"Reborn Reaper: Time Journey"

"Reborn Reaper: Time Journey"
Rebirth of the Reaper



Bab 1: Reborn Reaper


Hari itu, angin sepoi-sepoi bertiup di jalan raya yang sepi. Abigail melangkah dengan langkah lemah pulang dari kantor. Wajahnya mencerminkan kelelahan dan kesedihan akibat hari yang menyakitkan. Dia masih terpukul oleh pengkhianatan yang baru saja dia alami dari sahabat dekatnya, Lisa, yang ternyata berselingkuh dengan pacarnya.


Abigail: (berbicara dalam hati) Kenapa dia bisa melakukan ini padaku? Aku selalu mendukungnya, tapi dia malah mengkhianatiku dengan pacarku sendiri.


Saat pikirannya melayang-layang, dia tidak sadar bahwa sebuah truk besar mendekatinya dengan kecepatan tinggi.


PRAAK!


Sebelum Abigail bisa bereaksi, tubuhnya terpental hebat akibat tabrakan itu. Semuanya menjadi gelap.


...


Abigail membuka mata dan merasa bingung dengan apa yang terjadi. Dia berada di suatu tempat yang tidak dikenal, dikelilingi oleh cahaya putih berkilauan.


Abigail: (bingung) Di mana aku?


Notifikasi muncul di hadapannya seperti layar holografis.


Notifikasi: Selamat datang, Abigail. Kamu telah dipilih untuk menjadi Malaikat Kematian, penghubung antara dunia kehidupan dan kematian. Tugasmu adalah untuk menyeberangi berbagai dunia dan menghadapkan orang-orang dengan takdir mereka yang penuh arti.


Abigail: (kagum) Malaikat Kematian?


Notifikasi: Ya, kamu diberi kemampuan khusus untuk melakukan tugas ini. Namun, sebelum kamu bisa menjadi Malaikat Kematian sepenuhnya, ada hal yang harus kamu lakukan. Kamu akan dihidupkan kembali dan kembali ke masa lalu.


Abigail: (terkejut) Masa lalu?


Notifikasi: Ya, kembali ke saat kamu berumur lima tahun. Kamu akan menjalani kehidupan baru sambil menjalankan misi harian sebagai Malaikat Kematian. Setiap misi yang kamu selesaikan akan memberimu poin, yang bisa kamu tukarkan dengan uang atau barang sistem.


Abigail: (bersemangat) Aku menerima tugas ini! Aku akan memperbaiki hubunganku dengan keluargaku dan melakukan yang terbaik sebagai Malaikat Kematian!


Cahaya menyelubungi tubuh Abigail, dan dia merasa kekuatan baru mengalir dalam dirinya.


Notifikasi: Selamat, Abigail. Perjalananmu sebagai Malaikat Kematian dimulai sekarang.


Abigail pun tiba-tiba merasa berputar dan kemudian terbangun dalam kehidupan barunya di masa lalu.


Abigail: (bersemangat) Aku siap menghadapi segala petualangan dan memperbaiki takdirku serta hubunganku dengan keluargaku!


Dia menatap sekitarnya, mencoba mengingat detil-detil masa lalunya saat berumur lima tahun. Rumah kecil dengan taman belakang yang luas, suara tawa riang dari kedua orang tua dan adik laki-lakinya yang masih kecil.


Abigail merasa semakin bersemangat untuk menyempurnakan hubungannya dengan keluarganya. Namun, dia juga menyadari bahwa dia harus menjalankan tugasnya sebagai Malaikat Kematian tanpa membiarkan keluarganya mengetahui identitas sejatinya.


Saat Abigail berangkat ke sekolah, dia menyadari bahwa kemampuan barunya memberinya keistimewaan untuk melihat kehidupan orang-orang di sekitarnya dengan perspektif yang berbeda. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai siswa, dia juga menerima notifikasi sistem tentang misi harian sebagai Malaikat Kematian.


Sekolah menjadi tempat di mana Abigail menemukan banyak teman sejati. Dia mengenal orang-orang dengan latar belakang dan cerita hidup yang berbeda. Setiap kali dia bertemu dengan seseorang yang mungkin akan menjadi misi harian selanjutnya, dia merasa tanggung jawabnya semakin besar untuk membantu dan membimbing mereka.


Sementara itu, hubungan Abigail dengan keluarganya semakin erat. Mereka berbagi momen-momen indah bersama, seperti liburan keluarga, pesta ulang tahun, dan kegiatan keluarga lainnya. Namun, Abigail tetap berusaha menjaga rahasia tentang identitasnya sebagai Malaikat Kematian. Dia ingin menjalani kehidupan normal sebanyak mungkin, tanpa mengganggu keluarga yang dia cintai.


Anak Laki-laki: (menggenggam tangan Abigail) Malaikat Kematian, apakah aku akan baik-baik saja di sana?


Abigail: (lemah lembut) Di sisi sana, tidak akan ada lagi rasa sakit atau penderitaan. Kamu akan menjadi bebas dan bahagia.


Anak Laki-laki: (tersenyum) Terima kasih, Malaikat Kematian. Aku tidak takut lagi.


Abigail: (tersenyum lembut) Kamu adalah pejuang yang luar biasa.


Setelah misi itu selesai, Abigail merasa campur aduk. Dia senang bisa membantu anak laki-laki itu menemukan kedamaian, tetapi juga sedih karena kehilangan seorang teman. Namun, itulah tugasnya sebagai Malaikat Kematian, untuk membimbing orang-orang melewati momen-momen penting dalam kehidupan mereka.


Ketika dia kembali ke rumahnya, keluarganya melihat kelelahan di wajahnya.


Ayah: (prihatin) Apa yang terjadi, Sayang?


Abigail: (menggeleng) Hanya hari yang melelahkan di sekolah.


Kakak Laki-laki: (menyentuh bahunya) Kamu harus istirahat dengan baik, Abi.


Ibu: (sangat peduli) Kamu tahu, kamu selalu bisa berbicara pada kami jika ada masalah.


Abigail: (tersenyum) Terima kasih, semuanya. Aku tahu bahwa aku punya keluarga yang selalu mendukungku.


Walaupun dia merasa terpenuhi dengan peran sebagai Malaikat Kematian, Abigail juga tahu bahwa dia harus berhati-hati. Dia tidak ingin mengganggu kehidupan normalnya dan memisahkan dunia Malaikat Kematian dari keluarganya.


Hari-hari berlalu, dan Abigail semakin mahir dalam menjalankan kedua perannya. Di sekolah, dia tetap menjadi siswa yang ceria dan rajin. Dia berteman dengan baik dengan banyak orang dan membantu mereka di saat-saat sulit. Namun, tak ada yang menyadari identitas aslinya sebagai Malaikat Kematian.


Setiap kali dia harus mencabut nyawa seseorang, dia mengaktifkan kekuatan malaikatnya. Sayap putih dan hitam muncul dari punggungnya, dan dia berubah menjadi sosok yang menakutkan namun juga penuh kedamaian. Tetapi, setelah misi selesai, dia kembali menjadi Abigail yang biasa.


Waktu berlalu, dan Abigail semakin akrab dengan tugasnya sebagai Malaikat Kematian. Setiap misi mengajarkan dia lebih banyak tentang arti kehidupan, tentang pentingnya menghargai setiap momen yang dimiliki oleh seseorang.


Di masa lalunya, dia berusaha memberikan lebih banyak waktu dan perhatian untuk keluarganya. Meskipun terkadang dia merasa tergoda untuk mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya, dia selalu mengingat bahwa itu bukan bagian dari tugasnya sebagai Malaikat Kematian.


Suatu hari, ketika dia berada di sekolah, dia mendapat notifikasi tentang misi yang mendesak. Seorang wanita paruh baya berada di ujung hidupnya, dan dia merasa sangat sendirian.


Abigail dengan sigap mencari cara untuk membantu wanita itu menemukan kedamaian sebelum meninggal. Dia berbicara dengan lembut dan membawakan wanita itu kenangan-kenangan indah dari masa lalunya.


Wanita Paruh Baya: (tersenyum lemah) Terima kasih, Malaikat Kematian. Kini aku merasa lebih siap untuk pergi.


Abigail: (lemah lembut) Selamat jalan. Semoga engkau menemukan kebahagiaan di sisi sana.


Setelah misi itu selesai, Abigail kembali ke sekolah. Dia duduk di bawah pohon di halaman sekolah, merenung tentang arti kehidupan dan tugasnya sebagai Malaikat Kematian.


Dia tahu bahwa tugasnya membawa kedamaian bagi banyak orang, tetapi dia juga menyadari bahwa hidup adalah anugerah yang berharga. Setiap momen berharga, setiap senyum, setiap pertemuan memiliki arti yang mendalam.


Abigail: (berbicara dalam hati) Aku akan terus menjalankan tugas ini dengan penuh dedikasi. Dan aku juga akan memastikan bahwa aku tidak akan mengambil kehidupan sebagai kepastian. Setiap kesempatan untuk berada di dunia ini adalah hadiah yang harus dihargai.