About Me And You

About Me And You
Kejutan Aneh



Faiz merangkul adiknya Raya memasuki rumah mewah milik kedua orang tuanya, walau Faiz kuliah di London namun setiap tahun Faiz selalu menyempatkan dirinya untuk pulang ke Indonesia, ia menyukai Indonesia tanah kelahirannya walau hidup di luar sana lebih menyenangkan.


"Kak Faiz jangan kaget nanti, ini kejutan untuk kak Faiz," kata Raya.


Faiz hanya tersenyum mendengarnya, ia sudah tak sabar melihat kejutan seperti apa yang akan kedua orang tuanya berikan saat ini? Sampai-sampai adiknya ini terus saja berbicara seperti itu seolah-olah kejutan itu akan sangat disukai dirinya.


"Kak Faiz harus tahu, Ayah dan Bunda menyiapkan semua ini selama satu tahun full."


"Oh ya? seperti merancang pernikahan saja," ucap Faiz tak percaya, ah Faiz sudah tidak sabar ingin mengetahuinya.


"Kita lihat saja nanti," jelas Raya.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah mewah itu, yang disambut oleh beberapa orang di rumah tamu. Mereka tersenyum melihat Faiz dan Raya yang baru saja tiba, Faiz tak mengerti lagi kejutan apa yang sebenarnya ia dapatkan.


Kedua orang tuanya terlihat bersikap biasa saja saat ini, sama seperti tamu kedua orang tuanya.


"Kejutan seperti apa yang kau maksud?" tanya Faiz.


"Bunda, kak Faiz ingin tahu maksud pembicaraan kalian saat ini," goda Raya yang langsung berlari cepat, meninggalkan Faiz yang terkejut mendengarnya.


Sepertinya dia baru saja dikerjai oleh adiknya, kejutan apa ini? Tak ada kejutan sama sekali.


"Faiz, sini duduk bergabung bersama kami." pinta Bunda Dania.


Faiz menganggukan kepalanya, beranjak duduk di sopa yang masih kosong. Sebenarnya Faiz merasa sangat lelah sampai saat ini, ingin rasanya Faiz langsung tertidur.


"Bagaimana, apa kamu langsung ingin ke intinya atau bagaimana Faiz?" tanya Ayah Kris.


"Jika boleh tahu, apa yang kalian bicarakan? saya sama sekali tidak memahaminya," ucap Faiz yang sontak membuat semuanya terkekeh mendengarnya.


"Kamu akan dijodohkan dengan anak Pak Parhan, dia sangat cantik ayah yakin kamu pasti menyayanginya," jelas Ayah Kris.


Faiz menghembuskan napasnya kasar, seperti ini yang dimaksud oleh adiknya itu? Ini bukanlah kejutan melainkan penderitaan.


"Apa kamu tidak menyetujui ini semua Nak Faiz?" tanya Pak Parhan.


"Aku tidak mengenal anak Pak Parhan, begitu pula anak Bapak sendiri. Jadi saya tidak tahu ingin menjawab seperti apa." Faiz mengatakan apa yang ingin ia katakan, sebenarnya cukup sederhana maksud perkataan Faiz. Faiz ingin menolak perjodohan ini secara tidak langsung.


"Kalian satu sekolah saat SMA, pasti kamu mengenalnya," jelas Pak Parhan.


"Siapa Pak?"


"Melisya, apakah kamu mengenalnya?"


Dengan sangat terkejut Faiz membulatkan matanya tak percaya, jika dari awal ia mengetahui ini pasti Faiz langsung mengatakan iya.


Bibir Faiz tertarik hingga menjadi sebuah senyuman tipis, semua mengetahui maksud senyum itu.


"Sepertinya Faiz setuju," kata bunda Dania dengan senyumnya.


Faiz hanya terdiam mendengarnya sejujurnya ia sungguh malu mengatakan kalimat itu, jadi ia merasa bersyukur bunda Dania mampu menebaknya.


"Saya sudah menebaknya, putri saya sangat cantik jadi tak ada seorang pun yang mampu menolaknya," kata Bu Rahma.


Semuanya tertawa mendengarnya, siapa yang akan mampu menolak sosok Melisya? Bahkan seorang Faiz yang dikenal dengan sangat dingin mengagumi gadis itu.


"Bagaimana pertemuan selanjutnya? saya dengar anak anda masih berada di China?" tanya Ayah Kris.


Pak Parhan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Dia ingin berada di sana lebih lama lagi sebelum pulang ke Indonesia, saya tidak tahu jalan pikiran anak itu. Padahal dia sudah wisuda."


"Mungkin dia sudah mencintai negeri China." tebak bunda Dania.


"Tidak, dia menyukai Indonesia. Hanya saja dia memiliki banyak urusan di sana, sepertinya dia ingin bekerja dulu di sana sebelum pulang ke Indonesia."


"Aku tidak setuju Mah, anak itu bahkan sudah melupakan alamat rumah kita," kata Enal yang mengingat pertanyaan adiknya.


"Bagaimana bisa kamu tahu Al?" tanya Mama Rahma.


"Tadi dia menelepon, bertanya alamat rumah kita dan aku memberikan alamat yang salah. Dengan bodohnya anak itu percaya begitu saja." Enal tertawa terbahak-bahak mengingatnya.


"Kamu tidak boleh seperti itu," kata Mama Rahma membuat Enal terdiam.


"AKU DATANG!"


Suara teriakan itu sontak semuanya langsung menoleh menatap siapa pemilik suara itu, betapa terkejutnya mereka melihat wajah gadis itu.


Mama Rahma menatap Enal dengan sangat tajam, lalu beranjak menghampiri putrinya yang datang secara tiba-tiba.


"Aku pikir dia hanya mengirim paket saja, jadi aku memberikan alamat calon suaminya," kata Enal tak percaya.


"Kamu kapan tibanya? Bukannya dua bulan lagi?" tanya Mama Rahma sembari memeluk anak bungsunya.


"Aku ingin memberikan kalian alasan saja, jadi aku pulang deh dengan cara seperti ini," jawab Melisya.


"Ayok duduk, di sini bukan rumah kita melainkan rumah calon mertua mu," kata Mama Rahma.


"Apa maksud Mama? Calon mertua? Tahu saja Mama anakmu ini sudah tidak sabar menikah," canda Melisya, dia bukan gadis bodoh yang langsung percaya begitu saja.


"Astaga, anak itu."


"Tunggu, ini bukan rumah kita Mah?" tanya Melisya terkejut.


"Bang Enal salah menyebutkan alamat, sudah tidak usah di perpanjang."


Melisya terdiam namun matanya mengarah pada pria yang sangat ia kenali, Melisya bertemu dengannya lagi.


"Apakah calon suami mu begitu tampan?" tanya bang Enal.


Melisya tersenyum mengikuti Mama Rahma yang menarik tangannya untuk duduk berhadapan dengan Faiz.


"Hai," sapa Faiz yang masih terkejut sebenarnya.


"Halo," jawab Melisya.


"Aduh, sepertinya mereka saling menyukai," kata bang Enal.


"Kita bicarakan saja hari pernikahan mereka, tunangan kita lakukan hari ini saja setidaknya sudah ada cincin," pinta bunda Dania.


Melisya menatap sekitarnya tak percaya, apa yang baru ia dengar?


"Siapa yang akan menikah?" tanya Melisya.


"Kamu dan Nak Faiz," jawab Papa Parhan.


"Aku?" Melisya menunjuk dirinya tak percaya.


"Jangan bercanda Pah, aku bahkan belum memiliki pacar."


"Kamu tidak memerlukan pacar sayang, jodoh kamu sudah ada di depan mu," jawab Mama Rahma.


Jantung Melisya berdetak dua kali cepat dari sebelumnya, ia tidak percaya apa yang baru saja dia dengar saat ini. Dia akan menikahi seorang Faiz, ketua osis sewaktu masih SMA dan cowok yang selama ini dia kagumi atas ketegasan cowok itu.


"Jika seperti ini, aku ingin dinikahkan hari ini saja," ucap Melisya tanpa sadar.


Tentu saja semuanya terkejut mendengar ini semua, termasuk seorang Faiz.


"Saya setuju dengan kamu nak Melisya, saya sudah tidak sabar sebenarnya," kata Bunda Dania yang ikut membuat semuanya terkejut.


"Bukannya terlalu cepat Dan?" tanya Mama Rahma.


"Tidak, jika kedua mempelai menginginkannya."


Melisya menatap mereka tidak mengerti, "Apa yang diinginkannya tante?"


"Kamu ingin menikah hari ini bukan?" tanya Bunda Dania.


"Ha? tidak-tidak, ini terlalu cepat." jujur Melisya merasa sangat malu saat ini, ingin rasanya ia kabur dari tempat ini.


Semuanya sontak tertawa mendengarnya, Melisya begitu sangat lucu.


"Tapi sepertinya Faiz dan kamu sudah tidak sabar," kata Ayah Kris.


"Saya setuju dengan mu." tambah Papa Parhan.


"Tidak Pah, aku menginginkan pernikahan seperti seorang ratu," jujur Melisya.


"Aku mengikuti saran Melisya," kata Faiz yang akhirnya mengeluarkan suaranya setelah lama hanya fokus menatap Melisya.


"Baiklah."