
Kami semua tiba di dalam ruang makan yang sedari tadi dibicarakan oleh Merikh. meja panjang yang menghiasi ruangan itu terlihat sangat megah dan penuh makanan mewah. Makanan-makanan itu terhidang dengan indah di atas piring-piring perak yang mengkilap. Makanan yang ada di atas piring-piring perak itu terlihat sangat menggiurkan dan membuat kami menjadi lapar.
Namun, yang mencuri perhatian kami adalah kehadiran tujuh individu yang duduk mengelilingi meja tersebut. Mereka memancarkan aura yang kuat, menggabungkan kesan menyeramkan dan menawan sekaligus. Wajah-wajah mereka tertutupi oleh topeng-topeng yang berbagai macam bentuk dan motif. Setiap topeng mengungkapkan kepribadian yang berbeda, menciptakan kesan misteri yang mendalam di antara mereka. Mata mereka, yang tersembunyi di balik topeng, memancarkan pandangan yang tajam dan menatap kami dengan ketertarikan yang mendalam.
Kami dengan hati-hati memasuki ruangan itu, dan pandangan kami segera tertuju pada seorang pria yang duduk di ujung meja. Topeng yang ia kenakan memiliki bentuk kepala kambing dengan tanduk yang tegak berdiri, menciptakan kesan yang menakutkan dan misterius. Matanya yang tajam menatap kami dengan penuh kehadiran, seolah-olah ia memiliki kekuatan yang menguasai ruangan itu.
Pria tersebut memberi isyarat kepada Merikh, memerintahkannya untuk memberikan kami tempat duduk. Merikh yang patuh dan segera menunaikan permintaan tersebut, membimbing kami ke bangku-bangku yang telah disediakan. Setelah kami duduk di bangku kami masing-masing, aku melihat Merikh yang kembali ke bangku di mana seharusnya ia duduk dan memakai topeng polos dengan ukiran bulu-bulu putih di samping kiri topeng, dan senyuman lebar yang terpampang jelas di topeng yang Merikh kenakan.
“Ouhh, KALIAN SEMUA SUDAH SAMPAI~.” Terdengar suara teriakan dari arah meja makan tersebut.
“Nyx?” Maemi mengerutkan dahinya, mencoba melihat dengan jelas keberadaan seseorang yang berteriak itu.
Nyx melambaikan tangannya penuh dengan senyuman yang lebar. Loh, bagaimana bisa Nyx berada di sini? Sudah berapa lama ia menunggu kami di sini? Nyx menghampiri kami semua dengan gembira, ia berlari langsung memeluk Neera. Neera memeluk balik Nyx, lalu menjitak kepalanya pelan.
“Nyx, ke mana saja dirimu? Kau tau kan kami semua khawatir tiba-tiba dirimu menghilang begitu saja.” Neera terlihat sangat khawatir kepada Nyx, “Apalagi si Koen noh.”
Nyx melirik ke arah Koen berada. Terlihat jelas di wajah Koen, ia sudah menatap Nyx kesal, dan Nyx hanya bisa terkekeh pelan sambil meminta maaf. “Hehehe, maaf.”
Pria bertopeng kambing bertanduk itu menepuk tangannya dengan lembut. Seolah ia memegang kendali atas ruangan tersebut, suasana di sekitar ruangan langsung menjadi hening karenanya, tidak ada suara yang keluar membuat bising di ruangan tersebut. Wajahnya yang disembunyikan di balik topeng itu menoleh perlahan ke arah Neera, Neera yang merasa dirinya di tatap oleh pria bertopeng tersebut langsung merinding ketakutan dan Neera kembali memegang erat tanganku yang tadi sempat ia lepaskan untuk memeluk Nyx. Lalu pria itu membungkukkan badannya sedikit memberikan hormat setia kepada Neera. Sekali lagi kami merasa tidak nyaman dengan pandangannya terhadap Neera, sama halnya seperti yang Merikh lakukan.
Suara yang lembut dan indah itu keluar dari mulut pria bertopeng kambing tersebut, memecahkan keheningan di sekitar. “Bagaimana perjalanannya? Apa menyenangkan?” pria bertopeng kambing itu bertanya kepada kami semua.
Aku sedikit takjub dengan suara yang dikeluarkan oleh pria bertopeng itu. Aku yakin di balik topeng menyeramkan itu terdapat wajah yang sangat tampan, dan para wanita pasti akan tergila-gila dengan pria bertopeng kambing ini. Tunggu sebentar, Koen juga tidak kalah tampannya kan? Aku menoleh ke arah Koen mengamati wajahnya dengan seksama dan yup, Koen tampan. Wajah putih bersihnya dan senyuman manisnya pasti membuat wanita-wanita di sekitarnya akan tergila-gila dengan Koen. Nah sekarang, kenapa aku malah memikirkan wajah tampan Koen dan pria bertopeng itu?
“Tidak menyenangkan sama sekali, pelayan atau temanmu itu terus menerus menyentuh teman kami dengan sangat tidak sopan.” Koen menjawab pertanyaan dari pria bertopeng tersebut.
“Benarkah begitu? Kalau begitu maafkan teman kami ini, aku yakin teman kami Merikh sangat antusias untuk bertemu Ratu kami.” Pria tersebut menjawab Koen dengan nada yang santai. Kami bisa merasakan jika dirinya tersenyum, walau wajahnya tertutupi topeng yang ia kenakan.
“Kami punya banyak sekali pertanyaan, tentu Merikh berkata jika kita bisa bertanya apapun ketika kita sudah sampai di sini. Benarkan?” Nyme menyambung pembicaraan dari Koen dan Pria bertopeng tersebut.
“Tentu kalian bisa bertanya apa pun, aku akan mendengarkan semua pertanyaan kalian dan menjawab pertanyaan kalian. Setelah kita makan bersama.” Ucap pria bertopeng tersebut.
Kami semua tidak mempunyai pilihan lain. Kami juga sudah sangat lapar, apalagi Alora yang tadi sudah merengek terus menerus dari ketika kita sampai di aula besar tadi. Kami pun menerima tawaran makan bersama dengan mereka semua. Aku melihat mereka yang mengangkat topengnya setengah, hanya memperlihatkan mulut mereka untuk makan. Bahkan mulut-mulut mereka sangat indah-indah semua, aku yakin mereka semua adalah wanita cantik dan pria-pria tampan.
Selagi yang lain makan dengan tenang dan lahap. Neera menyenggol tanganku dan berbisik kepadaku, “pasti kau dari tadi sedang memikirkan wajah tampan pria bertopeng tadi dan membandingkannya dengan wajah Koen.” Neera terkekeh dengan pelan, tersenyum manis.
Akhirnya kau tersenyum. “Hehehe, kau tau aja apa yang sedangku pikirkan. Menurutmu bagaimana?” Aku balik berbisik ke Neera.
Neera sedikit menganggukkan kepalanya sambil menghumming. “Kita belum tau wajahnya, tapi di lihat rambut pria bertopeng itu berwarna biru es dengan sebelah kiri yang di kepang pendek,” Neera menatapku.
Aku tau apa yang dipikirkan oleh Neera, begitu pun Neera yang tau apa yang aku pikirkan. Kami berdua terkekeh pelan sambil bercengkerama seperti biasa sehari-hari kami mengobrol dan menggosipkan sesuatu yang ada di pikiran kita. Ini Neera yang ku tau, tidak ada wajah yang pucat, khawatir, takut dan sebagainya. Aku tidak akan membuat senyuman manisnya itu pudar, aku tidak akan selalu disamping-Nya, melindunginya. Karena aku menyayanginya sebagai sahabat terbaikku.
Setelah kami semua menyelesaikan makan kami. Mulailah sesi tanya jawab, Koen yang memimpin perjalanan ini mulai menanyakan beberapa pertanyaan, seperti ada di mana kita, sejarah dari dunia ini, lalu gadis cilik yang waktu itu kita temui, dan mengapa jika ingin bepergian ke tempat selanjutnya harus melewati berbagai pintu. Pria bertopeng itu lalu menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan oleh Koen, tetapi bagian dari gadis cilik tersebut ia lewati, katanya mereka tidak tau sama sekali tentang gadis cilik tersebut, dan jika mereka tau mereka tidak akan memberitahukannya kepada kita, karena pasti itu masuk ke dalam pertanyaan yang sensitif. Kami semua mendengarkan dengan seksama, layaknya kami mendengarkan guru kami yang menjelaskan pelajarannya.
“Dan satu lagi, mengapa kalian begitu tertarik dengan teman satu kami, Neera?” Pertanyaan lain keluar dari mulut Koen.
Pria bertopeng tersebut terkekeh pelan dan terdiam sejenak. Ia berdiri dan menyuruh seorang gadis dengan topeng yang di hiasi oleh bunga-bunga berwarna merah muda dengan sulur-sulur akar pohon untuk ikut berdiri bersamanya. Merasa ada sesuatu yang aneh, kami semua langsung siaga untuk melarikan diri jika terjadi sesuatu. Rasanya semenjak kami berada di tempat aneh ini, lebih tepatnya di dunia ini, kami jadi waspada terhadap sekitar kami.
“Mengapa kami tertarik dengan temanmu, dengan Ratu kami. Karena dia adalah masa depan untuk kami semua, Neera adalah Takdir untuk kami semua. Ratu yang menciptakan kehancuran besar bagi dunia ini, dan tentu untuk dunia kalian juga.”
Kami semua mulai mengeluarkan keringat dingin, bulu kuduk kami juga berdiri merinding. Dia berkata dunia kami juga? Dunia kami, Bumi. Mereka tau tentang bumi dan ingin menghancurkan bumi? Mereka gila ya? Bagaimana mereka tau tentang bumi. Tunggu sebentar, saat itu Merikh berkata jika mereka menunggu Neera ratusan tahun. Ketika itu diriku tersadar, semakin takut diriku, semakin merinding seluruh tubuhku. Mereka sudah menunggu Neera dari sebelum Neera lahir? Tanpa berpikir panjang aku langsung menarik tangan Neera dan berlari kabur dari ruang makan. Melihat aku dan Neera yang kabur, yang lain juga ikut berlari kabur meninggalkan ruang makan tersebut.
“Kejar mereka.” Pria bertopeng kambing itu memberikan perintah kepada gadis bertopeng bunga.
Tanpa keluar sepatah kata pun, gadis bertopeng bunga itu mengejar kami dengan sangat cepat. Sulur-sulur akar menjulur keluar dari tubuhnya mengejar kami, sulur-sulur tersebut menggelincirkan dan menjerat kaki Verna ketika mereka berusaha melarikan diri, Verna berteriak kesakitan dan terjatuh. Dalam keadaan panik, Verna terjatuh dan berteriak kesakitan. Nyme, yang mendengar teriakan itu, segera menghentikan lariannya dan berbalik untuk menyelamatkan Verna. Sayangnya, Sebelum Nyme menggapai Verna, gadis bertopeng bunga itu melempar Verna dengan sangat keras ke arah depan mereka berlari, Verna terhantam dengan keras ke depan, membuatnya terjatuh ke lantai. Benturan tersebut menyebabkan Verna pingsan dan kepala cedera parah, dengan darah mengalir keluar.
“VERNAAA!!” Koen meneriaki nama Verna, dengan cepat ia menghampiri Verna.
Nyme, yang tak mampu menyelamatkan Verna, tiba-tiba merasa kekuatannya habis. Tubuhnya terasa lemas, sedangkan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya yang penuh kekhawatiran. "Demi Tuhan, Verna... Apakah... apakah dia meninggal? Ver-Verna. A-ahhh." bisiknya dengan suara serak. Napasnya menjadi berat dan tak beraturan, sebagai reaksi atas kejadian yang mengguncangnya itu.
“NYME, NYME AYO JANGAN BERDIAM DISINI.” Kasumi Berteriak kepada Nyme yang sudah terduduk lemas menangis. “VERNA TIDAK MATI SAMA SEKALI, VERNA BAIK-BAIK SAJA. KAU TIDAK MAU KITA TERTANGKAP KAN? AYO LARII.” Kasumi menarik tangan Nyme, Nyme yang masih menangis mulai kembali berlari dengan Kasumi.
Koen yang menghampiri Verna langsung mengecek denyut nadi Verna, ia menghela nafas lega karena Verna hanya pingsan, tetapi rasa panik masih belum meredakan dirinya karena kepala Verna yang mengeluarkan darah. Koen segera mengangkat tubuh Verna dan kembali berlari melarikan diri. Dan aku tentu masih berlari paling depan bersama Neera.
“IYA TAPI DIMANA???” Balas Vanya sambil berteriak.
“A-AKU ADA KOK KUNCINYA.” Nyx menjawab Lyubov, “Aku tadi menemukannya ketika berkeliling sendiri, aku juga menemukan di mana pintunya.”
“U-Uwahh…ternyata kau berguna juga ya.” Alora berkomentar.
Harapan terbuka untuk kami. Koen yang mendengar ucapan Nyx, langsung menyuruh Nyx untuk berlari paling depan untuk menunjukkan jalannya. Nyx mengikuti perkataan Koen dan berlari paling depan. Jalar akar terus mengejar kita tanpa henti, terkadang sulur-sulur akar itu mencoba menghalangi jalan kami dan menarik kaki Neera, dan untungnya kami berhasil menghindari sulur-sulur akar yang menjalar mencoba untuk menangkap kami. Kami terus berlari di sepanjang lorong yang besar menghindari serangan dari gadis cilik itu, sudah dua menit lebih kami berlari, dan cukup lelah kaki kami untuk terus berlari.
Sebuah pintu dengan ukiran seperti ombak dan hiasan kerang muncul di depan kami tidak jauh dari kami berlari. “ITU!! ITU PINTUNYA!!!” Nyx berteriak sambil menunjuk pintu yang ada di depan kita.
Ketika kami semua sedikit lagi sampai di depan pintu tersebut, aku merasakan ada sesuatu yang menghambat kakiku. Akar yang terus mengejar kita menangkap diriku dan membawaku ke belakang dan membuat diriku terlempar jauh. Tubuhku terhantam jatuh ke lantai seperti Verna, rasanya sangat sakit, sakit sekali. Aku ingin berteriak, tetapi karena sakit yang menusuk setiap tubuhku menutup mulutku. Air mata keluar membasahi wajahku, suara yang meneriaki nama ku terdengar samar-samar.
Setelah diriku terjatuh, tubuh ku penuh dengan luka-luka lecet dan darah yang mengalir dari kepalaku sama seperti Verna. Aku mencoba membangkitkan tubuhku, walau pandanganku samar-samar, aku harus mencoba untuk melarikan diri, aku harus melarikan diri bersama yang lain, aku harus melindungi Neera.
“A-Alice, Alice masih bisa bangkit.” Suara Koen terdengar sedikit gemetar, “AKU AKAN MENYLEMATKAN ALICE, KALIAN BAWA NEERA DAN VERNA MASUK KE DALAM PINTUNYA.” Koen Menyerahkan Verna yang pingsan ke Nyme.
“O-Oke.” Nyx langsung memakai kuncinya dan membuka pintu dengan ukiran ombak tersebut.
Maemi menarik tangan Neera, “Ayo Neera, kita masuk lebih dulu.”
“T-TAPI ALICE, ALICE KESAKITAN, ALICE TERLUKA. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Neera menepis tangan Maemi, tetapi Maemi masih menahan tangan Neera.
“KAU TAU MEREKA SEDANG MENGEJARMU. KOEN AKAN MENYELAMATKAN ALICE KOK.”
“Lalu bagaimana jika Koen juga terluka? Siapa yang akan menyelamatkan mereka berdua?” Mendengar ucapan Neera, Maemi melepaskan tangan Neera. Dirinya tidak bisa berkata apa-apa karena ada benarnya dengan perkataan Neera, tapi ia juga tau jika melepaskan Neera, maka kemungkinan Neera di tangkap oleh para penjahat itu juga besar. Ia mengacak-acak rambutnya menangis tidak tau harus melakukan yang mana.
Neera berlari, lalu ia membantu Koen yang sedang membantu diriku berdiri untuk bisa kembali berlari. “Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana jika kau di tangkap?” tanya ku kepada Neera khawatir, walau terlihat gadis bertopeng itu terlihat masih jauh di belakang.
“Lalu aku meninggalkanmu begitu saja? Setelah kau melindungiku dari hal-hal yang aneh terjadi tadi? Tentu aku tidak akan meninggalkanmu, kau bilang kan ‘Kau akan selalu ada disisiku’.” Neera Tersenyum menatapku, air mataku kembali terjatuh membasahi wajahku. Perkataan yang manis untuk ku dengar di situasi seperti ini.
Kami bertiga melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang lebih lambat karena kakiku yang cedera. Aku melihat Kasumi yang masih menunggu kami di depan pintu, sambil merasakan angin sepoi-sepoi dan harum wangi dari laut yang keluar dari dalam pintu sana. Apakah perjalanan selanjutnya akan menjadi santai dan menyenangkan? Setelah kejadian menakutkan di mana kami dikejar-kejar oleh penjahat bertopeng, akhirnya kami bisa sedikit bersantai. Kami terus melangkah mendekati pintu itu, dan aku merasa kami hampir mencapai tujuan kami. Namun, bayangan cipratan darah terlihat di sebelah kiriku, membuatku segera melirik ke samping. Aku melihat Neera yang terluka, sulur akar yang menancap di pundaknya sampai menembus keluar. Teriakan kesakitan yang tajam terdengar di telingaku, dan tangis keras meluncur dari mulut Neera. Neera terjatuh karena sakit di pundaknya, dan meskipun aku ingin meraihnya, ia ditarik ke belakang oleh sulur-sulur akar yang mengikatnya. Aku menguatkan diriku dan berlari sekuat yang aku bisa untuk mencapai tangan Neera yang ditarik ke belakang.
“NEERAAA!!” Seruku dengan sangat keras.
“ALICEEE!! ALICEEE!!” Teriakan Neera membalas seruanku.
Tanganku di tahan oleh Koen, “ALICE PINTUNYA! PINTUNYA SEGERA MENUTUP, Nyx sudah di dalam dan kita tidak tau di mana letak kuncinya tanpa Nyx.” Koen menarik ku dengan kuat, memaksa diriku untuk masuk ke dalam.
“NEERAA, NEERA DI TANGKAPP, AKU HARUS MENYELAMATKANNYA. Aku harus menyelamatkannya.” Air mataku terus mengalir dalam tangis yang tak terhentikan.
"Kita akan menyelamatkannya, jadi tenanglah, Alice. Belum terlambat bagi kita." Koen menggendongku yang jatuh lemas, dan kami semua meninggalkan Neera di belakang, membiarkannya ditangkap oleh orang-orang bertopeng itu.
...“Neera, Maafkan aku.”...
...☆...
Aku ditinggalkan, ditinggalkan seorang diri di sini. Tolong selamatkan aku, aku belum siap untuk mati, Alice.
Tubuhku lemas terbaring di lantai dengan darah mengalir dari pundakku. Langkah kaki terdengar semakin mendekat, dan terlihat samar-samar seseorang berpakaian dengan korset hitam, kemeja putih bersih, dan jubah hitam yang besar menutupi tubuhnya. Pria bertopeng? Ya, dia adalah pria bertopeng kambing yang tadi, mendekatiku. Ia mengangkat tubuhku, memelukku erat. Aku tak bisa melarikan diri, tubuhku terasa lemah, bahkan jari-jariku tak dapat bergerak.
"Mereka meninggalkanmu, Neera. Mereka tak menyayangimu."
Kau berbohong. Mereka pasti akan kembali. Alice pasti akan kembali dan menyelamatkanku. Aku yakin itu.
"Temani aku di sini, bersamaku. Lupakan mereka yang meninggalkanmu. Kau rela menyelamatkan temanmu yang tercinta, tapi mereka tak akan menyelamatkanmu."
Alice terluka, teman-temanku terluka. Apakah mereka bisa menyelamatkanku dengan cepat? Mereka pasti punya alasan yang kuat, kan? Ah, mati rasanya mataku begitu berat. Air mata masih mengalir membasahi wajahku.
"Istirahatlah dan jangan pikirkan hal lain. Aku akan merawatmu dengan baik, dan mencintaimu lebih dari teman-temanmu yang pergi berlari meninggalkanmu." Pria bertopeng kambing itu memelukku erat, dan aku bisa melihat senyuman tulus samar-samar darinya sebelum aku menutup mataku dan pingsan di tangannya.
...Aku yakin mereka akan kembali besok, sangat yakin. Karena kita adalah teman....