AFTER WOUND IS LOVE

AFTER WOUND IS LOVE
(1) New Model



"Kadang, lebih baik disembunyikan daripada ditunjukkan."


CHAPTER 1


"Direktur, kami sudah merekrut seorang model ternama di negara kita. Dia mungkin bisa menggantikan wajah Lalisa." ujar seorang sekretaris Kim Taehyung.


"Kau yakin dia mampu? Selama ini kau selalu berkata bisa namun nyatanya tidak."


Sekretaris tampan bernama Jeon Jungkook itu tersenyum miring.


"Kau akan terkejut melihat siapa yang berhasil kukrekrut."


"Ya semoga saja."


Sebenarnya Taehyung tak ingin mengganti wajah Lalisa Manoban sebagai model perusahaannya. Namun Lisa akan menikah dengan Jungkook, ya apa boleh buat?


"Siapa namanya?" tanya Taehyung.


"Orang-orang memanggilnya Princess J."


"Berlebihan!"


Jungkook tersenyum samar. Dia kenal model ini dan dia yakin Taehyung tak akan kecewa dengannya.


"Dia bukan seseorang yang bisa kau remehkan. Anggap saja pelatihanmu untuk mencari pengganti kekasih lamamu."


Jungkook pergi sebelum mendapat tatapan tajam dari CEO-nya itu. Taehyung memang tak suka jika masa lalunya diungkit. Dan Jungkook tahu akan hal itu.


Jungkook pergi menemui model yang akan disandingkan dengan perusahaan besar yang saat ini bergerak dalam bidang pembuatan kendaraan bermerk Mercy Sport.


Entah apa yang membuat Jungkook begitu yakin dengan model yang satu ini. Dia terlihat sangat antusias. Apalagi mengingat gadis ini sudah menerjang dunia permodelan di umurnya masih muda dulu.


Jungkook berhenti tepat di depan model yang kini tengah berbincang dengan salah satu staff perusahaan yang kebetulan adalah penggemarnya.


"Jennie? Bisa bicara sebentar?" ucapnya. Staff yang tadinya berbincang dengan Jennie membungkuk hormat dan segera pergi.


Jennie tersenyum manis pada Jungkook. Dia kenal pria bergigi kelinci ini dari Lalisa, temannya.


"Halo, apa yang ingin kau bicarakan, Jung?" tanya Jennie.


"Tidak banyak, kok. Aku hanya berharap kau nyaman bekerja sama dengan perusahaan ini." ungkapnya.


Jennie tertawa kecil. "Tentu aku nyaman. Para staff sangat ramah. Aku juga senang kau ada di sini. Dan terlebih ini adalah perusahaan besar yang kupikir mustahil menjalin kerja sama denganku." ujarnya kalem. Tak lupa dengan senyumnya yang tak pernah luntur.


"Hei, kau terlalu merendah. Perusahaan yang lebih besar tentu pernah menyewamu. Terlebih, kau sudah menerjang dunia model disaat umurmu masih 17 tahun." puji Jungkook.


"Kau berlebihan. Saat itu aku bersama Lisa, lho. Bukan aku sendiri. Ah ya, bagaimana kabar Lisa?"


"Dia baik. Tapi tetap saja kau yang terbaik."


"Baiklah-baiklah. Kau pintar beradu argumen. Jadi apakah kita bisa mulai pemotretannya?" tanya Jennie.


"Benar juga. Kalau kita bicara terus-menerus tak akan ada akhirnya."


Jungkook mulai mengumpulkan para staff agar memulai pekerjaan mereka. Sementara Jennie merapikan penampilannya.


Cekrek.. Cekrek.. Cekrek..


Kamera bermerk Nikon itu tak henti-hentinya membuat suara untuk memotret gadis yang kini jadi objeknya.


"Putar agak ke kiri Jennie-sii. Ya begitu, bagus." dan tak henti-hentinya juga Jackson berkata untuk mengambil posisi terbaik bagi Jennie.


"Kita istirahat sebentar." sahut Jackson tanpa melihat sekitar. Fokusnya hanya pada hasil gambar yang telah ia ambil.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Jungkook.


"Dia sungguh pintar. Hasilnya bagus dan aku yakin bahwa ini tak akan memgecewakan seperti yang sudah-sudah." jawab Jackson.


Jungkook memperhatikan hasil gambar tersebut. Benar kata Jackson, Jennie tak akan mengecewakan barang sedikitpun.


"Baiklah. Tolong kirim padaku, aku ingin menunjukkannya pada Taehyung." ujar Jungkook sebelum dia pergi.


Akhirnya dia mengikuti kemauan hatinya untuk melihatnya kali ini. Dan memang, tak ada yang bisa menolak pesona seorang Jennie Kim.


"Dia cantik." gumamnya. Sebelum akhirnya dia kembali ke ruangannya.


Setelah sampai di ruangannya yang sangat indah itu, Taehyung dikejutkan dengan kehadiran Jennie di dalamnya. Ketika pintu ia dorong, Jennie berdiri dari sofa yang tadinya ia duduki.


"Halo Tn. Kim. Maaf lancang masuk ke kantormu." Jennie tersenyum manis.


"Ya, tak masalah." Taehyung hanya menjawab demikian tanpa menatap Jennie.


Jennie melangkah mendekati meja Taehyung. Seperti yang sudah ia dengar dari Lalisa, bahwa pria satu ini memang angkuh dan dingin.


"Apa perlumu kemari?" suara berat itu membuyarkan lamunan Jennie. Segera ia tersenyum menghilangkan kecanggungannya.


"Tidak begitu penting. Aku hanya ingin melihatmu." alis Taehyung bertaut mendengarnya.


Melihat tak ada respon dari Taehyung, Jennie melanjutkan, "kudengar kau tak suka jika ada perempuan di sekitarmu."


"Memang." Jennie nyaris tersedak mendengar jawaban singkat Taehyung.


"Tuan, jangan bilang kau gay?" Jennie terdiam ketika Taehyung menatapnya tajam.


"Jika tak ada perlu lagi, silahkan pergi. Aku punya banyak kesibukan."


"Baiklah. Maaf mengganggu." Jennie pergi setelah berkata demikian. Seharusnya dia dengarkan kata Jungkook untuk jangan temui Taehyung, tapi memang dia yang keras kepala.


"Ada-ada saja." ujar Taehyung pelan. Entah kenapa, dia merasa gemas pada tingkah Jennie. Lucu.


"Taehyung, apa yang terjadi pada Jennie? Dia terlihat kesal setelah keluar dari sini." tanya Jungkook heran.


Taehyung mengindikkan bahunya. Tanda dia tak tahu. Padahal jelas dia yang membuat Jennie kesal.


Mata Jungkook memicing, namun tak lama bibirnya tersungging membentuk senyum.


"Ada apa denganmu?" Tanya Taehyung dengan wajah jengah. Dia sangat benci ketika ada orang berada di sekitarnya ketika dia bekerja.


"Jennie sungguh keren. Jackson tak henti-hentinya memujinya. Aku memang tak salah memilihnya." ujarnya kalem dengan mata berbinar.


"Ya. Kudengar dia adalah model profesional dan model yang paling sukses saat ini. Jadi tak heran." ujar Taehyung.


"Kau dengar? Atau kau cari tahu?" tanya Jungkook menggoda. Dengar katanya? Taehyung tak pernah mendengarkan orang bicara, ingat itu!


"Ya, kucari tahu."


"Kami baru saja mengganti wajah perusahaan kita. Jika Harper's Bazaar mengatakan bahwa peningkatan sampai 50% maka kau harus membuat Jennie jatuh cinta padamu." tantang Jungkook.


Mata Taehyung melotot mendengarnya, dia jelas tahu bahwa Jennie bisa melampaui itu. Membuat Jennie jatuh cinta? Membayangkannya saja membuat Taehyung bergidik ngeri.


"Tidak mau!" tukasnya.


"Kau takut? Kalau begitu kau pasti yakin bahwa Jennie akan meningkatkan penghasilan perusahaan kita, 'kan?" tanya Jungkook dengan senyum mengejeknya.


"Bukan begitu, Jung. Siapa yang tak yakin dengan kemampuan Jennie? Hanya saja itu terlalu kekanakan."


"Kekanakan apanya? Ini tantangan orang dewasa." kilah Jungkook. Berusaha agar Taehyung mau menerima tantangannya.


"Aku tahu. Kau pasti takut kalau malah kau yang jatuh cinta, 'kan?" ejek pria bergigi kelinci itu.


Taehyung hanya diam. Beradu argumen dengan Jungkook sama saja menunggu ayam jantan bertelur. Mustahil bisa menang!


Jungkook tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu. Dia sudah terlalu kenal dengan Taehyung, jikapun tak ada ekspresi yang kentara di wajahnya Jungkook pasti tahu apa yang ada dipikirannya.


"Aku pergi." katanya masih dengan sisa tawanya.


Saat di jalan keluar, Jungkook melihat Jennie sedang kebingungan mencari sesuatu di lantai.


"Apa yang kau cari?" tanya Jungkook.