![AFTER DUSK [Jisoo & Jihoon]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/after-dusk--jisoo---jihoon-.webp)
Dering alarm yang kencang membangunkan Jisoo dari tidur lelapnya. Jisoo membuka matanya perlahan dan pemandangan pertama yang tertangkap oleh matanya adalah langit-langit kamarnya yang terlihat sangat kusam. Jisoo menutup kembali matanya, membiarkan bunyi alarm yang sangat nyaring itu menggema ke seluruh penjuru kamarnya.
Setelah beberapa menit, Jisoo kembali membuka mata. Ia menjulurkan tangannya dengan malas ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Hanya dengan satu gesekan pelan pada layar ponsel, suasana kamar kembali hening.
Jisoo bangun dan duduk di tempat tidurnya. Ia menatap lurus ke depan. Pikirannya kembali pada mimpinya sebelum terbangun tadi. Jisoo memang tipe orang yang hampir selalu bermimpi setiap malam, tapi biasanya ia akan lupa apa mimpinya saat dirinya terbangun, mau itu mimpi buruk atau bukan. Tapi kali ini Jisoo dapat mengingat dengan jelas mimpinya semalam.
Jisoo kembali teringat, dulu saat dirinya masih kecil, mimpi yang sama ini selalu datang menghantuinya setiap malam, dan setiap kali terbangun dirinya hanya bisa menangis sendirian di kamarnya. Sudah lama mimpi itu tidak pernah menghampirinya lagi, dan Jisoo sudah mulai lupa dengan rasa sakit dan sedih yang ditimbulkan oleh mimpi itu hingga akhirnya mimpi itu datang kembali hari ini. Jisoo menghela napas kuat. Mungkin karena kemarin ia bertemu lagi dengan wanita yang sudah tega meninggalkan dirinya tiga belas tahun yang lalu. Wanita yang sangat ia benci. Mamanya...
Jisoo menolehkan kepala ke arah meja belajar yang ada tidak jauh dari kasurnya. Diatas meja itu, berdiri satu bingkai foto kayu berukuran kecil yang berisi foto dirinya saat masih berusia enam tahun. Jisoo menatapi foto itu lama. Foto itu sebenarnya berisi gambar dirinya bersama Mama, Papa dan adik laki-lakinya, Kim Jihoon. Foto itu diambil hanya beberapa bulan sebelum mama dan papanya bercerai. Jisoo sengaja melipat foto itu dan memasukkannya ke dalam bingkai hingga hanya menampilkan gambar dirinya saja.
Kedua orangtuanya bercerai tiga belas tahun yang lalu, saat dirinya masih berusia enam tahun. Setelah bercerai, Mama pergi dengan hanya membawa Jihoon yang waktu itu masih berusia empat tahun. Jisoo tidak pernah bisa mengerti mengapa mamanya meninggalkan dirinya yang masih kecil bersama Papa yang jelas-jelas sejak awal tidak pernah merawat mereka bertiga dengan baik.
Ingatan Jisoo melayang pada laki-laki yang ia lihat bersama mamanya kemarin. Jisoo yakin itu adalah Jihoon. Sungguh aneh bagaimana Jisoo bisa langsung mengenali mereka berdua walaupun tiga belas tahun sudah berlalu. Tidak banyak yang berubah dari wajah mamanya, begitu juga dengan Jihoon yang wajahnya tetap terlihat persis seperti saat terakhir kali Jisoo melihatnya, bedanya hanya dia sudah tumbuh besar. Mama dan adiknya itu terlihat bahagia, mereka sepertinya hidup dengan baik. Ia sama sekali tidak menyangka akan melihat mereka setelah sekian tahun berlalu. Selama ini ia berpikir mungkin Mama dan adiknya itu sudah pindah ke kota, atau bahkan ke negara lain, makanya mereka tidak pernah sekali pun datang untuk mencari dan menemuinya.
Jisoo mengusap wajahnya dan melirik jam yang tergantung di dinding di atas meja belajarnya. Sudah pukul enam lewat dua puluh menit. Jisoo segera turun dari kasur dan berjalan ke arah jendela kecil yang ada di kamarnya. Ia menyibakkan kain gorden berwarna ungu tua yang menutupi jendela tersebut. Langit sudah terlihat cukup terang, dan jalanan di luar tampak tertutupi oleh salju tipis.
Jisoo menutup kembali gorden kamarnya dan berjalan menuju lemari baju. Liburan sudah dimulai, dan hari ini ia akan mulai bekerja di sebuah kafe yang ada di daerah Myeongdong. Jisoo sudah sering bekerja paruh waktu di sana selama tiga tahun belakangan ini. Biasanya dia hanya bisa bekerja di akhir pekan karena sekolah, namun saat sedang liburan seperti saat ini dirinya akan bekerja dari pagi hingga sore hari. Pemilik kafe tersebut adalah teman dekatnya kakak Minhyun.
Jisoo menutup lemarinya dan langsung berjalan ke kamar mandi yang ada di luar kamar tidurnya untuk bersiap-siap pergi bekerja.
...***...
Suara bel bergemerincing terdengar ketika Jihoon mendorong pintu kafe. Ia menahan pintu agar tetap terbuka dan mempersilahkan Jihu untuk masuk.
"Makasih," kata Jihu sambil tersenyum. Jihoon membalas senyumannya dan mereka berdua masuk ke dalam kafe. Kafe terlihat cukup ramai siang itu. Jihu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari seseorang.
"Sepertinya kak Yoojung belum sampai," kata Jihu sambil berbalik menatap Jihoon yang berdiri di belakangnya.
"Kalau begitu kita duduk saja duluan. Kamu sudah bilang kalau kita tunggu di sini kan?" Tanya Jihoon.
"Sudah, tadi aku bilang kita akan makan di sini dulu sebelum pergi ke museum," jawab Jihu. Jihu dan Yoojung berencana untuk pergi ke pameran lukisan yang diadakan di sebuah museum yang ada di dekat daerah Myeongdong. Saat Jihu bertanya apakah Jihoon mau ikut, ia langsung menyetujuinya. Lagipula tidak ada yang bisa ia kerjakan di rumah.
"Ya sudah. Kamu mau duduk di mana?" Tanya Jihoon lagi sambil melihat sekitar.
Jihu mengedarkan pandangannya dan menunjuk ke satu meja yang ada di sudut ruangan, di dekat jendela. "Di sana saja."
Mereka berjalan ke arah meja tersebut dan langsung duduk. Tepat saat Jihu ingin memanggil pelayan, ponselnya berbunyi. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan melihat nama Yoojung tertulis di layar.
"Halo, kak Yoojung?" Jawab Jihu. Dia hanya mendengarkan beberapa saat lalu menoleh dan mengintip ke luar jendela. "Yang mana? Tunggu sebentar, aku akan kesana."
Jihu mematikan teleponnya dan melihat ke arah Jihoon. "Kak, aku keluar sebentar ya, tidak akan lama. Ada sedikit urusan, kak Yoojung memintaku untuk ke mobilnya."
"Urusan? Urusan apa?" Jihoon menatap Jihu dengan tatapan bertanya.
"Urusan perempuan, kakak tidak perlu tahu. Tolong pesankan minuman ya. Aku mau Iced Tiramisu, dan Mango Smoothies untuk kak Yoojung."
"Enggak. Kak Yoojung memang selalu memesan itu kalau kami hangout bareng. Pesankan saja, aku ke luar sebentar." Jihu langsung berdiri dan keluar tanpa menunggu Jihoon berbicara lagi.
Jihoon menatapi punggung adiknya itu dan menghela napas pelan. Ia langsung memanggil pelayan dan memesan minuman. Sekitar sepuluh menit kemudian Jihu kembali bersama Yoojung. Yoojung tersenyum dan melambai pada Jihoon, yang dibalasnya dengan senyuman tipis.
"Maaf ya kamu jadi nunggu lama," kata Yoojung sambil menatap Jihoon dengan tatapan bersalah.
Jihoon menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak masalah."
"Kakak sudah memesan minuman, kan?" Tanya Jihu. Jihoon mengangguk pelan.
Sementara di dapur kafe, para pelayan tampak sibuk menyiapkan pesanan untuk setiap meja. Jisoo sedang memasukkan kotak-kotak dessert ke dalam kulkas ketika ia mendengar namanya dipanggil.
"Jisoo, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor sembilan," kata Hyewon, salah seorang pelayan yang bekerja di kafe milik Joohyun ini.
"Baik," jawab Jisoo sambil menutup kulkas dan mengangkat nampan berisi pesanan untuk meja nomor sembilan itu. Jisoo bergegas keluar dan berjalan ke meja tersebut sambil memasang senyuman ramah. Saat sudah semakin dekat, senyum di wajah Jisoo perlahan menghilang dan ia memperlambat langkahnya. Dari tempat ia berdiri, Jisoo bisa melihat dengan jelas Jihoon yang sedang tersenyum pada dua orang yang duduk di hadapannya.
Jisoo mengumpat dalam hati. Benar kata pepatah kalau dunia itu sempit. Bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Jihoon lagi di sini. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Jisoo menarik napas dan melanjutkan langkahnya. Ia berhenti di meja nomor sembilan, meja dimana Jihoon duduk. Dengan wajah sedikit menunduk, Jisoo meletakkan nampan berisi pesanan mereka di meja. Jisoo dapat merasakan Jihoon yang melihat ke arahnya, tapi sepertinya adiknya itu tidak mengenalinya karena dia langsung kembali menatap kedua orang yang duduk di hadapannya.
"Kakak memesan Americano?" Tanya Jihu sambil menatap minuman yang diletakkan oleh Jisoo.
"Iya. Kenapa?" Tanya Jihoon.
"Bukannya Mama sudah melarang kakak untuk minum Americano ya?" Tanya Jihu sambil menatap Jihoon dengan mata melebar. Jisoo melirik gadis yang baru saja berbicara.
"Kenapa Mama mu melarang Jihoon minum Americano?" Tanya Yoojung penasaran sambil menatap Jihu.
"Kak Jihoon punya penyakit maag. Dia pernah dilarikan ke rumah sakit gara-gara terlalu banyak minum Americano. Sejak itu Mama melarang kak Jihoon minum itu," jawab Jihu sambil menatap Yoojung lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Jihoon.
"Hanya sesekali tidak apa-apa. Lagipula beberapa kali saat pulang kursus dan singgah di kafe, aku minta izin Papa untuk pesan Americano dan Papa oke-oke saja, tuh," jawab Jihoon sambil menyeruput Americano-nya.
Tangan Jisoo yang ingin meletakkan gelas terakhir di meja sempat terhenti sebentar saat mendengar ucapan Jihoon. Ia kemudian lanjut meletakkan gelas tersebut. Setelah selesai Jisoo mengucapkan selamat menikmati dan langsung berjalan meninggalkan meja tersebut.
Sesampainya di dapur, Jisoo meletakkan nampan pada tempatnya dan meminta izin untuk ke toilet dengan alasan sakit perut. Ia masuk ke salah satu bilik yang ada di dalam toilet dan mendudukkan diri di sana.
Papa, ucap Jisoo di dalam hati.
Tadi Jihoon menyebut kata 'Papa'. Itu artinya mamanya sudah menikah lagi, dan gadis yang memanggil Jihoon dengan sebutan kakak tadi pasti anak mamanya bersama suami barunya.
Tiba-tiba Jisoo merasa sangat sedih. Setelah melihat Jihoon dari dekat dan ia juga sempat melirik adik tiri Jihoon, yang sebenarnya berarti adik tirinya juga, sangat jelas keduanya hidup dengan baik dan menerima kasih sayang dari kedua orangtua mereka.
Jisoo semakin merasa sedih. Bukan fakta bahwa Mama dan adiknya hidup dengan sangat baik sementara dirinya sangat menderita yang membuat Jisoo merasa sangat sedih. Namun fakta bahwa keduanya masih tinggal di kota yang sama dengan dirinya, tapi tidak sekali pun mereka datang untuk sekedar melihatnya. Sepertinya mereka benar-benar sudah melupakan dirinya. Jisoo merasa matanya memanas dan dadanya sesak dengan rasa sedih dan marah. Ia menendang pintu kamar mandi dan membiarkan air matanya jatuh.
...----------------...