AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]

AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]
BAB 2



Sebuah mobil SUV berwarna putih melaju santai di jalanan kota Seoul yang sore itu terlihat cukup ramai seperti biasanya.


Di dalam mobil, Jihoon menyandarkan kepalanya pada jok kursi sambil menatap keluar jendela, memperhatikan pemandangan apa pun yang dilewati oleh mobil yang sedang ditumpanginya itu. Jihoon menoleh dan menatap mamanya yang sedang duduk di balik kemudi, terlihat menyetir dengan serius.


Pikiran Jihoon kembali pada seorang gadis yang tadi ia lihat di mall. Jihoon masih ingat raut wajah mamanya saat menatap gadis itu tadi. Mama menatap gadis itu dengan tatapan yang tidak bisa Jihoon artikan. Yang pasti, ada kesan kaget yang bisa ditangkap oleh Jihoon dari mata mamanya saat itu.


Ia sendiri juga sempat melihat wajah gadis itu. Walaupun hanya sekilas karena dia langsung berbalik dan pergi tadi, entah kenapa rasanya wajah gadis itu tidak asing bagi Jihoon. Ia seperti pernah melihat wajah itu, padahal Jihoon yakin ia tidak pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.


Atau mungkin pernah dan ia sudah lupa di mana?


"Jihoon, ada apa?" Tanya Mama tiba-tiba.


Jihoon sedikit tersentak dan matanya melebar, kaget dengan pertanyaan mamanya yang tiba-tiba itu. "Apa?"


Mama melirik Jihoon sesaat, lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya. "Dari tadi kamu menatapi Mama terus. Ada apa? Ada yang mau kamu katakan? Atau ada sesuatu di wajah Mama?"


Jihoon menggaruk lehernya, ia tidak sadar dari tadi sudah menatapi mamanya begitu lama. "Ah, enggak kok, Ma. Aku cuma lagi mikir saja."


"Lagi mikir? Kamu mikirin apa kok sampai menatapi Mama lama banget gitu?" Tanya Mama sambil melirik Jihoon lagi.


"Tadinya aku mau bilang kalau cuacanya sudah semakin dingin. Tapi waktu aku lihat Mama cuma pakai kemeja dan blazer, aku jadi mikir apakah Mama gak merasa kedinginan," jawab Jihoon mengarang alasan. Ya, tidak sepenuhnya bohong juga, karena memang cuacanya cukup dingin saat ini.


Mama tersenyum. "Jadi kamu khawatir kalau Mama kedinginan?"


"Hmm," respon Jihoon singkat sambil tersenyum tipis.


Senyum di wajah Mama terlihat semakin lebar. "Wah, anak Mama sudah besar dan bisa mengkhawatirkan Mama sekarang."


Jihoon tertawa pelan. "Aku sudah tujuh belas tahun, tentu saja aku sudah besar dan bukan anak kecil lagi."


Mama tertawa mendengar ucapan Jihoon. Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya dan berniat mengacak-acak rambut Jihoon, namun kalah cepat dengan Jihoon yang langsung menghindari tangan mamanya.


"Kamu tidak perlu khawatir. Sejak dulu Mama memang tahan dengan cuaca dingin. Kamu kedinginan, ya? Perlu Mama naikkan heater-nya?" Kata Mama sambil kembali fokus menyetir.


"Tidak, nggak usah, Ma. Udaranya cukup dingin, tapi aku tidak kedinginan kok," jawab Jihoon sambil menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum. Sebenarnya dirinya sudah tahu kalau mamanya tahan dengan cuaca dingin.


Suasana di dalam mobil kembali hening. Jihoon menatap lurus ke depan, dan ia kembali teringat dengan gadis di mall tadi. Dia berpikir apakah sebaiknya ia tanyakan saja soal gadis itu kepada mamanya agar rasa penasarannya hilang. Tapi setelah dipikir-pikir kembali, sepertinya itu bukan hal yang penting. Jihoon pun mengurungkan niatnya dan kembali menatap keluar jendela.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Mama melambat dan berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang terlihat cukup besar. Mama merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah remot kecil dari dalam sana. Dengan satu tekanan pada salah satu tombol yang ada di remot tersebut, pintu pagar terbuka secara otomatis. Mobil pun kembali melaju masuk dengan perlahan ke dalam halaman rumah yang lebar.


Jihoon melihat ada satu mobil sedan hitam yang terparkir di depan rumah, yang artinya papanya sudah pulang dari kantor. Setelah memarkirkan mobil, mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah. Begitu tiba di dalam, mereka disambut oleh Bibi Jang, seorang pelayan yang sudah bekerja di rumah mereka selama bertahun-tahun.


"Bapak dan Jihu sudah lama sampai di rumah, Bi?" Tanya Mama sambil meletakkan tas tangannya di meja dan melepas blazernya.


"Bapak sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu. Tapi Nona Jihu belum pulang, Bu," jawab Bibi Jang sambil mengambil blazer dari tangan Mama.


"Jihu belum pulang?" Mama langsung melirik jam tangannya, sudah pukul enam lewat lima belas menit. Mama menoleh pada Jihoon yang masih berdiri di belakang mamanya, mendengarkan percakapan antara Mama dan Bibi Jang.


"Jihoon, cepat naik dan mandi. Mama mau menyiapkan makan malam dulu bersama Bibi Jang. Nanti turun untuk makan malam jam tujuh, ya. Terus, coba kamu telepon Jihu, tanya dia ada di mana dan kenapa tidak pulang bersama Papa," kata Mama. Jihoon mengangguk dan langsung berbalik untuk naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.


Begitu tiba di kamar, Jihoon melepas ranselnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menelepon Jihu, adik perempuannya yang dua tahun lebih muda darinya.


"Halo," terdengar suara Jihu dari seberang.


"Halo. Kamu di mana? Kenapa gak pulang bareng Papa?" Tanya Jihoon sambil berjalan ke arah jendela kamarnya dan melihat keluar. Pemandangan sisi kanan halaman rumah yang dihiasi oleh sederetan pohon yang saat ini sedang tidak berdaun di musim dingin terlihat dari sana.


"Tadi ada yang harus aku kerjakan di tempat kursus, dan memang minta gak usah dijemput. Ini aku sudah sampai di gerbang rumah kok. Kak, bisa keluar sebentar?" Kata Jihu.


Jihoon menggeser posisi berdirinya. Ia membuka jendela dan mencondongkan badannya keluar, berusaha melihat ke arah gerbang depan. Dari posisinya, ia bisa melihat Jihu yang sedang turun dari sebuah mobil hitam sambil menarik keluar sesuatu yang cukup besar dari dalam sana. Seorang gadis lain tampak turun dan ikut membantu Jihu.


"Hmm, sebentar," kata Jihoon lalu mematikan teleponnya. Ia melempar ponselnya ke atas kasur, setengah berlari ia keluar dari kaman dan turun menuju gerbang depan. Begitu tiba di luar, Jihoon melihat Jihu yang sedang berbicara dengan seorang gadis dengan rambut hitam panjang sepinggang.


"Jihu," panggil Jihoon sambil membuka pintu pagar lebih lebar. Jihu dan gadis tersebut berbalik begitu begitu mendengar suaranya.


"Kak, sini, bantu aku bawa ini ke dalam," kata Jihu memanggil Jihoon untuk mendekat. Jihoon melangkah maju sambil menatap satu bingkisan putih besar yang Jihu letakkan di lantai, menyandar pada kakinya.


"Kamu bawa apaan?" Tanya Jihoon penasaran.


Jihu melirik bingkisan yang ada di dekat kakanya. "Ini lukisan yang aku ceritakan waktu itu."


"Ini kakak laki-lakimu, ya?" Tanya gadis berambut panjang yang sedari tadi hanya diam. Jihoon mengalihkan pandangannya pada gadis yang berdiri di samping Jihu itu dan tatapan mereka bertemu. Gadis itu langsung tersenyum lebar padanya. Jihoon terdiam sesaat. Gadis yang ada di hadapannya ini terlihat sangat cantik dengan mata yang besar dan melengkung seperti bulan sabit saat tersenyum.


Jihoon membalas gadis itu dengan senyuman tipis.


Gadis bernama Yoojung itu mengulurkan tangannya ke arah Jihoon. "Salam kenal, Jihoon. Jihu sudah pernah menceritakan tentang kamu padaku."


Jihoon meraih tangan Yoojung dan tersenyum, kemudian ia melirik Jihu dengan tatapan curiga. "Aku harap dia tidak menceritakan hal-hal aneh."


Jihu menatap kakaknya itu dengan tatapan sinis. "Ya enggak dong, kamu pikir aku ini apaan. Aku cuma cerita ke kak Yoojung kalau kalian seumuran."


Yoojung tertawa pelan. "Tenang saja, Jihu tidak menceritakan hal aneh kok."


Setelah mengobrol beberapa saat, Yoojung pamit pulang dan mereka pun masuk ke dalam rumah. Jihoon meletakkan lukisan Jihu di atas meja ruang tengah dan membuka kertas pembungkusnya. Satu lukisan potret wanita bergaun merah layaknya putri kerajaan yang sangat cantik langsung terlihat. Jihoon mundur satu langkah dan memandangi lukisan itu dengan kagum.


"Wah, bagus sekali," komentar Jihoon kagum.


"Iya, dong. Siapa dulu yang lukis? Park Jihu!" Kata Jihu sambil menyenggol lengan Jihoon dan tersenyum puas. Jihoon menyenggol balik lengan adiknya itu dan mengacak-acak rambutnya, yang ditanggapi dengan jeritan kesal oleh Jihu. Papa yang sedang menuruni tangga tersenyum melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


"Kalian sedang apa?" Tanya Papa. Jihoon dan Jihu langsung menoleh begitu mendengar suara Papa. Jihu langsung berlari kecil ke arah Papa dan menarik tangan papanya untuk melihat lukisan yang ada di meja.


Papa memandangi lukisan hasil karya Jihu itu sambil tersenyum. "Cantik sekali lukisannya."


"Sayang sekali yang melukis tidak secantik lukisannya kan, Pa?" Timpan Jihoon. Jihu langsung menjulurkan tangannya untuk menjambak rambut kakaknya itu, tapi Jihoon dengan cepat langsung bersembunyi di balik badan papanya. Suasanya langsung kembali ribut dengan suara tawa Jihoon dan omelan kesal dari Jihu. Papa hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua anaknya itu.


"Jihu, kamu baru pulang?"


Ketiganya langsung diam dan berbalik begitu mendengar suara Mama. Mama terlihat berjalan keluar dari dapur ke arah mereka.


"Jihoon, kenapa kamu juga masih pakai seragam sekolah?" Tanya Mama sambil mengerutkan keningnya.


"Tadi aku belum sempat mandi soalnya Jihu memintaku untuk keluar dan membantunya membawa lukisan ini ke dalam," jawab Jihoon sambil menunjuk lukisan yang ada di atas meja. Mama memiringkan kepalanya dan melirik ke atas meja.


"Wah, lukisannya sudah jadi?" Mama berjalan mendekat dan langsung berdecak kagum.


"Ma, tadi kak Jihoon bilang aku tidak secantik wanita di dalam lukisan ini," Jihu langsung mengadu sambil memeluk lengan mamanya dan memasang wajah cemberut.


Mama melirik ke arah Jihoon dengan ekspresi wajah seolah-olah marah, dan Jihoon langsung mengangkat kedua tangannya sambil terkekeh pelan.


Mama kembali menatap Jihu dan tersenyum. "Jangan di dengar. Anak Mama sudah pasti yang paling cantik."


Jihoon langsung membuat suara seolah-olah ingin muntah. Baru saja Jihu ingin kembali mengomel, Papa langsung menengahi dan berbicara.


"Sudah-sudah, jangan ribut lagi. Sudah hampir jam tujuh, nih. Kalian berdua cepat naik dan mandi. Mama juga mandi dulu sana. Setelah itu kita langsung makan malam," kata Papa sambil mendorong Jihoon dan Jihu pelan ke arah tangga.


Mereka berdua langsung naik ke atas, tentu saja sambil kembali berdebat. Mama yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menggeleng-geleng pelan, sementara Papa terdengar tertawa pelan.


...***...


Jihoon mengunyah makan malamnya sambil menatap Jihu yang terlihat begitu bersemangat menceritakan bagaimana proses saat dia membuat lukisannya dan bagaimana tanggapan guru dan teman-temannya di tempat kursus. Suasana di meja makan malam itu benar-benar terasa santai dan hangat.


"Bagaimana kalau lukisannya kita gantung di ruang tamu? Sepertinya akan terlihat sangat bagus di sana. Gimana menurut Papa?" Tanya Mama sambil tersenyum.


"Sepertinya itu ide yang bagus," jawab Papa sambil mengangguk. Jihoon ikut mengangguk setuju sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Oh iya, Jihoon," kata Mama sambil menoleh ke arah Jihoon yang duduk di sampingnya.


"Iya?" Jihoon menolehkan wajahnya ke arah Mama.


"Mama sudah mendaftarkan kamu di dua kursus musim dingin. Kelasnya akan dimulai hari Senin, jam sembilan pagi dan jam tujuh malam," kata Mama.


"Nanti Papa yang akan mengantar dan menjemput kamu setiap hari," timpal Papa sambil tersenyum pada Jihoon.


Jihoon menatap mama dan papanya bergantian, kemudian ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. "Hmm, oke."


"Ma, kenapa sih kak Jihoon harus kursus pelajaran terus saat liburan? Liburan itu kan untuk bersantai-santai bukan belajar. Mending ikut kursus melukis, atau kursus lainnya," komentar Jihu sambil menatap Mama dan Papa bergantian. Jihoon tersenyum mendengar ucapan adiknya itu. Ia ingat dulu pernah sekali papanya mengatakan hal yang sama, namun langsung diomeli oleh Mama.


Jihoon memang selalu didaftarkan ikut kursus saat liburan, dengan alasan agar dirinya bisa mempertahankan nilainya yang selalu sempurna di sekolah. Mama selalu berharap Jihoon bisa lulus sekolah dengan nilai yang baik dan bisa masuk ke universitas ternama. Dan Jihoon tidak pernah berani untuk menolak perintah mamanya ini.


Berbeda dengan Jihoon, Jihu tidak pernah didaftarkan untuk ikut kursus saat liburan tiba. Satu-satunya kursus yang diikuti oleh adiknya itu adalah kursus melukis, itu juga atas permintaannya sendiri. Terkadang Jihoon suka merasa iri pada Jihu. Dirinya juga ingin mengikuti kursus yang ia sukai. Tapi mamanya tidak mengizinkan, Mama bilang ia bisa mengikutinya nanti kalau sudah lulus sekolah dan berhasil masuk ke universitas.


Mama pun terdengar mengomel-ngomel panjang lebar, membicarakan tentang prestasi Jihoon di sekolah dan mengapa ia harus selalu ikut kursus. Jihu terlihat mencebikkan bibirnya dan menggosok-gosok telinganya. Jihoon tersenyum dan kembali menyendokkan makanannya.


...----------------...