
Setiba Melisya ke rumahnya ia langsung beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat, walau dalam lubuk hatinya ia begitu sangat senang karena perjodohan ini.
"Ternyata doaku terkabul," ucap Melisya dengan senyumnya, kemudian menutup kedua matanya.
Melisya merasa sangat mengantuk saat ini, ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan semuanya lagi.
*****
Faiz kini menatap ke arah luar jendela kamarnya, dia sudah istirahat selama empat jam membuat rasa lelahnya sudah tiada lagi. Faiz tak pernah menyangka ini akan terjadi selama ini sejujurnya sangat mustahil mendapatkan sosok Melisya, dilihat sewaktu mereka masih sekolah begitu banyaknya yang mengejar seorang Melisya dari kalangan biasa sampai kalangan atas yang membuat Faiz cukup mengagumi Melisya dari kejauhan saja.
Dulu Faiz adalah ketua osis di sekolahnya sedangkan Melisya merupakan anak club dance, membuat ia begitu mudah mengenal gadis itu apalagi saat saat sekolah mereka melaksanakan acara tahunan, membuat Kenzi semakin mengenal sosok Melisya.
Sejujurnya Faiz sedikit tidak percaya atas pernyataan Melisya tadi pagi, bagaimana bisa gadis itu menerima perjodohan secara tiba-tiba? Bahkan gadis itu terlihat sangat antusias.
Faiz menghembuskan napasnya kasar, di liriknya jam tangannya melihat jam berapa saat ini.
"Masih ada waktu," ucapnya kemudian mengambil ponsel nya untuk menghubungi Melisya.
Faiz tahu saat Melisya sedang melepas rindu dengan keluarga, tapi Faiz ingin menyampaikan sesuatu pada gadis itu sebelum semuanya terlambat.
"Halo Faiz, ada apa?" suara itu adalah milik Melisya yang baru saja menjawab teleponnya.
Faiz tersenyum mendengarnya kemudian menjawab, "Ada yang ingin aku sampaikan."
"Hm ya, apa?"
"Apa besok kita bisa bertemu?"
"Bisa, jam berapa? Sekalian kita ke butik soalnya Mama menyuruhku agar baju pengantin kita dirancang dari sekarang saja."
"Baiklah, besok aku akan menjemputmuji jam sembilan."
"Ok."
Keduanya terdiam tidak tahu apa yang harus mereka bicarakan lagi, topik pembicaraan mereka sudah habis saat ini.
Faiz melirik layar HP nya melihat apakah Melisya belum mematikan telepon atau kah sudah.
"Mel kamu lagi apa?" tanya Faiz.
"Jangan kaget jika aku menjawabnya, ini pasti sangat mengejutkan untuk mu," ucap Melisya membuat Faizmenyurutkan keningnya tak mengerti.
"Hm, apa?"
"Aku sedang melacak seseorang saat ini, sahabatku meminta aku melacak keberadaan pacarnya yang kehilangan jejak selama dua minggu."
Faiz membulatkan matanya kaget mendengar hal tersebut sungguh ia tidak menyangka apa yang baru saja ia dengar. Mungkin dirinya akan bersikap biasa saja jika orang yang melakukannya itu adalah laki-laki, tapi jika cewek terdengar sangat luar biasa.
"Faiz kamu kenapa diam?"
"Tidak, aku hanya sedikit terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa kamu melakukannya?"
Dari kejauhan sana Faiz mampu mendengar suara tawa seorang Melisya, mungkin gadis itu sedang mengejeknya.
"Aku sudah menebaknya. Asal kamu tahu aku ambil teknik komputer dan aku juga memiliki teman yang sangat pandai melacak, apa kamu dengan Mr Abra?"
"Aku tidak mengenalnya, tapi saat kuliah dulu aku sempat mendengar namanya. Emang ada apa?"
"Aku belajar darinya, luar biasa bukan? Tentu saja Melisya gitu."
Faiz terkekeh mendengarnya, sangat lucu.
"Faiz sudah dulu, teman ku sudah mengomel saat ini."
"Baiklah, sampai jumpa besok pagi."
"Siap bos."
Faiz tersenyum mendengarnya tak akan menyangka jika dirinya dan Melisya akan sedekat ini lagi, apalagi keduanya baru tertemu pagi tadi membuat Faiz tak akan mengerti lagi.
******
Pagi ini tepatnya jam 09.00 Faiz dan Melisya sudah berada di sebuah cafe yang cukup terkenal di Jakarta, keduanya menikmati menu yang mereka pesan.
Keduanya terlihat sangat canggung sutu sama lain, bahkan beberapa menit ini tak keduanya belum mengucapkan satu kata saja.
"He'en, apakah kita selalu seperti ini Faiz?"
Melisya menyerah dirinya tidak suka berada di zona yang seperti ini, Melisya sangat membenci keheningan.
Faiz tersenyum mendengarnya, menatap wajah cantik Melisya di depannya saat ini.
"Tidak, hanya sedikit canggung."
"Hahaha, mungkin sudah lama kita tidak seperti ini makanya akan secanggung ini," jelas Faiz.
"Tentu saja karena setelah empat tahun kita beru bertemu kemarin, sungguh mengejutkan bukan?"
"Iya," jawab Faiz.
Melisya menghembuskan napasnya kasar mendengar jawaban Faiz yang sangat singkat padahal Melisya sudah berbicara panjang kali lebar.
"Aku tidak suka jawaban pendek, menurut ku orang itu tidak ikhlas menjawabnya jadi aku meminta kamu jangan memberikan jawaban yang pendek," pinta Melisya.
"Maaf," ucap Faiz yang sebenarnya tidak tahu jawaban seperti apa yang akan ia katakan pada Melisya.
Melisya meminum jusnya secara rakus kemudian menatap sekelilingnya yang sudah sangat ramai padahal ini masih sangat pagi menurutnya.
"Aku ingin mengatakan satu hal padamu," kata Faiz secara tiba-tiba membuat Melisya kembali menatapnya.
"Apa?"
"Setelah kita menikah apa tidak masalah jika kita tinggal di apartemen saja terlebih dahulu?"
Melisya tersenyum mendengarnya.
"Tentu saja tidak, selagi layak untuk ditinggali."
Faiz merasa sangat bersyukur mendengarnya, awalnya ia merasa sangat berat mengatakan ini apalagi Melisya berasal dari keluarga terpandang membuat faiz sangat berat mengatakannya.
"Aku memiliki perusahaan kecil, jadi setelah kita menikah aku hanya mengembangkan perusahaanku itu. Aku sudah berbicara dengan ayahku, dan dia tidak keberatan jika aku seperti itu tapi bagaimana menurutmu? Apakah kamu tidak keberatan jika memiliki suami yang hanya memiliki perusahaan kecil?"
"Sejak dulu aku sering bermimpi melihat aku dan suamiku berjuang dari nol, rasanya begitu indah jika berjuang bersama-sama." Melisya menganggukkan kepalanya setelah mengatakan kalimat itu.
"Sungguh?"
"Tentu, lagi pula perusahaan orang tua kita akan di urus oleh mereka saja. Jika keduanya memerlukan bantuan maka kita harus membantu mereka, tapi sepertinya kita yang akan meminta bantuan karena perusahaan mereka sudah sangat besar dan terkenal."
"Sepertinya akan seperti itu, ah tapi kita harus berusaha agar tidak meminta bantuan dari mereka. Bagaimana menurut mu?"
"Tentu saja aku menyetujuinya," jawab Melisya.
"Syukurlah jika seperti itu."
Keduanya tersenyum dan saling menatap satu sama lain, seperti inilah yang membuat keduanya saling mengagumi satu sama lain.
Tak lama keduanya saling menatap karena kini terdengar suara dari ponsel milik Faiz yang berada di atas meja, Faiz menatap Melisya terlebih dahulu meminta izin untuk mengangkat telepon dari temannya dan Melisya hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa An?" tanya Faiz yang enggan untuk menjauh dari Melisya.
"Aku hanya ingin menyampaikan jika satu jam lagi akan ada pertemuan dengan perusahaan lain."
"Apakah tidak bisa di tunda An? Aku sedang sibuk sekarang."
"Sibuk apa?"
"Aku sedang berbicara serius dengan calon istri ku."
Mendengar sontak Melisya melebarkan matanya tak percaya, apakah Faiz tak begitu pandai membuat alasan lain? Melisya merasa sangat malu saat ini.
"Jangan bercanda, cepat lah kemari karena jika tidak maka mereka akan membatalkan semuanya."
Faiz menghembuskan napasnya kasar.
"Aku akan kesana!" ucap Faiz lalu mematikan telepon secara sepihak.
Faiz menatap Melisya yang terdiam di depannya sepertinya gadis itu tengah memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya, seperti dia akan pergi begitu saja mungkin?
Dengan sangat tenang Melisya hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum menatap Faiz.
"Pergi saja, aku tidak keberatan sama sekali."
"Apa kamu ada acara hari ini?" tanya faiz yang kembali mengajukan pertanyaan.
"Sepertinya aku akan pulang ke rumah dan tertidur, kita akan ke butik besok saja jika kamu ada urusan penting."
Lagi-lagi Faiz merasa sangat bersyukur karena ia akan menikahi gadis di depannya yang sangat pengertian, biasanya tak ada seorang pun perempuan yang ingin di tinggalkan begitu saja jika sedang seperti ini dan Melisya? Dia sungguh sangat berbeda.
"Kamu bisa istirahat di kantor ku, sambil menungguku kemudian kita ke butik," jelas Faiz.
"Tidak masalah? Siapa tahu kamu...."
Faiz memegang tangan Melisya lalu menarik tangan itu keluar dari cafe begitu saja, tadi Faiz sudah membayar semuanya karena takut akan ada urusan yang sangat penting nantinya dan ternyata benar.
"Kamu yang terpenting sekarang," kata Faiz membuat Melisya merona mendengarnya.