa yang tidak dilakukannya. Aisha pasti tidak mengetahui bahwa
Rama mempunyai reaksi alergi pada bawang putih, yang tadi dimasukkannya ke dalam mangkuk bubur. Dan reaksi Rama jika terkena alerginya akan sangat parah, bahkan bisa sampai masuk rumah sakit.
Rama memakan buburnya dengan lahap, rasanya enak sekali menurut dia dalam hati. Diam-diam Rama mengakui kemampuan memasak istri mudanya, hanya mengakui di dalam hatinya. Tak ada senyuman yang hangat seperti yang biasa diberikannya pada Claire, walaupun Rama mengakui bahwa dia merasa tersanjung dengan masakan Aisha. Rama sebenarnya ingin sekali memberikan pujian kepada Aisha atas masakannya yang enak ini sekaligus juga membujuk Claire agar dia mau masuk ke dapur seperti keinginannya, tetapi dia merasa tidak berdaya dengan pelototan Claire. Ya, Claire yg duduk di samping kanannya memperhatikannya dalam diam seolah tahu apa yg ada dalam pikiran suaminya itu.
Claire hari ini akan pergi ke markasnya seperti biasa, memimpin organisasi mafianya. Ada beberapa hal yang harus dibereskannya hari ini dan tidak bisa diwakilkan pada ajudan utamanya. Pelan-pelan Claire mulai berbicara pada Rama suaminya yg berada di sampingnya.
“Sayang, aku ada urusan dengan temanku di organisasi, boleh bertemu dengan temanku ?”
Tangan Claire menggenggam tangan Rama sambil memberikan remasan sedikit. Rama spontan melihat
ke Claire sambil tersenyum.
“Ada urusan apa sayangku, kenapa kau tidak betah sekali sih berada di rumah, selalu pergi
keluar terus ?”
Rama bertanya sambil mengelus puncak kepala Claire penuh kasih sayang, membuat Claire tersenyum senang.
“Aku sudah berjanji dengan temanku untuk membantunya mendirikan panti asuhan, hari ini kami akan membahasnya di kantor temanku, boleh ya sayang ?”
Claire mengeluarkan jurus puppy eyes yang sangat ampuh merayu Rama, terbukti Rama langsung menganggukkan kepala menyetujuinya. Dia sangat bangga istrinya itu mempunyai jiwa sosial yang besar, padahal itu hanya akal-akalan Claire saja.
“Aku ke atas dulu untuk bersiap-siap kalau begitu, tidak mungkin aku pergi memakai baju tidur ini kan ?”
Claire langsung beranjak dari kursi makan menuju kamarnya di atas, sementara Rama menghabiskan buburnya yang tersisa sedikit lagi. Diam-diam Claire tersenyum senang melihat suami tercintanya itu menghabiskan bubur di mangkoknya, lalu langsung masuk ke dalam kamarnya.
Rama sedang merapihkan baju dan dasinya dibantu Aisha. Aisha memegangi jas berwarna biru tua tersebut yang tadi tergeletak di kursi sofa dan memberikan pada Rama. Rama memandang lekat pada istri mudanya tersebut, mata yang bercahaya penuh sinar dan sungguh cantik sekali. Rama sesaat merasa limbung melihat kecantikan istri mudanya itu, dia merasa terpikat sesaat tetapi dibuangnya jauh-jauh perasaan tersebut. Dia tidak mau mengkhianati Claire, sangat tidak ingin sekali walau secantik apapun Aisha nantinya.
‘Tidak, tidak, hatiku hanya milik Claire, hanya Claire saja’ demikian yang ada dalam pikiran Rama.
wanita cantik dihadapannya itu. Aisha yang mengerti pandangan tersebut spontan menunduk sambil berkata, “Sudah waktunya berangkat nanti terlambat bukankah ada rapat penting hari ini ?”
Dari mana dia tahu hari ini ada rapat penting, pikir Rama. Aaaaah, pasti ayah yg memberi tahunya. Segera dipakainya jas yg diberikan Aisha tadi, tapi kenapa rasanya sangat mual sekali dan kepalanya terasa sangat berat ?
Rama memegangi kepalanya ketika dia tiba-tiba muntah-muntah lalu jatuh pingsan. Aisha yang berada dihadapannya kaget ketika Rama memuntahkan makanan pada gamis dan hijabnya lalu jatuh pingsan.
“Aaaaaaaa, Sir Timmy........, suamiku pingsan dan muntah-muntaaaaaaah.”
Aisha berteriak sambil berlari ke dapur yang terdekat, para pelayan dan koki berlarian menuju tempat tuannya jatuh pingsan di ruang keluarga, mereka kaget melihat Rama pingsan dan wajahnya kemerahan. Sir Timmy yang mengetahui riwayat alergi tuannya langsung mengangkat tubuh besar itu menuju mobil yang sudah menunggu
dari tadi di depan teras. Mobil itu tadinya untuk mengantarkan Rama ke kantor, tetapi alangkah terkejutnya Pa Supri melihat tuannya diangkut sang koki masuk ke dalam mobil yang terbuka pintunya.
“Ayo cepat ke rumah sakit pa, sepertinya alergi Tuan Rama kumat lagi !”
Pa Supri yang tergagap langsung masuk ke kursi sopir setelah menutup pintu belakang dan menyalakan mobil. Mobil berwarna hitam tersebut melaju kencang menuju rumah sakit yang berjarak kurang lebih 5 km.
Sementara itu di rumah kediaman Rama Wijaya Alistair, huru-hara tampak terjadi di sana. Claire sedang menuruni tangga saat mobil yang biasa dipakai Rama bekerja melaju kencang dari halaman depan. Claire yang sudah mengetahui apa yang sedang terjadi menegakkan kepalanya sambil memperlihatkan mata dinginnya.
Dengan suara dingin Claire bertanya di hall luas depan pintu masuk tersebut, “Di mana suamiku ?”
Perlahan Aisha menghampiri Claire sambil tersedu-sedu. “Aku tidak tahu mbak, tuan Rama tiba-tiba muntah sambil mengeluhkan kepalanya lalu pingsan. Sir Timmy sudah membawanya ke rumah sakit.”
Aisha tidak dapat menyembunyikan kesedihannya, air mata tidak berhenti mengalir di pipi putihnya. Claire yang tidak tahan melihat tangisan Aisha langsung menampar keras pipi tersebut. Aisha tak dapat membendung lagi tangisannya, pipinya memerah dan rasanya sakit sekali. Bukan sakit pipi yang dirasakannya, tetapi hatinya yang sakit dari tamparan itu. Seumur-umur, Aisha tidak pernah diberikan hukuman fisik oleh siapapun, hari ini saat ini dia mendapat tamparan keras dari Claire istri pertama suaminya. Atas kesalahan yang tidak diketahuinya.
“Apa yang kau lakukan pada suamiku, Hah ? Apa kau berniat membunuh suamiku ? Kurang ajar sekali dirimu.” Claire menarik rambut Aisha dengan kuat, digoyang-goyangkannya sambil ditarik kuat membuat Aisha pusing sekali dan mual. Claire lalu melepaskannya dengan kuat sehingga Aisha terjatuh ke lantai. Dia merasa puas melihat madunya itu terjatuh ke lantai sambil terus menangis, lalu ditinggalkannya pergi. Tak berapa lama mobil sport dia melaju keluar dengan kencang.
Aisha terus menangis sesenggukan dalam jatuhnya. Dia perlahan bangkit dari lantai dan berjalan memasuki kamarnya. Aisha berniat mandi dan berganti pakaian lalu mencucinya, karena gamis dan hijabnya tadi penuh dengan muntahan Rama yang sangat banyak. Dia tidak merasa jijik sama sekali dengan muntahan tersebut,
hanya kepalanya saja yang masih terasa sakit dan bekas tamparan di pipinya.