![AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/after-dusk--jisoo---jihoon-.webp)
Jisoo keluar dari bilik kamar mandi dan berjalan menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Ia menatap dirinya lama di kaca, memastikan matanya tidak bengkak karena menangis barusan. Setelah yakin matanya terlihat baik-baik saja, Jisoo langsung bergegas kembali ke dapur. Begitu tiba di dapur, mata Jisoo menangkap pemandangan piring dan gelas yang menumpuk di bak cuci piring. Jisoo mengedarkan pandangan ke sekitar, hanya ada Hyewon dan dua orang palayan lain yang terlihat sedang sibuk menyiapkan pesanan. Jisoo menarik napas pelan dan berjalan ke arah bak cuci piring. Ia meraih sarung tangan karet yang tergeletak di samping bak cuci piring dan memakainya. Baru saja Jisoo akan mulai mencuci piring ketika terdengar seseorang memanggil namanya. Jisoo menoleh dan melihat Joohyun yang mengintip dari balik pintu dapur.
"Kak Joohyun, ada apa?" Tanya Jisoo sambil membalikkan badannya menghadap Joohyun.
"Aku dan Mina harus keluar untuk mengurus sesuatu, kamu gantikan dia menjaga kasir ya. Sebentar saja kok. Minta yang lain saja untuk mencuci piring dan gelas," kata Joohyun.
"Oh, baik kak," jawab Jisoo sambil melepas kembali sarung tangan yang sudah dipakainya. Ia segera keluar dari dapur dan berdiri di balik meja kasir.
Jisoo tidak bisa menahan dirinya untuk melirik ke arah meja nomor sembilan dan melihat ternyata Jihoon masih duduk di sana. Dia tampak sedang asik mengobrol dan sesekali terlihat tertawa.
Jisoo merapatkan bibirnya. Bohong kalau Jisoo bilang ia tidak merindukan adik laki-lakinya itu. Beberapa kali ia pernah membuka bingkai foto yang ada di meja kamarnya dan menatapi satu-satunya foto Jihoon yang ia punya. Selama ini, Jisoo selalu penasaran bagaimana tampang Jihoon setelah tiga belas tahun berlalu. Ternyata Jihoon tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan.
"Kamu sedang melihat apa?"
Sedikit tersentak, Jisoo langsung menoleh ke arah suara di sampingnya. Dilihatnya Dayoung, salah satu teman kerjanya, sedang menatap ke arah yang dilihat oleh Jisoo. Jisoo meletakkan tangannya di dada dan menepuk lengan Dayoung pelan.
"Bikin kaget saja," gerutu Jisoo. Dayoung menoleh ke arah Jisoo dan menyengir lebar.
"Maaf. Lagian kamu kelihatan serius banget. Lihatin apa sih? Jangan-jangan kamu sedang lihatin meja yang itu, ya?" Tanya Dayoung sambil menunjuk meja nomor sembilan dengan ibu jarinya.
"Enggak. Aku gak ngelihatin apa-apa kok," jawab Jisoo sambil menggeleng pelan dan menyibukkan diri dengan merapikan barang-barang yang ada di meja kasir.
"Eiii, jangan bohong. Kamu jelas-jelas melihat ke arah sana dengan sangat serius. Kenapa? Kamu naksir laki-laki yang duduk di meja itu?" Tanya Dayoung lagi. Jisoo langsung menoleh dan mendelik pada Dayoung.
"Jangan ngelantur," jawab Jisoo ketus. Jisoo melirik sekilas ke arah Jihoon, seandainya saja Dayoung tahu kalau laki-laki yang dia bicarakan itu sebenarnya adalah adiknya.
"Ya mana tahu kan. Lihat aja deh dia tampan sekali. Aku yakin dia pasti sangat populer dan jadi rebutan cewek-cewek. Lihat saja, dia makan bersama dua cewek sekaligus." Kata Dayoung. Jisoo langsung melirik Dayoung dan menggeleng tidak percaya.
"Yang ada di hadapannya itu adik perempuannya," kata Jisoo dengan nada ketus.
"Kok kamu tahu?" Tanya Dayoung sambil menatap Jisoo dengan mata melebar.
"Aku dengar mereka berbicara saat mengantar pesanan mereka tadi," jawab Jisoo. Ia kemudian mendorong Dayoung menjauh, "Tuh ada meja yang harus dibersihkan. Pergi sana."
Dayoung memajukan bibirnya dan mengomel-ngomel tanpa suara sambil melirik Jisoo. Jisoo mengibas-ngibaskan tangannya, mengusir Dayoung pergi.
Baru saja Jisoo akan mulai kembali merapikan meja, ia merasakan ponselnya bergetar. Jisoo mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat ada satu pesan masuk dari Minhyun. Ia segera membaca pesan tersebut dan ia tersenyum. Minhyun memberitahunya bahwa dia sudah pasti tidak akan pergi ke Jepang liburan kali ini. Minhyun mengajak Jisoo untuk bertemu dan mendaftar kursus musim dingin bersama sore ini.
Terdengar ketukan pelan pada meja kasir. Jisoo mengangkat wajahnya dan melihat Dayoung yang kini berdiri di depan meja kasir.
"Meja nomor sembilan minta struk," kata Dayoung. Jisoo mengangguk dan dengan cepat langsung mencetak struk dan memasukkannya ke dalam satu buku struk berwarna kuning dengan logo kafe mereka tercetak besar di tengah-tengahnya. Dayoung segera pergi setelah Jisoo menyodorkan buku itu padanya.
Dayoung meletakkan buku struk di atas meja dan tersenyum ramah pada Jihoon, Jihu dan Yoojung. "Pembayarannya bisa langsung ke kasir saja ya."
Setelah mengucapkan terimakasih, Dayoung pun meninggalkan meja tersebut. Jihoon, Jihu dan Yoojung segera berdiri dan berjalan ke meja kasir. Jisoo yang melihat mereka berjalan mendekat menarik napas panjang dan berusaha memasang wajah sesantai mungkin dan tersenyum.
Jihoon meletakkan buku struk di hadapan Jisoo dan mengeluarkan dompetnya ketika Yoojung tiba-tiba menahan tangan Jihoon.
"Biar aku saja yang bayar," kata Yoojung. Jihoon menurunkan tangan Yoojung dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, biar aku saja." Jihoon langsung mengeluarkan kartunya dan memberikannya pada Jisoo. Jisoo mengambil kartu yang disodorkan oleh Jihoon dan langsung menunduk menatap mesin kasir yang ada di hadapannya. Setelah selesai, Jisoo langsung mengembalikan kartu dan struk pada Jihoon sambil mengucapkan terimakasih. Ia berusaha tersenyum dan terlihat sebiasa mungkin sampai ketiganya menghilang di balik pintu kafe. Setelah mereka keluar, Jisoo langsung menghembuskan napas lega. Ia terus menatapi punggu Jihoon yang berjalan semakin menjauh dan akhirnya tidak terlihat lagi.
Jihoon, Jihu dan Yoojung berjalan bersisihan sambil mengobrol santai.
"Ngomong-ngomong, wanita yang di kasir tadi sangat cantik, kan?" Kata Yoojung tiba-tiba. "Wajahnya cantik sekali, dan entah kenapa terlihat sedikit familiar."
"Iya kan! Tadi aku pikir aku saja yang merasa wajahnya familiar. Wajahnya agak mirip dengan kak Jihoon," kata Jihu sambil menoleh ke arah Jihoon.
Jihoon langsung menatap ke arah Jihu dengan mata melebar. "Hah? Mirip aku?"
"Hmm... setelah dilihat-lihat iya sih benar. Wajahnya agak mirip dengan kamu," kata Yoojung sambil menatapi wajah Jihoon.
"Kalau kata orangtua, mirip itu jodoh loh," kata Jihu.
Jihoon tertawa mendengar ucapan Jihu dan ia menggelengkan kepalanya. Jihoon lalu melirik jam tangannya dan mengganti topik pembicaraan, "Sudah jam dua lewat, sebaiknya kita cepat ke museum sekarang."
...*** ...
Jisoo mengunci lokernya dan memperhatikan bayangan dirinya di cermin besar yang ada di ruang ganti. Ia melingkarkan syal ungu kesayangannya di leher dan merapikan jaket yang dipakainya. Setelah yakin penampilannya sudah rapi, Jisoo segera keluar dari ruang ganti yang menyatu dengan dapur.
Begitu keluar, Jisoo melihat Joohyun yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa pelayan yang akan bekerja untuk shift malam.
"Kak Joohyun, aku pergi dulu ya," kata Jisoo. Joohyun menoleh padanya dan tersenyum ramah.
"Hmm. Aku lihat Minhyun sudah menunggu kamu di depan. Kalian mau ke mana?" Tanya Joohyun.
"Kami mau pergi mendaftar kursus musim dingin," jawab Jisoo sambil tersenyum.
"Minhyun mau daftar kursus musim dingin? Tumben sekali?" Kata Joohyun sambil menaikkan satu alisnya. Jisoo tertawa pelan mendengar ucapan Joohyun. Minhyun memang bukan tipe orang yang suka belajar, meski begitu nilainya di sekolah tidak pernah buruk, dan kadang Jisoo suka iri dengan fakta tersebut. Setelah berpamitan sekali lagi, Jisoo langsung keluar dari dapur dan melihat Minhyun yang sedang duduk di salah satu meja sambil memainkan ponselnya.
Jisoo berjalan mendekat dan menepuk pundak Minhyun pelan. "Hei, ayo pergi. Sepertinya akan turun salju malam ini, kita harus cepat."
Minhyun menoleh ke arah Jisoo lalu mengalihkan pandangannya ke luar kafe. Minhyun berdiri dan memakai ranselnya. Mereka pun segera keluar dari cafe dan berjalan ke halte bus yang berada di ujung jalan.
"Papamu bilang apa saat kamu bilang mau ikut kursus musim dingin?" Tanya Jisoo saat mereka sudah tiba di halte dan sedang duduk menunggu bus.
"Dia terdengar kaget sih, haha. Dia sampai bertanya kenapa aku tumben mau mendaftar kursus saat liburan," jawab Minhyun sambil tertawa pelan.
"Ya ampun, tadi kak Joohyun juga bilang begitu," kata Jisoo sambil ikut tertawa mendengar jawaban Minhyun.
"Kak Joohyun?" Tanya Minhyun sambil menatap Jisoo.
Jisoo mengangguk, masih tertawa. "Iya. Tadi saat aku keluar, dia bertanya kita mau ke mana. Saat aku bilang mau pergi mendaftar kursus musim dingin, respon kak Joohyun sama seperti papamu."
Minhyun terkekeh pelan. "Kak Joohyun memang tahu saja."
Tidak heran kalau Joohyun mengetahui sifat Minhyun dengan baik. Dia memang sudah mengenal Minhyun sejak lama karena bersahabat baik dengan Soojin, kakak perempuan Minhyun. Jisoo juga bisa mengenal Joohyun melalui Soojin. Joohyun adalah wanita yang sangat baik. Ketika mengetahui keadaan Jisoo, dia langsung dengan senang hati membiarkan Jisoo bekerja di kafe miliknya setiap akhir pekan.
Bus tiba tak lama kemudian. Mereka segera berdiri dan masuk ke dalam bus. Suasana di dalam terlihat cukup sepi. Hanya ada tujuh orang termasuk Jisoo dan Minhyun di dalam bus. Mereka memilih duduk di deretan tengah. Jarak menuju tempat kursus tidak terlalu jauh, hanya akan memakan waktu sekitar lima belas menit dengan bus.
"Aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku kalau sudah sampai ya," kata Jisoo sambil menoleh pada Minhyun yang duduk di sebelahnya.
"Hmm, oke," jawab Minhyun sambil mengangguk pelan.
Jisoo menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan menutup matanya. Begitu menutup mata, bayangan Jihoon dan mamanya langsung muncul di benaknya. Jisoo memiringkan kepalanya menghadap ke kanan, ke arah jendela yang ada di sampingnya. Ia berusaha menghalau setiap bayangan yang muncul di pikirannya, tapi bukannya menghilang malah bayangan adik tiri Jihoon ikut muncul di pikirannya. Jisoo membuka matanya dan menatap ke luar jendela. Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap lurus ke depan.
Minhyun yang sedang mendengarkan musik langsung melepas sebelah airpods-nya dan menatap Jisoo bingung. "Kenapa? Bukannya kamu mau tidur?"
Jisoo melihat ke arah Minhyun dan mencebikkan bibirnya. "Aku tidak bisa tidur."
Minhyun menyodorkan airpods-nya pada Jisoo. "Mau dengar musik saja?"
Jisoo mengangguk dan mengambil airpods dari tangan Minhyun. Jisoo kembali menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Ia melirik ke arah Minhyun yang juga sedang bersandar sambil menutup mata.
"Minhyun..." panggil Jisoo. Minhyun membuka matanya dan melirik ke arah Jisoo. "Malam ini aku nginap di tempat mu ya."
Minhyun mengerutkan keningnya. "Kenapa? Ada masalah lagi di rumah mu?"
Jisoo menggeleng pelan. Pernah beberapa kali papanya pulang dalam keadaan mabuk dan membuat masalah serta bertengkar dengan tantenya dirumah. Jisoo bisa saja mengunci diri di kamar, namun keributan yang terjadi tidak pernah sebentar dan suaranya akan terdengar hingga ke dalam kamarnya. Jisoo benar-benar tidak tahan dengan itu. Dia pun beberapa kali menyelinap keluar, menginap di rumah Minhyun dan tidur di kamar milik kak Soojin di sana.
"Aku mau cerita sesuatu, dan ingin dengar pendapatmu juga. Ceritanya mungkin akan panjang. Jadi aku rasa sebaiknya aku nginap di tempat mu saja biar bisa cerita panjang lebar," jawab Jisoo.
Minhyun mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Hmm, oke."
Jisoo tersenyum, ia lalu menarik ponsel Minhyun untuk menukar lagu yang sedang berputar. Sisa perjalanan itu pun mereka habiskan dengan berdebat soal lagu mana yang harus mereka dengar.
...----------------...