
Flashback on
Jam menunjukkan pukul 22.03 malam. Aisha dan Rama keluar dari kamar yang berada
tepat di samping kamar Claire dan Rama yang jauh lebih besar dari kamar Aisha.
Mereka berjalan di lorong sebelum menuruni tangga melingkar yang berdesain klasik
tersebut. Rama berjalan mengikuti Aisha di belakang muslimah cantik itu. Aisha
sempat mengenakan hijab instannya tadi sebelum keluar dari kamar, tampak
semakin cantik saja gadis tersebut begitulah yang Rama lihat. Kulitnya putih
bersih, hidung mancung dengan mata besar berwarna biru. Mereka sudah mencapai
dapur besar bernuansa klasik tersebut, dapur yang sangat luas dengan gaya
arsitektur bernuansa krem terang dan banyak panel-panel indah mengelilingi
dapur tersebut.
Rama sengaja merenovasi dapur itu dahulu dengan harapan Claire mau memasak dan
mengeksplorasi berbagai bumbu dan bahan-bahan yang lengkap serta alat-alat
masak berbagai rupa lengkap tersedia di dapur itu, tapi harapan hanya tinggal
harapan karena hingga saat ini Claire tidak pernah menginjakkan kakinya
sekalipun di dapur ini. Hanya maid saja dan para koki yang menyibukkan diri
mereka di sini, dan sekarang istri mudanya yang menginjakkan kaki di dapur ini.
Aisha sudah biasa berada dan bermain di dapur karena tugas dirinya di rumah besar milik
Arthur adalah menjadi asisten koki di dapur. Sejak kecil dirinya sudah sering
membantu di dapur dan Aisha bisa beradaptasi dengan mudah pada arahan-arahan
yang diajarkan koki di mansion Arthur. Semua makanan yang dihidangkan di rumah
besar Arthur maupun Rama adalah hasil olahan koki, dibantu oleh asisten dapur
seperti Aisha dan pelayan-pelayan dapur yang berjumlah 5 orang. Jika diadakan
pesta di rumah besar itu maka koki akan memanggil beberapa asistennya di
restoran milik mereka untuk membantu memasak hidangan yang akan disediakan
untuk para tamu.
Hanya tinggal beberapa pasta lasagna yang tersimpan di mangkuk tahan panas berukuran
sedang dan beberapa mangkuk salad beef yang sangat menggugah selera itu. “Anda
mau makan yang mana tuan, lasagna atau salad beef ?” “Aku ingin salad beef saja, kau yang mana ?
Tolong jangan panggil tuan, aku adalah suamimu sekarang bukan tuanmu lagi.”
Ucapan Rama itu membuat Aisha membulatkan matanya saking terkejutnya, tak
menyangka Rama akan berkata seperti itu mengakui dirinya adalah seorang suami
bagi Aisha. Dengan spontan Aisha berputar menghadap Rama yang berada
dibelakangnya dan memandang mata suaminya itu. Ya, hanya pernikahan siri dan
istri sah secara agama tapi tidak di mata hukum, itulah status yang diemban
oleh Aisha. Aisha memandang mata Rama dalam dan tampak bayangan air mata di
mata biru cantik itu, mata yang begitu besar dan dalam. Rama mengakui bahwa
istri mudanya ini cantik, tapi hatinya begitu tertutup kecuali pada Claire.
Buat Rama hanya Claire yang tercantik dan pemilik satu-satunya hatinya.
Aisha gadis jangkung dengan kecantikan hakiki itu mengeluarkan mangkuk sedang tahan panas
yang berisi salad beef dan lasagna dari
kulkas besar 2 pintu itu. Dia melangkahkan kakinya menuju mesin pemanas makanan
untuk menghangatkan salad yang sudah dingin itu, setelah salad sudah masuk ke
mesin kakinya melangkah lagi mengambil pinggan tahan panas berisi lasagna dan
memasukkannya ke dalam microwave. Tangannya lincah menekan layar sentuh untuk
mengatur waktu dan suhu lalu mesin itu bekerja menghangatkan makanan yang ada
didalamnya.
Rama hanya memandangi dengan seksama semua yang dikerjakan oleh Aisha dengan takjub.
Terlihat sekali dia kagum dengan keahlian gadis itu tetapi menyimpannya dalam
hati. Tak lama lalu Aisha menanyakan apakah salad beef mau ditambah dengan
lidah sapi karena Aisha tadi melihat ada potongan lidah sapi yang sudah
dipotong tipis, Aisha tinggal memotong-motongnya dan menggorengnya. Rama hanya
menganggukkan kepalanya lalu Aisha mulai mengerjakannya. Diambilnya
potongan-potongan lidah yang ada di mangkuk di dalam kulkas lalu mulai memotong
kecil-kecil lidah berbentuk dadu dan memberinya bumbu marinasi sebelum mulai
menggorengnya.
Rama hanya memperhatikan saja melihat kelihaian Aisha mengolah makanan yang ada didepannya
itu, kakinya tak berhenti bergerak hingga makanan tersebut tersajikan di depan
Rama. Aisha menghidangkan semangkuk besar salad beef dan lidah sapi yang dari
tampilannya saja sudah menggugah selera itu dan sepiring sedang lasagna yang
dihadapannya itu, sungguh sangat menggugah selera setelah dirinya lelah
menenangkan Claire yang emosi tadi. Ya, makanan yang nikmat memang diperlukan
Rama setelah menenangkan dan menaklukkan Claire tadi yang menguras emosi dan
tenaga laki-laki tinggi besar tersebut. Dia memakan hidangan di depan matanya
tersebut dengan lahap, salad semangkuk besar tersebut habis dalam sekejap dan
beralih ke lasagna di piring tersebut. Aisha hanya duduk saja sambil
menopangkan dagunya, ingin sekali mencicipi makanan tersebut tapi dia malu. “Kau
mau, Aisha ?” Aisha hanya menggelengkan kepalanya saat sendok Rama mendarat di
depan mulutnya, lalu makanan itu kembali masuk ke mulut Rama.
Claire yang diam-diam memperhatikan dari atas cemburu dengan kelakuan madunya itu, dia
hampir saja turun ke bawah dan memarahi Aisha tetapi dihentikannya saat Aisha
menolak makanan yg disodorkan Rama dan tersenyum simpul saat Rama kembali
mengacuhkan gadis itu. Claire merasa menang karena Rama sama sekali tidak
menunjukkan ketertarikannya ke gadis cantik itu. Claire lalu perlahan masuk ke
dalam kamarnya dan melanjutkan tidurnya.
Rama sudah menyelesaikan makannya lalu beranjak dari meja makan menuju ke tangga,
sementara Aisha membereskan piring mangkok dan sendok yang digunakan tadi dan
membersihkannya hingga ditaruh ke mesin pengering. Tak lupa Aisha juga
membersihkan meja dan kursi, setelah beres semua lalu Aisha menaiki tangga
menuju kamarnya. Akhirnya semua tertidur dengan pulas di kamarnya
masing-masing, Rama memeluk Claire sedangkan Aisha memeluk guling.
Flashback off
Jam 4 subuh Aisha bangun dari tidurnya, membereskan tempat tidurnya lalu menuju kamar
mandi. Bergegas mandi dan berwudhu untuk melaksanakan shalat shubuh. Aisha
melaksanakan serangkaian shalat sunnah sebelum adzan berkumandang tanda wajib
menunaikan shalat subuh 2 rakaat. Aisha shalat dengan khusuknya dilanjut dzikir
dan berdoa, kurang lebih 45 menit kemudian Aisha membuka mukenanya dan melipat
mukena dan sajadahnya. Aisha mengganti piyama bergambar kartun dengan gamis
serta hijab shar’i berwarna hijau daun bermotif bunga-bunga kecil. Setelah
merasa cantik dan harum Aisha melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya lalu
menuruni tangga menuju dapur.
Di dapur Aisha bergabung dengan para pelayan untuk memasak sarapan. Kata mertuanya kemarin
Aisha harus memasak setiap hari untuk Rama supaya suaminya itu perlahan bisa
membuka hati untuknya, dan gadis cantik itu hanya menuruti saja apa kata mertua
yang sangat dihormatinya itu. Aisha sangat menghormati dan menyayangi mertua
gantengnya itu sepenuh hati, karena kedekatan mereka sendiri sejak Aisha masih
kecil. Aisha kecil yang sangat manis dan penurut memang sangat cocok sekali
berhadapan dengan Tuan Arthur yang ramah dan baik hati.
Menu sarapan hari ini adalah bubur nasi dengan berbagai macam toping diantaranya ada udang
berukuran kecil, suwiran ayam rebus, potongan kotak-kotak hati sapi, lidah sapi
goreng, kerang, dan penyajian penyerta lainnya. Rama sangat menyukai makanan
yang berbentuk sup dan bubur, begitu juga Claire, dan hampir setiap hari menu
tersebut yang dihidangkan untuk sarapan. Aisha bersama koki dan para pelayan
mengolah bersama bahan-bahan yang sudah tersedia tersebut untuk membuat bubur
tersebut, mereka bekerja dengan penuh canda dan tawa hingga akhirnya selesai. Aisha
dipercaya oleh koki untuk menyajikannya nanti di meja makan saat waktunya
sarapan. Sambil menunggu Rama dan Claire turun dari kamar mereka, Aisha
menunggu di sofa ruang keluarga sambil memegang HP. Tangannya mulai membuka
laman-laman media sosialnya untuk mencari info terbaru.
Tepat pukul 7 Rama keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Claire sudah menunggu
di meja makan saat itu sementara Aisha masih duduk di ruang keluarga. Aisha lalu
bergegas menuju dapur untuk menuangkan semua makanan itu ke dalam
mangkuk-mangkuk yg jumlahnya banyak sekali, untuk 3 orang. Pelayan sudah
menyiapkan dorongan dengan susunan mangkuk-mangkuk kecil untuk topping dan yang
lain-lainnya serta mangkuk besar untuk buburnya, jadi Aisha tinggal menuangkan
saja ke mangkuk-mangkuk yang sudah tersedia tersebut. Aisha lalu mendorong
dorongan tersebut dan menyajikannya, pada Rama dan Claire lalu terakhir untuk
dirinya sendiri.