![AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/after-dusk--jisoo---jihoon-.webp)
Minhyun meletakkan dua gelas teh chamomile hangat di atas meja dan menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang tengah. Dia menatap Jisoo yang sedang duduk di lantai di dekat meja TV, sedang memegang sebuah novel tebal berjudul Demian karangan Herman Hesse di tangannya.
"Sudah berapa kali kamu membaca novel itu?" Tanya Minhyun. Itu adalah novel milik kakaknya yang tidak terbawa saat dia pindah ke Busan. Jisoo sudah pernah beberapa kali meminjam novel tersebut, namun setiap kali datang kerumah Minhyun ia pasti akan membaca lagi novel kesuakaannya itu.
Jisoo menutup novel yang ada di tangannya dan memasukkannya kembali ke dalam rak buku kecil yang ada di samping meja TV.
"Ceritanya bagus tahu," jawab Jisoo sambil mengacungkan jempol. "Mau dibaca ulang berapa kali pun aku tidak akan bosan. Pasti sangat keren kalau punya teman seperti karakter Demian yang ada di novel."
"Kan ada aku. Dimana lagi kamu bisa menemukan teman yang keren sepertiku," kata Minhyun sambil tersenyum lebar. Jisoo langsung mengambil satu bungkus snack yang ada di hadapannya di lantai dan menbuat gerakan seolah akan melempar snack itu ke arah Minhyun. Minhyun langsung tertawa keras melihatnya.
"Jadi, apa yang mau kamu ceritakan padaku?" Tanya Minhyun setelah tawanya mereda.
Jisoo menegakkan punggungnya dan menatap Minhyun dengan tatapan serius. "Kemarin, saat kita ke mall, aku melihat Mama dan adik laki-laki ku."
Tangan Minhyun yang sedang terulur untuk mengambil cangkir langsung berhenti. Dia menolehkan wajahnya cepat dan menatap Jisoo dengan mata melebar.
"Apa? Kamu melihat siapa?" Tanya Minhyun dengan nada suara kaget.
Jisoo menatap Minhyun sambil memasukkan snack ke dalam mulutnya. "Aku melihat Mama dan adik laki-laki ku."
Mulut Minhyun langsung mengaga lebar. Dia menatap Jisoo dengan tatapan kaget dan tidak bisa berkata-kata. Minhyun mengatupkan mulutnya dan kembali meraih cangkir yang ada di hadapannya lalu meneguk tehnya.
"Jadi, alasan kamu menarikku pergi di mall kemarin karena kamu melihat mereka?" Tanya Minhyun sambil meletakkan kembali cangkirnya di meja.
"Iya," jawab Jisoo singkat sambil mengangguk pelan.
"Lalu, apa mereka melihat mu juga? Mereka mengenalimu gak? Bagaimana kamu yakin kalau itu memang Mama dan adikmu? Bagaimana kalau ternyata kamu salah kira aja?" Tanya Minhyun panjang lebar sambil memajukan badannya dan menatap Jisoo penasaran.
"Aku masih ingat dengan jelas wajah mamaku, kan aku masih punya fotonya dirumah. Ya walaupun foto lama sih, tapi nggak banyak yang berubah dari wajah Mama. Wajah adikku juga tidak banyak berubah," jawab Jisoo sambil melempar bungkusan snack yang sudah kosong ke dalam tempat sampah yang ada di samping rak. "Mamaku sempat melihat ke arahku, dan kayaknya dia mengenaliku deh. Jihoon juga sempat melihatku, tapi dia tidak mengenaliku."
"Jihoon nama adikmu, ya?" Tanya Minhyun. Jisoo mengangguk pelan.
"Tapi bisa saja kan ternyata Jihoon mengenalimu juga. Dulu kamu pernah cerita usiamu masih enam tahun saat mama mu pergi, dan adikmu empat tahun saat itu. Aku rasa di umur segitu pasti dia sudah bisa mengingat wajahmu," lanjut Minhyun.
Jisoo menghela napas dan menggeleng. "Tidak. Dia tidak ingat padaku."
"Kok kamu yakin begitu?" Tanya Minhyun sambil menatap Jisoo penasaran.
Jisoo terdiam sesaat, lalu ia berdiri dan berpindah untuk duduk di samping Minhyun di sofa. "Kamu pasti kaget, deh. Tadi saat aku kerja di kafe, aku bertemu lagi dengan Jihoon."
"Hah?" Minhyun menatap Jisoo dengan tatapan kaget. "Kok bisa?"
"Nah iya kan, aku juga mikir kok bisa, sih. Tadi itu dia datang ke kafe bersama adik perempuan dan satu temannya. Aku melihatnya saat aku mengantarkan pesanan ke meja mereka. Tanganku sampai gemetaran saking kagetnya, untung saja gak sampai menjatuhkan nampan yang aku pegang. Dan kebetulan aku juga diminta menjaga kasir waktu mereka mau bayar. Jihoon sudah melihatku dari dekat tapi dia terlihat biasa saja, itu artinya kan dia sama sekali gak mengenaliku," jelas Jisoo panjang lebar.
"Sebentar," Minhyun menegakkan tubuh dan mengerutkan keningnya. "Adiknya? Maksudmu adiknya Jihoon?"
"Iya," Jisoo mengangguk. "Saat mengantar pesanan ke meja mereka, aku dengar dia memanggil Jihoon dengan sebutan kakak dan mereka membicarakan tentang Papa mereka. Mama pasti sudah menikah lagi dan itu anaknya bersama suami barunya. Dan waktu mau bayar, Jihoon memberikan kartunya padaku dan aku melihat nama yang terteta di sana. Di sana tertulis Park Jihoon. Mama pasti sudah mengubah marga Jihoon mengikuti marga suaminya."
Minhyun menyandarkan kembali punggungnya ke sofa dan menatap Jisoo dengan mulut sedikit menganga.
"Wah... dunia benar-benar sempit ya dan tidak bisa ditebak. Setelah sekian lama tiba-tiba kamu bertemu lagi dengan Mama dan adikmu. Buka cuma sekali, bahkan sampai dua kali," komentar Minhyun sambil menggeleng tidak percaya.
Jisoo mengangguk setuju. Ia kemudian menunduk dan memainkan ujung bantal kursi yang ia letakkan di pangkuannya. Minhyun melirik ke arah Jisoo, lalu dia menepuk pundak gadis itu pelan.
"Apa?" Tanya Jisoo.
"Gimana perasaanmu setelah melihat mereka? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Minhyun lagi.
"Kalau aku bilang aku tidak merasakan apapun dan baik-baik saja, kamu percaya?" Tanya Jisoo.
Minhyun memiringkan wajahnya. "Hmm, kalau mengingat reaksimu di mall waktu itu, sepertinya tidak. Tapi bisa jadi kamu hanya kaget dan baik-baik saja."
"Kenapa kamu pikir begitu?" Tanya Jisoo merasa tertarik dengan jawaban Minhyun.
"Ya, karena kamu itu kan sangat keras hati. Aku sudah berteman denganmu sebelas tahun, sudah tahu seberat apa hidupmu. Tadi tidak pernah sekali pun aku melihatmu menangis. Bahkan aku saja sudah pernah menangis di depanmu, walaupun konteksnya bukan menangis karena sedih," jawab Minhyun sambil mencebikkan bibirnya.
Jisoo langsung tertawa dan mendorong pundak Minhyun saat mendengar jawabannya. Minhyun semakin mencebikkan bibirnya dan melirik Jisoo sinis.
Minhyun memang pernah satu kali menangis di hadapan Jisoo ketika mereka masih duduk di bangku SMP. Saat itu semua murid kelas tiga sedang mengadakan perkemahan di sebuah daerah kecil di Gapyeong. Malam itu Jisoo tidak bisa tidur dan sedang duduk sendirian di samping tenda murid perempuan sambil memainkan ponselnya. Saat melihat Minhyun keluar dari tenda laki-laki dan berjalan ke arah semak-semak yang ada tidak jauh dari sana, ide jahil langsung muncul di benak Jisoo. Diam-diam Jisoo bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang ada dekat semak-semak dan menunggu Minhyun untuk lewat di sana. Begitu Minhyun melewatinya, dengan nada suara tenang Jisoo bertanya "sedang ngapain di sini?"
Minhyun yang kaget refleks mundur dan kakinya tersandung akar pohon yang mencuat sehingga dia dengan sukses jatuh dengan punggung yang mendarat di tanah dengan bunyi gedebuk yang cukup keras. Minhyun pun akhirnya menangis karena campuran rasa kaget dan sakit di kaki dan punggungnya.
"Sudah, jangan tertawa lagi," kata Minhyun kesal sambil melempar satu bantal kursi ke arah Jisoo. Bantal itu sukses mengenai wajah Jisoo dan bukannya berhenti tertawa Jisoo malah semakin terbahak. Akhirnya Minhyun memajukan badannya dan menutup mulut Jisoo dengan tangannya.
"Oke, oke, aku tidak akan tertawa lagi," kata Jisoo sambil menjauhkan wajahnya dan berusaha untuk berhenti tertawa.
"Tapi kamu beneran baik-baik saja setelah bertemu dengan mereka kemarin?" Tanya Minhyun setelah Jisoo tidak tertawa lagi.
"Tentu saja tidak. Aku bahkan sampai mimpi buruk malamnya," jawab Jisoo sambil menggelengkan kepalanya.
"Sampai segitunya?" Tanya Minhyun sambil melebarkan matanya.
"Hmm. Kamu kan tahu aku sangat tidak suka pada mamaku, dan karena melihat dia kemarin aku jadi kepikiran dan terbawa hingga ke mimpi," jawab Jisoo. Minhyun mengalihkan pandangannya ke depan dan tidak mengatakan apa pun lagi.
"Dulu, saat aku masih kecil, aku selalu berharap aku bisa secara kebetulan melihat Mama di jalan, atau mungkin Mama akan muncul di rumah dan membawa ku pergi bersamanya. Tapi tentu saja itu tidak pernah terjadi dan lama-lama aku jadi tidak suka padanya. Selama ini aku pikir mungkin Mama dan Jihoon sudah pindah ke kota lain, atau mungkin malah ke luar negeri. Jadi saat melihat mereka di mall, aku merasa sedih dan marah karena ternyata mereka selama ini masih ada di Seoul tapi sama sekali tidak pernah menemui atau mencariku," lanjut Jisoo panjang lebar.
Minhyun merapatkan bibirnya, lalu ia berkata. "Bagaimana kalau ternyata mama mu sebenarnya pernah mencari mu? Mungkin ke tempat tinggal mu yang dulu."
"Aku rasa tidak. Kalau Mama memang pernah mencariku ke sana, pas dia akan tetap mencari dan bisa dengan mudah mengetahui di mana aku tinggal setelah kami pindah dari sana, kan?" Jawab Jisoo sambil tersenyum miris. Minhyun terdengar menghela napas.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang, setelah tahu kalau ternyata Mama dan adikmu masih ada di Seoul?" Tanya Minhyun lagi.
"Aku juga tidak tahu. Rasanya aku tidak mau peduli. Tapi aku juga penasaran, terutama tentang adikku. Aku tahu dia hidup dengan baik, tapi aku penasaran bagaimana hidupnya bersama Papa dan adik tirinya," jawab Jisoo, lalu ia melihat ke arah Minhyun. "Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?"
"Hmm, kalau aku jadi kamu sih, mungkin aku akan mencari tahu. Tapi kalau memang melihat mereka membuat kamu semakin sedih dan marah, aku pikir lebih baik kamu tidak perlu melakukannya," jawab Minhyun sambil menatap balik Jisoo.
"Iya kan," jawab Jisoo sambil tersenyum tipis. Ia kembali menunduk dan memainkan ujung bantal.
Minhyun menepuk pundak Jisoo pelan, lalu ia mengambil cangkir yang ada di meja dan memberikannya pada Jisoo. "Teh nya sudah dingin tuh, cepat diminum."
Jisoo mengambil cangkir yang disodorkan Minhyun dan langsung menghabiskan tehnya dengan satu tegukan. Minhyun kemudian melirik jam dinding yang ada di hadapannya.
"Sudah jam sepuluh, kamu besok kan harus ke kafe, sebaiknya kita tidur sekarang," kata Minhyun sambil mengangkat kedua cangkir dan membawanya ke dapur. Setelah menunggu Minhyun selesai mencuci cangkir, mereka pun masuk ke kamar masing-masing.
...----------------...