About Me And You

About Me And You
welcome to Indonesia



Bandara terlihat sangat ramai dengan berbagai macam makhluk hidup, hahaha tentu saja.


Semuanya terlihat sangat antusias dengan ini semua, mereka asyik dengan tujuan mereka masing-masing dan mengabaikan sekitarnya yang sangat ribut.


Melisya gadis itu telah kembali dari China setelah empat tahun menetap di negara asing itu, Melisya menghembuskan nafasnya kasar ia sudah lama meninggalkan Indonesia membuat dirinya melupakan arah pulang menuju rumahnya.


"Astaga, aku bahkan sudah melupakan alamat rumah ku sendiri," ucapnya kesal.


Pulangnya seorang Melisya adalah sebuah rahasia, tidak ada yang mengetahui jika hari ini seorang Melisya akan pulang karena mereka pikir gadis itu akan menetap lebih lama di sana.


Melisya menarik kopernya keluar bandara yang sangat ramai, sambil menghubungi saudara laki-lakinya untuk meminta alamat rumah.


"Halo Bang Enal, aku ingin meminta alamat rumah kita," ucap Melisya dengan berat hati.


"Jangan bilang kau melupakan alamat rumah mu sendiri, astaga Melisya kau hanya tinggal di China selama empat tahun saja."


"Cepat lah, aku ingin mengirim paket untuk mama." tentu saja Melisya tak ingin mengatakan apa alasannya meminta alamat rumah, karena bila dia melakukannya maka otomatis bukan kejutan namanya.


"Jalan perumahan *****."


"Astaga, aku mengingatnya! Tapi aku tidak tahu jalannya," keluhnya lagi.


"Kamu cukup menulis itu, tidak perlu menjelaskan jalurnya."


"Baiklah."


Melisya mematikan telepon secara sepihak, kemudian menatap lurus ke depan menunggu sopir yang tak kunjung tiba.


Melisya menunggu tiada henti, ia sangat berharap ada taksi yang berhenti di depannya saat ini. Apalagi Melisya sudah merasa sangat mengantuk akibat ia tak pernah tertidur sejak kemarin malam hanya untuk menyiapkan semua ini.


Melisya merindukan tempat tidurnya, ia sangat merindukan semuanya yang ada di rumahnya. Apakah rumahnya sudah berubah?


"He'en."


Melisya mendongak menatap seseorang yang berdiri di depannya, orang itu menggunakan masker hingga Melisya tak mampu menebak siapa pria itu.


"Jika boleh tahu, apa yang anda tunggu nona?" tanya pria itu.


Melisya tersenyum mendengarnya, sejujurnya Melisya sangat membenci jika ada pria yang langsung menghampiri dirinya. Tapi ia tidak ingin melukai hati seseorang, jadi dengan senang hati Melisya menjawab,


"Aku menunggu taksi tuan, tapi sejak tadi tak ada taksi yang lewat."


Melisya menatap sekelilingnya, ia sudah tidak sabar pulang ke rumahnya saat ini.


Tapi mengap tak ada taksi yang terlihat hingga saat ini, Melisya sungguh merasa sangat lelah.


"Jika boleh tahu, mengapa anda ke sini?" tanya Melisya yang sedikit basa basi.


Pria itu tersenyum di balik masker yang ia gunakan, tak menyangka gadis di depannya saat ini bertanya kepadanya.


"Sampai tahun depan pun, anda tidak akan melihat taksi di area sini nona," jelas pria itu.


Melisya menyurutkan keningnya menatap pria di depannya dengan tatapan tidak mengerti, mengapa seperti itu?


"Mengapa?"


"No taksi, baca lah itu," tunjuk pria itu membuat Meisya mengikuti arahnya. betapa mengejutkannya Melisya saat ini.


"Astaga pantas saja, terima kasih sudah memberi tahuku tuan," kata Melisya yang mengetahui kebohongannya saat ini, Melisya tak mampu menahan malunya saat ini.


Pria itu terkekeh mendengarnya sangat lucu melihat gadis di depannya saat ini.


"Tidak masalah, hm jika boleh tahu kemana kau akan pergi?"


Pria itu menatap tak percaya gadis di depannya, ia sangat mengenal alamat itu.


"Jika boleh tahu, tujuan anda apa nona?"


"Pulang ke rumah orang tua ku, apalagi kalo bukan itu?"


"Tapi rumah itu...."


"Ah, tuan saya sudah sangat mengantuk. Saya izin pulang terlebih dahulu," Kata Melisya kemudian berlari begitu saja menarik koper miliknya untuk menuju jalan raya, Melisya tak tahu cara menghentikan percakapan mereka yang semakin menjauh. Melisya pikir pria itu sok kenal terhadap dirinya, sungguh menjijikkan menurut Melisya.


Sedangkan di lain tempat seorang pria terlihat menahan tawanya saat ini, ia sungguh tak menyangka jika hari ini dirinya di bertemu dengan teman sekolahnya. Gadis yang selama ini ia kagumi atas sikap sopan santun gadis itu.


Pria itu adalah Faiz seorang pria yang dianggap Melisya pria sok kenal, namun pada dasarnya Faiz dan Melisya saling mengenal satu sama lain.


"Dia tidak pernah berubah," ucapnya.


"Siapa yang tidak berubah kak?" Faiz tersentak kaget, adiknya Raya kini sudah berada di sampingnya berdiri dengan seragam putih abunya.


"Kamu yang tidak berubah, mengapa membuat ku kaget?" tanya Faiz kesal.


"Bagaimana lagi, aku selalu seperti ini sampai kapan pun." Raya dengan sangat percayanya langsung menjawabnya dengan sangat cepat, Raya emang anak remaja yang super jail siapa pun tak akan sanggup meladeni gadis itu.


"Sudah lah, dimana Ayah dan Bunda?" tanya Faiz yang sama sekali tidak melihat kedua orang tuanya, Faiz hanya menemukan adiknya dan juga Pak Mamam.


"Mereka berada di rumah, semuanya sudah siap seperti keinginan kakak," jawab Raya santai.


"Keinginan apa? Perjelas cara mu berbicara." pinta Faiz.


Raya memutar bola matanya kesal, kakaknya itu tidak akan peka. Biarlah Kakaknya sendiri mengetahui ini semua.


"Ayok pulang, aku sudah tidak sabar," ucap Raya merangkul tangan Faiz cepat.


"Hm, Pak Mamam bawa lah koper ku." pinta Faiz yang langsung dituruti oleh Pak Mamam yang merupakan sopir pribadi Raya.


Sebenarnya Faiz begitu penasaran maksud dari perkataan Raya, tapi karena dirinya sudah merasa sangat lelah. Jadi ia memilih untuk mengikuti alurnya saja, kemana alur dari perkataan Raya.


Tidak, Faiz kini beralih memikirkan perkataan Melisya tadi. Faiz tidak mengerti maksud Melisya yang pulang ke rumah orang tuanya, padahal bukan sama sekali.


"Dek, apa rumah kita baru saja dijual?" tanya Faiz yang sudah berada di dalam mobil.


Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah mereka, dengan Faiz yang sibuk memikirkan tentang Melisya dan Raya yang sibuk bermain ponsel.


"Untuk apa rumah kita di jual? Perusahaan ayah saja berada dimana-mana," jawab Raya.


"Begitu, ku pikir rumah kita di jual."


Raya menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah ke luar jendela. Melihat sosok perempuan yang sangat cantik Tengah berdiri di pinggir jalan raya sembari menarik koper berwarna biru.


"Kak bukannya dia kak Melisya?" tanya Raya sambil menunjuk ke arah perempuan yang ia lihat.


Mendengar pertanyaan raya, Faiz sontak langsung melirik ke arah luar jendela. Ka tersenyum melihatnya, gadis sungguh sangat mengagungkan.


"Bukan kah dia kuliah di China kak?" tanya Raya.


"Aku tidak tahu, setelah lulus sekolah kami tidak pernah saling menghubungi satu sama lain."


"Baiklah, hm kenapa dia selalu terlihat sangat cantik dan manis kak? Masih terlihat seperti anak sekolahan padahal umurnya sudah lebih dua puluh." Raya merasa sangat iri menatap kecantikan Melisya saat ini.


"Kau juga akan seperti itu nantinya, ketika kamu sudah dewasa."


Raya tersenyum mendengarnya kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.