AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]

AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]
BAB 1



Antrian yang cukup panjang terlihat di depan sebuah stan minuman yang ada di dalam Coex Mall Seoul sore itu. Jisoo tampak berdiri di dalam antrian itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya pelan. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, kemudian memiringkan kepalanya untuk melihat barisan yang ada di depannya. Tinggal tiga orang lagi sampai tiba gilirannya untuk memesan. Jisoo memalingkan wajahnya ke arah seorang laki-laki bertubuh tinggi yang berdiri di sisi kanannya.


"Hei," Jisoo menyenggol lengan Minhyun, sahabatnya yang juga sedang ikut mengantri bersama dirinya. Minhyun yang sedang memainkan ponselnya menoleh pada Jisoo sambil mengatakan 'apa' tanpa suara.


"Aku mau ke toilet, nih. Kalau aku belum kembali sampai giliran kita memesan, tolong pesankan minumanku seperi yang biasanya ya," kata Jisoo sambil membetulkan posisi tas selempangnya.


"Oke. Iced chocolate, kan?" Tanya Minhyun. Jisoo mengangguk dan langsung keluar dari antrian untuk mencari toilet.


Dengan langkah cepat, Jisoo berjalan sambil memperhatikan setiap papan penunjuk yang ada di sekelilingnya. Jisoo tersenyum tipis saat melihat papan tanda toilet dari kejauhan dan ia segera berlari kecil ke arah sana. Tidak butuh waktu lama bagi Jisoo untuk keluar dari toilet karena keadaan di dalam yang ternyata sangat sepi, tidak seperti biasanya. Baru saja Jisoo akan berbelok untuk kembali ke stan minuman, matanya menangkap sesuatu dan ia memperlambat langkahnya.


Pandangannya terpaku pada seorang wanita yang sedang duduk di sebuah kafe yang ada tidak jauh di depannya, tampak sedang bercerita dengan penuh semangat kepada seorang laki-laki yang duduk di hadapannya, yang tampak mendengarkan dengan antusias dan sesekali terlihat tertawa. Jisoo mematung, ia menatap kedua orang itu tanpa berkedip, dan tanpa sadar Jisoo mengepalkan tangannya. Sebentuk rasa sakit dan marah perlahan muncul di dalam dadanya.


"Kim Jisoo!" Terdengar suara Minhyun memanggil namanya.


Mata Jisoo melebar ketika wanita yang sedang berbicara itu tiba-tiba berhenti saat mendengar nama Jisoo dan menoleh ke arahnya. Dengan cepat Jisoo membalikkan badannya dan ia melihat Minhyun yang sedang berjalan ke arahnya sambil memegang dua minuman di tangannya.


Begitu Minhyun tiba di hadapannya, Jisoo langsung mengambil satu minuman yang dipegang oleh Minhyun dan menarik tangan laki-laki tersebut, membawanya pergi dari sana. Jisoo sempat menoleh ke belakang dan melihat wanita itu ternyata masih menatap ke arahnya. Laki-laki yang duduk di hadapan wanita tersebut juga ikut melihat ke arah Jisoo, sebelum kembali menatap wanita di hadapannya dengan tatapan bertanya. Jisoo langsung memalingkan wajah dan mempercepat langkahnya, masih sambil menarik tangan Minhyun.


"Jisoo, kita mau ke mana?" Tanya Minhyun. Tidak ada jawaban apa pun dari Jisoo dan Minhyun menatapnya dengan bingung.


"Jisoo?" Panggil Minhyun lagi. Jisoo tetap tidak menjawab, ia malah semakin mempercepat langkahnya. Minhyun mengerutkan kening dan menarik tangannya yang dipegang oleh Jisoo, membuat gadis itu ikut tertarik dan hampir saja terjerembab ke lantai kalau bukan karena Minhyun yang dengan cepat menahannya.


"Kenapa kamu tiba-tiba menarikku? Untung aku tidak jatuh," tanya Jisoo kaget sambil melotot ke arah Minhyun.


"Hei, nona Kim Jisoo, seharusnya aku yang bertanya," kata Minhyun sambil melepaskan pegangannya pada Jisoo. "Kenapa kamu tiba-tiba menarik tanganku dan menyeretku pergi?"


Jisoo merapatkan bibirnya dan melirik ke arah di mana wanita dan laki-laki tadi duduk. Ternyata keduanya sudah tidak terlihat lagi di sana. Jisoo diam-diam menghela napas lega. Ia menoleh kembali ke arah Minhyun dan mendapati sahabatnya itu sedang memandanginya dengan kening berkerut dan tatapan bertanya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Minhyun sambil menoleh ke arah yang Jisoo lihat tadi.


Jisoo menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak ada kok. Aku tadi menarikmu karena ingin mencari toilet," jawab Jisoo sambil menyeruput minuman yang dari tadi ia pegang. Keningnya berkerut dan ia menatap minuman di tangannya.


"Kenapa kamu memesankanku vanill latte?" Tanya Jisoo sambil menatap Minhyun.


"Itu punyaku," Minhyun langsung menarik minuman yang dipegang Jisoo dan memberikan yang ada di tangannya pada gadis itu. "Kamu sih, main asal ambil saja dan langsung menarikku tadi."


"Oh... haha maaf," Jisoo tertawa pelan dan langsung meminum iced chocolate-nya, sementara Minhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Tadi kamu perginya lumayan lama, ngapain saja kok belum ke toilet?" Tanya Minhyun sambil meminum vanilla latte-nya.


"Hah?" Jisoo menatap Minhyun sesaat, kemudian ia menyengir dan berusaha mengarang alasan. "Oh, itu, tadi aku masuk ke toko baju dulu sebentar. Aku lihat ada baju yang bagus di sana, tapi ternyata harganya mahal."


Minhyun kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jadi kamu masih mau ke toilet, kan?" Tanya Minhyun sambil melihat sekeliling. "Itu, toiletnya ada di tempat kamu berdiri tadi. Mau ke sana?"


Jisoo menoleh dan menatap ke arah toilet yang sebenarnya sudah ia masuki tadi. Jika dirinya kembali lagi ke sana sekarang, bagaimana kalau ternyata kedua orang tadi masih ada di sekitar sana dan ia bertemu dengan mereka lagi?


Minhyun menaikkan sebelah alisnya saat melihat Jisoo yang diam sambil menatap ke arah toilet. Minhyun mengangkat satu tangannya dan menepuk kening Jisoo pelan, membuat Jisoo sedikit terkesiap.


"Kamu ini kenapa? Sakit ya? Atau kamu melihat sesuatu di sana tadi?" Tanya Minhyun. Jisoo memukul lengan Minhyun pelan dan menggeleng.


"Tentu saja aku nggak sakit. Dan aku nggak melihat apa-apa juga disana."


"Benarkah?" Tanya Minhyun sambil sedikit membungkukkan badannya untuk menatap wajah Jisoo lebih dekat. "Sikapmu tiba-tiba aneh sekali, dan setelah aku perhatikan sepertinya kamu agak pucat juga."


Jisoo mendorong Minhyun menjauh dan kembali meminum minumannya. "Itu karena aku lapar. Ayo, kita ke toilet yang ada di bawah, setelah itu kita makan di tempat lain saja. Bagaimana kalau makan tteokbokki yang ada di dekat rumah saja?"


"Loh, bukannya tadi kamu bilang mau ke toko buku yang ada di lantai atas?" Tanya Minhyun.


"Gak jadi, deh. Besok-besok saja aku ke sana. Ayo!" Jisoo melingkarkan tangannya ke bahu Minhyun dan mencoba merangkulnya dengan posisi yang terlihat aneh karena badan Minhyun yang memang jauh lebih tinggi darinya. Minhyun tertawa pelan dan melepaskan tangan Jisoo dari bahunya. Dia lalu melingkarkan tangannya di leher Jisoo dan menarik gadis itu menuju lift untuk turun ke lantai bawah.


...***...


"Entahlah. Kemarin aku berbicara dengan papaku di telepon. Dia tahu kalau ujian sudah selesai hari ini dan liburan musim dingin sudah dimulai besok. Kemarin dia nggak bilang apa-apa, sih. Tapi kalau nanti dia memintaku untuk datang ke tempatnya, itu artinya aku akan menghabiskan satu bulan liburan musim dingin di Jepang bersama orangtuaku," jawab Minhyun.


Minhyun memang tidak tinggal bersama kedua orangtuanya saat ini. Kedua orangtuanya pindah ke Jepang tiga tahun yang lalu karena bisnis papanya yang membuka cabang baru di sana. Awalnya Minhyun tinggal berdua dengan kakak perempuannya. Tapi tahun lalu kakaknya pindah ke Busan karena pekerjaannya dan Minhyun tinggal sendirian di Seoul.


Jisoo mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah cemberut. "Enaknya..."


Minhyun menoleh ke arah Jisoo dan menatapnya dengan tatapan sinis. "Hei, kamu tahu aku tidak suka ke sana. Bukannya akan menikmati liburan, disana aku malah akan dibuat sibuk membantu mengurus usaha papaku."


"Iya aku tahu. Tapi setidaknya di sana kamu pasti jauh lebih enak daripada aku di sini," jawab Jisoo sambil menyenggol lengan Minhyun pelan. Minhyun memandangi Jisoo sesaat, kemudian dia kembali menatap lurus ke depan dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Mereka terus berjalan dalam diam selama beberapa saat sampai Minhyun kembali berbicara.


"Papamu masih suka minum-minum?" Tanya Minhyun.


"Ya, tentu saja masih. Kamu pikir dia akan berubah, gitu?" Tanya Jisoo sambil terkekeh pelan. Minhyun mengangkat bahunya.


"Ya siapa tahu setelah ditahan polisi gara-gara membuat onar waktu itu papamu jadi mengurangi kebiasaan minumnya," kata Minhyun.


"Tidak akan segampang itu berubah. Lagipula, aku yakin dia tidak akan bisa berubah," balas Jisoo sambil memasang tampang malas.


"Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang datang mencari papamu? Apa mereka masih suka datang?" Tanya Minhyun lagi.


Jisoo menghela napas pelan. Selain suka mabuk-mabukan, papanya juga suka berjudi. Dia menghabiskan hampir semua uang hasil kerjanya sebagai buruh pabrik untuk membeli minuman keras dan berjudi. Papanya juga meminjam banyak uang pada Bank dan juga rentenir, dan tentunya semua uang itu digunakannya untuk berjudi atau hal-hal lain yang tidak perlu. Kehidupan Jisoo selama tiga belas tahun terakhir ini benar-benar menyedihkan karena kebiasaan papanya itu. Jisoo bahkan sudah harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang saku yang cukup sejak dirinya masih duduk di bangku SMP. Ditambah lagi dirinya yang juga harus belajar dengan sangat keras demi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya.


"Akhir-akhir ini mereka sudah tidak datang lagi, dan mereka juga tidak meneleponku lagi. Mungkin Papa membayar mereka sedikit demi sedikit? Entahlah, aku tidak peduli juga. Aku senang mereka tidak menggangguku lagi. Semoga saja mereka tidak akan pernah datang lagi," jawab Jisoo.


Minhyun tampak mengangguk pelan. "Baguslah kalau begitu. Wah, aku masih ingat saat orang-orang itu berteriak di depan rumahmu dan akhirnya menerobos masuk. Untung saja tante Hyojin sempat keluar dan berteriak minta tolong."


Jisoo meringis mengingat kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu itu. Beberapa orang suruhan rentenir datang kerumahnya waktu itu untuk mencari Papa. Saat itu Papa tidak dirumah, dan karena tidak percaya mereka menerobos masuk sambil membawa balok kayu sebagai senjata. Jisoo ingat betapa kaget dirinya waktu itu. Beruntung tante Hyojin berhasil keluar dan berteriak hingga beberapa warga yang ada di sekitar datang dan orang-orang itu akhirnya pergi.


Tante Hyojin adalah adik perempuan Papa Jisoo. Usianya masih termasuk muda, baru tiga puluh lima tahun. Dia adalah wanita yang sudah merawat Jisoo semenjak kedua orangtuanya bercerai dan papanya berubah menjadi seorang pemabuk dan tidak pernah memperhatikan Jisoo dengan baik.


Hyojin bukan tipe wanita yang hangat. Dia bahkan tidak pernah menunjukkan bentuk kasih sayang apa pun pada Jisoo. Hyojin hanya selalu berada di rumah, memberinya makan dan menyiapkan apa yang Jisoo perlukan. Meski begitu, Jisoo selalu bersyukur Hyojin tinggal bersama mereka. Baginya, tantenya itu jauh lebih baik daripada mamanya yang meninggalkan rumah tanpa membawa serta dirinya.


"Ngomong-ngomong, kamu gimana? Apa rencana liburanmu?" Tanya Minhyun sambil merapatkan jaketnya. "Udaranya makin dingin ya, sepertinya nanti malam bakalan turun salju."


Jisoo memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan mengangguk setuju sambil menengadahkan kepala menatap langit. Ia kemudian menoleh ke arah Minhyun. "Yang pasti aku akan bekerja di kafe milik kak Joohyun seperti biasanya. Dan rencananya aku mau ikut kursus musim dingin di sore hari."


Minhyun menoleh ke arah Jisoo. "Kamu mau ikut kursus musim dingin? Ngapain?"


"Aku kan harus mempersiapkan diri untuk ikut ujian beasiswa masuk ke Yonsei. Kalau tidak dengan beasiswa aku mana bisa kuliah di sana," jawab Jisoo.


"Ah, iya," Minhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kemudian dia melebarkan matanya dan menatap Jisoo sambil tersenyum. "Aku dapat ide."


Jisoo menatap Minhyun dengan satu alis terangkat. "Ide? Ide apa?"


"Aku rasa aku harus daftar di kursus yang sama denganmu."


"Kamu?" Tanya Jisoo sambil menatap Minhyun bingung.


"Iya. Kalau aku ikut kursus musim dingin, kan aku bisa bilang ke papaku kalau aku tidak sempat untuk datang ke Jepang," jawab Minhyun sambil tersenyum lebar.


"Ya ampun, itu ide yang bagus," kata Jisoo sambil tertawa dan mengangguk-angguk dengan penuh semangat. Minhyun ikut tertawa sambil menyodorkan telapak tangannya ke arah Jisoo, yang disambut oleh Jisoo dengan menjulurkan telapak tangannya hingga tangan mereka bertemu.


Mereka tiba di depan rumah Jisoo tak lama kemudian. Rumah Jisoo berada di depan kompleks perumahan Minhyun. Jisoo ingat pertama kali bertemu dengan Minhyun saat usianya delapan tahun. Saat itu keluarga Minhyun dan keluarganya sama-sama baru pindah ke daerah ini. Karena tinggal dekat dan masuk ke sekolah yang sama, Jisoo dan Minhyun jadi selalu pergi dan pulang sekolah bersama. Mereka pun mulai berteman hingga saat ini.


"Aku rencananya mau daftar kursus besok. Kamu datang ke kafe kak Joohyun ya besok sore. Kita pergi daftar sama-sama," kata Jisoo.


Minhyun mengangguk. Mereka pun melambaikan tangan dan segera masuk ke rumah masing-masing.


...----------------...