
Katakan saja jika hari adalah hari khusus untuk Melisya dan Faiz yang sejak pagi tadi selalu bersama, mungkin kedua manusia itu tak akan diperbolehkan untuk bertemu jika buka hari H nanti, rasanya begitu meyakinkan.
Faiz dan Melisya sudah tidak merasa canggung lagi, sepertinya kedua manusia itu sudah terlihat seperti suami istri saja selalu bersama mungkin tengah di mabuk cinta.
kata bang Enal sih, "Bucinnya sudah kelewatan." hahaha ada-ada aja bang Enal walau emang banar.
Seperti saat ini Bang Enal terlihat seperti obat nyamuk diantara Faiz dan Melisya yang asyik berbicara dengan sangat serius seperti membicarakan masa depan nantinya, hahaha Bang sangat jijik Mendengarny ingin rasanya ia menjauh dari tempat ini tapi sepertinya ia harus tetap di sini untuk mengawasi kedua manusia itu.
"Ya gimana lagi sih Mas, emang aku orangnya kek gitu," kata Melisya.
Sudah satu minggu ini Melisya memanggil Faiz dengan sebutan Mas agar terdengar sopan nantinya, sebenarnya Melisya merasa sangat aneh jika menggunakan kata Mas tapi Faiz terus saja memaksa dirinya.
"Terserah kamu kalo gitu, aku ikut saja," kata Faiz.
"Sirius nih? siapa tahu ngambek lagi," kata Melisya membuat Faiz terkekeh mendengarnya, sedangkan Bang Enal hanya tersenyum kecut melihat interaksi keduanya.
Jika seperti ini rasanya Bang Enal tidak ingin memiliki kekasih atau istri, Bang Enal sangat jijik melihat keduanya walau hanya sekadar berbicara saja.
"Tidak akan, asal kamu senang," ucap Faiz.
Bang Enal memutar matanya malas, makin ke sini Faiz semakin bucin begitu pula dengan adiknya. Jujur saja Bang Enal tidak menyangka adiknya akan mencintai seseorang secara tiba-tiba, melihat Melisya yang tidak dekat dengan cowok serta Melisya hanya menjalin hubungan hanya sekali saja itu pun hanya lima bulan saja hanya untuk melaksanakan hukumnya.
"Ngomong apa sih kalian berdua? Ngaur aja sejak tadi!"
Melisya tersenyum mendengarnya, siapa suruh ingin ikut!
"Bang Enal kenapa nggak bawa cewek sih bang? Biar nggak jadi nyamuk?" tanya Faiz membuat tawa Melisya langsung meledak.
"Pacar apanya? Lah bang Enal dekat sama cewek aja terlihat jijik banget," kata Melisya.
"Bukannya jijik dek, tapi nggak suka," jelas bang Enal.
"Sama aja kali, eh bahka aku pernah dengar loh kalo Bang Enal ini homo." sontak Bang Enal langsung menjitak kepala Melisya menggunakan sendok.
"Bang, calon istri aku itu," kata Faiz namun Bang Enal langsung menatap dirinya dengan sangat tajam, Faiz terdiam sambil menatap Melisya yang cemberut.
"Sakit tahu Bang!" ringis Melisya.
"Makanya kalo ngomong itu disaring dulu biar benar, jangan cuman dituang aja!"
"Kan emang benar bang! Mbak Lara aja yang super cantik, pinter, dokter abang tolak!" protes Melisya.
"Dia terlalu baik untukku," kata Bang Enal.
Bang Enal mengacak rambutnya kesal, tak terbayang apa yang baru saja ia benar. Sepertinya dia emang nggak normal, secantik Rara yang sudah pinter, baik banget dan seorang dokter dia tolak? Kalo nggak normal terus apa? Gila?
Bang Enal mengusap wajahnya kasar, ia begitu tidak suka dekat dengan cepat kecuali Mama Rahma dan Adiknya.
"Sudah deh bang, mending sama mbak Lara sebelum ada yang nyulik," ucap Melisya.
"Iya tuh bang, kalo emang ceweknya baik kenapa harus di tolak sih bang? Abang pengen yang kayak apa? Yang murahan gitu atau apa?" Entah apa yang Faiz makan pagi ini, mulut cowok itu selalu mengeluarkan kalimat pedas. Untung saja bukan Melisya melainkan ke bang Enal.
"Gue calon kakak ipar lo! Kalo ngomong harus di sopan!" bentak Bang Enal dan Faiz hanya bersikap biasa saja.
"Sudah lah nggak usah di lanjut, Bang Enal emang aneh nggak suka di protes," kata Melisya.
"Aku doain Mbak Lara dekat sama dokter Mail deh, dari pada nggak dapat kepastian sama bang Enal," lanjutnya lalu beranjak pergi meninggalkan meja.
"Mau kemana Mel?" tanya Faiz.
"Kita pulang ajak yuk Mas, aku sudah ngantuk apalagi sama cowok nggak pengertian!" sindir Melisya membuat Enal melotot mendengarnya.
"Hahaha, aku sama Meli duluan yah Bang. Tenang Meli bakal sampai dengan selamat jadi bang Enal tenangkan diri dulu," kata Faiz lalu beranjak pergi bersama Melisya meninggalkan Bang Enal yang sedang kesal.
Dalam hati Bang Enal mengutuk dirinya sendiri, berharap ia tak akan ikuti lagi ketika kedua manusia itu sedang berkecang. Bukannya happy malah bahan bully.
******
Bang Enal sampai di rumah dengan wajah yang sangat lelah apalagi mendapati adiknya yang sedang asyik bersantai saat ini di depan tv.
"Faiz sudah pulang dek?" tanya Bang Enal.
"Iya dua jam yang lalu, emang ada apa bang?"
"Nggak cuma nanya doang, btw bakal nggak ketemu dong sama Faiz selama tinggal minggu ke depan?"
Melisya menganggukkan kepalanya kemudian melirik Bang Enal yang terlihat sangat bahagia mendengarnya, dasar abang laknat.
"Nggak usah senang kek gitu!" protes Melisya kesal.
"Maaf dek, kelewatan senang aku."
Melisya mendengus kesal mendengarnya kakaknya itu emang nggak tahu diri atau gimana sih? kelewatan bodoh banget.
Dengan sangat kesal Melisya beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai dua, ia sudah merasa sangat lelah dan ingin beristirahat saat ini pula.