About Me And You

About Me And You
Aneh



Melisya menatap ruang kerja Faiz saat ini yang cukup sederhana, perusahaan Faiz emang sangat kecil bahkan perusahaan ini hanya bertingkat tiga saja tak seperti perusahaan Papanya yang bertingkat lima puluh lebih, dalam hati Melisya merasa sangat senang.


Faiz sudah pergi sejak tadi meninggalkan Melisya yang kini duduk di kursi kerja Faiz, Melisya memperhatikan semuanya sampai ia menemukan foto cewek. Melisya tak menyangka jika Faiz akan menyimpan foto perempuan yang sangat jelas Melisya sangat mengenalnya, perempuan itu adalah sahabat Melisya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


"Omongan dia aja yang sok romantis, eh ternyata bohongan toh," ucap Melisya dengan senyum kecut.


Clek


Pintu terbuka sangat lebar memperlihatkan seorang Faiz yang baru saja tiba bersama Andra sahabat Faiz sekaligus sekretaris, Melisya juga sangat mengenal Andra karena saat sekolah dia sekelas dengan Andra.


Melisya menyimpan foto yang ia pegan tadi dirinya tidak suka dengan perdebatan, ah cukup Faiz sendiri yang menjelaskan semuanya.


"Hai Meli," sapa Andra san Melisya hanya tersenyum tipis, saat ini suasana hati Melisya sangat buruk.


"Dia kenapa?" bisik Andra.


Faiz mengangkat bahunya tidak tahu karena dia emang nggak tahu, toh dia juga baru datang sama seperti Andra.


Dengan sangat serius Faiz menghampiri Melisya yang masih duduk di tempatnya, ingin bertanya langsung pada gadis itu.


"Kenapa?" tanya Faiz.


Melisya melirik Faiz yang berdiri di sampingnya lalu menatap kembali foto di depannya saat ini.


"Dia pacar Andra bukan siapa-siapa aku, nggak usah khawatir," jelas Faiz yang sudah menyadari perubahan gadis itu.


Melisya memutar badannya menatap Faiz dengan senyum manisnya, Melisya tak ingin membahas ini semua toh cukup mempercayai Faiz sudah bagus menurutnya apalagi keduanya belum memiliki hubungan apapun.


"Dari pada gue jadi nyamuk, gue tinggal dulu," kata Andra yang langsung bergegas keluar begitu saja membuat Melisya terkekeh melihatnya.


"Sudah nggak usah dibahas, bagaimana apa kamu masih memiliki pekerjaan?" tanya Melisya.


"Tidak, semuanya sudah selesai dan jika ada pun pasti Andra yang akan mengurusnya."


"Yasudah ayok ke butik, aku hanya cukup memberikan gambar baju yang ku ingin kan," kata Melisya.


"Gambar?"


"Aku memiliki teman desainer terkenal di China, seharusnya dia yang merancang gaun ku nanti tapi karena dia sedang hamil besar jadi dia hanya membuat polanya saja." Faiz menganggukkan kepalanya mengerti.


"Apa dia akan datang di acara pernikahan kita?" tanya Faiz.


"Tidak karena dia sudah menunggu kelahiran anaknya, ahh sudah tidak sabar aku." Melisya terlihat sangat lucu saat ini, sepertinya Melisya sudah tidak sabar memiliki seorang anak nantinya dan hal tersebut membuat Faiz merasa sangat senang.


Melisya bangkit dari tempatnya meraih tasnya yang berada di sopa, lalu menarik tangan Faiz untuk segera keluar dari tempat ini.


Sebenarnya banyak karyawan Faiz yang memperhatikan keduanya apalagi kedekatan keduanya yang sangat jelas, tak sedikit dari mereka yang tengah mengoceh dalam hati mereka begitu menyukai Faiz bagi mereka yang perempuan sedangkan yang laki-laki hanya bersikap biasanya saja walau sebenarnya merasa kagum melihat kecantikan Melisya.


Melisya tersenyum melihat sekitarnya ah senyum Melisya emang selalu terlihat dimana-mana dan faiz mengetahui hal tersebut, apalagi saat mereka masih sekolah walau Melisya sedang marah pada temannya pasti gadis itu akan selalu tersenyum.


Melisya tetap menghargai orang-orang yang berada sekitarnya walau orang tersebut tidak menyukai dirinya, begitulah seorang Melisya mampu membuat semuanya merasa kesal atas senyumnya itu.


Setiba mereka di butik yang dimaksud oleh kedua Bunda Dania dan Mama Rahma yang kata mereka berdua butik itu sangat terkenal di Jakarta bahkan tak sedikit dari orang luar yang ingin merancang baju di tempat itu.


Melisya langsung menghampiri orang yang dimaksud oleh Bunda Dania, ia mengeluarkan semua pola yang dibuat oleh sahabatnya yang sudah ia cetak di rumah memperlihatkan semuanya kepada orang tersebut.


"Menurut mu dimana yang bagus?" tanya Melisya memperlihatkan semuanya.


"Semuanya sangat cantik nyonya seperti orang desainer terkenal yang membuatnya," jawab gadis yang berdiri di depan Melisya.


Melisya tersenyum kemudian menjawab, "Ah ku pikir juga seperti itu, sejak semalam aku pusing memilihnya."


Gadis itu terkekeh mendengarnya siapa saja pasti akan merasa pusing jika memilih di antara pola di depannya saat ini, semuanya sangat cantik dan juga mewah.


"Harus kah? Apakah dia tidak masalah?" tanya Melisya sambil melirik Faiz yang sudah terduduk di sopa.


"Tentu saja tidak nona, menurut ku pendapat calon suami itu hal yang terbaik dan sangat romantis."


Baiklah," jawab Melisya lalu menghampiri Faiz yang kini menatapnya.


"Ada apa?" tanya Faiz.


"Aku ingin meminta pendapatmu, jadi kemarilah ikuti aku," jawab Melisya dan Faiz langsung berdiri dari tempatnya mengikuti Melisya dari belakang.


"Menurut mu dimana yang bagus?" tanya Melisya yang memperlihatkan semua pola yang berada di tangannya.


Faiz meraih semua kertas itu memperhatikan semuanya satu persatu, walau semuanya terlihat sangat indah tapi rata-rata gaun itu sangat terbuka menurutnya.


Faiz menarik napasnya dalam-dalam lalu melirik Melisya sekilas, jika Faiz memberi jawabannya apakah gadis itu baik-baik saja?


"Apakah tidak ada yang bagus?" tanya Melisya.


"Semuanya sangat indah, tapi terbuka. Bagaimana jika ini saja?" tanya Faiz yang memperlihatkan satu pola yang cukup tertutup menurutnya walau tidak sepenuhnya.


"Baiklah," jawab Melisya mengambil pola itu kemudian memberikannya kepada pelayanan.


"Semua ukurannya sudah tertulis di situ," jelas Melisya.


"Ah baik."


Melisya melirik Faiz yang berada di sampingnya, ia memperhatikan badan faiz dengan sangat serius.


"Kamu ingin baju yang seperti apa?"


"Tidak tahu," jawab Faiz.


Melisya mengambil kertas yang berada tasnya lagi kemudian memperlihatkannya kepada Faiz.


"Pilih lah," kata Melisya.


"Kamu saja yang memilihnya, tadi aku sudah memilih baju untukmu dan kali ini giliran mu," Jawab Faiz membuat Melisya merasa sangat senang.


"Kebetulan aku sudah memilihnya semalam, hm aku ingin yang ini," kata Melisya memperlihatkan pola yang ia maksud.


"Bagus aku juga menyukainya."


"Sudah ku tebak, baiklah giliran mu untuk mengukur badanmu aku akan melihatmu di sini," kata Melisya.


Faiz menghampiri perempuan yang akan mengambil ukuran tubuhnya, menurut Faiz bukan Melisya yang memperhatikannya saat ini melainkan dirinya yang memperhatikan Melisya yang sedang berbicara dengan gadis tadi.


"Kalian sangat romantis, aku merasa sangat iri melihat kelian berdua." Melisya terkekeh mendengarnya.


"Berapa lama kalian pacaran hingga memutuskan ke jenjang serius nona?"


"Kami dijodohkan," jawab Melisya.


"Sungguh?Ah aku tidak percaya mendengarnya, mana mungkin romantis seperti itu jika dijodohkan nona?"


"Dulu aku satu sekolah dengannya, makanya seperti itu. Tapi kami sungguh dijodohkan," jelas Melisya.


"Ah pantas saja, sepertinya kalian saling menyukai sejak dulu tapi tidak berani mengungkapkan semuanya." tebak gadis itu kembali.


"Anggap saja seperti itu," jawab Melisya.