AFTER WOUND IS LOVE

AFTER WOUND IS LOVE
(4) "Tetaplah Bahagia"



"Ketika kau kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu, percayalah sesuatu yang lebih berharga akan datang padamu."


CHAPTER 5


Sudah sebulan sejak Jennie menjadi model perusahaan besar Taehyung. Sebulan itu juga Jennie selalu menyiapkan makan malam untuk Taehyung. Dan itu atas permintaan Bibi Kim---Ibu Taehyung.


Seperti sekarang, Jennie tengah berbincang dengan Jungkook di kantor Taehyung. Sementara pria itu sedang sibuk meeting.


"Apa kau melakukan semuanya tanpa ada perasaan?" tanya Jungkook.


"Yah, perasaan kasihan, mungkin." jawab Jennie kalem.


"Bukan itu, J. Maksudku entah itu perasaan suka atau cinta?"


Jennie terkekeh pelan, aneh rasanya. Di tengah kesibukannya sebagai seorang model ternama, dia sempat-sempatnya memasak dan menemani pria kesepian itu makan.


"Entahlah. Aku bingung." jawabnya.


"Kuharap... Kau bisa membuka hatinya lagi."


"Yah, kuharap begitu."


"Tapi, jika kau sudah melakukannya dan dia mencintaimu. Apa kau akan meninggalkannya?"


Jennie mencebik. "Tentu saja tidak, bodoh! Itu sama sama membuatnya kembali trauma. Jika dia mencintaiku nanti maka aku akan mencoba melakukannya juga. Tapi jika itu bukan aku, maka aku akan pergi."


"Kau memang perempuan yang baik sekali. Tak sia-sia aku mengenalmu."


"Ya."


Suara pintu dibuka menarik perhatian kedua insan berbeda kelamin itu. Itu adalah Taehyung, objek yang sedari tadi mereka bicarakan.


"Halo Tuan Taehyung."


Taehyung hanya tersenyum kecil dan duduk di singgasananya. Lalu dia memperhatikan kedua insan yang juga memperhatikannya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Kami hanya berbicara. Kebetulan Jennie datang ingin menemuimu." jawab Jungkook.


Taehyung menatap Jennie meminta penjelasan mengapa ia datang.


"Aku hanya mengantarkan makan siangmu." ujar Jennie.


Taehyung mengangguk dan kembali fokus pada laptopnya.


"Aku pergi dulu." Jungkook akhirnya pergi meninggalkan Jennie dan Taehyung.


"Apa kau selalu sibuk seperti ini?" tanya Jennie sambil menyiapkan makan siang Taehyung.


"Ya. Dan apa kau tak lelah harus setiap saat membuatkan makanan untukku?"


Jennie menggeleng. "Tidak. Aku senang akhirnya ada yang bisa kulakukan ketika ada waktu luang."


"Bukan karena Jungkook selalu memohon padamu supaya melakukannya?"


"Aku bukan menguping. Aku tak sengaja mendengarnya."


"Benarkah? Kenapa tak langsung masuk? Kau malah masuk setelah kami selesai membicarakanmu."


Taehyung tertawa sinis. "Tak ada salahnya kan ketika kau mendengarkan orang-orang yang membicarakanmu."


"Baiklah-baiklah. Aku kalah, kau boleh makan sekarang."


\*\*\*


"Apakah Taehyung makan banyak?" tanya wanita paruh baya itu kepada Jennie.


"Ya Bibi. Taehyung makan banyak dan selalu berkata bahwa masakanku sama dengan masakan ibunya. Padahal kan Bibi yang mengajariku." Jennie terkekeh mengakhiri kalimatnya.


Wanita yang Jennie panggil Bibi itu tersenyum. Dia adalah Ibu Taehyung, Kim Taehee. Senyumnya yang tak pernah luntur, sama seperti Jisoo.


"Aku sangat berharap kau punya hubungan baik dengan Taehyung."


"Kami berhubungan baik, Bi. Hanya saja aku belum berhasil membuka hatinya."


"Lakukan perlahan, Ruby."


Jennie tersenyum. Beban yang dia bawa memang terlalu berat, tapi melihat dukungan dari orang-orang yang dia sayangi, beban itu seakan menghilang digantikan kelegaan.


"Bi, bagaimana jika aku mencintainya," Jennie menjeda, menelan salivanya dengan susah payah, "lagi?" lanjutnya.


"Kau kuat, Jane. Kau pasti bisa."


"Aku tak yakin."


Jennie kembali teringat pada masa lalunya. Ketika umurnya baru menginjak 18 tahun. Seorang model remaja yang sudah berhasil menerjang dunia.


Mencintai seseorang yang jelas sudah dimiliki oleh orang lain. Kala itu Jennie merasa itu hanya perasaan sementara. Tapi ternyata tidak, dia masih saja merasakan cemburu ketika pria itu sangat dekat dengan si perempuan---Jung Yerin nama gadis itu.


"Kau pasti bisa melupakannya." kata Jisoo kala itu.


"Ya, Jennie yang kami kenal tak seperti ini." sahut Roseanne Park. Gadis yang sekarang sudah menjadi Dokter kandungan.


"Kau bisa, J." sambung Lisa. Gadis sepermodelannya, yang paling mengerti tentang dirinya.


Dengan banyaknya dukungan, Jennie memutuskan untuk pulang ke negaranya---- New Zealand. Dan berkarir di sana. Itu keputusan yang benar, walau banyak yang menentang keputusannya kala itu.


Setahun setelah dia pindah, kakak laki-lakinya meninggal. Pergi menyusul ayahnya yang telah meninggal ketika dia masih berumur 8 tahun.


Kakaknya meninggalkan pesan, "Tetaplah bahagia."


Dan dia bahagia dengan karirnya. Selama dua tahun dia selalu disibukkan dengan agenda yang tak ada habisnya. Saat di usia 22 tahun dia kembali ke Korea. Saat itu dia mendengar bahwa Taehyung ditinggalkan oleh kekasihnya yang sudah bersamanya selama 4 tahun.


Dia tahu dari adik laki-lakinya, Jaemin.


Dan sekarang disinilah dia, menjadi model perusahaan cinta pertamanya. Kadang ia tersenyum miris mengingatnya. Mencintai orang yang bahkan tak menganggapnya.