
Setelah pertemuan emosional dengan Lisa, Abigail dan Ethan kembali fokus pada tugas mereka sebagai Malaikat Kematian. Namun, kehadiran Lisa dalam kehidupan mereka telah membawa keberanian untuk mengeksplorasi masa lalu mereka yang kelam.
Abigail merasa perlu untuk mengetahui lebih banyak tentang mantan pacarnya di kehidupan sebelumnya yang menjadi penyebab kekacauan dan kematian Lisa. Dia percaya bahwa jika dia mengungkapkan kebenaran, itu dapat membantu menyembuhkan luka-luka masa lalu dan memberikan keadilan bagi mereka yang teraniaya.
Ethan: (memahami keinginan Abigail) "Kau ingin mengetahui kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu kita?"
Abigail: (bersemangat) "Ya, aku merasa ini adalah waktu yang tepat untuk mencari tahu. Jika kita dapat mengungkapkan kejahatan yang terjadi, kita dapat mencegah hal serupa terjadi di masa depan."
Mereka memulai penyelidikan mereka, menggali kembali kenangan-kenangan yang telah terkubur dalam ingatan mereka. Abigail berusaha untuk menghubungi teman-teman mereka di masa lalu dan mencari petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah berhari-hari penyelidikan, mereka menemukan kebenaran yang mengejutkan. Mantan pacar Abigail memanglah dalang di balik semua kekacauan yang terjadi. Dia berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Lisa, dan menyebabkan persahabatan mereka hancur berantakan.
Abigail: (marah dan sedih) "Aku tak bisa percaya bahwa seseorang yang kucinta dan percayai bisa berbuat begitu jahat."
Ethan: (menggenggam tangan Abigail) "Ini adalah pengkhianatan yang mengerikan. Tetapi kini kita tahu kebenarannya dan kita harus menghadapinya."
Abigail: (mengangguk) "Kau benar. Kita tidak bisa berpangku tangan. Kita harus memastikan dia tidak akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut."
Dengan bukti yang mereka kumpulkan, Abigail dan Ethan memutuskan untuk menghadap mantan pacar Abigail. Mereka menginginkan penjelasan atas tindakannya yang kejam dan memastikan dia tidak akan lagi berbuat buruk di kehidupan lainnya.
Ketika mereka tiba di hadapannya, Abigail merasa campuran perasaan marah, sedih, dan kekecewaan. Namun, dia juga merasa kuat dan teguh dalam tujuannya untuk memberikan keadilan.
Mantan Pacar: (kaget) "Kalian berdua di sini? Apa yang kalian inginkan?"
Mantan Pacar: (coba mengelak) "Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak tahu apa-apa."
Ethan: (tajam) "Jangan berpura-pura. Kami punya bukti tentang kejahatanmu."
Mantan Pacar itu terdiam, menyadari bahwa tidak ada jalan keluar untuknya. Dia akhirnya mengakui semua perbuatannya dan merasa menyesal atas apa yang telah dia lakukan.
Abigail: (penuh emosi) "Kau telah menghancurkan persahabatan dan menyebabkan kematian orang yang kita cintai. Kau harus menanggung konsekuensinya."
Ethan: (bersikap adil) "Kami akan memberitahukan pada otoritas yang berwenang tentang semua kejahatan yang kau lakukan."
Setelah pertemuan itu, Abigail dan Ethan memberikan bukti kejahatan mantan pacar Abigail kepada otoritas yang berwenang. Mereka berharap kejahatan tersebut akan mendapatkan keadilan yang pantas.
Sementara itu, Abigail merasa sedih dan terpukul oleh kenyataan bahwa seseorang yang pernah dia cintai bisa begitu jahat. Namun, dia juga merasa lega bahwa kebenaran telah terungkap dan dia kini memiliki kesempatan untuk menyembuhkan luka masa lalu.
Ethan: (memberikan dukungan) "Kau telah berani menghadapi masa lalu yang pahit, Abigail. Aku bangga padamu."
Abigail: (tersenyum) "Terima kasih, Ethan. Kehadiranmu selalu memberi kekuatan padaku."
Setelah peristiwa itu, Abigail dan Ethan kembali fokus pada tugas mereka sebagai Malaikat Kematian. Namun, kali ini, mereka melakukannya dengan hati yang lebih ringan karena mereka telah mengeksplorasi masa lalu mereka dan memberikan keadilan bagi kejahatan yang telah terjadi.
Dengan semangat dan keberanian, Abigail dan Ethan terus melindungi kedua dunia dari ancaman kegelapan. Mereka menyadari bahwa sebagai Para Penjaga, tanggung jawab mereka adalah melindungi kebenaran dan keadilan, serta memberikan kesempatan bagi jiwa-jiwa untuk menemukan jalan menuju cahaya dalam masa-masa sulit.